
Perlahan mata cantik itu terbuka, mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang masuk disela-sela matanya. Wanita cantik yang memiliki rahang tegas itu melihat atas langit-langit ruangan itu dengan air mata yang mulai menetes.
Satu tangannya kini sudah berada diatas perutnya yang kembali datar. Wanita itu hendak menarik tangannya yang dipegang oleh orang yang mulai saat ini dia benci.
Bila menarik tangannya perlahan, namun pergerakan sekecil apapun mampu membuat tidur Avalon yang selalu waspada terbangun.
"Kamu sudah sadar, sayang?" tanya Avalon mengambil tangan Bila dan mengecupnya.
Cup...
Dia sedikit terkejut karena sang istri sudah terbangun, padahal dokter itu mengatakan bahwa istrinya akan terbangun setelah obat bius itu habis, dan dua hari lagi masa itu akan habis, namun ini?.
Tapi Avalon bersyukur karena Bila telah sadar setelah delapan jam yang lalu telah kembali melakukan operasi.
Bila menangis, dia langsung menarik tangannya dengan kasar. "Mari bercerai" ucapan yang pertama kali dilontarkan oleh Bila ketika sadar membuat Adam sangat sangat terkejut.
"Apa yang kau ucapkan, ayo kembali tidur kamu masih berhalusinasi karena obat sial4n itu" Avalon mencoba untuk berpikir positif, dia mengusap rambut Bila pelan.
"Aku tidak berhalusinasi, ayo bercerai atau aku akan bunuh diri!" ancam Bila, dia sudah duduk dari tidurnya. Kekuatannya telah kembali, dan kini, saat ini, adalah Bila yang dulu. Bila yang kuat sebelum menikah dengan Avalon.
"Apa yang kau bicarakan, pernikahan ini tidak akan ada perceraian, bahkan syarat pernikahan yang kau ucapkan padaku dulu adalah; tidak adanya perceraian!" ujar Avalon mencoba bersabar, dia mengelus pipi Bila perlahan.
"Sekarang, aku cabut syarat itu, ceraikan aku dan kita selesai" ucap Bila seperti sudah mantap dengan segala keputusan yang dibuatnya.
Wajah Avalon yang semula sangat berseri-seri karena mendapati bahwa istrinya telah sadar kini kembali masam. "Jangan ada perceraian diantara kita, dan aku tidak akan menceraikan mu bagaimanapun juga"
Bila terkekeh kecil, "Pernikahan dibangun atas dasar saling percaya dan kepercayaan. Namun, apakah kau percaya padaku? Apakah kau mempercayaiku?" Bila tersenyum miring. "Tidak, 'kan?"
Avalon terdiam, "Maafkan aku," ujarnya setelah sepersekian detik terdiam dengan kebenaran yang diucapkan oleh istrinya. "Beri aku kesempatan sekali lagi" ujar Avalon membuat Bila tertawa.
Bila tertawa, kemudian menatap Avalon yang sudah menampilkan wajah datarnya. "Huh.. Kesempatan? Apa itu? bahkan kau tidak pernah sekalipun memberiku kesempatan untuk kemarahan mu yang telah membuat anakku mati bahkan sebelum tumbuh dewasa!" sentak Bila dengan fakta yang kembali dia ungkap.
"Kau mendiami ku selama berbulan-bulan dan ketika datang kau malah membunuh anakku, kau bahkan mempertanyakan apa yang seharusnya tidak kau tanyakan. Kau mempertanyakan siapa ayah dari anak yang jelas-jelas ini adalah anakmu!" sambung Bila dengan emosi yang menggebu-gebu.
Avalon lagi-lagi terdiam, semua yang dikatakan oleh Bila adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa terelakkan. "Bukankah hubungan dilandasi dengan sebuah kepercayaan bukan? namun, nyatanya kau malah tidak percaya sama sekali dengan ku"
__ADS_1
Avalon tersenyum tipis, dia kembali mengambil tangan Bila dan mengelusnya. "Maafkan aku, mungkin kau akan muak dengan kata ini, setelah ini. Namun, sungguh aku tidak menyukai ku dekat apalagi bersentuhan dengan lelaki lain selain diriku" ujar Avalon jujur.
Bila terdiam. "Tetap saja, kau telah membunuh anakku!" Bila tetap pada pendiriannya. Dirinya lelah, sakit baik hati maupun fisik karena Avalon.
"Maafkan aku" Avalon mengecup punggung tangan Bila berkali-kali.
"Kau telah menyakitiku, tidak. Bukan hanya aku, namun anakku yang telah kau ragukan dan kau bunuh!" Bila menangis. Lalu ia menepis tangan Avalon yang memegang tangannya.
"Pergi, dan datanglah ke catatan sipil, ceraikan aku sekarang!" pekik Bila.
Avalon diam, dia masih pada tempatnya. Terduduk dengan segala pikirannya. Hari sudah mulai pagi. "Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan mu!" ujar Avalon yakin.
Bila mengacak rambutnya kasar. "Ceraikan aku, atau aku yang akan mati!" ancam Bila, dia menatap tajam Avalon.
"Tidak,"
Bila geram sendiri, dia kemudian mencabut jarum yang berada dipunggung tangannya dan langsung turun dari ranjang rumah sakit itu. Bila berlari.
Avalon menghela nafasnya kasar, mengacak rambutnya sebentar lalu pergi mengejar Bila yang sudah keluar dari ruangan ini.
Avalon keluar dengan langkah tegapnya. Dan dia melihat Bila yang sudah berdiri didepan lift sembari melihat kearah lift yang masih berjalan kebawah.
dengan langkah lebarnya, Avalon menyusul Bila dan mencekal tangan wanita yang kini sudah menjadi serigala ganas. "Ayo kembali, kau masih belum sembuh!" ujar Avalon mulai menyeret tangan Bila.
"Lepaskan aku sial4n!" pekik Bila memberontak dari cekalan Avalon. Dia mencoba untuk melepaskan cekalan tangan yang dengan kuat mencengkram lengannya.
"Lepaskan! Jangan sampai kebencian ini bertambah!" sambung Bila menatap tajam Avalon.
Avalon tak gentar, "Ayo kembali, sebelum aku melakukan kekerasan padamu, ingat Bila! aku bukan pria yang memiliki kesabaran!" peringat Avalon.
Mata Bila semakin membara, kebencian dihatinya sudah bertambah besar, tidak ada lagi rasa sedikit pun untuk Avalon dihatinya. Semuanya telah terisi oleh kebencian karena sikap dari pria bajing4n ini.
"Aku tidak perduli! Lepaskan aku sial4n!" pekik Bila mulai menyerang Avalon dengan kakinya.
"Berhentilah memberontak, dan ayo kembali, kau masih belum sembuh sepenuhnya!" titah Avalon.
__ADS_1
Buk...
"Ssttt" Avalon meringis ketika mendapatkan tendangan di area ***********, sangat sakit ketika wanita itu menendangnya dengan sangat keras dan diimbangi oleh kebencian yang berada dihatinya.
Namun cekalan Avalon tidak terlepaskan, lengan Bila sampai memerah karena memberontak.
"Semakin memberontak, semakin sakit!" peringat Avalon melihat pergelangan tangan Bila. Untung saja pergelangan tangan yang Avalon pegang sebelah kanan, sehingga tangan Bila yang sebelah kiri, tempat jarum infus yang Bila cabut tadi masih aman, meskipun ada titik merah yang keluar karena cabutan paksa yang dilakukannya tadi.
"Lepaskan aku, bajingan! Aku sudah tidak sudi melihat wajah penuh codet mu itu!" maki Bila.
Cuih...
Tidak ada cara lain seperti hal nekat seperti ini, lift yang sedari tadi ia tunggu kini sudah berhenti didepannya. Bila meludahi wajah Avalon tepat di mata Avalon, sehingga cekalan ditangannya langsung terlepas.
Bila menggunakan kesempatan itu dengan baik dirinya berlari dengan kencang masuk kedalam lift dan langsung menekan tombol angka satu agar pintu tertutup dan Avalon tidak dapat mengejarnya.
Rahang Avalon mengeras, dia mengusap ludah Bila yang ada dimatanya. Bila harus diberi peringatan agar tidak semena-mena lagi padanya.
Bila gemetar, pintu lift sudah mulai tertutup, namun kembali terbuka karena Avalon datang dan masuk.
"Pergi!" pekik Bila.
"KUMOHON... PERGILAH, BAJING4N!!" jerit Bila terpojok. Avalon semakin berjalan ke depan, mengunci pergerakan Bila.
Lalu, tangan pria itu terulur untuk mengelus pipi Bila pelan, pria itu tersenyum membuat Bila semakin bergetar dengan hebatnya.
"Diam lah, mari kembali, kau belum pulih" ujar Avalon lembut.
"AKU TIDAK PERDULI, PERGILAH BRENGSEK! AKU MUAK MELIHAT WAJAH JELEK MU ITU! AKU BERSYUKUR KARENA ANAKKU MATI SEBELUM LAHIR! AKU TAKUT JIKA DIA TERLAHIR JELEK SEPERTIMU!" pekik Bila dengan hinaan yang keluar dari mulutnya. Dia mengeluarkan kata itu langsung, tanpa dipikirkan akhirnya. Karena yang dibenaknya adalah, bagaimana cara untuk kabur dari cengkraman dari pria seperti Avalon.
Avalon terdiam, "Aku tahu, ayo kembali istirahat" ajak Avalon santai.
"APA KAU TULI SIAL4N? LEPASKAN AKU BANG—"
Plak...
__ADS_1
Bruk...