Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
103.


__ADS_3

Bila tertawa, "Cinta katamu? Heh! Apakah ku masih waras sial4n?!" pekik Bila menunjuk-nunjuk wajah Avalon.


Avalon menatap mata Bila dalam. "Katakan padaku sekarang, bahwa kau akan kembali padaku, ayo katakan aku sudah tahu apa yang sudah kau sembunyikan semuanya! Kau belum menikah, kau hanya mencintaiku dan kau akan kembali dalam pelukan ku!" ujar Avalon yang kini sudah kembali memeluk tubuh Bila.


Tidak ada harga dirinya sekali Avalon untuk Bila. Avalon membuang seluruh harga dirinya yang susah susah ia bangun. Jika ada orang di dunia gelap mengetahui bahwa Avalon sangat lemah dan seperti seorang pria yang gila cinta pasti orang dunia gelap itu akan mentertawakan Avalon saat itu juga.


Bila memberontak, dia berusaha untuk mendorong tubuh Avalon agar tidak lagi memeluknya, namun nihil, dirinya tidak sanggup, karena, tubuh Avalon sangat berbeda jauh dengannya. "Diam lah, jangan memberontak, aku tahu semua tentang mu, Angelina Salsabila! Aku tahu!"


Bila masih berusaha untuk melepaskan pelukan itu. "Pembohong! dari mana kau mengetahui kehidupanku, bajing4n?!" sentak Bila emosi.


"Dari pelacak dan penyadap suara yang terpasang dalam daun telingamu. Dan jangan bertindak bodoh dan seolah-olah aku melepaskan mu begitu saja dari dunia yang keji ini, Bila!"


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.

__ADS_1


"Aku yang akan memimpin perjalanan rapat kali ini," ujar Adam duduk di kursi yang kosong dalam meja yang memiliki bentuk bundar dan memiliki empat kursi itu.


Tempat rapat ini berada di roof toof sebuah gedung bertingkat. Sekarang matahari tepat diatas kepala, dan itu adalah tantangan tersendiri bagi Adam beserta sekertaris nya, dan rekan bisnisnya bersama sekertaris nya juga yang hanya tertutupi oleh sebuah payung besar.


Pria yang menjadi rekan bisnisnya sekarang dari kelompok Griyao. "Maaf, tuan, apakah anda yakin?" tanya sekertaris Griyao dengan tatapan terkejut sekaligus tak percayanya dan mewakili pertanyaan tuannya.


Adam menoleh, lalu tersenyum miring. "Kau meremehkan orang yang lebih berpengalaman darimu," ujar Adam membuat sekertaris Griyao mengerutkan keningnya.


Adam menghela nafasnya, "Perkenalan, nama saya, Adam, dan saya masih berusia sepuluh tahun," ujar Adam, dia kemudian berdiri, dan menjentikkan jarinya satu kali lalu dibelakangnya terdapat sebuah layar yang entah kapan layar itu ada.


"Tanpa berlama-lama lagi, saya akan menyampaikan jalan dari rapat kali ini," ujar Adam.


Setelah kurang lebih dua jam, akhirnya mereka menyepakati bahwa mereka akan bekerja sama dengan syarat saling mendukung untuk peredaran dan pengolahan narkoba.

__ADS_1


Maksudnya adalah, kelompok Griyao yang akan mengolah dan kelompok Camora yang akan mengedarkannya.


"Senang bekerja sama dengan anda, tuan muda," ujar Griyao menjabat tangan kecil Adam.


"Saya juga,"


"Mari," ujar Griyao membuat Adam mengangguk. Lalu kemudian mereka berdua dengan dua sekertaris mereka yang berada dibelakang keluar dari restoran tersebut.


"Saya pamit pergi dulu, tuan muda" ujar Griyao dengan tersenyum lebar. Jujur saja, dia sangat bahagia atas kerja sama ini.


"Bai—Dor!"


"Tuan muda!!"

__ADS_1


__ADS_2