
"BAJING4N! BAGAIMANA BISA!" pekik Bila tanpa sadar karena emosi mendengar cerita itu. Bagaimana bisa seorang adik ipar memperkosa kakak iparnya sendiri karena sebuah dendam yang tak berkesudahan?. Dia ingin bergerak, namun Avalon mencegahnya.
"Duduk dan diam!" peringat Avalon.
"Lalu, bagaimana, dan kau ada dimana, sial4n!!?" tanya Bila duduk kembali pada posisi semula dan menetralisir rasa emosinya agar tidak terbawa suasana.
"Saat itu aku sedang mengikuti tun besar melawan kelompok itu. Ketika kamu pulang, tuan sudah menemukan sang istri dalam kondisi yang sangat mengenaskan dengan seluruh tubuh yang berlumur oleh cairan pria biadab itu. Dan mengenai hal itu, tun besar marah, dia ingin membalas dendam namun kondisi nyonya Bianca sangat menghawatirkan, dan disaat itu nyonya sedang dalam keadaan hamil bulan kelima tuan kecil"
"Apa itu Adam?" Avalon mengangguk.
"Nyonya Bianca mengalami trauma yang berkepanjangan, dan saat itu tuan besar tidak memiliki pilihan lain, akhirnya tuan memutuskan untuk menghapus sebagian ingatan dari nyonya Bianca"
"Apa kau tidak membalas, Si kaparat itu?" tanya Bila dengan wajah yang memerah menahan emosi.
"Aku membalas Ferguson atas perintah dari tuan besar,"
"Kau melakukan apa?"
"Hanya mengambil satu ginjalnya dalam keadaan hidup, dan memotong satu telurnya, dan menyuntikkan obat yang membuat dirinya tidak akan memiliki keturunan"
"Kau gila!!" mata Bila melebar ketika mendengar itu.
"Hanya menjalankan perintah, dan saat itulah, kondisi diantara dua saudara itu memanas. Banyak hal hal yang terjadi diantara mereka. Dan pada puncaknya adalah, nyonya terbunuh oleh anggota dari Ferguson"
"Apa cerita ini menyambung pada cerita, yang kau ceritakan dulu?" tanya Bila menemukan titik terang dan benang merah diantara dua kejadian yang diceritakan oleh Avalon. [Chapter: 46; Andrew Camora]
Avalon mengangguk. "Sudah," ujar nya meletakkan alat yang digunakan untuk menjahit dan melepaskan sarung tangan dari tangannya.
Bila terkejut, "Kok aku tidak merasakan apapun? Apa kau memberikan Atensi lagi?"
"Anestesi, Bila"
__ADS_1
"Iya itu!"
"Tidak, aku hanya mengalihkan rasa sakit mu menjadi rasa emosi yang tercampur dengan rasa empati" jawab Avalon santai.
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤.
"Aku ingin menanyakan ini padamu" ujar Avalon menyerahkan sebuah berkas pada Bila.
Hari sudah mulai pagi, namun sepasang suami istri itu tidak juga ada tanda-tanda untuk tidur setelah penyerangan itu.
"Apa?!" tanya Bila ketus. Dia sedang fokus membaca sebuah buku yang berisi tentang berbagai tata krama yang benar. Sekarang, Avalon akan menjadi gurunya. Guru yang akan menggantikan posisi Rose.
Mereka masih berada di dalam markas. Namun pria itu tidak mau membawanya berjalan jalan mengelilingi markas. Hanya kesebuah ruangan yang berisi banyak buku tebal namun berisi rahasia seluruh dunia ini.
Bila melihat sekilas kearah berkas yang disodorkan oleh Avalon. Dan membelalak ketika melihat jarumnya ada di gambar pertama itu.
"In— ini" Bila meneguk ludahnya, dia meletakkan buku yang dipegangnya dan kemudian mengambil berkas yang diberikan oleh Avalon.
"Tapi— mereka berdua sudah memiliki duni—"
Drrttt...
Drttt ...
Bila mengambil ponselnya, "Halo, ada apa Bi?" tanya Bila pada sahabatnya itu. Sepertinya pria yang jarang sekali dia hubungi itu merasa akan ada orang yang membicarakannya.
"Maafkan aku, toko yang dijaga olehku, Ed, dan tokomu mengalami kebakaran!" ujar Bian membuat Bila mematung.
"Ap—" Tut...
Bila mematikan telepon itu. "Apa kau yang membakarnya?" tanya Bila menatap tajam Avalon.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak membakar tokomu"
"Jangan berbohong, Avalon!" desis Bila marah. Dia ingin menangis sekarang rasanya.
"Aku bersumpah atas nama Camora" ujar Avalon, dia bahkan terkejut mendengar itu tadi. Bila langsung menitikkan air matanya. Lalu, jika bukan Avalon, lalu siapa?.
"Ava~" rengek Lengkara dengan mata yang berkaca-kaca. Dia menarik kaki Avalon kemudian memeluknya.
"Tokoku~" lirih Bila menangis.
"Sudahlah, jangan menangis, aku akan membuatnya lagi untuk mu"
Bila menggeleng, "Jangan, balas saja orang yang telah membakar toko ku!" ini pasti sebuah konspirasi. Logikanya begini. Tidak akan ada toko dan itu berjumlah tiga terbakar semuanya.
Dret...
Dret ...
"Sial4n!" maki Bila kembali mengangkat panggilan itu.
"Halo!" ujar Bila ketus.
Avalon menghela nafasnya, dia mengambil ponsel Bila dan mengencangkan fitur suara.
"Halo!" ujar Avalon lagi.
"Halo Daddy!" sapa pria kecil di sebrang sana.
"Iya, ada apa, Adam?" tanya Avalon lembut.
"Aku telah membunuh orang yang telah menyakiti Lengkara, dad!"
__ADS_1
••