
"Sakit?" tanya Avalon membuka luka yang berada di lengan Bila. Didalam luka itu, terdapat sebuah peluru yang bersarang dari tembakan yang dilayangkan oleh Ferguson tadi.
"Sakit lah, sial4n!. Kau memberikan atensi dosis yang kurang!" jawab Bila melihat luka yang berada di lengannya tengah dibedah oleh Avalon.
Pria itu duduk dibawah sebuah sofa, sementara ia berada diatas sofa single disebuah ruangan yang terdapat banyak orang yang tengah menatap mereka dengan perasaan bingung.
Mereka bingung, kenapa sang tuan rela untuk duduk dibawah dan membiarkan seorang wanita duduk diatas sofa itu dengan sedikit angkuh— jika dilihat dari wajah judesnya.
Biasanya, tuan mereka tidak akan sudi melakukan hal itu keterkecuali pada sang tuan dan nyonya besarnya dulu.
"Anestesi" Avalon membenarkan kata yang Bila salah ucapkan oleh Bila.
"Pokoknya itu, lah, ssstt, pelan bangs4t!" pekik Bila dalam bahasa asli negaranya. Dia memukul kepala sebelah kiri Avalon ketika Avalon berhasil mengeluarkan peluru itu dari lengan Bila.
Pria itu hanya menghela nafasnya lelah, ia meletakkan peluru itu kedalam sebuah wadah kecil yang dipegang oleh salah satu anggotanya. Lalu, kini berada ditahap jahit.
"Bertanyalah" ujar Avalon.
Bila terdiam, dia tadi ingin bertanya masalah Ferguson. Ah iya, tentang Ferguson, pria tua tak tahu diri itu tumbang dengan dua tembakan yang hampir menghilangkan lengannya karena senjata api yang digunakan Bila adalah senjata api yang sangat ganas. Namun, pria itu tidak apa, mungkin karena sudah terbiasa.
Masih ingat dengan senjata Desert eangle yang memiliki berat dari satu kilo itu? Iya, senjata itu memiliki saya hancur yang sangat ganas.
Dan satu peluru yang menembus perut pria itu dari Avalon. Sementara pria itu menembakkan timah panasnya pada Bila yang terkena lengannya.
"Aku ingin bertanya tentang Ferguson" ujar Bila membuat seluruh pasukan yang tadinya berdiri santai kini sudah bersiap dengan senapan yang berada di kedua tangan mereka.
Bila terkejut dengan gerakan serentak itu, dia melihat kearah orang orang yang berjumlah sekitar tiga orang didepannya.
"Turunkan senjata kalian, wanita gila ini adalah istriku" ujar Avalon membuat ketiga orang yang sudah mengangkat senjata mereka langsung menurunkannya. Dengan keterkejutan yang sangat kentara di wajah mereka.
Sejak kapan sang tuan menikah, dan apakah wanita itu adalah wanita yang dimaksud oleh sang tuan besarnya dulu?.
"Ya benar, aku adalah wanita gila yang sudah menikah dengan pria buruk rupa sepertinya" Bila mengibarkan tangannya seperti menenangkan sesuatu.
Ketiga orang yang sedang berjaga itu mengangguk tegas, lalu mundur beberapa langkah dan kembali ke posisi semula. Tegak.
"Kenapa mereka seperti itu?" tanya Bila pada Avalon.
"Disini sensitif dengan nama itu" jawab Avalon. Bila mengangguk paham.
Sekarang, mereka tangah berada di markas milik kelompok Camora. Avalon membawanya ke markas ini untuk memperkenalkan Bila, dan menghemat waktu untuk berlindung dari serangan susulan dari Ferguson.
Sesuai dengan janji Avalon kemarin lusa. "Kenapa bisa sensitif, apa kare—"
"Benar, Ferguson adalah pria yang telah membunuh tuan besar"
"Tapi, ada yang aneh pada Ferguson,"
__ADS_1
Avalon diam, dia mendengarkan cerita dari Bila.
"Dia memiliki mata yang berbeda, sama dengan Adam, tapi, bukankah katamu hanya keturunan Camora yang memiliki mata berbeda seperti itu?, Tapi, ahh... Sial4n, kepalaku tidak bisa berpikir dengan baik,— eh, bagaimana Adam?" tanya Bila tiba tiba berubah berbicara dengan topik lain.
Sementara Avalon hanya menggelengkan kepalanya heran, Bila memiliki sifat yang berubah ubah, tidak tetap. Avalon harus ekstra mencerna semua apa yang dilakukan oleh Bila agar wanita itu tidak mengamuk.
Bila melihat kearah Avalon, "Aku pinjam ponsel mu!" Bila menyodorkan tangannya ke depan wajah Avalon. Dia ingin menghubungi Adam dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Ponsel low bet, dan saat ini sang ponsel sedang di cas oleh anggota dari Camora.
"Ponsel ku ada di mobil" ujar Avalon membuat Bila merengut kesal.
"Bagaimana dengan Adam?" tanya Bila lagi.
"Dia sudah tidur dengan pengasuhnya" Bila mengangguk mengerti, mengenai dengan pengasuh, Bila jadi teringat sesuatu. Bila tidak bertanya bagaimana Avalon mengetahui hal itu, pria itu memiliki earphone yang selalu terpasang di telinganya untuk menerima semua informasi dan kabar yang penting.
"Apa kau tahu, pengasuh Lengkara?" Avalon mengangguk.
"Dia selalu melakukan kekerasan pada Lengkara!" jelas Bila heboh.
Avalon memberhentikan gerakannya. "Apa yang kau ktakan?!" tanya Avalon menatap tajam Bila.
"Kau tidak tahu?!"
Avalon menggeleng, kemudian dia kembali melakukan tugasnya. "Lengkara bercerita bahwa dia sering mendapatkan pukulan dari pengasuhnya, ku kira kau sudah tahu dan bertindak karena akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat keberadaan pengasuh itu" jelas Bila.
Avalon hanya diam sebagai reaksi dari apa yang disampaikan oleh Bila, dia akan membalasnya nanti.
Hening, Bila mendongak dan melihat langit-langit dari ruangan ini. "APAA?? AVALONNN!!" pekik Bila bergerak dengan heboh, Avalon yang tengah menjahit tangan Bila pun menghela nafasnya lelah. Jahitan itu kembali terbuka karena Bila bergerak dengan kencang. Kini, dia harus kembali menjahit itu dari awal.
"Aku tahu!!" Bila memekik kencang dengan AW mata yang berbinar-binar. ia memegang pundak Avalon erat.
"Apa Ferguson adalah anak haram dari ayah, ayahnya Adam?" tanya Bila berbisik pada telinga Avalon. Dia berbisik dengan senyuman yang tidak luntur sedikitpun. Seperti seorang yang telah memenangkan jack pot.
Avalon mengangguk, dan hal itu membuat Bila kembali memekik karena senang dapat menebak semua ini dengan benar.
"Apa kau benar? Dan bagaimana ceritanya!" Bila kembali heboh.
"Sebenarnya bukan anak haram. Lebih tepatnya adalah adik dari tuan besar"
Bila mengangguk, jika seperti ini, maka cetitanya akan seru. "Ceritakan padaku!"
"Ceritakan, Ava!"
"Diam lah, aku akan menceritakannya, namun kau harus duduk dan tidak bergerak sedikitpun!" syarat Avalon. Pria itu tengah kembali mengambil benang jahit baru.
"Baiklah" Bila membenarkan duduknya, lalu bersiap untuk mendengarkan cerita dari Avalon.
"Eh, tapi, kenapa dia seperti ingin membunuhmu tadi?" tanya Bila lagi.
__ADS_1
"Dia memiliki sebuah dendam padaku"
"Dendam apa?"
"Dendam karena kursi kepemimpinan Camora jatuh padaku, yang seharusnya jatuh pada Ferguson"
Bila mengangguk, "Memang seharusnya seperti itu, tapi bagaimana bisa kau mengambil kursi kepemimpinan itu?"
"Diam lah, jangan banyak bertanya, aku akan menceritakannya padamu!" ujar Avalon jengah dengan pertanyaan berturut-turut dari Bila.
Bila mengangguk, "Cerita lah!"
"Dulu, ketika tuan besar masih menjadi pemimpin Camora, dia sangat sukses, dalam kepimpinannya. Namun, namanya manusia, mereka selalu mengutamakan hasrat. Dan hasrat itu yang kemudian membisikkan mereka untuk melakukan hal apapun agar dapat mendapatkan semua yang mereka inginkan"
"Aku ingin kau bercerita, bukan mengungkapkan perasaan melalui perasaanmu, bodoh!" Bila mengeplak pundak Avalon.
"Lalu, Ferguson sebagai adik ada rasa iri dihatinya melihat kepimpinan sang kakak yang sangat berhasil. Awalnya, dia meminta posisi kepemimpinan dengan cara yang baik-baik, namun karena hal itu, tuan Andrew sangat murka"
"Kenapa sangat murka?"
"Karena Tuan Andrew beranggapan bahwa Ferguson ingin dia mati lebih cepat, jika tuan Andrew meninggal dengan cepat, maka otomatis kursi kepemimpinan akan jatuh pada Ferguson. Dan kala itu memang Nyonya Bianca masih dalam proses program kehamilan untuk mendapatkan keturunan"
"Lalu?"
"Lalu, Ferguson gelap mata, dia mulai menyerang Tuan besar perlahan, mulai dari mengacaukan pasarnya, membocorkan data untuk proyek kedepannya, dan mulai menarik simpati dari pada anggota dengan, Ferguson selalu melakukan sesi curhat pada setiap anggota"
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Ferguson kembali meminta kursi kepimpinan itu dengan baik, namun ketika itu tuan Andrew sudah mengetahui bahwa Ferguson adalah orang dibalik kekacauan yang ada di perusahaannya kembali murka. Tuan Andrew akhirnya mencoba untuk mendepak Ferguson dari keluarga Camora karena sudah memenuhi syarat"
"Syarat, syarat apa itu?" tanya Bila.
"Syarat untuk bisa mendepak seorang Camora dari keluarga Camora" Bila mengangguk paham.
"Lanjutkan!"
"Lalu?"
"Lalu, akhirnya tuan Andrew mendepak resmi Ferguson. Ferguson murka, dia ingin membalas dendam dengan cara yang sekiranya Andrew depresi dan kepemimpinan goyang. Masih ingat ketika dia ingin mencari simpati dari para anggota?" tanya Avalon membuat Bila mengangguk.
"Dia berhasil menarik simpati itu, dan akhirnya para anggota yang berjumbah 50 orang ikut bersama dengan Ferguson untuk membuat kelompok baru dengan iming iming dijadikan sebagai petinggi didalam kelompok barunya, nanti"
"Reaksi Andrew bagaimana?"
"Tuan marah besar, namun dia tidak melakukan apapun, karena masih ada hubungan persaudaraan diantara mereka. Tuan Andrew pun mengubah setiap peraturan dan memindahkan markas di kelompoknya. Agar kelompok Ferguson tidak mengetahui lagi seluk beluk dari kelompok Camora. Dan sejak saat itu kelompok Camora seperti kelompok baru"
"Tapi, tidak ada yang—"
__ADS_1
"Memang, tidak ada pergerakan sedikitpun dari Ferguson setelah itu, kabarnya, dia tengah merintis perusahaannya sendiri, tapi pada suatu hari, dia melakukan hal besar yang mampu membuat amarah Andrew tidak terelakkan lagi, mau ditebak?"
Bila diam. Kemudian menggeleng. "Malam itu, tuan sedang turun tangan langsung menghadapi serangan dari satu kelompok, kelompok itu ingin mengincar pelabuhan terbesar milik kelompok Camora. Dan pada malam itu, nyonya dalam keadaan sedang hamil, lalu Ferguson datang dan memperkosa nyonya"