Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Kekecewaan.


__ADS_3

Ed dan Bian duduk di depan Gina yang sedang memangku Lengkara, setelah memberi Avalon sedikit pelajaran, akhirnya mereka kembali bersikap lebih tenang. Mereka tidak perduli dehn keselamatan nyawa mereka sendiri, meskipun Avalon seorang ketua dari Camora, tapi sekarang pria itu bukan di posisinya sebagai ketua, melainkan seorang pria yang telah menandatangani perjanjian hitam diatas putih.


"Kapan operasi nya selesai, Ed?" tanya Bian khawatir. Dia adalah Bian, seorang pria yang meskipun memiliki seorang istri dia masih menghawatirkan wanita lain. Khawatir bukan karena ada rasa, melainkan wanita yang dikhawatirkan adalah sahabat seperjuangannya selama bertahun-tahun.


Sementara Gina yang menjadi istrinya pun tidak masalah, hal itu adalah sebuah hal yang sang sangat wajar.


Ed melihat jam yang berada dipergelangan tangannya. "Satu jam" jawabnya datar.


Sementara diujung lorong sana, sudah terdapat Adam dan Avalon yang sedang berbicara serius. Pria cilik itu sudah seperti seorang pria dewasa ketika berbicara.


"Om telah melukai mommy lagi" ujar Adam tanpa menggunakan embel-embel 'Daddy'.


Avalon sedikit terkejut, kenapa Adam kembali memanggilnya dengan sebutan 'Om'. Meskipun dirinya tidak lebih dari seorang bawahan yang diangkat menjadi atasan. Namun kenapa? Apa Adam sangat marah padanya.


"Maaf, om kelepasan" lirih Avalon.


"Tidak mungkin!" sergah Adam cepat. "Jangan berkelit om, aku sudah mengetahui semuanya,"


Avalon diam, dirinya tidak tahu harus bagaimana lagi.


"Hehehe," Adam terkekeh geli, ia melihat Avalon yang sedang duduk dan menundukkan kepalanya. Mungkin pria itu tengah menyesali perbuatannya. "Kenapa? Apa kau baru sadar bahwa telah melukai mommy dan mencoreng harga diri kelompok Camora?" geram Adam. Dia menatap Avalon dengan aura permusuhan yang sangat dalam.


"Kau datang tiba-tiba untuk mempersunting mommy, namun, apa yang kau lakukan? Bukankah yang kau lakukan tidak lain seperti seorang pecundang bodoh?!" sentak Adam. Oh, ayolah, dirinya bukan seorang pria kecil yang bodoh. Dirinya memiliki otak yang bahkan lebih pintar dari pada orang dewasa sekalipun.

__ADS_1


Atau kata lain dari itu adalah, dirinya memiliki otak yang sangat genius.


Avalon diam, dia tidak menampik sedikit pun, karena memang kenyataannya sudah seperti itu, dirinya seorang pecundang bodoh yang telah menyesali perbuatannya. Avalon sangat berharap untuk istrinya memaafkan dirinya dan memberikannya kesempatan sekali lagi.


"Aku harap mommy bukanlah seorang wanita yang bodoh hingga mau memaafkan mu. Dan jika memang benar, maka selamat hidup dalam penyesalan karena kehilangan dua orang sekaligus" Adam beranjak dari hadapan Avalon yang semakin dibuat pening karena ucapan menohok Adam.


(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)⁠❤.


Satu jam berlalu..


"Sudah satu jam, kenapa mommy belum juga keluar?" monolog Adam melihat jam yang berada di lengannya.


Ed dan Bian, serta Avalon hanya diam tak menanggapi, sementara Gina dan Lengkara sudah pulang diantarkan oleh Bian tiga puluh menit yang lalu karena Bian melihat istrinya ketiduran sambil duduk.


Ting...


Adam berdiri melihat lampu itu berganti warna.


Ia berdiri dan menunggu keluarnya dokter dari ruangan operasi itu.


Crrrekkk...


"Dok—"

__ADS_1


"Dokter, bagaimana sahabat saya?" tanya Ed memotong ucapan Adam dengan cepat.


Avalon hanya mampu berdiri dan melihat serta mendengarkan dengan jarak jauh.


"Operasi berjalan lancar, dan untuk kesadaran pasien, pasien akan sadar dalam dua hari kedepannya. Karen efek bius yang masih ada dan pemulihan terbaru yang dipastikan akan mengurangi rasa sakit pasien" ujar dokter itu.


"Kapan mommy bisa dikunjungi?" tanya Adam.


"Setelah sadar, sebelum itu, keluarga hanya bisa menjenguk dari kaca yang boleh masuk namun satu orang per-7 jam sekali," jawab dokter itu. "Saya permisi" ujar dokter itu beranjak dari hadapan mereka.


"Dua hari" monolog Adam.


Mereka kembali duduk, dan tak lama pintu kembali terbuka dan muncul sebuah janjang rumah sayang yang tengah didorong oleh empat perawat.


Semuanya berdiri, mereka hendak melihat kondisi Bila secara langsung.


Dan ketika mereka melihat kondisi Bila, mereka semuanya mematung tak ke terkecuali dengan Avalon yang merasakan sangat bersalah pada Bila.


Di ranjang rumah sakit itu terdapat Bila yang tengah terbaring dengan hampir seluruh tubuhnya terbalut dengan perban dan kabel-kabel yang menunjang keberlangsungan hidup Bila.


Tidak ada senyuman di wajah pucat itu, hanya ada wajah pucat yang sangat membuat hati Avalon sangat ngilu.


"Maafkan aku, istriku"

__ADS_1


__ADS_2