
Perlahan, kedua mata yang memiliki manik berwarna coklat ke hitaman itu terbuka, dapat ia rasakan hangatnya matahari pagi yang masuk perlahan ke dalam tubuh nya.
Pemilik kedua manik itu tersenyum lebar ketika melihat sinar matahari yang seharusnya menusuk kedua manik mata nya terhalang oleh tubuh kecil yang sudah segar dengan memakai baju santai nya.
"Olning!" (Morning)sapa balita itu tersenyum.
"Morning, anak mommy" balas Bila duduk, lalu dia menarik anak nya dan mencium seluruh permukaan wajah nya yang terbalut dengan sedikit bedak.
"Anak mommy, siapa yang memandikan, hmm?" tanya Bila memangku tubuh Adam di paha nya.
Tadi pagi, ia terlalu mengantuk, serta udara pagi yang silir-silir membuat nya tak kuasa untuk memejamkan matanya.
"Aku yang telah memandikan anak mommy!" jerit Ed keluar dari rumah Bila dengan membawa dua piring di kedua tangannya. Pria itu sudah segar, nampaknya sudah mandi dan berganti pakaian yang berada di rumah Bila.
Mereka menyimpan pakaian nya di rumah Bila, takut nya ada hal hal yang tidak memungkinkan mereka untuk pulang. Dan pemilik rumah nya biasa saja.
"Nar! om d ang ndikan Dam. Tu ap om?" (Benar,om yang memandikan Adam. Itu apa om?) tanya Adam dengan mata yang berbinar-binar.
Ed mengerutkan keningnya. Bila yang mengerti dengan reaksi itu pun menghela nafas nya. "Dia bilang, itu apa?" terjemah Bila.
Ed mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Ini roti isi selai blueberry" jawab Ed.
"Bian!!" pekik Ed, tak lama Bian datang dengan sebuah kain berwarna hitam yang berbentuk kotak. Kain itu biasanya untuk alas ketika seseorang melakukan sebuah piknik.
Tanpa berbicara, Bian menggerai kain itu. "Ayo ke sini Bil" ucap Bian duduk, selanjutnya Ed disusul dengan Bila dan Adam duduk tepat di di depan piring yang berisikan roti berjumlah empat lipat dengan dua roti di setiap lipat nya.
"Kenapa bisa tidur di luar?" tanya Bian mengambil roti dan mulai memakannya.
"Iya, ku kira tadi kau hilang" sahut Ed mengambilkan roti untuk Adam dan dirinya. "Aci" (Terimakasih) Ed mengangguk.
"Bocah kecil itu terbangun tadi pagi, lalu aku biarkan bermain dan aku ketiduran" jawab Bila santai.
"Bagaimana tidur di luar?" tanya Bian.
"Tidak buruk,"
__ADS_1
Ting...
Ponsel Bian berbunyi, dia mengambil ponsel nya dan tersenyum miring mendapati berita hot pagi ini.
"Ada apa Bi?" tanya Ed di sela-sela kunyahan nya.
Bian tak menjawab, dia meletakkan ponselnya di tengah tengah mereka, sehingga mereka semuanya bisa melihat ke arah ponsel itu.
"Mak—"
"Berita pagi ini pemirsa, seorang jutawan di daerah DF kehilangan uang nya sejumlah lima ratus juta, dan untuk kronologi nya, kita sudah bersambung dengan anggota kita, Yudhoyono di tempat." ucap seorang pembawa acara televisi itu.
Tampilan di ponsel itu beralih ke seorang pria yang berada di samping rumah yang mereka rampok kemarin.
"Baik, selamat pagi pemirsa, saya Yudhoyono sudah berada di tempat kejadian di mana seorang jutawan kehilangan uang nya kemarin malam, di duga sang jutawan yang kehilangan uang nya itu kerampokan, namun, di sini aparat kepolisian mengatakan bahwa adanya kejanggalan yang terjadi. Satpam sang jutawan memberikan saksi bahwa telah terjadi kebakaran secara singkat selama kurang lebih lima belas menit."
"Dan sampai sekarang aparat kepolisian mengonfirmasikan bahwa tidak ada jejak satupun yang tertinggal. Warga setempat mengaitkan kejadian ini dengan hal hal yang berbau ghaib karena api yang singkat itu. Jadi apakah perampok ini memang ada? Apakah memang, ini ulah ghaib yang di rumor kan dan si—"
Pluk..
"Aparat bodoh!" maki Bila terkekeh mendengar berita tak masuk akal tadi.
"Aparat nya bodoh, dan negara ini masih memelihara hal-hal yang berbau ghaib. Pemikiran macam apa itu? Padahal era susah berkembang, dan negara ini adalah negara yang bebas dari lima tahun yang lalu" Bian memberikan pendapat nya.
"Sudahlah, yang terpenting kita mendapatkan uang itu beres" sahut Ed.
"Aku ingin balapan" ucap Bila seperti mengalihkan pembicaraan nya.
"Balapan? Aku baru dapat, katanya nanti malam akan mendapatkan lima ratus juta, tapi lawan nya ada lima orang" ujar Ed berbinar.
"Daftarkan aku Ed, aku sangat ingin memiliki mobil sendiri" jawab Bila sama berbinar nya ketika mendengar nominal yang di sebutkan oleh Ed tadi.
"Ayo ke mall" ajak Ed tiba-tiba.
"Ngapain?"
__ADS_1
"menghabiskan uang!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ini, pakai jam tangan milik om dulu" ucap Bian memasangkan jam tangan nya pada lengan kecil Adam.
"Kenapa Bi?" tanya wanita berpenampilan seperti seorang pria itu. Wanita itu memakai celana training hitam, kaos hitam se-lengan dan sepatu putih, jangan lupakan rambutnya yang dia cepol.
"Tidak, perasaan ku ada yang tidak beres" jawab nya berdiri.
"Woah... Agus am nya!" (Woah... Bagus jam tangannya) Adam girang melihat jam yang berada di lengan kanan nya. Bocah dengan pakaian yang sama persis dengan milik mommy nya tapi versi kecil itu berjingkrak.
Sedangkan, kedua pria di belakang nya memakai baju santai nya. Seakan tidak memiliki satu salah pun yang mengganjal di hatinya ketika perbuatan nya kemarin maauk berita hot kriminal pagi ini.
"Oh" Bila ber'oh' ria, dia tidak merasakan apapun sekarang. Toko bunga nya pun sudah tidak dia buka sekarang.
"Tenang saja Bi, tidak ada apa-apa" sahut Ed merangkul pundak Bian. Bian mengangguk.
"Ayo, katanya mau membelikan Adam mainan" ucap Bila mengulurkan tangannya yang di sambut dengan tangan Adam.
"Yooo!!" pekiknya menyeret lengan Bila.
Sesampainya di toko yang khusus berjualan mainan khusus anak-anak, bocah kecil itu sudah berlarian ke dalam. Adam, balita kecil yang masih sangat suka dengan mainan. Bila tadi izin ke kamar mandi, dan Adam Bila titipkan ke Bian dan Ed.
"Huh, kurasa kita menghabiskan separuh dari uang yang kita sisihkan" ujar Ed melihat Adam berkeliling.
Memang benar, uang lima ratus juta itu tidak di bagi tiga, mereka sudah sepakat untuk menggunakan nya bersama. Dengan dua ratus juta untuk membeli mobil, dia ratus juta untuk membangun toko impian Bila dan seratus juta untuk anggaran belanja kali ini.
"Aku tidak yakin" sahut Bian waspada. Dia menoleh ke arah kanan dan kiri. Sungguh, perasaan nya kali ini tak tenang sama sekali, seperti ada yang tidak beres.
"Kemana Adam Ed?" tanya Bila dia baru saja kembali ke kamar mandi.
"Tadi dia kesa— loh kok ga ada?"
••••
__ADS_1
Author membuat negara di novel ini menjadi negara yang bebas yaa