
"Mommy!" pekik Adam menggoyang-goyangkan tubuh Bila agar wanita kesayangannya terbangun. Dirinya hendak pergi belajar berburu di hutan pagi ini, dan sebelum berangkat Adam akan berpamitan dengan Bila.
Namun sayang, ketika dia membuka pintu makar mommy nya, Adam malah terbelalak dengan tubuh Bila yang terbaring pucat diatas lantai dengan darah yang sudah mengering.
Dikamar itu, Adam juga dapat merasakan bahwa pendingin ruangan bersuhu rendah yang membuat ruangan itu sangat dingin.
Adam menoleh kanan kiri, Adam mendapati Avalon masih tertidur dengan gulungan selimut. "Daddy!" pekik Adam membuat Avalon langsung terkejut, dia terduduk lalu menghela nafasnya pelan.
Kemampuan Adam sudah sangat berkembang pesat, hingga dirinya sama sekali tidak terbangun oleh langkah kaki Adam. Hingga kewaspadaannya tidak mendeteksi keberadaan Adam yang masuk kedalam kamarnya.
"Ada ap—"
Avalon kembali terkejut dengan tubuh Bila yang sudah memucat, dia masih terbaring dengan kondisi yang sama persis dengan kemarin.
"Tolong Mommy, Dad!" pekik Adam membuat Avalon langsung turun dari ranjang lalu menghampiri Bila dan mengecek lengannya, memeriksa apakah masih ada atau tidak denyut jantung Bila.
Ternyata masih ada, Avalon mengecek suhu tubuh Bila, dan ternyata sangat dingin, Avalon kira, Bila kemarin adalah sebuah drama yang akan berhenti, ternyata tidak. Ini asli.
Avalon masih tenang, dia menggendong tubuh Bila dan membawanya kebawah. "Adam, tolong bilang sekertaris Li, suruh menyusul aku" ujar Avalon menutup liftnya dan menekan angka 1.
Darah yang keluar tadi malam sudah mengering. Dengan tergesa, Avalon membawa Bila kedalam rumah sakit dengan dirinya sendiri yang membawa mobilnya.
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤..
"Katakan!" ujar Avalon duduk di kursi depan seorang dokter yang sudah duduk dengan wajah yang amat sangat ketakutan dan lesu.
__ADS_1
"Maafkan saya, tuan, namun bayi yang ada dikandungan istri anda tidak terdeteksi detak jantungnya. Yang berarti bayi anda yang berusia 25 Minggu telah meninggal" ucap dokter itu langsung pada poinnya.
Avalon terdiam sebentar, apa benar benar istrinya hamil, lalu, anak siapa yang didalam kandungan istrinya itu?. Avalon tidak menyesal atau apapun, karena dirinya belum dapat memastikan secara langsung anak siapa yang dikandung oleh Bila. Mungkin, atau bisa jadi, anak yang mati dalam kandungan itu adalah anak dari pria lain. contohnya seperti Ed atau Wiliam?. Jika diingat-ingat, dirinya selalu membuang spermanya diluar. Dan 25 Minggu berarti 5 bulan, sementara pernikahannya dengan Bila masih 6 bulan berjalan.
Avalon mengangguk, "lalu, apa dia masih hidup atau—?"
"Istri anda masih hidup," potong dokter itu cepat.
Avalon hanya mengangguk, dia berdiri, namun langsung tercegah oleh panggilan dari dokter itu. "Tuan, saya harus menyampaikan sesuatu" ucapnya.
Avalon geram, setelah makan siang nanti dirinya harus menemui kliennya dari arab saudi untuk membicarakan bisnis yang baru dikembangkannya. Minyak tanah. Sepertinya kali ini dirinya harus menunda pertemuan itu.
"Cepatlah!" geram Avalon sudah muak. Kepercayaan yang dia berikan untuk Bila sudah habis karena sikap wanita itu sendiri. Dan Avalon melihat itu langsung didepan matanya.
"Janin anak anda masih berada didalam perut, hal ini hanya 2% dari 10% orang yang mengalami keguguran namun janin masih berada didalam perut. Dan saya harus mengambil tindakan untuk kesehatan ibu bayi kedepannya dengan mengeluarkan janin yang sudah meninggal yang berada didalam perut istri anda, apakah anda setuju, tuan?"
"Namun, ada satu hal yang perlu anda ketahui tuan."
"Cepatlah, jangan berbasa-basi!" tekan Avalon.
"Ada dua cara untuk mengeluarkan janin itu, yang pertama dengan cara di Cesar, dan yang kedua dengan cara di ambil Dilatation and Curettage (D&C) atau kuret, anda ingin memilih yang mana?" tanya dokter itu pelan, dia mengeluarkan selembar kertas dan pena diatas meja.
"Silahkan tanda tangan disini, tuan, jika anda memilih opsi pertama, dan disini jika anda memilih opsi kedua"
Avalon mengambil pena itu, menandatangani bagian opsi pertama. Karena dirinya tidak tahu apa yang di maksud dengan opsi kedua. Mau bertanya gengsi sendiri. Dan pada akhirnya Avalon memilih opsi pertama.
__ADS_1
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤.
"Li, orang rumah jangan sampai kesini selama seharian ini" ujar Avalon yang sudah duduk di kursi didepan ruangan pisau untuk mengunggu Bila yang sedang dioperasi untuk mengeluarkan janinnya.
"Baik tuan,"
"Dan lagi, kau harus mencari tahu semuanya tentang Bila setelah menikah denganku,"
Sekertaris Li mengerutkan keningnya mendengar itu. "Mohon maaf tuan, setahu saya, dan dari laporan dari pelayan pribadi nyonya. Nyonya setiap hari Hany berada didalam kamarnua, kalau tidak berada di taman dan bermain dengan tuan dan nona mu—"
"Lakukan saja, Li!" peringat Avalon dengan nada yang datar dan tatapan matanya yang tajam menusuk kearahnya.
"Baik tuan, saya permisi" ujar sekertaris Li beranjak untuk menemui klien dari arab itu.
Avalon kembali merenung setelah 3 jam menunggu operasi Bila untuk pengeluaran janinnya. Sambil memikirkan seluruh kemungkinan tentang siapa ayah dari anak itu.
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤.
Bila terdiam dengan segala pikirannya, anaknya, yang yang bahkan belum sempat dia ketahui kedatangannya kini sudah dia ketahui kepergiannya.
Bila kembali menangis didalam ruangan rawat inap dengan satu tangan yang memegang perut yang sudah dibedah oleh dokter untuk mengeluarkan anaknya dengan tatapan sesal.
Andai dirinya tidak menghampiri Avalon mungkin bayinya masih ada. Andai Avalon dengan cepat membantunya, mungkin bayinya masih bisa bertumbuh didalam rahimnya.
Kata dokter, anaknya meninggal karena benturan keras yang didapat diperut dan menyebabkan plasenta bayi yang berada di rahimnya pecah dan membuat tersumbatnya saluran pernapasan dari bayi karena air dari plasenta itu yang sudah masuk kedalam hidung anaknya.
__ADS_1
Tapi, mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, takdir tidak bisa diubah dan tuhan tidak bisa menolong anaknya yang belum mengetahui rasa di dunia ini.
"Siapa ayah dari anak itu?!"