Bad Girl Dan Bayi Titipan

Bad Girl Dan Bayi Titipan
Frustasi.


__ADS_3

Bila mengacak rambut nya kasar, rambut yang semula sudah terlihat acak-acakan kini sudah seperti reog Ponorogo.


"Ahhhh" pekik nya mengacak-acak rambut nya, rambut berwarna dark grey itu sudah kusut seperti tidak pernah di cuci berabad-abad.


Bayangkan saja jadi Bila, menjadi single mom karena amanah selama kurang dari satu bulan sudah membuat nya seperti ini, bagaimana nanti, dan kedua sahabat laknat nya itu.


Mereka bermain-main seperti anak kecil yang kehilangan masa kecil nya.


"Kalian kenapa bermain bedak ha?!" geram Bila menghampiri ketiga orang pria itu sambil berkacak pinggang kesal.


Dirinya baru bangun dari tidur nya dan langsung melihat hal yang membuat nya harus mengepel lantai rumah nya berkaki kali.


Dengan membawa powder puff for baby dan wadahnya, Bian menghela nafasnya, perasaan nya sudah tidak nyaman, mungkin sebentar lagi singa betina itu akan mengamuk.


Ed tersenyum hingga menampakkan gigi rapinya, dia meletakkan bedak bayi yang di pegang nya di belakang tubuhnya, lalu dia melihat sekitarnya yang sudah tercecer bedak.


Ed meneguk ludah nya kasar, dia yakin sebentar lagi wanita tidak paten itu akan membuka mulutnya dan berteriak dengan kencangnya.


'Perasaan tadi aku bermain bedak sedikit, ini kok jadi satu ruangan ya, tuhan tolong aku dari amukan wanita tidak paten ini' Ed membatin sambil melihat wajah Bila yang memerah, mungkin karena dia menahan amarahnya.


''Hihihi'' Adam tertawa sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.


Bila mengalihkan pandangan nya pada bayi yang sedang tertawa itu, namun, sedetik kemudian dia melotot dan hampir mengeluarkan kedua bola matanya.


Bagaimana tidak, bayi kecil yang Bila baru mengetahui bahwa bayi itu memiliki dua gigi yang sedikit tumbuh, dan bisa tengkurap dengan menyangga lehernya sendiri sudah terduduk dengan sanggahan kaki Ed?


"Heh!" dengan tergopoh-gopoh, Bila mengambil tubuh Adam yang tengah duduk di depan Ed, dia menggendong dan membaringkannya di lengan. Bila memastikan telah menopang leher, kepala, punggung, dan pantat bayi dengan baik dan benar, agar tidak terjadi sesuatu yang membuat cedera di tubuh bayi bermata beda itu. Kata google.


"Kenapa kalian mendudukkannya ha?!" pekik Bila mengelus kepala Adam dengan lembut.


Bila takut terjadi sesuatu pada Adam, karena, semalam ketika dia mencari informasi mengenai bayi, Bila mendapatkan berita berupa 'bayi meninggal karena di paksa duduk oleh sang ibu' dan berita itu membuat Bila takut.


Kronologi kejadian meninggal nya bayi itu adalah, leher bayi terkilir dan menyebabkan terhentinya aliran nafas nya.


Ed yang bertanggung jawab karena sudah mendudukkan nya pun gelagapan, dia tadi hanya iseng mendudukkannya dan malah Adam duduk dengan senyum yang lebar, makanya, dia mendudukkannya dan membiarkan Adam duduk dengan lutut nya sebagai sandaran tubuh Adam.


"Memangnya kenapa, dia tidak menangis kok" jawab Ed santai, dia merasa bahwa dirinya benar.


"Tidak menangis, apa kalian tidak tahu berita bayi meninggal karena di paksa duduk oleh orang tuanya ha?!" geram Bila, matanya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Ed dan Bian saling tatap. Seakan-akan berbicara bahwa


'Kenapa mata Bila berkaca kaca, kita berbuat salah?'


'Entah'


"Bagaimana nanti jika Adam terluka ha?!" sambung Bila. Air mata yang berada di pelupuk matanya sudah terjatuh.


Sesungguhnya Bila adalah seorang wanita yang cengeng, dia hanya berlindung di wajah garang nya saja.


Dan entah kenapa sekarang dia rasanya ingin menangis, mungkin karena kepikiran mantan kekasih nya itu, dan Adam yang di dudukkan oleh Ed, atau mungkin karena efek hormon yang tidak stabil karena datang bulan?


Sementara Bian dan Ed kembali bertatapan dengan penuh arti, 'Dia Bila?' tanya Ed dari tatapan nya. Tidak bisanya Bila menangis di depan nya.


Meskipun Bila curhat pada kedua sahabat nya hingga Ed sebagai pendengar menitihkan air mata nya, Bila tidak menangis. Dia pandai menyembunyikan air matanya


Bian mengangguk.


Lalu, dia berdiri dan menghampiri Bila, tidak biasa nya Bila menjadi seperti ini, Bian sebagai pengamat yang handal dia masih mengira-ngira kenapa sikap Bila menjadi seperti ini.


Bian menyentuh punggung Bila, dia mengelus dan bertanya "Kamu kenapa mena—"


Bian diam, dia masih mencerna sikap Bila sekarang, sedetik lalu, Bila menangis, dan detik berikutnya nya dia sudah kembali pada sikap awalnya. Gampang marah.


"Kamu datang bulan?" tanya Bian hati hati, takut ucapan nya menyinggung.


Ed yang mendengar kata datang bulan meneguk ludah nya kasar, kita itu sangat sakral bagi Bila. 'Mati aku, emosinya sangat tidak stabil sekarang' gumamnya dalam hati.


"Kalau iya memang nya kenapa!" Bila menge-gas ucapannya. Perubahan mood yang sangat drastis.


Bian pun meneguk ludah nya kasar, salah sedikit berbicara dunia akan kiamat.


"Tidak apa, aku hanya—"


"Jangan bicara, bersihkan ruangan ini sekarang!" potong Bila keluar dari ruangan itu dengan menghapus sisa air matanya.


"Dia sedang datang bulan, jangan di buat emosi" ujar Bian mengambil sapu di pojok kamar.


Ed mengangguk, lagipula siapa juga yang akan memancing emosi wanita tidak paten itu.

__ADS_1


"Lama banget, di depan saja lama, sini!" gerutu Bila ketika melihat Ed memasuki toko nya dengan membawa satu kresek di tangan kanannya.


Ed menghela nafasnya, dia melihat Bian yang tengah duduk dengan kaki Bila yang berada di atas pahanya dan kedua tangan yang memijat nya.


"Jauh Bil, lima bel—"


"Diam, berisik, mana pesanan ku!" tangan Bila menagih, namun, matanya masih fokus pada layar yang Bila ikat pada tubuh Bian menggunakan selotip bening.


Hari ini, semua pesanan buket yang berjumlah sekitar tiga puluh lima pesanan sudah di kirim.


Ed mendelik kesal, begini, jika ada seorang perempuan di antara pertemanan mereka, mereka harus menghadapi perempuan yang memiliki mod yang berada setiap detik, meskipun Bila adalah perempuan setengah paten.


Meskipun begitu, Ed dan Bian sangat sayang pada Bila, mereka rela di suruh suruh demi membahagiakan sahabat perempuan yang sangat berjasa bagi mereka.


Dan mereka berdua treating Bila like a queen.


"Ini, tapoyaki mu" Ed memberikan nya pada Bila. Makanan khas Korea yang sudah me-lokal itu.


Bila menoleh, "Apa, ucap lagi yang kau ucapkan tadi!" suruh Bila.


"Ini tapoyaki m—"


Duk..


"Aku ingin topoki, bukan tapoyaki setan!" Bila berdiri, dia berkacak pinggang di depan Ed.


Ed meneguk ludah nya, tidak salah, dia tadi mendengar bahwa Bila mengucapkan tapoyaki. Ed melirik Bian di belakang Bila.


Ed meminta bantuan Bian menggunakan tatapan matanya, Bian menggeleng, dan Ed menghela nafas nya kembali.


"Maafkan aku, seperti nya teling—"


"Memang, telingamu bermasalah!" sahut Bila berteriak, tapi dia mengambil kresek yang berada di tangan Ed.


Duk..


"Ssss" Ed hany bisa meringis karena kakinya di tendang oleh kaki Bila.


"Siapa juga yang ingin membuat wanita setengah paten itu mengamuk" gumam Ed mengambil bedak di belakang nya.

__ADS_1


__ADS_2