
"Aku mau bertanya" ucap Bila yang sedang berjalan disamping Avalon.
Sementara Adam berjalan didepan mereka dengan menggandeng tangan Lengkara sembari mendengarkan ocehan balita cilik itu. Sedari tadi perjalanan mereka diisi dengan ocehan dan tawa dari Lengkara dan Adam.
Sesekali Bila dan Avalon menyahuti.
Hubungan antara Adam dan Lengkara sudah sangat dekat, mereka berdua sudah seperti kakak adik yang selalu bersama, Adam mau bermain dengan Lengkara dengan alasan tidak memiliki teman selain balita itu, selain itu, Adam juga mengatakan bahwa menyukai tingkah lucu Lengkara yang mampu membuatnya lebih banyak tertawa dan tersenyum.
Masalah mommy Bila, mereka sepakat untuk membagi sang mommy.
Pagi yang sangat indah nan cerah, dengan menggunakan baju olahraga satu keluarga yang terdiri dari empat orang itu tengah berjalan jalan menyusuri hutan buatan yang mengelilingi mansion mereka.
Dengan penjagaan yang sangat ketat namun tidak terlihat, karena para penjaga itu tidak berjalan diatas tanah, mereka berjalan diatas pohon yang tersusun dengan rapi namun jika dilihat sekilas seperti hutan belantara.
Awalnya Bila juga sedikit terkecoh, namun tadi dia bertanya dan Avalon menjawab benar, bahwa hutan ini adalah hutan buatan.
Hari ini hari weekend, Bila dengan inisiatif yang sangat tinggi, dia mengajak seluruh keluarga barunya untuk jalan jalan menikmati matahari pagi.
Avalon pun tidak keberatan, katanya tidak apa, supaya Bila tidak merasa bosan berada yang setiap harinya berada di dalam mansion.
Selain untuk menghilangkan rasa jenuh, tujuan dari Avalon mengijinkan mereka jalan jalan untuk mengenal jenis-jenis tumbuhan yang ditanam disama, terkhusus untuk Lengkara, Adam, dan Bila.
Hal itu membuat seluruh manusia yang berada didalam mansion heboh dengan kabar itu, jangankan jalan jalan, keluar saja sang tuan hanya untuk pergi bekerja, dan bekerja selain itu tidak. Bahkan untuk acara seperti pesta tuan mereka jarang mendatanginya.
Dan ini? sungguh, mereka tidak dapat lagi berkata-kata.
"Bertanyalah, kenapa kau selalu izin ketika hendak bertanya padaku?"
"Hanya ingin, aku bertanya apakah kau mau dipanggil daddy oleh Adam?" tanya Bila membuat Avalon menghentikan langkahnya.
Daddy? Avalon tidak pernah memikirkan hal itu, yang Avalon tahu adalah, Adam adalah tuan mudanya, anak dari atasannya yang telah memberikan jabatannya secara cuma-cuma pada Avalon.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Avalon kembali berjalan, dia berjalan dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam kantung celananya.
"Aku hanya ingin, memangnya kenapa? Kau suamiku, dan aku adalah mommy Adam, Lengkara memanggilku mommy, sementara Adam masih memanggilmu Om" jawab Bila.
"Suami? Jadi aku suamimu?" Avalon menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum di wajah penuh lukanya.
Wajah Bila memerah, sial4n kenapa hanya dengan pertanyaan seperti itu wajah nya sampai memanas?.
"Ayo kawan pertanyaanku, jangan mengalihkan pembicaraan, sial4n!" umpat Bila membuang wajahnya kearah samping.
Avalon tersenyum kaku, "Aku rasa aku tidak pantas untuk panggilan itu" Avalon menghela nafasnya.
Bila kembali menoleh, "Kenapa?"
"Kau tahu jawabannya" Bila terdiam, dia memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Apa karena dia adalah anak dari tuan mu yang sudah mati itu?"
"Meninggal" sahut Avalon membenarkan.
Bila mengangguk, "apa karena tuanmu yang sudah meninggal itu?" tanya Bila mengulangi.
Avalon mengangguk, "Benar, aku tidak akan memintanya, aku juga tidak pantas, karena secara nyata, tuan muda Adam adalah keturunan asli dari Camora"
"Tapi, jika Adam yang memanggil mu dengan sebutan Daddy bagaimana?" tanya Bila.
Avalon diam, dia tidak menjawab hingga membuat pikiran Bila terbang dengan sendirinya.
☘️☘️☘️.
"Mommy, ini sangat keras" ujar Lengkara menekan-nekan perut Avalon. Pria itu sedang bertelanjang dada, entah untuk apa tujuannya.
"Apakah itu benar?" tanya Adam berbinar, dia melihat kearah Lengkara yang menekan-nekan perut sang Daddy yang memiliki enam kotak yang sangat keras.
"Benar, Adam, kesini, pegang lah!" jawab Lengkara semakin menekan perut itu.
Avalon hanya diam, dia tidur dipangkuan sang istri, dan mereka berada didalam kamar Bila.
Bila hanya bisa tersenyum melihat interaksi itu, tangannya mengelus surai Avalon.
Adam melihat dengan ragu, sedari tadi ia tidak beranjak dari duduknya, menatap sang mommy dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Tidak apa, anggap saja Avalon sebagai daddy mu" ucap Bila yang mengerti dengan tatapan itu.
"Daddy?"
Bila mengangguk dengan senyum yang yang lebar, sementara tangannya masih berada di mulut Avalon. Avalon hanya pasrah, belum waktunya untuk membalas, dan memberontak, dia hanya pasrah. karena dia telah memiliki rencana lain untuk itu.
"Benar, Adam harus memanggil Avalon daddy, karena dia adalah Daddy Adam" Adam mengangguk anggukkan kepala pertanda mengerti.
"Berarti dia adalah pasangan mommy dong?" tanya Adam kembali mengingat apa arti daddy.
"Iya dong, kan dia adalah suami mommy, sama seperti Lengkara, dia adalah adik Adam" Adam mengangguk, Lengkara adalah adiknya, sementara pria yang berada di pangkuan sang mommy adalah Daddy nya.
"Tapi, apa boleh aku memang—"
"Boleh dong" Bila mencubit perut Avalon. "Benarkah?" tanyanya pada Avalon.
Avalon hanya mengangguk, mengiyakan, "Tapi, dia tidak akan menyakiti mommy lagi, kan?" tanya Adam kembali ragu.
Avalon terkejut dengan pertanyaan yang terlontar itu, anak seusia Adam sudah bisa membuatnya merasa seperti seorang pecundang seperti apa yang dikatakannya.
"Kan sudah mommy bilang, waktu itu hanya drama" jelas Bila tersenyum.
__ADS_1
Avalon lagi lagi terkejut, drama? Drama macam apa itu hingga sudut bibir Bila terluka karena telapak tangannya? Heh wanita itu adalah pembohong yang handal.
"Adam, lupa, baiklah, da—" Adam kembali diam.
"Kenapa diam? Ayo ucapkan" ucap Bila.
"Daddy!" ujar Adam cepat.
Prok..
Prok..
Prok...
Prok..
Bila bertepuk tangan, Lengkara pun ikut. "Ayo, Adam, pegang ini!" pekik Lengkara menunjuk perut Avalon.
Adam mengangguk, dia sangat penasaran dengan perut itu, dia baru pertama kalinya melihat perut seperti itu, karena, perut Bian, Ed, dan perutnya sedikit melembung, bukan bentuk kotak kotak seperti itu.
Adam menghampiri ranjang itu, menaikinya, lalu duduk disamping kiri tubuh Avalon. Jadi pria itu tengah dikerubungi oleh keluarga barunya.
"Pegang Adam!" pinta Lengkara.
"Apa tidak apa?" tanya Adam pada Avalon. Avalon mengangguk dengan tersenyum, anak yang tadi memanggilnya sebagai Daddy adalah anak dari atasannya. Dan dia bangga karena hal itu. Rasnya ada kebanggaan tersendiri dihatinya.
Adam menerbitkan senyumnya, lalu dengan perlahan memegang perut kotak itu. "Keras" ucapnya.
"Ini memang keras, Adam!" sahut Lengkara.
"Ada berapa ini?" tanya Adam.
"Ayo, kalian hitung" celetuk Bila.
"Ayo berhitung!" seru Lengkara.
"Satu, dua, tiga, empat, lima enam, Eh, apa ini?" tanya Lengkara memegang kotak yang membentang hingga bawah celana.
Bila membola, "Ini apa Daddy?" tanya Lengkara dengan polosnya memegang ular milik Avalon.
Avalon meringis, sementara Adam melihat miliknya sendiri yang berada di dalam celananya.
"Heh! Jangan di pegang!" pekik Bila lalu mendorong tubuh Avalon agar duduk.
"Memangnya kenapa, mom?" tanya balita kecil itu polos.
Bila gugup, "Jangan, nanti itu bisa memakan Lengkara" jawab Avalon dengan cepat.
__ADS_1
"Kenapa milik Daddy besar? Sementara milik Adam kecil?" tanya Adam melihat sesuatu didalam celananya.
Bila melongo, "AAAHHHHHH~"