
Satu hari berlalu, dan kini tiba saatnya Bila dan suaminya pergi kesebuah pesta yang sudah dijanjikan oleh pria itu.
Dengan memakai pakaian berwarna merah yang sangat pas dengan kulit langsat terang dan wajah ke-Asian nya. Membuat Bila berbeda dan begitu mencolok diantara wanita lainnya. Selain kecantikannya yang sangat kontras dengan kecantikan wanita kebanyakan di pesta itu, pasangan Bila juga menjadi pusat perhatian.
Pria itu... Avalon.... Seorang yang tidak memiliki sama sekali kabar miring kecuali tentang seorang perempuan, terkenal akan hidup individunya yang sangat jarang sekali menghadiri sebuah pesta jika pesta itu tidak menguntungkan baginya kini hadir kesebuah pesta keluarga kecil yang dari dulu tidak juga berkembang. Hanya jalan ditempat. Semua itu karena pemimpinnya yang sangat gila terhadap seorang wanita hingga membuatnya gampang tertipu oleh makhluk bernama wanita yang mampu menguras kekayaannya dalam waktu dekat.
Entah apa yang Avalon perbuat dan niat apa yang sebenarnya ia rencanakan untuk datang dan membawa sang istri kedalam pesta ini.
Bila berjalan dengan sangat anggun dengan sebuah heels yang memiliki tinggi 7 cm berwarna putih bening dan sebuah dompet indah dengan dilapisi oleh Mutia putih asli, namun jangan terkecoh dengan keindahan luarnya.
"Ava, kenapa kita menjadi pusat perhatian?" tanya Bila berbisik, namun kepalanya tetap menatap lurus ke depan dengan tatapan judesnya.
Dengan makeup yang sama sekali tidak menutupi bekas luka matanya serta mata yang dibuat semakin tajam membuat wajah Bila terlihat sangat judes namun terkesan sangat mempesona.
"Karena wajahmu terlihat sangat judes" jawab Avalon datar. Pesta ini tidak terlalu formal. Hanya sebuah pesta untuk merayakan keberhasilan perusahaan yang sudah berkembang setelah sekian lama jalan ditempat.
"Sial4n memang Ana, dia menambah sesuatu di mataku, dan membuatnya semakin terlihat sangat tajam" umpat Bila pelan agar tidak terdengar oleh telinga orang lain. Dia harus bisa menjaga image nya dan harus bersikap anggun, sopan seperti wanita berkelas.
Avalon juga sudah memperingatinya bahwa dia harus bisa menjaga perkataannya agar tidak berbicara sembarangan.
Avalon tak menjawab.
"Selamat malam, tuan" ujar seorang pria paru baya datang menghampiri Avalon dengan seorang wanita muda yang berada dibelakang pria itu.
__ADS_1
Avalon hanya mengangguk menimpali. "Selamat malam nyonya" ujar pria itu pada Bila.
"Malam" jawab Bila datar, ia menaikkan sebelah bibirnya. Bukan semuanya, namun hanya sudut sebelah kanan.
Pria itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya, wanita cantik yang memiliki kulit berbeda dari wanita di eropa ini, wanita yang memiliki mata tajam yang mampu membuatnya terpesona dalam sekali melihatnya.
Bibir yang tipis namun sexy, serta lekuk tubuh yang bisa dikatakan sempurna meskipun terbungkus dengan dress yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Sementara seorang wanita dibelakang pria itu menatap Bila dengan tatapan kagumnya.
"Saya memang cantik, tuan, namun sebaiknya anda menjaga pandangan anda. Saya merasa sedikit tidak nyaman" ujar Bila membuat seluruh manusia yang berada di sana menoleh dengan menunjukkan raut keterkejutannya.
Sekarang, pasangan suami istri itu menjadi pusat perhatian.
Avalon hanya diam, dia sebenarnya sudah panas dengan tatapan pria bernama Brandon itu pada istrinya, ketika ia ingin membuka mulutnya, ternyata sang istri lebih.
Dia termasuk orang yang sangat beruntung karena seorang pria bernama Avalon hibrida mau mendatangi pesta kecilnya, jarang jarang ada pria itu datang kesebuah pesta jika tidak menguntungkan baginya. Dapat dilihat dari pandangan semua orang padanya yang melayangkan tatapan iri karena Avalon datang ke pestanya.
Bila hanya mengangguk, sungguh dia sangat risih dengan tatapan yang pria itu layangkan padanya.
"Baiklah, tapi omong-omong, apakah ini kekasih an—"
"Dia istriku" potong Avalon membuat seluruh manusia yang berkumpul di sana terkejut dan sekarang sudah terdengar bisik-bisik yang dilayangkan pada Avalon dan Bila.
__ADS_1
Mereka heran, tidak ada sama sekali berita yang menyiarkan bahwa pria berkuasa itu menikah.
Namun, diantara mereka, tidak ada yang berani untuk berbicara dengan lantang dan menanyakan kebenarannya, karena mereka tahu kekuasaan yang dimiliki oleh Avalon.
[NB: Perusahaan sendiri, dan dunia bawah sendiri ya, tidak gabung]
Brandon mengangguk, "Dalam kenal, nyonya, saya Arine," ujar seorang perempuan berwajah imut dibelakang Brandon, perempuan itu maju dan mengulurkan tangannya pada Bila. Karena sejak tadi dia tidak mengalihkan pandangan pada wajah Bila karena kecantikan yang dimiliki oleh wanita itu.
Bila cantik, namun kecantikan itu dibalut dengan wajah tegas nan judesnya, membuat ia sangat pantas bersanding dengan Avalon yang memiliki wajah buruk rupa— banyak luka yang dimilikinya. Namun tidak menutupi wibawa dan ketampanannya.
Bila mengangguk, "Saya, Malaikat" ujar Bila membuat Avalon terkejut dan langsung menoleh, kenapa Bila memperkenalkan dirinya dengan arti namanya, dan dalam bahasanya.
Orang yang mendengar itu dan yang mengerti dengan bahasa Indonesia pun terkejut. Dalam bahasa mereka, Malaikat memiliki makna Angel.
"Malaikat?" eja Arine membuat Bila mengangguk, dia bahagia sudah mendapatkan satu teman di pesta ini.
"Mala, apakah saya bisa memanggil anda dengan kata itu?" tanya Arien polos.
Bila mengangguk, 'Dia begitu bodoh, apa dia tidak menguasai bahasa dari negara yang sudah terkenal karena kemajuannya yang sangat pesat dalam lima tahun terakhir, dia 'kan orang kaya?' ejek Bila dalam hati.
Bila menggeleng, "Jangan, panggil aku salsa" ujar Bila merasa nam malaikat terlalu lebay.
"Baiklah, emm, tuan, bolehkan aku membawa istri anda untuk berbincang-bincang?" tanya Arine membuat Avalon mengangguk.
__ADS_1
"Mari nyonya, ikut saya!"
Pesta pun berlanjut, namun, di sudut ruangan itu, terdapat seorang pria yang tengah tersenyum miring karena mendapatkan suatu hal yang dapat membantunya.