
"Hofftt..."
"Hofftt.."
"Hofftt..."
"Kenapa?" tanya Bila dengan raut khawatirnya, matanya melihat Avalon dengan seksama. Wajah pria itu sudah memerah dan keringat bercucuran di seluruh tubuhnya.
Setelah meninggalkan dirinya di rooftoof kemarin dan hanya mengambil Lengkara, suaminya itu langsung tidur tanpa mengganti baju atau mandi terlebih dahulu.
Avalon terduduk, dia menatap Bila dan langsung memeluk wanita itu dengan erat. "Maafkan aku, aku telah mengabaikan mu kemarin malam, dan sebelumnya, maaf jika aku selalu menyakiti mu dmn m lupakan sumpah ku waktu itu. Maaf" ujar Avalon dengan raut wajah yang penuh dengan penyesalan.
Bila terdiam, memang, kemarin malam— bukan, namun setelah kejadian Wiliam mati terbunuh itu sikap Avalon berubah secara drastis. Dan sekarang kenapa tiba-tiba pria itu mengungkapkan rasa sesalnya ketika bangun tidur? Apa pria itu memimpikan sesuatu yang buruk?"
"Maafkan aku, aku hanya sedang cemburu buta karena kau sangat dekat dengan Ed dan telah mencium bibir Wiliam, walaupun itu hanya untuk melindungi dirimu" lanjutnya menyesal. Dia langsung mengatakan penyesalan itu karena Avalon tidak lagi ingin merelakan Bila dan kehilangan Bila seperti dalam mimpinya.
Memang benar, seorang Avalon hibrida mengalami sebuah mimpi sang sangat buruk, mimpi yang sepertinya akan terjadi jika Avalon melakukan hal yang sama persis itu.
Bila mengerutkan keningnya. Kenapa Avalon tiba-tiba seperti seorang pria yang sangat takut kehilangan kekasihnya? Dan apa katanya tadi, cemburu buta karena ciuman dengan seorang pria yang sudah mati dan cemburu dengan Ed yang merangkulnya ketika dirinya butuh sebuah rangkulan. Bila juga merasa bersalah disini. Dia merasa perlakuannya adalah perlakuan yang salah saat ini. Tapi waktu itu, dia seperti tidak memiliki pilihan lain untuk melepaskan seluruh beban pikirannya.
"Maafkan aku jika ulahku selama ini menyakiti mu, menyakiti hati mu, dan menyakiti anak kita, maafkan aku," ujar Avalon.
Bila memeluk tubuh Avalon, "Maafkan aku juga, tanpa aku sadari, sikapku sudah melukai perasaanmu, maafkan aku, tapi aku jujur, tidak ada rasa lain dalam kedua orang itu, dan lagi pula, ini adalah kali kedua Wiliam menciumiku—"
"Apa maksudmu?!" potong Avalon.
"Jangan marah dulu. Aku akan cerita. Jujur jika aku pernah mencium Wiliam dua kali, yang pertama demi melindungi ku dan Adam dari Wiliam, dan yang terakhir untuk menghabisinya, maafkan aku," ujar Bila menyesal.
Avalon menganggukkan kepalanya, dia tak apa karena bibir Bila bukan yang pertama untuknya. Lagi pula sekarang pria itu sudah mati. "Jangan pergi meninggalkanku, jangan pernah, bicarakan baik-baik, jika aku yang tidak ingin bicara, maka tunggulah, aku mohon," ujar Avalon menangis di pelukan Bila.
Sungguh, Avalon sangat takut jika tiba-tiba Bila pergi darinya seperti dalam mimpinya.
"Baiklah, tapi apakah aku boleh bertanya?"
Avalon mengangguk, dia mengusap air matanya dan menatap Bila sayu. Bila tersenyum tipis.
"Katakan,"
__ADS_1
"Apa yang terjadi dalam dirimu?"
Avalon menghela nafasnya pelan, lalu perlahan dia mulai menceritakan apa yang dia mimpikan tadi malam.
••
Bila tertawa kecil ketika Avalon sudah menceritakan seluruh mimpinya mulai dari Bila keguguran hingga kematian Adam.
"Jangan tertawa!" ujar Avalon ketus.
"Baiklah, tapi Kenapa bisa kau sampai memimpikan ha itu?"
Avalon menggeleng, dirinya sungguh tidak tahu.
Mereka semuanya terdiam, konflik ini ternyata mudah terselesaikan hanya karena sebuah mimpi yang didapatkan oleh Avalon.
Bila bersyukur kepada Tuhan yang sudah memberikan Avalon sebuah mimpi yang jika dipikir sangat mengerikan itu.
"Anak ku umur berapa?" tanya Avalon mengelus rambut Bila lalu meletakkan telinganya diatas perut Bila yang sudah melembung besar.
•••
Empat bulan kemudian....
Bila sekarang tengah tertawa dengan Lengkara, Adam, dan Gina karena melihat aksi dari ketiga pria berbadan gagah dan besar itu.
Bulan ini, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter, bahwa Bila akan melahirkan di bulan ini dan menempati tanggal akhir bulan.
Dan selama empat bulan terakhir, Bila sudah mengalami masa-masa seperti orang hamil kebanyakan. Yaitu ngidam.
Dan ngidam Bila sangat tidak masuk akal. Mulai dari ingin melihat zombie, menonton bioskop di mall pada pagi dini hari.
Merenovasi kamarnya yang semua berwarna coklat muda dengan perpaduan antara coklat tua dan hitam kini menjadi warna merah menyala.
Meminta semangka berbentuk bintang tanpa dipotong terlebih dahulu, meminta berlian yang terukir namanya dan di pajang ditembok kamarnya. Dan lainnya.
Avalon merasakan sangat pusing dengan ngidam aneh Bila. Namun demi anak yang dikandungnya Avalon rela melakukan apapun termasuk berpakaian seperti seorang wanita seperti saat ini.
__ADS_1
Avalon, Ed, dan Bian tengah berdiri didepan para wanita itu dengan memakai pakaian wanita disalah satu kartun yang sekarang sedang booming. Yaitu pakaian Frozen, Elsa dan pakaian malam seorang wanita yang sedikit tertutup yang sedang booming juga di Asia. Khususnya negara Jepang.
Ed menggunakan baju indah milik Frozen, Bian memakai baju Elsa dan Avalon tengah memakai baju pelayan ala pelayan Jepang.
"Sudahlah, ini sudah lima belas menit kita hanya berdiri dengan pakaian sial4n ini!" umpat Ed mencak-mencak.
"Baby nya minta para pria dewasa di mansion ini menggunakan baju imut" ujar Bila tersenyum dengan mengelus perutnya.
"Benarkah baby?"
Duk...
"Kan, baby nya menendang, pertanda itu memang kemauannya," ujar Bila membuat Lengkara dan Gina tertawa. Sementara Adam hanya was-was pada tatapan tajam ketiga lelaki itu.
"Disini banyak pria dewasa," ujar Bian melirik para anggota yang berjaga. Para anggota itu hanya dapat menutup mulut mereka agar tidak menimbulkan bunyi tawa ketika melihat bos mereka yang sangat ditakuti menjadi seorang pria yang takut istri dan rela membuang seluruh harga dirinya demi kemauan sang istri dan anaknya.
Bila menoleh kearah anggota, anggota yang selama ini selalu dia repot kan dengan segala keinginannya yang diluar keahlian mereka.
Seperti merangkai bunga tulip untuk dijadikannya bando, bahkan untuk dibuat sebagai baju dan dipakaikan kepada salah satu anggota itu.
Semua, tak terkecuali di mansion itu sudah merasakan direpotkan oleh Bila, termasuk pelayan pribadinya yang rela makan banyak dalam jumlah porsi yang dapat membuat tubuhnya melebar. Para koki yang harus membuat kue tapi seluruh bahannya hanya satu. Yaitu telur.
"Aku tidak tertari—"
"Ahhh..." ringis Bila merasakan sakit di bagian perutnya.
Avalon yang sedari tadi diam langsung bergerak cepat menghampiri Bila. "Sayang, kau kenapa?" tanya Avalon khawatir.
"Sepertinya anak kita akan lahir," ujar Bila membuat seluruh orang yang mendengar terkejut dan khawatir.
"Bawa dia ke rumah sakit!" pekik Gina heboh.
"Bawa!!" pekiknya selaki lagi.
Bian dan Ed terkejut, mereka langsung berlari keluar untuk mengambil mobil di garasi.
Avalon langsung menggendong Bila untuk dibawa ke rumah sakit, dirinya langsung siaga dan memasukkan Bila pada mobil yang telah di sopir oleh Bian.
__ADS_1