
"MOMMYYY!!!" Suara yang tak asing itu terdengar, Bila menoleh, lalu dia berdiri dan membuka kedua tangannya.
"Bagaimana hari Adam?" tanya Bila memeluk tubuh kecil Adam.
"Baik mommy!" jawabnya.
"Daddy!!!" Lengkara juga ikut berdiri, dia menghampiri Avalon dan memeluk sang Daddy.
"Avalon?"
"Kau tidak bekerja?" tanya Bila melepas pelukan Adam, dan melihat kearah Avalon.
"Aku pulang, tadi menjemput Adam dan mengantarkannya kesini" Bila mengangguk sebagai jawaban.
"Mommy sedang apa?" tanya Adam.
Bila teringat sesuatu, lalu dia mengambil buket bunga tulip kecil dan memberikannya pada Adam. "Mommy sedang membuat buket bunga, ini untuk Adam" Bila memberikan buket itu pada Adam.
"Terimakasih mommy!!" Adam mencium pipi Bila, kedua ibu dan anak itu tertawa.
"Daddy! turunkan Lengkara!" pinta Lengkara. Avalon menurunkan Lengkara, lalu gadis cilik itu mengambil buket tulip besar dan memberikannya pada Avalon.
Lengkara ingin melakukan seperti mommy nya. "Ini untuk daddy!" ucap Lengkara memberikan buket besar itu pada Avalon. Lengkara tidak mau kalah dengan Bila.
Avalon mengambilnya, "Terimakasih" ucapnya tersenyum, mengecup pipi Lengkara pelan, lalu semuanya tertawa kecil dengan sikap Lengkara yang sangat manis.
"Siapa yang membuat ini?" tanya Avalon.
"Kenapa? Daddy tidak menyukai nya?"
"Tidak ini sangat indah"
"Pasti mommy yang membuatnya!" sahut Adam.
"Bukan, ini Lengkara yang membuatnya sendiri!" elak Lengkara.
"Gadis kecil seperti mu mana mungkin bisa membuat buket sebagus ini!"
"Ini Lengkara yang membuatnya, jika tidak percaya tanyakan saja pada Mommy!"
Mata Adam melebar, "Kau memanggil Mommy apa bocah!?"
"Mommy, memangnya kenapa ha?!" Lengkara berkacak pinggang.
"Tidak boleh, mommy Bila adalah mommy ku! kau tidak boleh memanggilnya mommy!"
"Sudahlah Adam, tidak apa, mommy adalah mommy kalian berdua, bagaimana? Adil bukan?" tanya Bila melerai.
"Tapi mommy~" Adam diam, dia tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh mommy nya, ingin protes pun rasanya sangat tidak sanggup.
__ADS_1
"Wlekkk" Lengkara mengulurkan lidahnya, dia merasa menang dari perdebatan kali ini dengan pria yang belum dia ketahui namanya.
"Dasar bocah sial4n!" umpat Adam.
"Adam!!" peringat Bila.
"Daddy~ dia mengumpati ku"
"Sudahlah, kalian memang bocah, ayo makan siang, jangan berdebat jika ingin berdebat akan Daddy membelikan singa!" ancam Avalon.
"Untuk apa singa Daddy?"
"Siapa yang kalah akan Daddy lempar kedalam kandangnya, untuk menjadi makanan singa itu!"
"Pembohong!" lirih Adam yang hanya didengar oleh Bila.
"Ayo semuanya kembali!" Avalon menggendong Lengkara.
Bila berjongkok, "Adam, tidak boleh seperti itu Oke? Kamu harus menghormati Daddy seperti menghormati Mommy"
"Tapi dia sudah membuat mommy sakit kemarin" Bila tertegun dengan jawaban yang di lontarkan oleh Adam, anak yang diasuh nya kini sangat menyayanginya.
Bila terdiam sebentar.
"Sebenarnya itu adalah sebuah kebohongan" ucap Bila.
"Iya, sebuah kebohongan untuk menguji apakah Adam sayang mommy atau tidak"
"Drama?" tanya Adam.
"Benar, mommy membu—"
"ANGELINA!!! AYO MAKAN SIANG!"
"Ayo makan" Bila tidak melanjutkan pembicaraan ini, dia belum mempersiapkan jawaban jika Adam bertanya sesuatu yang berada di luar nalarnya.
*Pics bunga nya...
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤
"Siapa Lengkara itu?" tanya Bila duduk di depan Avalon yang tengah duduk didepan komputernya.
Hari sudah malam, Adam dan Lengkara sudah tertidur beberapa jam yang lalu, dan kini Bila berada ruang kerja Avalon. Dengan memakai baju tidur yang memiliki celana, Bila sangat bahagia ketika memakai celana itu, setidaknya Bila masih bisa merasakan celana setelah seharian penuh memakai dress berbagai macam model.
__ADS_1
Karena Bila berganti baju sehari empat kali, pagi, siang, sore dan malam, semoga bertanya, kenapa dia harus menganti bajunya empat kali, dan jawaban dari Ana membuatnya terkejut, di peraturan berpakaian, pakaian maksimal di ganti enam jam sekali untuk menghindari kuman kecuali baju tidur yang boleh di pakai selama sepuluh jam perhari.
Bila ingin bertanya tentang Lengkara, dan peraturan pakaian yang berada di mansion ini.
"Dia anak ku" jawab nya.
"Tapi katamu aku yang pertama"
Avalon mengangguk, "Sebenarnya dia adalah anak dari orang yang pernah aku cintai, dulu" jawab Avalon terang-terangan.
"Katamu kau tidak memiliki kekasih"
Avalon menghela nafasnya, "Aku tidak memiliki kekasih, bukan berarti aku tidak menyukai seseorang" jawab Avalon.
"Tap—"
"Aku hanya mencintainya dalam diam, dia adalah rekan kerja ku dulu, tidak ada yang sepesial di antara kita, hanya perasaanku yang aku anggap sepesial" jelas Avalon.
"Kau pernah berinteraksi secara berlebihan dengannya?" tanya Bila penasaran.
"Tidak, sudah aku bilang, kita hanya rekan kerja, dan aku mencintainya tidak sengaja" memang benar, Avalon pernah mencintai seseorang, namun itu dulu, dan mereka pun hanya bertemu ketika sedang bekerja dan ketika rapat saja, wanita itu tidak pernah tahu bahwa Avalon mencintainya. Berdua diruangan yang sama pun Avalon tidak pernah.
Mungkin jika diistilahkan sekarang adalah, cinta monyet.
Bila mengangguk. "Kau masih mencintainya, sekarang?" tanyanya.
"Tidak, aku mencintaimu"
"Sial4n bagaimana bisa kau mengatakan hal itu bajing4n!" mereka berdua hanya bertemu selam dua hari, dan dengan gampangnya Avalon mengatakan bahwa dia sudah mencintainya? Lawak sekali pria didepannya ini.
"Aku masih berusaha" sambungnya.
Bila mengangguk singkat, namun pipinya sudah merona karena ucapan itu, itu berarti tidak ada kata perselingkuhan atau perceraian di antara mereka. Hanya itu yang Bila harapkan, menikahi seorang pria dengan wajah yang menyeramkan tapi sangat kaya tidaklah mudah. Dia takut jika dibuang setelah mencobanya.
"Jangan pernah selingkuh!" peringat Bila.
Avalon yang sedari tadi fokus dengan komputernya menoleh, di tidak ada pemikiran seperti itu, dia bukan pria rendahan.
"Tidak akan, bahkan untuk melihat seorang wanita lain pun aku langsung terbayang ketika kau mengamuk ketika mengetahui ku melihat wanita lain."
"Terbayang apa?" tanya Bila.
"Terbayang jika kau mengamuk dan menguliti ku hidup-hidup"
"SIAL4N KAU BAJING4N, BANG— UH.." Bila bangkit dari duduknya, mengumpati Avalon didepan wajah pria itu.
Avalon berdiri.
"Sepertinya kau harus diberi sebuah hukuman"
__ADS_1