
"Dad, dipercepat apa bisa?" tanya Adam membaca sebuah berkas yang diberikan oleh Avalon padanya. Berkas itu adalah berkas yang berisikan tentang latar belakang Wiliam dan Ferguson serta cerita singkat seluruh histori kehidupan Camora.
"Bisa, tapi sebelumnya apa Adam siap de—"
"Aku siap untuk membalaskan dendam kedua orangtuaku Dad, kedua pria itu membuatku tidak bisa melihat wajah asli kedua orang tua ku" ujar Adam geram.
"Baiklah, kau minta kapan?"
"Besok malam. Harus!"
Gila, sikap Adam, cara bicaranya, dan tatapan tajam dari sebelah mata yang tidak ditutup oleh penutup mata itu sama persis dengan seluruh apa yang dimiliki oleh tuannya. Dulu.
"Baiklah, aku akan menyiapkannya, sekarang tidur, dan besok pagi kau harus memperkuat mentalmu, nak, setidaknya jangan membuat Ferguson mengalami kematian yang menyakitkan, karena dia adalah bagian dari keluargamu, meskipun itu dulu" ujar Avalon sebelum dirinya pergi untuk menyiapkan pasukan dan rencana dadakan ini.
Avalon pun berharap untuk secepatnya membalaskan dendam ini.
•••
Bila duduk termenung menatap hamparan kebun bunga tulip yang sangat indah nan luas itu. Dia duduk disebuah ayunan sendiri.
"Hei!" sebuah tangan mendarat dipundaknya. Menepuk pelan dan mampu membuat sang empu yang ditepuk menoleh sekilas.
Ed duduk, pria itu melihat sahabatnya akhir-akhir ini sangat lesu, seperti tidak ada semangat untuk hidup. Entah karena apa, Ed tidak ingin mengetahui karena mereka sudah tidak sendirian lagi, ada Avalon yang menjadi suami Bila. Dan hal itu yang membuat Ed membatasi diri. Tidak seperti dulu saat Bila belum memiliki suami.
Bian juga duduk, namun pria itu duduk didepan Bila dan Ed. Duduk disebuah kursi yang dia ambil diujung kanan.
"Kenapa? Akhir-akhir ini kau sangat lesu" tanya Bian menaikkan sebelah alisnya.
Pagi ini, matahari sudah sedikit terbit dengan angin yang masih sejuk. Dan Bian diajak oleh Ed untuk menghampiri Bila yang nampak sendirian. Bian sempat terkejut kenapa Bila pagi pagi seperti ini sudah berada di taman ini.
Bila menggeleng, "Apa karena Avalon?" tebak Bian membuat Bila menghela nafasnya pelan. Namun dia tidak menjawab, Bila akan memendam ini sendirian. Karena hubungan pernikahan mereka adalah sebuah hal yang sangat privasi. Tapi, tidak semuanya, saat dirinya lelah dia akan bercerita untuk mengeluarkan semua keluh kesahnya.
"Sudahlah, apapun masalahmu, jangan terlalu dipikirkan" ujar Ed merangkul pundak Bila bertujuan untuk menguatkan Bila yang jelas-jelas sedang dilanda sebuah masalah.
__ADS_1
"Benar, jangan terlalu dipikirkan, biarkan semuanya berjalan dengan seiring waktu" sahut Bian menyetujui.
Bila mengangguk saja. Ia bersandar pada pundak Ed untuk mencari sebuah kenyamanan.
Bian berdiri, dia berjalan menghampiri barisan bunga tulip berwarna merah mudah yang tumbuh tersusun itu. Memetiknya tiga tangkai lalu menghampiri sahabat perempuannya yang sedang bersedih itu.
"Tiga tangkai bunga tulip merah muda untuk sahabat tersayang" ujar Bian memberikan tiga tangkai bunga tulip itu pada Bila. Dia memberikan bunga itu semata untuk menghibur Bila. Meskipun dia sendiri tidak tahu apa masalah yang sedang melanda sang sahabat perempuannya itu.
"Terimakasih" ucap Bila menerima tiga tangkai bunga tulip itu dengan senyuman tulus. Dia sangat beruntung bersahabat dengan kedua orang yang sangat perhatian padanya.
"Sama sama. Apa kau tahu,?"
Bila menggeleng.
"Ada filosofi bunga tulip berwarna merah muda dan kenapa aku memberikan tiga tangkai bunga itu padamu" ujar Bian.
Ed diam, dia hanya mengelus rambut Bila lembut.
Bila menoleh, dia nampak tertarik dengan ucapan yang dilontarkan oleh Bian. "Beri tahu aku,"
"Maksud dari kesusahan dan kebahagiaan?" tanya Bila.
"Maksudnya adalah, setelah menjalani sebuah kesusahan yang berjumbah satu, maka kebahagiaan akan berjumlah dua. Satu tambah dua sama dengan tiga" jawab Bian mengarang.
"Kau membual" ujar Bila terkekeh kecil.
"Aku serius, ka—"
"BIANNNN!!!" pekik seorang wanita yang suaranya berasal dari lantai dua.
Bian menggaruk kepalanya tidak gatal, sepertinya ia tahu telah membuat sebuah kesalahan pada Gina, sang istri.
"BIANNNAJINGGGGG!!" pekiknya sekaligus mengumpat dengan bahasa negaranya.
__ADS_1
"Aku harus pergi, sepertiny—"
"SATUU!!"
Bian tergugah dengan jeritan angka itu, jika sampai tidak ia tidak menampilkan wajahnya didepan Gina, mana malam nanti dia tidak akan mendapatkan jatahnya.
"Aku pergi" ujar Bian berlari terbirit-birit kelantai dua.
Ed dan Bila terkekeh. "Apa kau nanti juga sama seperti Bian?" tanya Bila.
"Maksudnya?"
"Kau akan menjadi suami yang takut pada istri" jawab Bila terkekeh kecil, dia menatap bunga tulip ditangannya dengan harapan yang sangat besar.
"Tidak aku tidak akan seperti itu" Ed tertawa, sepertinya dia belum tahu rasanya tidak diberikan jatah oleh sang istri.
Bila tertawa kecil mendengar itu, dia mengingat Avalon jadinya, bagaimana kabar pria itu? Bila jadi merindukannya. Ia harap suaminya itu baik-baik saja dikala kondisi hubungan mereka seperti merenggang selama tiga minggu terakhir.
Avalon tidak pernah pulang, dia pulang namun hanya sekedar mengambil apa yang dia butuhkan lalu kembali tanpa mengatakan sepatah katapun padanya.
Dan pria itu membawa Adam, selam tiga Minggu ini dunia Bila terasa sangat hampa tanpa adanya pria kecil yang dirawat dari kecil itu.
"Baiklah, aku akan mempercayai itu. Tapi bagaimana jika kau malah menjilati ludahmu sendiri?" tanya Bila.
"Tidak akan, jika kam—Hahahaha!"
Bila tertawa karena tiba tiba Ed menggelitiki perutnya, "Hahahah, setop Ed!" pekik Bila disela sela tawanya.
"Hahahh! Rasakan ini, Bila!" Ed semakin mempercepat jarinya bergerak.
"Hahahaha"
Tawa itu menggelegar, seluruh penjaga yang tak jauh dari Bila dan Ed mendengar tawa itu. Termasuk seorang pria yang tengah melihat keduanya dengan tatapan dinginnya, lagi dan lagi, dia melihat tawa itu dengan pria lain.
__ADS_1
Dan pria itu kembali menyentuh tubuh wanitanya. "Beritahu pada Bian dan Ed, mereka harus pergi ke markas dalam dua puluh menit dari sekarang!" ujarnya memencet tombol pada benda di telinganya.
Dia menatap dingin kedua orang itu, lalu beranjak pergi dengan keadaan marah lagi. Sama seperti tempo hari.