
"Kau akan menemui Bian dan Ed pukul berapa?" tanya Bila mengobati luka yang di miliki oleh Avalon.
"Satu" jawabannya.
Bila mengangguk, "Sudah, tapi wajah mu semakin jelek karena bekas luka itu" ujar Bila melihat wajah Avalon yang menyeramkan jika dilihat untuk pertama kalinya.
"Lalu, jika aku jelek, maka kau apa?" tanya Avalon membuat Bila terdiam.
"Aku adalah seorang putri yang sangat cantik" Bila mengibaskan rambutnya kebelakang. Mereka berdua habis mandi bersama dalam genangan air hangat. Ingat, hanya mandi. Tidak lebih.
"Kau bercanda? tidak ada putri yang memiliki badan seperti triplek!"
Bila mendengus, dia tahu bahwa dirinya tepos, tidak ada lakukan ditubuhnya. Bahkan lemak pun tidak ada, "Tapi, kata Ed dan Bian aku bertambah gemuk" Bila memajukan bibirnya.
"Mereka hanya ingin kau bahagia" sahut Avalon, dia akan memberikan waktu untuk Bila, kali ini.
"Tapi, katamu, dadaku semakin membesar"
"Hanya memuji, sebenarnya tidak" Bila mengelus dadanya bersabar. Untung saja di tidak mudah terbawa perasaan dari apa yang diucapkan oleh Avalon tentang dirinya. Dan, Avalon juga mengatakan hal yang sebenarnya tentangnya.
"Tap—"
"Tidurlah, aku ingin bekerja" potong Avalon.
Bila mengangguk, dirinya juga sudah mengantuk. "Aku akan tidur, dan berharap jika ketika bangun tubuhku akan memiliki lemak"
"Bermimpi lah," ujar Avalon mengelus rambut Bila kemudian mengecup pelan dahi Bila dan kembali mengelus pelipis Bila dengan senyum tipisnya.
"Tidurlah, jangan memikirkan apapun, kau sudah sempurna" ucapnya lalu beranjak meninggalkan Bila yang sudah memerah padam.
"Sial4n, pria jelek itu!" pekik Bila menutup wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤.
"Jadi, racun itu kau yang meracik?" tanya Avalon pada Bian.
Bian mengangguk membenarkan pertanyaan Avalon.
"Baiklah, aku akan mengajakmu bekerja sama untuk kelompok Camora" ujar Avalon langsung pada poinnya. Mereka sekarang berada di ruangan Avalon tepat pukul satu dini hari.
Setelah menyelesaikan semua kekacauan yang telah terjadi dibawah perintah Ed yang para anggota Camora lihat adalah orang yang dekat dengan Avalon.
"Untuk apa?" tanya Bian belum mengerti. Dia hanya ditanya oleh pria yang menjabat sebagai suami sahabatnya.
"Aku akan mengajakmu bekerja untuk berada dibawah naungan Camora" jelas Avalon mengambil sebuah berkas lalu melemparkannya pada Bian.
Bian diam, dia mengambil surat itu dan membacanya. Tak lama, dia mengambil pen Avalon dan menandatangani perjanjian seumur hidup itu. "Baik, dengan syarat, Ed harus andil dalam hal ini" ujar Bian yang langsung di angguk oleh Avalon.
"Aku?"
"Kau bertugas untuk melatih anggota ku menggunakan jarum itu" ujar Avalon sudah final. Ia menyerahkan berkas lain pada Ed.
Selagi ada kesempatan. Karena, kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. pikir Avalon.
Ed mengangguk senang, dia langsung mengambil dan membacanya sekilas. "Baik, aku setuju!" ujar Ed menandatangani perjanjian ini. Dia tidak ingin kesempatan untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang guru di bidang bela diri akan hangus.
"Dengan syarat" Ed berhenti.
"What?" Avalon mengerutkan keningnya.
"Jaga Bila dengan seluruh hidupmu, bahagiakan dia, jangan membuatnya menangis, temani dia setiap kau ada waktu— jangan sampai kau lupa waktu hingga kau menghiraukan Bila, dia wanita yang ceria yang memiliki kepribadian ekstrofet. Jadi sering-sering lah meluangkan waktumu untuk sekedar berbicang santai dengannya. Bila wanita yang tidak suka keheningan. Dan jangan mendua apalagi meninggalkannya!" ujar Ed menggebu. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi sahabatnya.
Avalon mengangguk mengiyakan. Ternyata, hubungan persahabatan mereka tidak bisa Avalon anggap remeh. Mereka saling mendukung dan melindungi di setiap ada kesempatan.
__ADS_1
"Its oke, that's easy" ujarnya. Avalon juga harus memiliki waktu khusus untuk istrinya. Dia ingin rumah tangganya hangat dan bahagia seperti keluarga tuan Andrew nya dulu.
"Jadi, apakah kau mencintai sahabatku?" tanya Ed tiba tiba membuat Avalon terkejut, dia tidak sampai memikirkan hal itu. Dan apa itu cinta?, dia hanya pernah mendengar kata itu dari tuannya, tapi dia tidak pernah merasakan atau mengerti arti kata itu
"Apa itu cinta?" tanya Avalon membuat kedua pria yang memiliki umur dibawah Avalon tertawa dengan sangat kencang di gelapnya malam.
"Kau pria aneh! Cinta itu sebuah perasaan!" pekik Ed menggebrak meja.
Brak...
"Jika kau ingin merasakannya, buka hatimu dan terima Bila di hidupmu, berusahalah menerimanya dan kau akan mendapatkan arti dari kata cinta itu!" jelas Ed memberhentikan tawanya. Dia duduk dengan Bian yang sudah menetap Avalon dengan tajam.
Mereka tidak perduli dengan status Avalon yang seorang bos dari kelompok mafia. Mereka sekarang bukan rekan atau anak buah dari Avalon. Namun seorang sahabat yang sedang menginterupsi suami dari sahabatnya.
Avalon terdiam, menerima? Dia sudah menerima Bila sebagai pasangan hidupnya. Dan untuk membuka hati, Avalon belum pernah membuka hatinya.
"Aku sudah menerima Bila sebagai istriku, namun, untuk membuka hati, aku akan mencobanya"
Bian dan Ed mengangguk, mereka tahu alasan Avalon menikahi Bila, dan menurut mereka, Avalon juga memerlukan waktu untuk mencintai Bila.
"Ak—"
Ceklek
"Ava!" Bila datang dengan baju tidur yang pendek. Dia berjalan kearah Avalon dengan menggaruk kepalanya, namun, matanya masih tertutup.
Bila menghampiri Avalon, lalu wanita itu duduk diatas pahanya, memeluknya dan membenamkan wajahnya di dada Avalon. "Ava, aku sudah memiliki dada yang besar" ujar Bila mengingu. Lalu, Bila kembali dengan dunia mimpinya.
"Aku akan pergi, sampai disini dan mulai besok kalian harus bekerja. Aku ingin membalaskan dendam tuan dan nyonya. Dan targetnya bulan depan. Semuanya harus terselesaikan untuk menjaga Adam!" ujar Avalon beranjak dengan membawa Lengkara di gendongannya.
"Ava, dadaku besar"
__ADS_1
"Aku ingin bicara tentang toko kita" ujar Ed membuka topik pembicaraan.
"Sebaiknya kita bicarakan dengan Bila, lalu minta tolong Avalon agar mempercepat mencari pelaku pembakaran itu"