
"Adam, kenapa kamu membunuh wanita itu?" tanya Bila dengan lembut. Dia memegang pundak anaknya dengan erat. Raut keterkejutannya tidak dapat dia kendalikan. Kenapa bisa, seorang anak berusia tujuh tahun sudah membuhuuh orang?.
"Aku hanya ingin membalaskan dendam Lengkara, Mom" tidak ada raut ketakutan di wajah Adam, seakan apa yang baru saja dia lakukan adalah hal yang tidak membahayakan baginya.
"Tap—"
"Sudahlah, tidak apa, tapi jangan melakukan hal itu lagi, oke?" potong Avalon. Adam mengangguk.
"Baik, Dad, aku akan tidur, ini sudah mau pagi" ujar Adam keluar dari kamar kedua orang tuanya.
Bila duduk dengan syok, pastinya. Karena, ia merasa sangat gagal menjadi seorang ibu yang baik, hingga kini, disaat umur anaknya baru menginjak tujuh tahun sudah membunuh seorang wanita dewasa.
Cara pembunuhan itupun dilakukan dengan menggunakan jarum miliknya yang tersimpan dengan apik didalam laci samping tempat tidurnya.
Dan hal itu menjadi sebuah kesan kesalahan tersendiri untuk Bila.
Adam melakukan hal itu secara diam diam, dia mengambil jarum yang entah bagaimana bisa dia ketahui kegunaannya. Dia juga diam diam menusukkan jarum itu ke lengan wanita itu. Tidak ada yang tahu akan hal ini, hanya Bila dan Avalon serta Adam. Sementara wanita yang mati itu dianggap mati secara normal karena tidak ada tanda-tanda kekerasan sedikit pun.
Bila memyunggar rambutnya, akhir-akhir ini banyak masalah yang menimpa mereka. "Aku lelah, Avalon"
"Tidur saja jika kau lelah, jangan khawatirkan Adam, dia sudah mewarisi apa yang seharusnya dia miliki."
"Tapi itu sebuh kriminal, Avalon! Adam masih kecil!" pekik Bila.
"Dunia kita memang kriminal, Bila, jangan menutup mata akan hal itu!" sahut Avalon membuat Bila diam. Dia terlalu menutup matanya ternyata.
Bila merebahkan dirinya, matahari sudah mulai terbit, namun pasutri itu belum juga tidur sejak kemarin.
"Sudahlah, jangan dipikirkan, ayo tidur, nanti teman temanmu akan datang" ujar Avalon mengangkat tubuh Bila, dan meletakkannya diatas ranjang. Avalon juga turut berbaring dengan memelukmu erat tubuh Bila yang kini sudah bergetar karena menangis.
"Anakku, dia akan menjadi seperti apa, besok" lirihnya.
"Dia akan menjadi seorang yang sangat berkuasa. Mungkin akan mempengaruhi dunia"
(◍•ᴗ•◍)❤(◍•ᴗ•◍)❤
"Om!!" pekik Adam berlari kencang dari arah tangga ketika dia melihat om yang selama ini tidak pernah ia lihat.
"Pelan, pelan, Cil!" sahutnya ikut berlari. Lalu, kedua orang berjenis kelamin sama itu memeluk satu sama lain.
"Om, Adam kangen!!" ujarnya.
"Om juga" ujar pria itu mengangkat tubuh Adam kemudian membawanya berputar diatas.
"HHAHAH, om sudah!" Adam tertawa.
__ADS_1
"BIANNNNN!!!" pekik Bila turun dari tangga, dia berlari dengan kencang, lalu melompat ke tubuh tegap itu. Bila memeluk tubuh Bian dengan erat, sementara seorang wanita disamping Bian hanya menggeleng kecil melihat sepasang sahabat yang sudah lam tidak bertemu itu.
Bian memperkokoh kakinya agar tidak tumbang. Jujur saja, Bila semakin berat dari terakhir dia menggendongnya.
"Kau semakin berat, apa kau bahagia?" tanya Bian mengelus rambut Bila dengan lembut.
"Aku bahagia dengan pria jelek itu" jawabnya.
"Turun, Bila!" desis Avalon menghampiri Bila yang berada di gendongan Bian.
"Apa, sih!" Bila turun, dia menatap tajam Avalon.
"Kemari!" Avalon menarik baju belakang Bila, menyeretnya ke sofa yang berada di ruang tamu mereka.
"Hey, lepaskan, aku bisa berjalan sendiri!" sudah terlambat, Bila sudah duduk disebelah Avalon.
"Hey, kalian! Duduklah!" ujar Avalon.
"Ayo duduk" ucap Bian pada sang istri. Regina Patricia Maismosa atau yang biasa dipanggil Gina. Wanita berkulit gelap namun memiliki senyum yang sangat manis.
"Ayo duduk, Om!" ujar Adam yang masih be berada di gendongan Ed.
Hari sudah sangat malam, mereka semua duduk di sofa yang tersedia dengan keadaan hening.
"Nungguin Om," jawab Adam.
Ed mengangguk.
Suasana kembali hening, mereka sekarang sangat canggung. Entah kenapa, dan yang biasanya Ed membuat topik kali ini juga diam.
"Khem" Bila berdeham untuk memecah kecanggungan.
"Eh, Bil, bagaimana kabarmu? Apa kau bahagia disini?" tanya Ed membuat Avalon menoleh. Pertanyaan macam apa itu.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak bahagia?" jawab Bila.
"Aku akan membawamu kembali ke rumah" ujar Ed.
"Dia bahagia, Ed, lihat saya, dia semakin membulat" sahut Bian.
Ed terdiam, dia meneliti apa yang dikatakan oleh Bian. "Benar, tiga bulan tidak memberi kabar, tahu-tahunya sudah gendut saja, kau Bil!" Ed membenarkan ucapan Bian.
"He! Kalian kalau bicara jangan sembarang! Aku masih langsing gini!" Bila tak terima, dia berdiri, dan berpose selayaknya model yang tengah menunjukkan keseksian tubuhnya yang dibalut dengan baju tidur berlengan panjang.
Baju tidur yang dia mintai ijin pada Avalon untuk memakainya keluar dari kamar.
__ADS_1
"Duduk, Bil!" Avalon menarik baju Bila hingga wanita itu terduduk kembali.
Bibir Bila mengkerut. "Bagaimana tidak tambah gendut, Om, Mommy disini tidak pernah bergerak. Mommy tidak pernah keluar kamar kecuali jam makan dan ketika bermain dengan Lengkara atau aku!" sahut Adam menggebu-gebu.
"Apa benar yang kau katakan?" tanya Gina menimpali.
Mereka tahu, bahwa Lengkara adalah anak dari Avalon. Dan kini, suasana sudah kembali seperti biasanya— kembali hangat.
Adam mengangguk membenarkan.
Mata Bila membola, dia menggeleng. "Tid—"
"Khem!" Avalon berdeham. Semua atensi beralih pada Avalon.
"Mohon maaf jika aku tidak memberikan kalian sambutan " ujarnya berbicara untuk pertama kalinya dengan nada yang berat dan dingin.
"Biasa saja, ki—"
Dor...
Dor...
Dor...
"Tuan, maafkan saya, karena mansion ini sudah dikepung oleh kelompok Arion, " lapor seorang pria yang sudah berdarah disejumlah titik di tubuhnya. Pria itu datang dengan senapan yang dipegangnya dan nafas yang tidak beraturan.
"Apakah ini yang kau sebut sebagai sambutan, Tuan Avalon?" tanya Bian menyeruput kopinya dengan santai. Seakan tidak terjadi apapun disini.
Avalon berdiri, dia mengambil pistol yang berada di selat sofa yang dia duduki. "Anggap saja begitu, aku yakin jika kalian tidak bodoh. Maka ambillah senjata yang berada di sofa belakang kalian, dan keluarlah!" ujar Avalon mengambil dua pistol dan berlalu dihadapan keenam orang itu.
"Adam, Adam keatas bersama Gina ya" ujar Bila pun berdiri lalu mengambil pistol dibelakang sofa yang di duduknya.
"Apa Adam bisa melihat?" tanya Adam membuat semua orang terkejut.
"Tid—"
Dor!
Penjaga tadi tumbang karena peluru yang dikeluarkan oleh seorang pria yang berada didepan pintu.
Semuanya terkejut, dan dengan sigap Bian, dan Ed bergerak.
"Terserah, Gina bawah Ed keatas, kekamar Lengkara, dan lindungilah mereka!" ujar Bila. Tidak ada waktu untuk melakukan apapun sekarang.
Dor!
__ADS_1