
Dengan jas yang sama persis, ketiga pria itu berjalan di belakang ratu di hidup mereka, seorang perempuan yang istimewa dengan kelakuan istimewa nya.
Istimewa karena perempuan di depannya berbeda. Dengan perempuan yang lain, dan yang pernah mereka temukan. Jika perempuan lain pergi kesebuah pesta menggunakan baju indah yang di miliki nya, maka Bila berbeda, dia menggunakan jas hitam sama seperti tiga pria di belakang nya.
Ed dan Bian tidak melarang, terserah apa yang di inginkan Bila, kebahagiaan Bila adalah kebahagiaan mereka juga.
FLASHBACK....
"Evelyn! Eveeeee!!!!" pekik Bila mengeluarkan menoleh ke arah kanan dan kiri lorong rumah lantai dua rumah nya. Kamar nya ada di lantai dua, dan kamar Adam da di lantai satu, entah karena apa, Bila hanya ingin memisahkan kamar nya dan kamar Adam. Alasan nya ingin Adam mandiri sejak dini.
Dia memangil satu-satunya pelayan yang sedikit dipercayai nya lebih banyak dari pada pelayanan yang lainnya.
"Eveeee!!!" pekiknya sekali lagi, dia seakan lupa, jika ingin memanggil pelayan di rumah nya bisa menggunakan ponsel. Ingatkan padanya bahwa jaman sedang berkembang.
Bian yang memiliki kamar hanya terpisah dengan tembok pun menghela nafasnya sambil bertanya-tanya, kenapa perempuan itu berteriak hingga terdengar di seluruh rumah hanya untuk memanggil seorang pelayan? Padahal Bila tinggal memencet ponsel nya dan pelayanan itu akan datang. Apa Bila lupa? Sangat diluar prediksi nya.
"EVELLLLLLYYYYYYN!!!!!!" pekik Bila, dia mendengus kecil ketika suara nya tidak terdengar oleh perempuan yang umurnya lebih muda dari nya itu.
"Iya nona, ya ampun, nona apa yang anda lakukan?!" tanya Eve terkejut dengan kelakuan absurd nona muda nya ini.
"Kenapa raut wajah mu menunjukkan seakan-akan telah menemukan keajaiban dunia?!" Bila mengerutkan dahinya.
"Kenapa anda hanya memunculkan kepala anda?" tanya Eve kikuk, dia sedikit terkejut, pasalnya selama satu bulan menjadi pelayan nona muda nya ini, baru kali ini dirinya melihat secara pasti kelakuan absurd nona muda nya. Sebelum-sebelumnya nona muda nya ini nampak pendiam dan selalu murung.
Dan biasnya, jika nona nona muda di keluarga lain, akan bersikap anggun, elegan, sopan, dan lainnya, tapi, seperti nya khusus nona muda nya yang ini berbeda.
"Memangnya kenapa?"
"Emm..." Eve sedikit malu dan takut ketika diberi pertanyaan seperti ini, apalagi pertanyaan itu di beri langsung oleh sang majikan.
Bila yang melihat keraguan mendengus "Bicaralah, aku tidak akan marah, dan jika aku bertanya apapun, maka jawablah, meskipun itu terlihat tidak sopan atau akan menyinggung ku paham?" jelas Bila.
Eve mengangguk, "Saya paham nona, maafkan saya"
"Jadi, kenapa?"
"Kenapa anda tidak sekalian keluar atau masuk saja? Apa anda tidak lelah seperti itu?" tanya Eve ragu.
Bila melihat dirinya sendiri, dia tidak lelah hanya karena memunculkan kepalanya ke luar, sementara seluruh badan nya ada di belakang pintu.
"Oh, tidak, ayo masuk!" Bila menarik tangan Eve masuk ke dalam kamar nya.
Eve sangat terkejut, ketika mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Apa aku cocok dengan dress ini?" tanya Bila berdiri di depan kaca dan di depan Eve.
__ADS_1
Eve terpesona dengan keindahan yang di pancarkan oleh Bila, meskipun wajah nona nya belum di poles oleh apapun, wajah nona nya nampak cerah dan bersinar.
"Sangat bagus nona" Eve tidak pernah sekalipun melihat nona muda nya berpakaian rok, dress ataupun ha hal yang berbau perempuan, setiap hari pakaian yang di pakai oleh nona nya adalah pakaian yang sama seperti yang di pakai oleh kedua tuan muda nya.
"Yang benar?" Bila ragu, dia sama sekali tidak percaya diri ketika memakai dress, mungkin karena tidak pernah memakai nya dan menjadi tidak terbiasa.
"Benar nona, anda sangat cantik ketika memakai dress itu, saya terpesona" puji Eve, dia tak memalingkan wajahnya pada wajah sang nona yang memiliki wajah di atas rata-rata.
Guratan merah menyebar di pipi Bila, "Kau pandai memuji Eve, apa kau mau naik gaji?" tanya Bila.
"Tidak nona, anda benar benar sangat cantik"
"Jadi kau tidak mau naik gaji, Eve?" tanya Bila menyelidik.
Evelyn gelagapan, siapa yang tidak suka dengan uang? "Tidak seperti itu nona"
Bila mengangguk, dia akan menaikkan gaji Eve, lalu Bila kembali melihat dirinya di depan cermin dengan memakai dress pertama kali nya. Dress yang memiliki bentuk duyung dengan kain yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuh nya yang gepeng.
Bila melihat ke arah dadanya, tidak ada sesuatu yang menonjol di sana, kemudian dia melihat ke arah dada Eve yang nampak sangat penuh dan besar. "Punya ku tidak tumbuh ya?" monolog nya kembali melihat dadanya.
Evelyn terkejut, namun dia mencoba untuk menormalkan kembali raut wajah nya.
"Ah si4l, memang dunia tidak adil, Eve, tolong ambilkan jas" ujar Bila melepas dress yang di pakai nya.
Eve mengangguk, dia mengambil setelan jas berwarna hitam dan memberikannya pada Bila.
"Anda sangat cocok menggunakan dress nona, ken—"
"Diamlah Eve, dunia benar benar tidak adil" ketus Bila lalu menurunkan dress yang di pakai nya. Kemudian memakai setelan jas sembari menggerutu karena lagi lagi dia merasa dunia sangat tidak adil padanya. Kenapa dia memiliki dada yang kecil? Sementara Eve memiliki dada yang besar?.
Eve memejamkan matanya ketika melihat kulit mulus nan putih yang dimiliki oleh nona nya.
Setelah memakai setelan jas nya, Bila kembali bercermin, "Eve bagaimana cara menghilangkan luka ini?" tanya Bila menunjuk luka yang membujur di sudut matanya.
"Saya tidak tahu nona, namun, menurut saya, anda terlihat semakin cantik ketika luka itu ada di wajah anda"
"Apa itu benar?"
"Benar nona" Eve mengangguk.
"Baiklah, ayo berangkat"
"Tap—"
"Sudahlah, Eve, tunggu dulu, seperti nya ada yang kurang" Bila berhenti.
__ADS_1
"Yang kurang adalah makeup anda nona" timpal Eve.
"Tidak Eve, aku alergi benda itu"
"Apa no—"
"Ambilkan pisau ku, dia berada di laci"
Of....
(◍•ᴗ•◍)❤️
(◍•ᴗ•◍)❤
(◍•ᴗ•◍)❤
•
•
•
Bila berjalan ke sebuah gedung yang sudah dia sewa untuk sebuah pesta yang hanya di hadiri oleh empat orang saja.
Tidak ada yang lainnya. Hanya ada dia kedua sahabat nya dan anak laki-laki nya.
Bila berhenti, "Stop!!" merentangkan kedua tangan nya kemudian berbaik arah. Bila menghampiri Bian yang sedang menggendong Adam, membisikinya sesuatu lalu Bian mengangguk.
Bila membuka pintu gedung itu, dan di saat pintu itu di buka, tangan Bian dengan sigap menutup mata Adam.
"Om, enapa utup mata Adam?" Adam kecil dengan tenaga kecil nya mencoba untuk melepaskan wajah nya dari tangan Bian.
"Epas om! Epas!"
Bian tak menjawab, dia terus berjalan hingga berada tepat di sebuah meja Bian menurun Adam.
"Happy birthday!" suara berasal dari ketiga orang dewasa yang bertepuk tangan.
Adam berdiri di sebuah kursi pendek, melihat sekelilingnya dan melihat ruangan dengan dekor ulang tahun bertemakan animal dan dinominasi warna biru menjadi perhatian nya sekarang. Adam melihat ada bermacam-macam balon berwarna biru, serta balon dengan berbagai kepala hewan.
Lalu, di meja depannya, Adam melihat tulisan namanya terpampang jelas dengan sangat indah.
Adam tahu nama nya jika di tulis dengan huruf. Dia pernah di ajari oleh Ed kemarin kemarin.
__ADS_1