
"Saya sendiri tuan" Bila menundukkan kepalanya, meskipun di dalam hati ku berkobar rasa ingin mencabik cabik wajah pria itu.
"Terjemahkan bahasa balita itu"
Bila mengangguk singkat, lalu, ia menghampiri Adam dan berdiri di depannya. 'Sabar nak, besok mommy akan membalasnya dengan tangan mommy' Bila bergumam di dalam hatinya.
"Hei bocah, siapa nama ayah mu?"
Deg!
Pertanyaan itu, sungguh akan keluar sekarang? Dan apa sekarang waktunya Adam mengetahui apa itu ayah?.
Padahal ia sengaja tidak memberitahu apa itu ayah, Bila tidak ingin Adam tahu bahwa dirinya tidak memiliki ayah, sekarang.
"Yah? pa tu?" lagi dan lagi, ucapan Adam mampu membuat nya sedikit panik dan dapat mendebarkan jantung nya selain uang.
"Apa yang dia katakan?" tanya pria yang Bila ketahui namanya adalah Wiliam. Bila melirik pria itu sebentar, namun, tatapan dari pria di belakang Wiliam sangat menakutkan bagi orang yang melihat nya, tapi bagi Bila itu sama sekali tidak menakutkan.
"Ayah? Apa itu" Bila sedikit menahan nafasnya.
"Apa-apaan ini, apa dia tidak punya ayah, kenapa sampai tidak mengetahui apa itu ayah?"
"Ayah itu pasangan dari ibu atau mommy, atau mama, atau bunda" Bila yang mengetahui bahwa Wiliam sudah sedikit marah akhirnya memberitahu Adam dengan kata yang di mengerti oleh balita itu. Akan bahaya jika pria itu mengamuk sebelum Bian menyelesaikan tugas nya.
Dapat Bila lihat, bahwa Adam mengangguk mengerti. 'Sialan, aku akan membalasnya KAPARAT!' maki Bila pada orang yang menanyakan tentang ayah pada Adam.
"Dak, Adam nya unya mommy" senyum Bila sedikit mengembang ketika mendengar ucapan Adam tentang dirinya.
"Kata nya, Adam tidak punya ayah, hanya punya mommy, tuan" ujar Bila menahan senyum di bibir nya.
"Sialan, yang benar ini mana?! Erick!" geram Wiliam.
"Seperti yang saya duga tuan, kemungkinan besar bocah ini adalah keturunan Camora" Erick mencoba menjelaskan.
'Camora? apakah itu arti tatto di belakang leher Adam yang cmr itu?' tanya Bila dalam hati nya.
Selain menyelamatkan Adam, seperti nya Bila akan mendapatkan sebuah informasi mengenai Adam.
"Benar, sebaiknya kita apakan dia?"
Deg!
Lagi-lagi jantung Bila di pompa dengan sangat kencang nya. Dia bukan orang bodoh yang tidak mengetahui apa makna sebenarnya yang di ucapkan oleh Wiliam.
"Seba—"
"Maaf lancang tuan, sistem keamanan di retas oleh seseorang!" seorang pria datang dengan tergesa.
__ADS_1
'Emm, Bian, kau menyelamatkan kami!'
Bila melirik, Wiliam yang sangat marah, hingga telinga pria itu mulai memerah.
'Sepertinya Bian membuat banyak kekacauan, bukan sedikit' tebak Bila.
"Kenapa kau mengacau sialan?" bentak Wiliam memukul wajah pria tadi.
Buakkhhh....
Srrrrttt...
Tepat waktu! Bila menutup mata Adam dengan sigap ketika melihat pukulan itu, Adam belum cukup umur untuk melihat adegan kekerasan.
Seperti nya Bila lupa jika Adam pernah ia ajak mencuri, balapan dan adu bacot dengan kedua sahabat nya.
"Maafkan saya tuan, sistem keamanan kita di serang dan data kita sebagian telah bocor" lapor bawahan Wiliam.
"Sialan! kemana orang orang yang menjaga di sana? Tidak becus sama sekali bajing4n!" maki Wiliam sebelum dia dan anjing setia nya keluar meninggalkan Bila dan Adam yang berada di dalam ruangan itu.
"Ayo keluar nak!" ucap Bila menormalkan nada bicara nya.
Adam menoleh, dirinya terkejut ketika mendengar suara familiar itu. "Mom—sssttthhhh" baru saja Adam berteriak, Bila kembali membekap mulut pria kecil nya itu.
"Jangan berisik nak!" peringat Bila.
Bila tersenyum kecil. "Ini mommy sayang, mommy Bila"
"Mommy, long epasin!" (Mommy, tolong lepasin!) rengek Adam.
"Sebentar"
Bila menoleh ke kanan dan kiri, dia tidak melihat seseorang satupun, hanya melihat satu cctv di pojok kanan ruangan itu.
Bila menekan sesuatu di belakang telinganya. "cctv di ruangan bawah tanah apakah sudah?" tanya Bila ketika sambungan telepon tersambung dengan Bian.
"Belum, aku tidak mengetahui alamat IP nya" jawab Bian.
Bila menghela nafas nya. Dia maju ke depan kamera itu dan melihat lima digit angka yang tertera di bawah kamera itu.
"Aku menemukan nya Bi, tolong urus kamera dulu, aku ingin mengeluarkan Adam."
"Iya, ayo aku hanya punya waktu senggang lima menit"
"09619"
Bila mendengar antara tangan dan keyboard beradu dengan sangat cepat nya, seperti tidak ada jeda meski satu detik pun.
__ADS_1
"Sudah, keluar lah, cctv yang berada di dalam tanah ini hanya bisa aku manipulasi selama lima belas menit, dan usahakan lima belas menit sudah berkumpul di titik tadi. Di belakang rumah warga sebelah yang kosong. Bagaimana Ed?" tanya Bian.
"Iya, aku sudah menyelesaikan semuanya, tinggal Bila keluar dan aku membantu nya!" ujar Ed yang sekarang tengah berada di atas sebuah dahan pohon kayu.
Ed telah meracuni puluhan penjaga di rumah mewah itu, membuat kondisi di dalam rumah itu menjadi kacau dan kesempatan itu yang di buat oleh Bila untuk membawa kabur. Dan Ed hanya meracuni, jika orang-orang itu mati, maka bukan urusan nya juga.
Terkesan seperti pengecut memang, menyerang diam-diam, namun ada Adam yang membuat mereka seperti ini. Sudah cukup balita itu melihat pembunuhan tadi pagi, sekarang jangan.
Panggilan itu terputus, Bila menghampiri Adam dan cepat cepat melepaskan ikatan tali yang mengikat pria kecil nya itu.
"Are you okay?" tanya Bila mengelus rambut Adam. Dia tidak bisa membuka tali ini sendirian, tali ini terlalu keras.
"Ke mommy" (Okey mommy) jawab Adam.
Bila mengangguk, dia mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam rok pelayan nya. "Kenapa Adam tidak menangis?" tanya Bila mengalihkan perhatian Adam agar tidak terlalu fokus dengan apa yang tengah di lakukan nya.
"Ku dah ngis mommy, pi ku ngat ata mommy, plia ndak oleh ngis, di aku enti angis!" (Aku sudah menangis tadi mommy, tapi aku ingat kata mommy, pria tidak boleh menangis karena hal kecil, jadi aku berhenti menangis!) nada bicara Adam sedikit percaya diri.
"Wah, hebat anak mommy, sekarang, kamu turun!" ujar Bila mengangkat tubuh Adam dan menurunkan ke atas lantai.
"Woah... Mommy hebat!" riang Adam.
Bila tak menjawab perkataan Adam, dia mengeluarkan satu buah obat berwarna putih dan memberikannya pada Adam.
Bila berjongkok di depan Adam, dia menyetarakan tinggi badan nya dengan Adam.
"Adam ingin keluar tidak dari sini!" tanya Bila pelan pelan, tidak mungkin untuk Bila menyuruh balita dengan kekerasan.
"Au, Adam au!" jawab nya berbinar.
"Baik, kalau begitu ayo kita bermain" ajak Bila.
"Main pa mommy?" tanya Adam.
"Bermain seperti akting di film"
*
*
*
*
*
*
__ADS_1