
Jam sembilan pagi, sebagian orang di sky house sibuk mengatur berbagai dekorasi di hotel mewah, tempat untuk pernikahan megah yang sudah disewa mahal. Sedangkan Melissa sedang pergi bersama empat putranya ke rumah empat calon menantunya untuk membicarakan pernikahan yang digelar besok lusa. Sementara Nara tampak mencari seseorang di tengah - tengah kesibukan para istri - istri yang lagi memilih pakaian pesta untuk suami mereka dan gaun yang indah.
"Hey, Nara! Kemarilah!" Sena, istri Reyhan itu memanggil Nara.
"Siapa yang kamu cari, Nara?" tanya Chila, istri Samudra.
"Apa kamu lagi cari mamih?" tebak istri Elvan.
"Ma...maaf kak, aku cari Kiano dan Alan." Nara berdiri di antara tiga wanita cantik itu.
"Oh ya, Alan barusan keluar sama papahnya dan juga anak yang kemarin itu juga ikut sama Ezra." Tiga - tiganya menunjuk ke luar rumah.
"Ayo sini duduk, kita pilih - pilih gaun bersama untuk besok lusa. Mumpung hari ini tidak terlalu disibukkan dengan perintah mamih." Chila menepuk di dekatnya.
"Ehh... Nara, kenapa denganmu?" Sena berdiri.
"Nara, maaf kami tidak bermaksud memaksamu. Kalau kamu tidak mau, tidak apa - apa." Chila dan Istri Elvan mendekati menantu kecil itu tampak bersedih.
"Tidak, aku senang kalian menerima ku dan Alan di rumah ini, Kak." Nara tersenyum simpul.
"Haih, Nara! Kamu bikin cemas tahu, tapi syukurlah. Terima kasih ya, berkat sedikit masalah kamu yang dulu, kami bisa bersama dengan orang yang kami cintai." Chila memeluk adik sepupu kecilnya. Sena juga berterima kasih dan begitupun istri Elvan.
"Oh ya, apa kalian melihat Kak Biyan, Zehan dan Julian?" tanya Nara pada mereka yang duduk kembali dan melihat contoh gaun.
"Nah itu mereka!" Istri Elvan menunjuk mereka yang menuruni anak tangga siap menjemput Bu Mayang.
"Terima kasih tadi tawarannya, tapi sepertinya aku mau bicara dulu pada mereka, permisi kak." Nara segera mengejar si trio.
"Kak, tunggu!"
"Kenapa, Nara?" Ketiga ipar mudanya itu bertanya.
"Boleh saya ikut kalian?" Nara mengatupkan dua tangannya pada mereka lalu memohon.
"Untuk apa kamu ikut?" tanya mereka.
"Saya ingin langsung menjemput Ibu dan langsung bertanya padanya! Saya perlu memaksa Ibu berkata jujur, Kak."
"Apa Ezra nanti tidak masalah kamu ikut bersama kami?"
"Saya akan menghubunginya nanti, Kak. Tolong biarkan saya ikut ke sana!" Melihat adik ipar kecilnya merengek, akhirnya terpaksa disetujui dengan anggukan.
"Terima kasih, Kak!" Nara naik ke dalam mobil dan menuju ke rumah Bu Mayang.
Toktoktok!
__ADS_1
"Hey, Kumi!" Ezra menyapa Kumi yang membuka pintu untuknya. Dia sudah tiba di rumah anak kecil itu bersama Kiano dan Alan. Melihat Ezra datang, Kumi merasa bangga pencariannya memang tidak salah bahwa Kiano punya hubungan dengan Ezra. Buktinya Alan adalah anak yang mirip dengan Kiano dan Kiara.
"Sepertinya anak om sudah sembuh, tapi bukannya om bilang cuma punya anak satu? Siapa anak ini, om?" Kumi menunjuk Kiano.
"Ah ini ... Kiano." Ezra tampak ragu jawab Kiano anaknya karena masih belum tahu hasil DNA dari Reyhan yang sekarang lagi memulai tugasnya.
"Saudara kembarnya, om?" Kumi menunjuk Alan.
"IYAH!" jawab Alan padat dan jelas.
Kumi sedikit kagum pada Alan yang langsung terus terang. Maka Kumi pun paham kalau Kiano sudah jujur sama Alan tentang hubungan mereka.
"Om, bisakah om jelaskan kenapa om punya dua anak kembar?" tanya Kumi dengan tatapan bak detektif.
"Itu, saya juga belum tahu," ucap Ezra yang kini duduk di satu kursi. Alan dan Kiano juga duduk di sebelahnya. Sebuah jamuan spesial di atas meja yang tersedia khusus untuk Alan dan Ezra.
"Kenapa tidak tahu, om?" tanya Kumi.
'Niatku cuma mau bayar hutang, tapi ini kenapa aku dibawa ke taman dan menghadiri jamuan teh para bocil?' pikir Ezra jadi ikutan seperti bocah esde.
"Karena saya baru bertemu Kiano di New York kemarin lalu." Jujur Ezra.
"Om itu sudah salah, lho!" Tunjuk Kumi dengan sinis. Sedangkan Alan dan Kiano terheran - heran.
"Apa yang salah?"
"Jangan!" ujar Alan berdiri.
"Kiano bukan anak orang dan papah tidak menculik! Kamu jangan sembarangan menuduh papah! Alan bisa laporkan kamu dengan tuduhan mencoreng nama baik papah!" tambah Alan tidak terima papahnya langsung diberi ancaman oleh anak ingusan itu. Memang tidak salah lagi, Alan mewarisi sifat Ezra yang blak - blakan meski bicaranya terdengar belepotan. Tapi Ezra mengacungkan sepuluh jempol padanya sudah berani membela sang ayah.
"Tapi kata papah kamu dulu, dia cuma punya satu anak!" Kumi berdiri dan lumayan suka dengan Alan yang berani membantahnya.
"Kamu orang lain! Tidak boleh begitu sama papah Alan! Dan Kiano itu saudara kembar Alan, dan tahun depan Alan mau punya adik!" Lagi - lagi Alan mengomel. Kiano dan Kumi pun terperangah karena baru tahu itu.
'Haih, kenapa jadi ribut - ribut para bocil ini?' Ezra merasa sedikit geli mendengar perdebatan dan melihat mulut mungil mereka mengoceh. Lancar sekali bicara dan membantah, seperti berada di pengadilan.
"Apa buktinya kamu dan dia kembar?" tanya Kumi dengan seringai tipis.
"Ini buktinya!" Alan dengan muka temboknya itu memeluk Kiano dan menempelkan wajahnya pada Kiano. Ezra tertawa dalam hati melihat tingkah Alan yang imut itu.
"Iya! Kiano dan Alan itu kembar! Kamu jangan pura - pura buta!" balas Kiano peluk Alan. 'Sepertinya Kiano memang anakku. Tapi aku perlu bukti dari DNA.' Ezra membatin dan sedikit kagum pada dua anak itu yang begitu cepat akrab. Layaknya slime yang lengket terus dan menggemaskan.
"Kalau kalian kembar, siapa yang tua? Siapa yang muda?" tanya Kumi masih mengetes.
"Dia!" Alan dan Kiano tunjuk - menunjuk sehingga Ezra tidak tahan ingin meremat tubuh tiga anak itu.
__ADS_1
'Kalau saja Nara tadi kuajak ke sini, dia pasti senang melihat tingkah lucu dua anak ini, tapi,' batin Ezra sedikit cemas dan masih memikirkan ucapan Nara. 'Daripada semuanya dipendam begini, aku harus tanyakan ini padanya!' Ezra menatap Kiano namun saat mau bicara, tiba - tiba ada secangkir teh yang diletakkan di dekatnya.
"Hey, hari ini Kiara mau melihat yang seru, bukan kalian bertengkar!" ujar Kiara sudah datang bersama pengasuhnya di taman itu.
Kreeek
Suara kursi terdorong, membuat empat anak kecil di depannya seketika memandang ke arah Ezra yang tampak shock dengan telunjuk mengarah pada Kiara.
"Kamu.... siapa?" Ezra sangat kaget sampai berdiri dari tempat duduknya itu. Kiano secepatnya berdiri di dekat Kiara dan menunjuknya. "Dia Kiara, papah."
Alan mengerjap - erjapkan matanya sudah melihat Kiara hari ini dan Ezra tidak menyangka dirinya punya tiga anak, apalagi yang satu ternyata anak cewek yang lumayan tengik.
"Alan pikir Kiara itu anak laki - laki!" Alan menunjuk Kiara dengan muka datar meskipun masih terkejut.
"Namaku Kiara bukan Kianto!" ujar Kiara dengan muka sombongnya tapi menggemaskan.
"Ohhh,"
"Ihhhh, kenapa kamu cuma ohh saja?" celetuk Kiara dengan mulut tipis yang mengerucut. Sedikit kecewa sama ekpetasinya melihat reaksi Alan yang tidak heboh.
"Memang Alan harus melakukan apa?" sahut Kumi di tengah - tengah tiga anak itu supaya tidak ada main tangan. Sedangkan Ezra masih diam di tempat sedang mengontrol jantungnya yang terpompa naik turun.
"Kiara pikir dia mau guling - guling, lompat - lompat, jingkrak sana sini, teriak tarzan atau lompat dari atap rumah itu." Bahasa Kiara tampak fasih dan lumayan kasar sebab berada di lingkungan sang Kakek yang sering dibawa ke tempat kelompok Mafianya.
'Haih, ini namanya mengakhiri hidup!' batin Kiano.
"Apakah setiap orang terkejut harus begitu? Ck, itu tidak berguna." Alan dengan dingin menolak.
'Ish, dia arogan sekali.' Kiara menggerutu.
"CUKUP! JANGAN BERTENGKAR DULU!" Ezra melerai Kiara dan Alan yang sedang perang dingin di alam batin mereka.
"Daripada cekcok, bagaimana kalau kalian berdua jelaskan kenapa bisa sampai sejauh itu pisah dari mamah?" tambah Ezra menatap satu - satu anak di depannya.
"Benar, Kumi setuju!" sahut Kumi yang juga ingin tahu lebih akurat.
"Kiara mau jawab, tapi kita harus pergi dulu ke wahana!" Kiara menunjuk poster di tangannya yang terlihat seru dan menyenangkan.
"Kiano setuju! Kiano ingin sekali bermain di tempat seperti ini!" Kiano menunjuk juga dengan wajah berseri - seri seperti tidak pernah merasakan taman bermain.
"Lho, kalian berdua tidak pernah ke tempat ini?" tanya Ezra, Alan dan Kumi yang masih belum terlalu mengetahui semua tentang Kiara dan Kiano.
Dua anak itu menunduk sedih dan mulai menjelaskan kalau Kiano sering dilatih di atas ring. Bela diri terus tanpa liburan. Sedangkan Kiara dilatih di depan puluhan komputer dan buku. Belajar IT terus tanpa liburan juga. Beruntung otak mereka sanggup menanggung latihan itu sehingga tidak pecah.
Alan sedikit mundur, merasa hidup Kiano dan Kiara sangat kasihan sudah dipaksa menjadi anak yang handal.
__ADS_1
.
Sifat Ezra kayak berpecah belah di tubuh anaknya wkwk