Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
21. BAB 21 - 30 JUTA SEMALAM


__ADS_3

TokTokTok!


"Nara," panggil Daffa yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan berniat mengajak Nara senam pagi keliling kompleks elit. Dia sekarang sudah siap dengan seragam olahraga di hari minggu ini. Satu menit berlalu, pintu kayu bercat putih itu masih belum terbuka.


"Apa masih tidur? Atau sudah keluar?"


Lama menunggu, Mahendra dengan kaos abu - abu dan celana panjang pun keluar dari kamarnya. Daffa dengan cepat bertanya. "Lihat Nara, Pak?" 


Mahendra seperti biasa memasang muka datarnya. Menjawab dengan dingin. "Tidak tahu." Kemudian turun ke bawah menyiapkan sarapan.


"Kenapa sikapnya tambah cuek? Apa Pak Mahendra lagi dapet?"


Bukan karena itu, Pak Mahendra masih belum habis pikir adiknya yang sudah punya satu anak. Dia yang sudah mapan dalam segala hal sedang gelisah kalau takdirnya berakhir menjadi perjaka tua seperti yang lain.


Saat Daffa mau mengetuk lagi pintu Nara, kamar Pak Mahendra terbuka kembali. Ezra yang selalu pakai jaketnya pun keluar dengan muka yang lebih kusut dari kakaknya.


"Hey, Ezra! Lihat Nara?" panggil Daffa dengan pertanyaan yang sama. Satu nama itu saja yang masuk ke telinga Ezra, sudah membuat mood cowok itu ambyar.


"Woy, aku tanya lihat Nara nggak?" tanya Daffa kembali.


"Cih." Ezra melewatinya dengan satu decakan lalu turun ke bawah.


"Hari ini kenapa kakak beradik itu cuek?" Daffa pun melihat tanggal di layar hapenya.


"Hmm, tanggal ultahku masih jauh, jadi sikap mereka ini memang asli dan tidak dibuat - buat, tapi apa alasan mereka begitu?" Daffa tahu biasanya dua bersaudara itu akan menegur sapa satu atau dua kata, tapi kali ini tersenyum saja tidak mau. Tiba - tiba pintu di belakangnya terbuka lebar.


"Pagi, Nara," sapa Daffa cepat. Nara mengulas senyuman kecil. "Maaf lama, tadi baby Alan lagi BAB." Demi Daffa tidak curiga, dia berusaha tetap bersikap seperti tidak terjadi apa - apa. Namun garis hitam di bawah matanya itu tidak bisa membohongi Daffa kalau kemarin menangis sepanjang malam. 


"Nara, apa kemarin karena Vano, tidurmu tidak nyenyak?"


"Alhamdulillah, tidurku sangat nyenyak."


Tuk


Satu sentilan mendarat di kening Nara membuatnya meringis kecil. "Dasar, jangan suka berbohong, tidak baik buat waketos sekolah, nanti kepercayaanku bisa menurun." Daffa menasehati dengan serius.

__ADS_1


"Ya maaf…." Nara menunduk lesu kemudian terpaku diam merasakan kepalanya dielus tangan Daffa yang hangat. "Tidak usah bersedih, aku tidak akan biarkan dia mendekatimu." 


Bukan memikirkan Vano saja, Nara sebenarnya bimbang bagaimana jelaskan statusnya yang sudah resmi jadi istri sah Ezra dan adik iparnya Mahendra.


"Turun yuk, Pak Mahendra pasti sudah buat sarapan," ajak Daffa ingin menggandengnya, tetapi dengan cepat Nara pergi duluan. Sikap Nara itu tampak sedang menjaga jarak dengannya. "Apa cuma perasaanku?" gumam Daffa menyusul.


🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒


Di tengah - tengah sarapan, tidak ada sepatah kata yang terucap. Hanya suara sendok dan piring yang berdenting bersamaan arah jarum jam tangan Mahendra yang sedang menunjukkan pukul delapan pagi. Sampai akhirpun, Ezra dan Nara diam saja. Mahendra juga diam. Hanya Daffa yang sibuk bertanya - tanya dalam hatinya.


Apa jangan - jangan ada yang ulang tahun hari ini?


Atau lagi ngambek - ngambekkan?


Atau mungkin lagi syuting film?


Daffa yang selesai makan membawa piring kotornya ke tempat cucian, sedangkan Ezra pergi duduk di depan televisi dan bermain game. Sedangkan Mahendra ke atas melihat keponakannya. Hanya Nara yang sekarang mulai bekerja dengan serius mencuci piring - piring kotor. Daffa seperti orang asing saja di rumah sendiri. Saat ingin menawarkan Nara senam pagi, tiba - tiba suara cewek melengking di ruang utama.


"EZRA! GOOD MORNING, SAYANGKU!"


"Dia siapa?" tanya Nara.


"Friska, anak kelas dua dan sekaligus wakil Ozara." Daffa mejawab dan melirik Nara yang tidak berkedip saking terkejutnya. "Nara, tidak usah takut, dia pacarnya Ezra."


Deg..


Sejenak Daffa diam dan sempat melihat Nara tersentak kaget.


'Friska? Pacarnya Ezra? Kalau begitu apa mereka saling mencintai? Jika itu benar, apa aku bisa membuat Ezra mencintai baby Alan juga?' Nara berharap putranya diberi cinta dan kasih sayang walaupun sedikit, tapi melihat Ezra yang bebas duduk di dekatnya Friska dan merangkul pinggang cewek itu, membuat Nara yakin itu sangat mustahil.


"Hai, kamu kenapa, Nara?" tanya Daffa cemas melihat adik kelasnya itu berkaca - kaca. Karena tidak tahan melihat suaminya dan Friska bercanda mesra, Nara berbalik mencuci piring dan menahan isak tangisnya. Bukan sakit karena cintanya tapi sakit karena tidak dianggap di mata ayah anaknya sendiri. Ezra yang dulu sering berkata sesuatu, hari ini satu kata saja tidak terucap, bahkan Ezra sangat jijik melihatnya, lalu bagaimana baby Alan di mata Ezra? Kalau begini, apa gunanya menikah? Nara tetap menahan buliran tangisnya di samping Daffa yang diam berpikir.


'Apa Nara cemburu sampai begitu?' 


'Hem, tidak - tidak! Dari awal Nara tidak terlalu suka Ezra! Aku tidak usah mencemaskan itu! Lagian Ezra itu tidak cocok sama Nara!' Daffa menggelengkan kepala lalu duduk di kursi meja makan, menunggu Nara selesai. Seusai cuci piring, Nara menggantung celemeknya dan sekuat tenaga tetap tegar. Namun seketika Ezra yang memanggil, langsung meruntuhkannya.

__ADS_1


"Woy, pembantu cupu!"


"Pacar gue haus, bawakan air minum dong!"


"Cepat bodoh, jangan cuma diam!" Kata - kata Ezra membuat Daffa berdiri dari kursinya yang syok melihat sepupunya itu yang begitu kasar meminta. Daffa ingin meneriakinya, tapi Nara menangkap kepalan tangannya yang bersiap menghajar Ezra. "Jangan, Daffa." Mohon Nara tidak mau baby Alan menangis pagi ini jika mendengar keributan dari ayahnya. Nara tidak masalah dicacimaki asalkan bukan anaknya. Sedangkan Friska menahan tawa gelinya melihat Nara membawa nampan.


"Pfft, ternyata waketos benar - benar pembantu di sini,"


"Oh ya, kenapa tidak kerja saja di club hiburan? Lumayan loh bisa dapat 30 juta cuma semalam doang,"


"Kerjanya juga tidak berat, hanya tidur di kamar bersama om - om." Kata Friska tidak segan - segan menghina Nara. Membuat Daffa muak melihat Ezra yang merekrut Friska menjadi wakilnya, apalagi berpacaran dengan gadis sombong itu. Tetapi Nara cuma menyinggungkan senyuman kecil, kemudian naik ke atas.


"Hahaha… kasihan ya, sudah miskin, yatim piatu dan sekarang numpang di rumah orang. Gue heran, kenapa ya ketos kita begitu baik hati, apa jangan - jangan ada maunya?" Tawa Friska juga tidak segan - segan menyindir Daffa.


"Cih, kalian memang cocok jadi pasangan. Sama - sama sombong dan tidak berguna." Daffa naik ke atas, tidak jadi senam pagi. Ingin rasanya muntah setelah melihat Ezra yang cuma diam saja dan membiarkan Friska seenaknya bicara.


"Ezra, keluar yuk, kita kencan hari ini," rengek Friska menarik - narik tangan Ezra. Namun, cowok itu menolak.


"Maaf, gue mau belajar." 


Friska melongo pada Ezra yang begitu entengnya menaiki anak tangga. "Ezra! Lo kenapa sih? Tumben mau belajar?" Bukannya diberi jawaban, Ezra dengan tegas menunjuk pintu.


"Pulang!"


"Pu.. Pulang? Gue baru saja datang loh?" celetuk Friska.


"Gue bilang pulang ya pulang! Pulang sana, Friska!" bentak Ezra serius. "Akhhh! Nyebelin deh!" Sebal Friska pulang. Sedangkan Ezra memukul tembok bertubi - tubi, masih tidak terima statusnya yang sekarang.


"Aaaahhh, kenapa jadi begini sih."


"Ini semua gara - gara Vano, awas saja lo!"


Melihat Ezra di bawah marah - marah sendiri, Mahendra yang di lantai atas cuma menatap kosong adiknya. Pria dewasa itu sedang memikirkan bagaimana menjelaskan ke 10 saudaranya nanti kalau Ezra masih kecil - kecil cabe rawit sudah lebih dulu jadi orang tua.


...

__ADS_1


__ADS_2