
"Cey, kenapa di sini? Bukannya tadi mau ke toilet?" Garce dan Daffa menoleh ke belakang. Terlihat Ibunya datang karena cemas putrinya yang tidak kembali. Garce segera melepaskan tangannya dari Daffa.
"Eh, anda inikan wakepsek di sekolah anak saya, putra ketiga Tuan Givan, kan?" Tunjuk Ibunya terkejut bisa berjumpa dengan Mahendra.
"Ya, saya wakepsek di sekolah Garce tapi sekarang saya sudah dipindah tugasnya ke ELIPSEAN I bersamaan dengan putri anda dan lima teman sekolahnya yang juga dipindahkan ke sekolah itu." Jelas Mahendra sopan.
"Dan kamu putranya Pak Dirga yang dirumorkan berhasil membubarkan Ozara dan Blackzak, kan?" Tunjuknya ke Daffa yang tersenyum saja
"Saya senang sekali dapat melihat anda dan sepupu anda di sini, Pak Mahendra." Ucap Ibunya Garce tersenyum dan berdiri di dekat putrinya.
"Cey, mom tidak sangka hari ini ada dua cowok yang datang ke sini, apa jangan - jangan mereka sedang mengejarmu, sayang?" bisik Ibunya menggoda. Garce terkesiap, menunduk agak tersipu.
"Cey, ada apa ini?" Ayahnya pun datang dan terkejut putri - istrinya bersama dua cowok.
"Woah Mahendra, senang sekali kita bisa bertemu di sini. Ada apa sampai adik sepupumu berada di sini juga?" tanya Ayahnya mengulurkan tangan, tahu asal usul dua laki - laki di depannya berasal dari keluarga yang besar dan berpengaruh di sekolah putrinya.
"Senang juga bisa bertemu anda, Tuan. Kedatangan saya di sini ingin berbicara empat mata dengan putri anda, bisakah memberi kami waktu sebentar?" balas Mahendra tersenyum singkat.
"Bicara? Boleh saja, hahaha..." Ibunya jadi salting sendiri melihat pesona dari senyum Mahendra yang katanya killer tapi bikin hatinya klepek - klepek.
"Ya sudah, mom dan dad ke sana lagi, setelah bicara sama mereka, kamu segera ke sana, mengerti Cey?" Ayahnya menunjuk.
"Baik, Dad."
Setelah orang tuanya pergi, sekarang Garce berdiri hanya bertiga saja. Ia menatap sedih karena Nara tidak ikut bersama mereka. 'Pasti Nara sudah membenciku jadi dia tidak berminat mencegahku pergi.' Batin Garce murung. Seketika terkejut saat Mahendra dan Daffa memanggilnya.
"Garce." Kompak keduanya lalu saling menatap.
"Ayo bicara." Lagi - lagi serempak membuat Garce tertawa dalam hatinya.
"Pak, biarkan saya bicara duluan," ucap Daffa.
"Daffa, kamu datang ke sini pasti dengan tujuan yang sama. Jadi jangan ganggu kami berdua dulu." Mahendra menarik Garce ke sampingnya. Gadis bule itu merona bisa merasakan telapak tangan Mahendra yang besar dan kokoh. Baru juga tangan, bagaimana nanti si burung dalam sangkar?
'Ya Tuhan, jodohku emang yang terbaik.' Garce menjerit dalam hatinya. Namun seketika diam karena laki - laki dewasa yang disukainya itu kakak iparnya Nara.
"Cih, padahal aku yang duluan." Daffa mendengkus melihat Mahendra dan Garce menjauh. Ia datang karena disuruh oleh ayahnya kalau sampai - sampai Mahendra tidak bisa mencegah Garce.
"Maaf Pak, saya pindah bukan karena masalahku dengan Nara. Saya pindah ke Paris karena pekerjaan orang tuaku. Mohon Pak Mahendra bisa mengerti," ucap Garce.
Mahendra menghela nafas, sedikit lega tak ada kebencian di hati Garce ke adik iparnya. 'Kalau begini, aku mudah membujuknya.'
"Garce, saya harap kamu pikirkan dulu keputusan ini. Kamu adalah siswa pilihan yang dapat membantu sekolah ELIPSEAN I menjadi lebih baik lagi seperti ELIPSEAN II," jelas Mahendra.
"Pak, saya tidak bisa bersekolah di sana, saya tidak memiliki keberanian seperti mantan ketiga organisasi," ucap Garce melirik Daffa yang sudah mampu bela diri.
__ADS_1
Pakh...
Daffa terhenyak melihat Mahendra menepuk dua bahu Garce dan bicara dengan nada yang menyakinkan.
"Garce, kamu salah, selama ini kamu sudah mengumpulkan banyak keberanian,"
"Banyak keberanian?"
"Ya, coba ingat dulu, saya berhasil mendisiplinkan 200 siswa berkat kamu dan menolong Daffa yang mau dikroyok di dalam karauke. Lalu kamu berani memarahi anak buah cewek blackzak yang sering mengganggu Nara. Serta saya kagum padamu saat di perundingan waktu itu. Kamu pintar bicara dan mengambil sebuah keputusan yang tepat."
'Woah, apa ini? Apa Pak Mahendra sedang memujiku?' batin Garce pun malu - malu.
"Aku rasa kamu memang cocok bersekolah di sana, Garce," sahut Daffa.
Garce merenung sejenak lalu ...
"Maaf Pak, saya cuma beban untuk kalian." Garce mundur sudah waktunya harus masuk ke dalam pesawat. Ia ingin pergi namun Mahendra sekali lagi menggapai tangannya duluan sebelum Daffa menariknya berhenti.
"Garce, kalau kamu kawatir dilukai blackwolf di sana, aku yang sendiri menjaga dan melindungimu di sana. Kamu hanya perlu berada di sisiku selalu."
Deg
Garce menoleh cepat karena nada bicara Mahendra sudah tidak formal. Daffa juga merasa aneh ke Mahendra yang begitu bersikeras Garce masuk ke ELIPSEAN I. Merasa seperti pernah diposisi Mahendra.
'Kok kayak dejavu ya,' batin Daffa tampak tidak ingat pernah berkata begitu pada Nara yang mau mundur dari jabatannya.
"Garce, bukan cuma Pak Mahendra saja, aku juga akan melindungimu dari mereka." Daffa menggapai tangan lain Garce. Sehingga ada dua cowok yang memegang tangannya. Membuat orang - orang merasa seperti menonton sebuah drama. Satu cewek yang dikejar oleh dua cowok.
PLAK
Orang - orang terkejut melihat Garce menghempaskan tangan dua cowok itu dan berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Maaf, saya harus ke sana."
Gagal sudah membujuk Garce. Mahendra dan Daffa membiarkan Garce pergi ke orang tuanya. Setelah itu, mereka berdua keluar dari Bandara. Duduk bersama di sebuah bangku kosong.
"Huft... soal bujuk membujuk memang bukan ahliku." Mahendra sadar kemampuannya cuma di ahli debat saja. Memenangkan perseturuan bukan meluluhkan hati seseorang. Itulah Mahendra jomblo sampai sekarang. Tidak pintar merayu cewek.
"Aku juga sepertinya masih tidak berguna." Daffa menghembus kecewa dan menatap pesawat Garce sudah terlintas di atasnya. Tiba - tiba ada panggilan masuk di hapenya Mahendra. Daffa menormalkan duduknya dan melihat Mahendra berdiri.
'Siapa?' Daffa mau bertanya tetapi tidak jadi karena panggilan itu dari Nara. Suaranya jelas didengar karena Mahendra mengaktifkan speakernya.
"Ada apa, Nara?" tanya Mahendra.
"Apakah Garce berhasil dibujuk?" Nara balas bertanya seraya duduk berdua bersama Melly.
__ADS_1
"Maaf," ucap Mahendra terdengar gagal.
"Ini pasti gara - gara aku jadi dia meninggalkan kita, aku harusnya jujur padanya. Kalau saja masih ada kesempatan, aku ingin bicara padanya. Tapi sekarang dia pasti sudah terbang ke Paris," lirih Nara sedih. Namun tiba - tiba semua diam karena di belakang ada seseorang yang menyahut.
"Siapa bilang? Nih aku ada di sini kok," ucap Garce berkacak pinggang di sebelah kopernya.
"Garce?" Daffa bangkit, sedangkan Mahendra terbelalak muridnya tidak ikut ke orang tuanya. Melly dan Nara sama - sama tersenyum sumringah mendengar suara patner mereka masih ada.
"Garce, kamu tidak ke Paris?" tanya Daffa. Garce menganggukkan kepala. "Tidak, aku masih betah di sini dan akan terus di sini sampai lulus bersama teman - temanku."
'Alhamdulillah, dia tidak marah lagi.' Daffa dan Mahendra dalam hati merasa senang. Sebab Daffa bisa mengajak Garce jadi patnernya, sedangkan Mahendra bisa memanfaatkan Garce mengumpulkan informasi. Sementara Garce, ia merasa ini kesempatan baginya dekat - dekat sama Mahendra sampai pria itu menyadari perasaannya.
Masing - masing punya niat yang terselebung dan tujuan berbeda - beda.
"Ezraaaaa!" panggil Nara sekarang berlari ke ruangan tempat suaminya diintrogasi oleh kedelapan iparnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Vano ke Melly.
"Syukurlah, Garce berhasil dibujuk dan sepertinya dia akan tinggal di sini juga," jawab Melly senang ada tiga cewek di sky house.
"Hah? Tinggal di sini juga?"
"Iya, Pak Mahendra sudah mendapat izin dari orang tua Garce." Senyum Melly.
'Hahaha, mansion ini harusnya dikasih nama rumah penampungan, bukan sky house.' Vano tertawa dalam hati, tak habis pikir tinggal dengan banyak orang.
"Jadi sahabatmu itu akan tinggal di sini?" tanya semua uncle - uncle baby Alan.
"Serius? Garce ditampung juga?" Ezra yang selesai diintrogasi dan berhasil lulus dari kecurigaan saudaranya, ia sangat terkejut.
"Ya, boleh kan?" Nara memohon, memperlihatkan wajah imut - imutnya sehingga semua iparnya membuang muka, tidak tahan rayuan Nara. Mereka pun setuju demi sang adik ipar bahagia. Tapi tidak bagi Ezra.
"No, aku tidak setuju!" Sentak Ezra membuat baby Alan terlonjak karena suaranya yang tinggi. Nara mendengkus, menghampiri Ezra, berbisik ke telinga suaminya.
"Nanti malam jangan harapkan itu."
'Hah? Itu? Maksudnya itu - ituan?' Senyum Ezra melebar dan pipinya bersemu merah.
"Ya udah deh, aku setuju!"
Mulut Elvan dan saudaranya menganga, si bungsu mendadak balik haluan.
"Kyahahaa...." Riang baby Alan melihat ekspresi uncle - unclenya yang lucu sekali. Suasana pun meriah gara - gara semuanya tertawa. Namun seketika diam saat suara Vano menggema keras. Mereka semua pun menuju ke pintu utama. Langsung terkejut dengan kepulangan Reyhan yang sedikit babak belur dan membawa pulang si Dokter cantik yang terluka parah.
"KAKAK!" Vano memang membencinya tapi wanita itu tetaplah kakak kandungnya. Vano pun mengangkat kakaknya yang pingsan itu lalu meletakkannya ke ruangan Reyhan yang dipenuhi alat - alat operasi.
__ADS_1
Nara memberikan segelas air ke Melly yang masih terkejut calon kakak iparnya itu tertembak di bagian bahunya dan disayat di bagian pinggang kirinya. Luka - luka itu jelas terlihat Reyhan dan Dokter dihajar oleh kelompok gangster.
"Tenanglah Melly, ingat kamu sedang hamil. Jangan terlalu pikirkan yang tadi kamu lihat. Kita berdoa saja semoga operasinya lancar. " Nara menenangkan Melly yang masih bergetar ketakutan.