Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
90. BAB 90 - BEDA JAUH


__ADS_3

"Yakin, nih?" tanya Ezra tidak sabar menunggu malam.


"Ya," ucap Nara.


"Okeh, aku tunggu, tapi awas kalau bohong, aku tidak akan biarkan kamu keluar kamar,"


"Ihh jangan ancam begitu dong, aku kan jadi takut nih." Nara memeluk dirinya sendiri.


"Hehe, ya maaf. Kalau begitu aku ke kamar," henti Ezra ketika pintu kamar di sebelahnya terbuka.


"Eh, Garce?" Tunjuk Ezra dan Nara ke gadis itu yang memang masih tinggal di sky house dan sekamar dengan Bu Mayang.


"Kebetulan nih kalian datang, tolong kak Ezra ambil baby Alan di sana," ucap Garce menunjuk baby Alan yang terlelap di dekat Bu Mayang yang juga sedang tidur.


"Pantas tidak dengar suaranya, dia tidur lagi. Lama - lama bisa jadi Bang Davin yang tukang tidur." Ezra mengangkat bayi gemoynya yang cuma pakai popok dan baju tipis.


"Terima kasih sudah bantu jagain baby Alan," ucap Nara ke sahabatnya itu.


"Hm, tidak masalah." Senyum Garce ceria. Setelah Nara dan Ezra pergi ke arah kamar mereka, Garce mengeluarkan surat dari sakunya. Ia membuka surat yang tadi dia tulis.


"Okeh, daripada dipendam terus, aku harus kasih ini." Garce masuk ke kamar, memberi sedikit tambahan. Sedangkan di kamar pasutri, Ezra dan Nara sedang mencari - cari sesuatu.


"Coba kamu cari botolnya di dapur, siapa tahu Ibu yang cuci," ucap Ezra mencari botol susu baby Alan supaya nanti malam Nara bisa membuat susu formula untuk anaknya agar tidak mengganggu sarapan malam Ezra.


"Tapi, Za. Aku sendiri yang selalu cuci dan tidak pernah suruh Ibu," kata Nara sampai mencari di bawah ranjang. Sementara baby Alan masih menikmati mimpi indahnya.


"Coba cari di luar deh, mungkin saja baby kita yang bawa, apalagi dia kadang jalan sendiri dan seret botol kesayangannya itu," ucap Ezra sudah lelah mencari sana sini.


"Hm, aku cari di luar sebentar. Kamu di sini jagain baby,"


"Hm, serahkan saja padaku. Meski dia bangun sebelum kamu datang, biarkan aku yang susui," canda Ezra.


"Haha, ada - ada saja kamu, dasar suami tepos," ucap Nara lalu keluar cepat. Ezra pun menunduk, menatap dadanya yang memang rata.


"Aku tepos karena memang cowok, Nara!" celetuk Ezra kemudian mengunci mulutnya sebelum baby Alan bangun sungguhan.


"Duh, botolnya hilang di mana ya?" gumam Nara menyusuri jalan di depannya. Sontak ia tidak sengaja melihat Garce diam - diam ke kamar Mahendra.


"Apa yang Garce lakukan di sana?" Karena penasaran, Nara pun mengikuti sahabatnya itu yang lagi kebingungan di depan dua kamar.


"Kamar Pak Mahendra yang mana ya?" Garce sedikit lupa menentukan di mana kamar pujaan hatinya yang bersebelahan dengan kamar Samudra.

__ADS_1


"Katanya, Pak Mahendra itu anak ketiga, kalau begitu, ini pasti kamarnya!" Garce perlahan masuk ke kamar bagian kiri yang tidak terkunci. Ia pun tertegun melihat isi kamar itu yang rapih dan bersih, tidak mirip kamar Ezra dan Nara yang kadang berantakan bak kapal pecah akibat ulah kenakalan baby Alan.


"Aku taruh di sini saja deh, semoga Pak Mahendra nanti baca setelah dia pulang dari rumah keluarga Bastian," hela Garce mengelus dadanya yang deg - degan. Sedangkan Nara yang mengintip di luar kamar, ia mengerutkan keningnya. 'Itu surat apaan?' pikirnya.


Saat Garce mau berbalik badan, tiba - tiba ada yang keluar dari kamar mandi.


"Hey, kenapa kamu ke sini?" tanya Samudra yang habis buang air besar karena klosek di kamarnya tiba - tiba rusak, jadi terpaksa pakai kamar Mahendra.


Garce tersentak, langsung menoleh.


"Itu, Pak. Saya ...." Garce terbata - bata, ia grogi dan menundukkan pandangannya. Sehingga Garce tidak terlalu mengenali pria dewasa di depannya.


"Surat apa yang kamu taruh?" tanya Samudra ingin mendekat tapi Garce mengambil suratnya lagi.


"Kenapa diambil?" tanya Samudra curiga.


"Kamu mau pindah sekolah?" tebak Samudra mengira itu surat Garce yang mau ke Paris. Seperti dulu gadis itu memberi surat ke kepala sekolah Elipsean ll.


"Bukan, ini surat yang beda," ucap Garce sedikit mundur.


"Surat beda? Apa isinya?"


"Saya suka sama om."


DEG


Nara tidak sangka dapat mendengar ungkapan Garce itu. Sama halnya Samudra juga terkejut.


"Garce suka sama Kak Samudra?" gumam Nara dan kembali terkejut ketika ada yang menepuk bahunya.


"Apa maksudmu, Nara?" tanya Mahendra dengan wajah dinginnya itu. Ia baru pulang bersama Melissa dari rumah Tuan Bastian yang sudah selesai membericarakan tanggal yang bagus untuk pernikahan Reyhan, Sena, Vano dan Melly tahun depan. Beserta Nara dan Ezra akan menikah kembali. Tuan Bastian ingin mengadakan pernikahan meriah dan megah untuk tiga pasangan itu, tetapi Melissa menolak karena tidak mau publik mengetahui anak bungsunya menikah di bawah umur. Dengan terpaksa Tuan Bastian menurutinya dan akan membayar sendiri resepsi pernikahan tertutup itu sebagai ganti rugi atas perbuatan Vano kepada Ezra.


Ketika Nara mau menjawab Mahendra, ia kembali diam membisu bersamaan Mahendra juga sangat terkejut namanya disebut di dalam sana.


"Saya suka sama Pak Mahendra, dari awal masuk sekolah, om sudah membuat saya jatuh cinta." Namun jawaban Samudra amat menyakitkan.


"Tapi saya tidak mencintaimu."


Duar ...


Surat yang masih dipegangnya itu hampir terlepas dari tangannya yang bergetar itu. Garce mengangkat pandangannya dengan mata berkaca - kaca. Seperti ada balon air yang meletus di matanya itu.

__ADS_1


"Kamu masih sekolah dan perlu tiga tahun kamu lulus dari sana. Jika saya menunggumu tumbuh dewasa, saya sudah jadi perjaka tua. Singkirkan surat itu dan perasaanmu itu, carilah laki - laki yang seumuran denganmu saja." Samudra menolak demikian karena merasa Garce tidaklah pantas bagi Mahendra.


"Tapi saya tidak masalah dengan itu, saya serius tulus cinta sama om," ungkap Garce lirih.


"Tulus? Atau ada niat bulus?" sinis Samudra menuduh Garce punya niat jahat. Ucapannya memang tajam.


Sebelum air matanya jatuh, Garce menyeka genangan di pelupuk matanya. Kemudian tersenyum sedikit.


"Terserah anda mau bicara apa. Sekarang yang penting saya sudah katakan isi hati saya yang sebenarnya. Maaf sudah mengganggu anda, Pak." Garce sudah siap menerima penolakkan itu. Ia pun berjalan keluar dengan panadangan terus menatap ke bawah supaya air matanya yang jatuh itu tidak terlihat oleh siapapun. Sehingga ia tidak sadar melewati Nara dan Mahendra. Namun berkat tangannya ditarik Nara, ia pun menoleh.


"Hiks, Nara." Garce dipeluk oleh sahabatnya itu. Mendadak tangisnya berhenti ketika ada suara yang bicara di sebelahnya.


"Tadi itu, kamu serius?" ucap Mahendra sedikit malu bertanya.


"Eh? Loh kok anda ada di sini?" Tunjuk Garce ke Mahendra yang ada di luar kamar, kemudian melihat ada juga di dalam kamar.


"Cey, dari tadi memang ada di sini, kamu saja yang salah orang, yang di dalam itu Kak Samudra bukan Kak Mahendra," ucap Nara melepaskan pelukannya dari Garce.


"Ehhhhh?" Garce terkejut dan langsung lari ke kamarnya. "MAAF PAK!" pekik Garce sedikit tersipu. Namun cepat, tangannya digandeng Mahendra. "Ayo kita bicara empat mata." Jantung Garce pun kembali berdebar - debar dibawa ke teras rumah. Sedangkan Nara menahan tawa, tidak seperti Samudra yang cuma geleng - geleng kepala.


"Kalau tinggal di sini, semua terlihat tidak normal di mataku." Samudra masuk ke kamarnya sendiri. Sedangkan Nara lari ke kamarnya, ingin katakan ke Ezra. Akan tetapi berhenti di dekat tembok setelah mendengar suara Melissa sedang bicara ke Ezra. Ia pun menunduk sedih melihat Melissa menunjuk baby Alan dengan amarahnya. Ia mendengar Melissa tidak mau baby Alan hadir di dalam pernikahannya. Itu hanyalah akan membuat nama keluarga tercoreng di depan para tamu yang hadir. Melissa tidak mau mereka tahu ada bayi lahir di luar nikah di keluarga Van. "Apa seterusnya akan disembunyikan lagi?" tanya Ezra.


"Ya, sembunyikan identitas aslinya. Bahkan setelah anak kedua kalian lahir, bayi ini tidak akan pernah ada di keluarga Van."


"Tapi Mami, Tuan Bastian saja tidak masalah dengan bayi Vano. Harusnya Mami juga tidak masalah -"


"Keluarga Van dan Bastian itu beda jauh. Jangan samakan kita dengan mereka, Za."


Melissa keluar, tidak mau dengar Ezra protes lagi. Wanita itu melewati Nara dengan angkuh tanpa bicara sedikitpun ke menantu kecilnya itu. Melihat Nara masuk, Ezra berdiri dan menggapai tangan istrinya.


"Apakah setiap anak seperti ini tidak bisa disayang sedikitpun?" tangis Nara. Ezra memeluknya, mengecup berkali - kali kepala istrinya.


"Kenapa kamu bilang begitu? Di rumah ini baby Alan banyak dicintai kok, sayang. Hanya Mami saja yang masih gengsi mengakui cucunya."


"Cepat atau lambat, Mami pasti sayang dia. Kita tunggu baby Alan besar dan berhasil membanggakan neneknya itu."


"Kuharap Mami bisa cepat menyayanginya." Nara terisak di pelukan Ezra dan melihat ke baby Alan, putranya yang malang itu. Terlahir tidak sengaja dari hasil jebakan Vano malam itu.


.


😢Mulai penghujung akhir nih

__ADS_1


__ADS_2