
'Lima orang? Apa itu orang jahat?' batin Nara pun merogoh sakunya, mencari hape ingin menelpon Ezra. Tapi hapenya ketinggalan di rumah.
"Kamu kenapa?" tanya Vano masih menggandeng tangan Nara supaya tidak hilang di antara kerumunan orang.
"Aku mau telepon Ezra, kamu punya hape nggak?"
"Punya tapi nggak punya nomornya," jawab Vano.
"Kalau begitu, aku ke sana dulu." Nara melepaskan Vano, berlari ke arah Ezra yang menunggunya.
"NARA! JANGAN KE SANA!" Vano mengejar namun mendadak kepalanya berdenyutan. "Arghh…. kepalaku –" potongnya terkejut seseorang membungkam mulutnya dan membiusnya. Matanya membelalak pada Bumi Angkasa dan melihat sekilas lima orang tadi membawa Nara juga.
#flashback off
"Oh jadi kalian sempat kencan ya." Cemburu Ezra dan sudah paham kronologi pencuriannya.
"Ehh… kami tidak kencan, itu dia kebetulan muncul dan bawa aku pergi karena ada yang mengintai kami, tapi anehnya kenapa Bumi menculikku dan Vano?"
"Karena ketua kami harus dikembalikan." Ezra dan Nara menoleh ke pintu lain melihat ketua Taurus si gendut datang dengan kelompok Preman yang begitu banyak. Ezra menarik Nara ke belakangnya. Tak akan biarkan istrinya disentuh sedikitpun.
"Hahaha…. kalian bodoh sekali, hanya karena gadis itu kalian dengan mudahnya dijebak ke sini," tawa Bumi melompat ke atas pagar lantai dua dan bertepuk tangan melihat Ezra dan Nara terkepung. Namun sontak, Bumi yang memiliki tubuh lentur itu dengan cepat menghindar ketika Vano melayangkan satu tendangan ke arahnya. Ekspresi Vano tidak main - main sekarang, ia kesal dipermainkan Bumi. Cowok menyebalkan yang diceritakan oleh Pak Dirga dan sekaligus orang yang sering muncul dalam mimpinya.
"Ck, untung saja aku menghindar, kalau tidak, kepalaku pasti pecah tadi." Bumi mendecak hampir didorong jatuh ke bawah.
"Arghh… Bumi kampreet, sini lo bajingan! Lawan gue, pecundang!" Tantang Ezra masih ingin melanjutkan perkelahiannya yang tertunda.
"Upss….. aku ke sini bukan karenamu, urusanmu itu ada pada si gendut itu, sialan." Balas Bumi menunjuk ketua Taurus. Memberi kode ke mereka untuk membabi buta mengalahkan Ezra.
"Arghh…." Seru mereka maju. Melihat Nara yang tampak takut, Vano berlari ingin turun membantu Ezra, namun satu pisau terlempar ke arahnya. Sreek
"Ahh…" Ringis Vano lengannya tersayat. "Vano!" ujar Nara kaget melihat mantan ketua blackzak itu terluka. Ia ingin ke sana, tapi Ezra meneriakinya.
__ADS_1
"Nara! Bungkuk cepat!"
BUGH!
Nara membola setelah membungkuk, ia tak habis pikir Ezra begitu bringas melompati atas punggungnya dan menerjang ke preman yang mau menyentuhnya. "Ahhhhh…. jangan macam - macam padaku!" Pekik Nara menendang asal - asalan tapi sekuat tenaga dan itu membuat ketua Taurus berdiri diam karena kaki Nara tepat di antara dua pahanya.
"Waduh, apa dia mati?" Kaget Nara melihatnya tumbang. Sedangkan Ezra memegang juniornya, tiba - tiba takut Nara yang bisa saja menendang adiknya juga. Sedangkan Bumi cukup takjub ke Nara yang bisa sekeras itu. Namun itu tidak penting lagi, ia harus fokus ke Vano.
"Ckckck, jangan lemah Vano, ini bukan dirimu yang asli." Cengkram Bumi ke rahang Vano. Menatap lekat - lekat mata ketuanya itu.
"Sadarlah, lihat yang ada di sini, mereka semua melakukan ini agar kamu ingat siapa dirimu itu. Lihat Vano! Rasakan kebencian dan dendam mereka." Bumi mencoba mengembalikan ingatan Vano.
PLAK!
Vano menampar tangan Bumi, berdiri dan memegang kepalanya. Terasa pusing dan dadanya langsung sesak.
"Hentikan, jangan kamu cuci otaknya!" bentak Ezra naik dan berlari ke arah mereka bersama Nara. Bumi secepatnya berpindah tempat ke pinggir pagar dan membola di bawah sana sudah ada Mahendra dan Elvan. Suara di luar juga begitu ricuh dengan adanya si kembar lima dan teman - teman tentara Mahendra yang sedang menangkap sisa para preman yang sulit dilawan oleh Daffa dan Friska. Mereka baku hantam dengan tangan kosong dan pertarungan pecah meriah.
"Vano tenanglah," lirih Nara ke Vano yang sulit bernafas. "Arghhh…." Jerit Vano jatuh bersimpuh, memegang kepalanya yang tambah sakit.
"Hahaha…. ayo Vano, ingat semuanya, mereka berdua itu musuhmu, kemarilah dan bergabunglah pada kami," tawa Bumi. "Tak akan kubiarkan!" serang Ezra pada Bumi.
"Ahhh Ezra!" Kaget Nara karena Ezra dan Bumi sungguh bertarung sengit. Ezra terus maju, memojokkan Bumi yang kewalahan. 'Sial, dia sudah meningkat pesat.' Decak Bumi agak menyesal tidak melatih kemampuannya karena tiga bulan ini ia sibuk mengumpulkan 1000 preman.
Bugh.
Uhuk… uhuk….
Bumi terkapar, memegang dadanya yang ditendang Ezra.
"Aku akui kamu memang lincah dan lentur, tapi pertahananmu mulai turun drastis." Seringai Ezra puas melihat Bumi tak berdaya.
__ADS_1
"Jangan sombong kamu!" Bumi berdiri, menyerang dengan membabi buta. Saking gencarnya dua cowok bertarung itu, Nara memegang tangan Vano, ketakutan melihat Bumi mengeluarkan pisau. "Awas, Ezra!" Pekik Nara namun seketika jatuh karena Vano berlari begitu cepat dan melayangkan tinjunya ke Bumi.
DUAK
Ezra terkejut melihat Vano membantunya dan tidak peduli lengannya yang terluka. Dia memang kuat masih bisa bangkit melawan mantan wakilnya.
"Uhuk….uhuk… bajingan, harusnya dia yang kamu tonjok!" murka Bumi muntah darah, terluka parah hingga tak bisa berdiri.
"Sudah cukup, aku tidak akan mendengarkan kalian," ucap Vano matanya terarah di belakang Bumi yang terdapat pintu. Ezra dan Nara pun mundur karena dari pintu itu ada pria kekar dan bengis keluar, punya tato banyak dan berkulit coklat gelap. Kemunculannya membuat Mahendra dan Elvan di bawah sana yang selesai membereskan preman ikut membola. Keduanya berlari ke adiknya, namun seketika dari arah pintu lain sebuah mobil besar menghancurkan tembok dan seketika melempar bom asap membuat satu ruangan berkabut.
"Tuan Vano, sepertinya pertemuan kita ini yang terakhir kalinya. Saya kecewa padamu yang tidak bisa diandalkan."
"Arghh…." Erang Vano jatuh bersimpuh, memegang lengannya yang mati rasa dan nafasnya kembali tidak beraturan.
"Vano!" Nara memapah Vano berdiri dibantu Ezra.
"Hahaha…. akhirnya kamu akan mati juga." Tawa Bumi karena pisau yang menyayat lengan Vano terdapat racun.
"Sialan kamu, Bumi!" Geram Ezra namun pria jahat itu melemparkan bom asap, pergi membawa Bumi dari gedung itu ke tangga lain dan menaiki mobil besar itu membuat Kevin terlonjat ada mobil besar yang keluar dari gedung. Teman - teman Mahendra ingin mengejar, tapi Kevin menghentikannya. "Jangan, kalian tidak perlu mengejarnya. Ini urusan keluarga kami." Mereka pun membiarkan si kembar lima yang akan membereskan pria itu.
"Ezra!" Mahendra dan Elvan datang.
"Kakak, kita harus membawanya ke rumah sakit!" Pinta Nara. Mahendra dan Elvan pun membawa cepat Vano yang pingsan ke rumah sakit. Daffa dan Friska pun masuk ke dalam gedung ingin melihat orang yang mereka cintai baik - baik saja atau tidak. Daffa dan Friska langsung pun terdiam ditempat melihat Nara yang ketakutan dicium Ezra di depan mata mereka. Dua remaja itu juga saling berpelukan.
"Ezra…."
"Nara…."
....
Ada yang sakit tapi bukan penyakit🤧apakah itu?
__ADS_1