
Tiga perjaka itu pun saling memandang. "Di mana Ezra dan Nara?" tanya Mahendra berbisik.
"Kamu kan tahu sendiri, dua anak ini lagi di wahana, kamu mau panggil mereka pulang?" Davin ikut berbisik.
"Kalian ini serius ingin merusak kencan mereka berdua?" tanya Elvan tidak mau waktu berduaan Nara dan Ezra hancur hari ini.
"Woy, anaknya rewel pengen ke mama dan papanya, kalian kenapa malah bisik - bisik sih?" desis Dokter.
"Panggil orang tuanya dong." Dokter mendesak karena kasihan baby Alan masih merengek.
"Jangan - jangan ini anak hasil curian kalian?" tebak Dokter sangat syok.
"Enak saja hasil curian! Bayi itu anaknya Mahendra!" Jawab Davin menutup mulut salah bicara saking kesalnya dituduh penculik.
"Apaa? Anak Mahendra? Kamu sudah punya anak?" Kaget Dokter memegang dadanya yang terasa hatinya terbelah dua kemudian hancur berkeping - keping. "Huwaa…. ternyata kamu anaknya, Mahendra." Baby Alan diam terkejut melihat Dokter yang menangis kali ini.
"Mama… huwee…." Ikut baby Alan menangis kembali. Dokter pun memberikannya ke Mahendra.
"Kamu jahat! Jahat! Aku benci! Huwa…." Pukul Doktet ke dada Mahendra kemudian pergi dari rumah itu. Padahal kedatangannya mau bicara soal rekaman yang diminta Mahendra tiga bulan lalu dan rekaman itu berhasil didapatkannya di dalam brankas milik Vano kemarin.
"Ih, kamu kejam banget Mahendra tidak pergi mengejarnya," ucap Davin geleng - geleng kepala.
"Biarin, terima kasih sudah mengatakan itu tadi, sekarang aku bisa bernafas lega dia tak akan menggodaku lagi," hela Mahendra nepuk - nepuk pelan pundak baby Alan yang perlahan capek menangis.
"Baguslah kalau dia salah paham, aku juga tidak mau dia jadi iparku." Sahut Elvan.
"Tapi bagaimana nanti caranya kamu mengambil rekaman darinya?" tanya Davin tahu si Dokter dimanfaatkan Mahendra. Emang kejam sih!
__ADS_1
"Soal itu –" Mahendra berhenti karena lagi - lagi pintu rumahnya dibuka orang. Ketiga uncle tampan itupun terkejut ada cewek lain masuk.
"Pak Mahendra!" panggil Garce masuk dengan raut wajah yang panik. Gadis yang tadi masih diperjalanan pulang langsung berbelok ke rumah Ezra setelah mendapat panggilan darurat.
"Ada apa denganmu?" tanya Mahendra.
Garce mengambil nafas banyak - banyak, bicara lantang. "Ezra, Nara, Daffa, Vano dan Friska dalam bahaya sekarang!"
"Apa? Nara dan Ezra? Bahaya kenapa?" tanya Elvan dan Davin mendekat.
"Aku baru saja ditelpon Daffa, mereka dikepung seribu gangster." Garce menunjukkan lokasinya berada di gedung yang luas tapi sudah terbengkalai.
"Apa, seribu gangster? Yang benar kamu?" Mahendra terkejut itu jumlah yang banyak.
"Ya, sekarang tolong cepatlah datang ke sana dan selamatkan mereka, Pak!"
Semuanya terkejut dapat kabar adik mereka dalam bahaya. Sebagai saudara baik hati, mereka bergegas meninggalkan tempat, memilih nyawa adiknya yang terancam.
"Garce, tolong jaga baby Alan di sini." Mahendra memberikan baby Alan pada Garce. Bersiap ikut serta ke sana.
"Sebentar, Pak," tahan Garce.
"Ada apa? Kamu mau ikut juga?" tanya Mahendra.
"Bukan itu, aku cuma mau tanya, siapa wanita yang tadi itu?"
"Garce, itu bukan urusanmu. Jangan tanyakan itu lagi padaku." Mahendra pun pergi membawa motornya, menancap gas ke tempat preman.
__ADS_1
Baby Alan yang tadi nangis pun diam, ia melihat Garce menunduk sedih. "Apa tadi itu pacarnya?" lirih Garce duduk di kursi dan nampak cemburu.
"Mama…." panggil baby Alan mengusap air mata Garce yang turun.
"Aduh, kamu sudah bisa bicara ya, gemesnya," cubit Garce yang tersadar sedang menangis.
"Maaf ya, baru muncul, soalnya kakak sibuk olahraga biar gemuknya hilang, eh tapi kamu yang sekarang gemuk, hahaha…." Tawa Garce disusul baby Alan tertawa lalu diam melihat Garce sedih.
"Huft… aku ingin sekali bilang ke Nara, tapi aku takut dia tidak percaya kalau aku menyukai Pak wakepsek." Ternyata Garce susah - susah kurus hanya tampil beda di depan Mahendra.
"Salah nggak sih aku suka sama om - om?" tanya Garce ke bayi tujuh bulan itu. Seketika senyumnya merekah setelah baby Alan memanggilnya.
"Utiiii."
"Hahaha… kamu ini menyebalkan juga ya, mirip banget sama Ezra, suka panggil aku tante - tante." Gemes Garce pun berdiri, masuk ke dalam rumah. Sebelum pintu ditutup, baby Alan menangadah ke atas langit yang mendung.
"Mamah…."
"Cup… cup… cup… jangan menangis ya, Mama kamu baik - baik saja kok, ganteng." Garce membujuknya dan mengira baby Alan rindu sama Bu Mayang. Tapi sebenarnya, ia khawatir ke Nara dan Ezra yang berhadapan dengan Bumi Angkasa.
"Sudah tiga bulan berlalu, akhirnya bertemu di sini ya, Tuan Vano." Seringai Bumi ke Vano, Ezra dan Nara yang dikelilingi gangster sungguhan.
"Siapa kamu?" tanya Vano masih tidak mengingat apa - apa tentang blackzak.
...
Nanti ada flashback di bab selanjutnya, alasan mereka terkepung dan jawaban Nara untuk Pak Dirga dan Daffa. Jadi pantengin terus ya😍
__ADS_1