Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
44. BAB 44 - BERAKHIR


__ADS_3

Dengan adanya rapat hari ini, semua siswa tidak belajar. Tak ada guru yang masuk mengajar karena mereka dikumpulkan dalam satu ruangan oleh kepala sekolah. Tak terkecuali.


"Seperti yang sudah diketahui dari insiden yang membahayakan anak keluarga Bastian, saya berharap hasil keputusan nanti sudah tepat dan tak ada lagi peristiwa yang kedua kalinya." Kepala sekolah mulai bicara.


"Jadi apa keputusan yang akan ditetapkan dan diambil oleh pihak sekolah?" tanya perwakilan dari lembaga pendidikan yang datang untuk memastikan hasil perundingan itu.


"Menurut saya, dari sekian banyak masalah yang didapatkan berasal dari pihak blackzak, keluhan dari orang tua siswa pun ikut menyalahkannya," sahut Pak Fahri selaku guru yang sudah banyak menyaksikan anggota blackzak berbuat jahat dan kriminal.


"Tapi lebih dari itu, saya rasa Ozara perlu ditegaskan juga. Organisasi ini memang dibangun untuk memihak siswa yang dirundung blackzak, tetapi dari insiden kemarin bisa kita lihat sebagian menimbulkan rasa dendam antardua organisasi, jadi untuk kedepannya, lebih baik dua - duanya dibubarkan saja," sambung guru lain menyahut.


Semua guru - guru pun bertukar pendapat guna membuka suara selanjutnya. Sedangkan Mahendra mulai gelisah karena Ozara adalah organisasi yang dibuat Pak Dirga dan adiknya sangat tidak ingin Ozara ikut dibubarkan.


Suasana yang bising itupun semakin ricuh dengan perbedaan suara antara guru. Sebagian tidak setuju karena Ozara dari tahun ke tahun sudah banyak membantu, mereka lebih memilih blackzak yang patut dibubarkan.


"Tapi, jika blackzak dibubarkan, untuk apa lagi Ozara berdiri?" tanya satu guru. Suasana kembali memanas.


"Benar, kalau untuk mengurus sisa siswa yang bandel, masih ada osis dan guru BK yang mampu mendisiplinkan mereka," sahut guru di sebelahnya.


"Tapi sistem osis tidaklah sama dari sekolah lain, sistem osis sekolah kita ini berbeda," ucap Pak Fahri tahu identitas anggota osis lain dirahasiakan dan mereka melakukan tugas seperti intel. Mereka mencari bukti kemudian menyerahkannya ke Ozara untuk menyelesaikannya sampai tuntas.


Bukan hanya itu saja, sebagian lagi berkata supaya sistem osis Pak Dirga dibenah juga. Alias osis tak perlu lagi bergerak diam - diam mematai siswa.


Mahendra pun menoleh sebentar ke baby Alan. Bayi mungil dan lumayan gemuk itu tampak menggeliat dalam tidur nyamannya. Suara - suara berisik mulai mengganggu telinga kecilnya.


"Ehem, cukup!" Ujar Kepala sekolah mendehem singkat. Tetapi mereka masih dalam lingkaran perdebatan panjang. Pada akhirnya, mereka dibungkam tangis baby Alan yang kencang.


"Uwaaa... Uweee…."


Mata semua orang lurus ke sumber tangisan. Dengan cepat Mahendra meninggalkan kursinya, mengambil dan mendekap lembut baby Alan ke dadanya. Badannya bergoyang sedikit, berusaha menenangkan keponakan mungilnya itu.


Setengah jam rapat ditunda, baby Alan kembali ditidurkan ke dalam keretanya. Mahendra dengan perasaan lega pun duduk di kursinya. 'Untung saja aku membawa anak ini.' Batin Mahendra sengaja supaya perdebatan bisa dihentikan. Ada gunanya juga, bukan?


"Pak Mehendra, siapa bayi yang anda tenangkan barusan?" tanya wakil dinas.


"Bayi orang." Tak salah sih, bayi itu memang bukan anaknya, melainkan anak adiknya dan anak didiknya.

__ADS_1


"Kenapa tidak kamu titipkan ke penitipan anak?" tanyanya kembali. Sedangkan Pak Fahri merasa agak familiar dengan tangis dan punggung bayi itu.


"Saya tak punya waktu banyak sampai ke sana," jawab Mahendra jujur.


"Baiklah, mulai sekarang saya harapkan di sekolah ini anda tak mengulanginya, tempat ini tidak cocok untuk membawa bayi sekecil itu, berbahaya dan cukup mengganggu kosentrasi murid sekolah," tegur wakil dinas.


"Baik, maaf Pak." Mahendra mengangguk paham.


"Sekarang untuk melanjutkan perundingan ini, saya harap kita mendinginkan kepala masing - masing dan tolong tetap kontrol perasaan kalian, saya tidak menyukai adanya perdebatan tanpa jalan keluar," ucapnya memperingati.


"Pak Kepala sekolah, tolong panggilkan perwakilan dari tiga organisasi sekolah ini." Ia pun meminta tegas. Dengan satu kodean mata pada guru BK, dia pun menyuruh perwakilan Ozara dan Blackzak masuk.


Perlahan tapi pasti, dari balik pintu yang terbuka, Friska dari Ozara dan Bumi dari Blackzak masuk bersama kemudian duduk di kursi yang berdekatan. Dua - duanya tak menegur sapa, memandang saja pun ogah banget.


"Kurang satu lagi, panggilkan perwakilan dari osis sekarang," pinta wakil dinas. Tanpa disuruh oleh guru BK, seorang siswi sedikit gemuk, berambut pirang masuk dengan sopan dan tegang.


"Permisi," ucapnya sopan duduk di dekat Friska yang terkejut dapat tahu satu anggota osis.


"Kamu? Jadi kamu osis selama ini?" Bumi menunjuk si gendut Garce adalah osis. Menjabat sebagai sekretaris. Itulah mengapa Garce jarang bersama Nara.


"Baiklah, semua sudah berkumpul. Maka dari itu saya meminta suara dari kalian bertiga, saya ingin mendengar langsung keputusan dari kalian," ucap wakil dinas. 


"Jika suara lebih banyak terkumpul dari salah satu diantara kalian, maka itulah hasil keputusannya." Wakil dinas pendidikan melakukan ini agar nenek Vano selaku pendiri utama tidak menuntut apa - apa.


"Aku setuju blackzak dibubarkan, asalkan Ozara ikut disertakan," ucap Bumi begitu enteng. Tentu ia percaya diri karena mengira Vano bisa membentuk blackzak kembali dengan bantuan orang dalam.


"Aku tidak setuju, saya selaku wakil Ozara lebih memilih blackzak yang patut dibubarkan!" protes Friska tak mau juga Ozara berakhir, apalagi ketuanya adalah sang pacar.


"Apa alasan terkuatmu?" tanya wakil dinas disusul para guru ingin tahu.


Sreekkk… sreekk


Netra wakil dinas membola begitu banyak foto bukti - bukti kriminal blackzak yang dikumpulkan Ozara. Tetapi Bumi berdiri, ikut melempar foto - foto. Mahendra tercengang foto itu menampilkan perkelahian Ezra yang ganas. Ratusan siswa dijatuhkan hanya seorang diri. 


Apa dia sungguh manusia? Itu yang terbesit di benak mereka.

__ADS_1


"Saya rasa ini dapat dijadikan alasan Ozara dibubarkan. Ketua yang sangat berpotensi namun sesuka hatinya melakukan kekerasan kepada ratusan siswa di sekolah ini," jelas Bumi menjebak.


Tanpa waktu untuk meringkasnya, wakil dinas berdiri ingin mengeluarkan keputusan, namun sontak Garce mengacungkan tangan.


"Sebentar, maaf Pak!" Kemudian bangkit dari kursi.


"Berikan saya kesempatan bicara," lanjut Garce.


"Silahkan." Garce pun menarik udara dalam - dalam. Sedangkan Bumi resah si gendut punya jalan pintas mempertahankan Ozara.


"Pak sebagai osis yang selalu kompak bersama Ozara, saya tidak mendukung Ozara dibubarkan, Ozara sudah banyak membantu kami, dan apa yang dilakukan oleh ketua Ozara itu hanya untuk menbenahi mereka yang semena - mena, lagipula mereka tidak pernah menuntut biaya apapun itu," tutur Garce membuat Mahendra dan Friska merasa tertolong dengan pendapat Garce, namun rasa takjubnya pun luntur gara - gara kalimat terakhir Garce.


"Tapi, jika memang Ozara dibubarkan hanya karena perlakuan ketua Ozara ini, maka biarkan Ozara tetap berdiri namun ketuanya diganti. Itu suara saya dan berharap Ozara diberi keringanan."


"Apa? Diganti?" Semua guru, Mahendra, dan Friska terkejut bukan main.


'Sialan nih gendut, apa maksudnya itu?' Geram Bumi dalam hati ingin sekali melabrak Garce.


Tetapi, aturan dan hukum tetap perlu ditegaskan. Wakil dinas dengan sorotan mata menuntut ke kepala sekolah untuk mengatakan hasilnya sendiri. Mahendra ingin berdiri, namun ditahan oleh wakil dinas untuk berhenti bicara.


Satu kata pun resmi ditentukan hari ini. Nasib Ozara dan Blackzak benar - benar berakhir. Serius?


"Bubarkan."


"Argh…" Friska membanting sedikit kursinya, keluar dengan kekecewaan. Sedangkan Bumi keluar dengan senyuman puas. Mahendra pun ikut keluar membawa baby Alan, disusul Garce mengejarnya.


Sesaat kemudian, ruang rapat pun sepi dan kosong. Wakil dinas sudah pergi dan para guru kembali mengajar dan mengumumkan dua organisasi telah diresmikan hilang hari ini. Lencana mereka diambil tak terkecuali. 


Di rumah sakit, Ezra yang masih di ruang Vano dan mendapat hasil dari pesan Friska. Ia meremas lencana Ozaranya kuat - kuat. Bros kebanggaannya tak sangka harus diserahkan. Semua orang tersentak dengan kepergian Ezra yang mendadak keluar meninggalkan ruangan.


Pasalnya, Pak Dirga membangun Ozara bukan cuma organisasi sekolah semata, tapi ia mendirikan Ozara untuk mengenang ayah Ezra, Tuan Givan, pendiri budiman dan penyayang. Berharap anggota Ozara tertanam jiwa kebaikan ayahnya Ezra. Tapi sulit bagi Ezra yang tak punya pendirian.


"Arghhh… sial, brengseek, bajingan!" Umpat Ezra melampiaskannya ke tembok, lagi - lagi semuanya hilang gara - gara dia. Namun sejenak, tinjunya mereda dan matanya menyala ke arah ruangan Vano.


"Semua ini karena dia."

__ADS_1


__ADS_2