Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
55. BAB 54 - NIKMATNYA


__ADS_3

"Oughht… Ezraaa… aku nggak tahan lagi." Nara mencakar punggung Ezra. Matanya terus meneteskan air mata kesakitan bercampur nikmatnya pusaka suaminya yang maju mundur pada intinya. Ujung pusaka Ezra yang menyentuh dinding rahimnya membuatnya tak berdaya. Tenaga dan gesekan kasar pada intinya terasa perih luar biasa merasakan kedua kalinya berhubungan intim.


"Tahan sedikit sayang…. kita sama - sama keluarnya." Cumbu Ezra dan membiarkan saja rasa perih dari cakaran Nara yang sedang menggelin jang di bawahnya.


"Ah ah… aku tidak kuat, keluarkan di dalam." Erang Nara memohon.


"Tidak… aku tidak mau kamu hamil." Tolak Ezra berhenti ingin mengeluarkan pusakanya dari inti yang basah dan licinnya luar biasa menggiurkan. Tetapi Nara memeluk Ezra, tidak mau puncak kenikmatan itu terbuang sia - sia.


"Keluarkan di dalam sayang," mohon Nara memeluk dan mencium Ezra dengan lembut, kemudian menatap lekat - lekat mata suaminya dan pipi yang saling merah merona.


"Tapi jangan salahkan aku kalau kamu sampai hamil lagi."


PLOK


"Akhh kamu menyakitiku Ezra…." Jerit Nara kencang, ia menggila bokongnya kembali didorong kuat diiringi goyangan yang semakin ganas. Air mata Nara berderai, sakit diantara dua pahanya dan Ezra benar - benar menerkamnya tanpa ampun.


"Oughht…. shiit, nikmatnya." Ezra terus bergairah sampai akhir benihnya tumpah meriah di dalam rahim Nara. 


"Ahh uhh ahhh sayang…. sakitttt…. ah… pelankan." Nara menggigit bibir bawahnya, tak mau mendesah keras - keras. Bahaya jika sampai terdengar ke luar kamar. Namun rahimnya yang diisi sesuatu yang hangat membuat mulutnya terbuka lebar - lebar. Sontak saja Ezra membungkam mulutnya dengan ciuman mesra, memeluk tubuh Nara yang bergetar hebat dan mendiamkan pusakanya di dalam rahim istrinya. Ia menyemburkan semua benih - benih calon kecebong putihnya sampai tuntas.


BRUK


Ezra yang sudah dibanjiri keringat yang lengket pun ambruk disebelah Nara yang sedang mengatur nafas dan sedang sesugukan karena pinggangnya terasa hampir remuk. Ezra menutupi tubuhnya yang juga dibasahi keringat dengan selimut. Memeluk tubuh polos istrinya, memberi kehangatan yang beda.


"Itu tadi sakit, Ezra," lirih Nara menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan Ezra.


"Maaf, aku tidak bisa menahan diri." Cium Ezra pada kening Nara.


"Lain kali jangan begitu." Nara mendongak pada Ezra yang mainnya masih tidak berubah.


"Ya, aku bakal lembut melakukannya." Senyum Ezra pun mengecup bibir yang sudah membuatnya kecanduan. Setelah itu Nara melepaskan diri dari pelukan.


"Kamu kenapa?" tanya Ezra melihat Nara sedang meraih sesuatu di bawah seprai.


"Mau ambil ini," jawab Nara menunjukkan sebuah pil tablet.


"Apa itu?" Ezra beranjak duduk, sehingga kotak - kotaknya tampak lagi di depan istrinya.


"Ini pil pencegah hamil, aku beli buat jaga - jaga siapa tahu kamu tiduri aku tanpa izin. Jadi aku tidak perlu cemas karena ada ini yang bisa kuminum." Nara tersenyum lebar merasa lega sudah siapkan itu. Tapi senyumnya sirna ketika Ezra menyeringai mesum dan menariknya terlentang lagi membuat pil itu terlempar ke lantai. 


"Ezra, aku mau mandi, bisa kan lepaskan aku?" mohon Nara takut dan sedikit menyesal sudah memperlihatkan pil itu.


"Sudah terlambat, aku masih ingin lanjutkan."


"Oughhtt… Ezra….umh ahh."

__ADS_1


Ezra kembali menghukum istrinya yang selalu menggoda hasrat adik kecilnya. Sedangkan di bawah, lima uncle baby Alan sedang duduk berhadapan, sedang membicarakan Bumi yang diperalat oleh pria jahat tiga hari lalu. 


"Sial, aku ingin segera kembali tapi Bumi ini harus dibereskan dulu," decak Kevin karena sudah dipanggil pulang ke Afrika.


"Ya, aku juga ingin cepat - cepat kembali ke Jepang," sahut Kenan melihat pesan dari sekretaris di dalam hapenya.


"Ya nih, aku juga mau terbang ke Turki hadiri pertemuan malam ini," ucap Devan melihat jam tangannya sudah pukul enam petang.


"Bagaimana denganmu, Davin?" tanya Elvan ke Davin yang berbaring bersama baby Alan yang terlelap.


"Aku mah di sini saja, cari istri lokal,"


"Terus mau lama - lama sama keponakanku." Davin menjawab tanpa membuka mata.


"Cih, dasar tukang tidur. Gimana mau punya istri kalau kerjaannya cuma tidur mulu." Ketus Elvan pada satu adiknya yang tidak berguna itu.


"Hey, walau aku ini tukang tidur, aku ini banyak dicintai oleh idol - idol korea. CEO perusahaan entertainment yang melahirkan pemuda - pemudi berbakat." Sombong Davin mencibir.


"Sudah - sudah! Jangan berdebat, sekarang kita fokus dulu bagaimana menangkap Bumi tanpa harus melibatkan korban lagi dan menangkap sekalian pria itu." Kenan menyahut, paling mengerti situasi.


"Huftt… kalian pikirlah sendiri, aku mau keluar," keluh Devan pergi keluar mengangkat telepon dari Turki.


"Yosh, aku juga mau angkat panggilan dulu." Kevin beranjak, pergi ke dapur sekalian membasahi tenggorakannya yang kering. Sedangkan Elvan menatap ke atas, berniat melihat Nara yang tadi ke atas tapi tidak pernah turun - turun mengambil baby Alan. Kenan sendiri sedang sibuk berpikir, sementara Davin sungguh tidur di sebelah baby Alan.


Tiba - tiba Mahendra turun. Elvan pun berdiri menghampirinya.


"Mau ke rumah sakit lihat kondisi Vano sekalian menyuruhnya tinggal di rumah Pak Kepsek," jelas Mahendra.


"Loh, dia tidak tinggal di rumah Om Dirga lagi?" Bangkit Kenan dari sofa.


"Tidak, Om Dirga pasti tidak akan sudi menumpang anak itu," ucap Mahendra karena Vano yang diburu oleh Bumi tidak diizinkan pulang ke rumahnya sendiri jadi selama ini Vano tinggal di rumah Daffa.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Elvan dan Kenan.


"Om Dirga sudah tahu semuanya, pernikahan Ezra dan ada bayi di rumah ini. Mungkin juga Om Dirga sudah tahu Vano penyebab semuanya terjadi sehingga kehilangan harapan pada Nara."


"Hm… pantas saja tadi pipimu merah, pasti habis kena tampar," ucap Elvan baru sadar, sedangkan Kenan tertawa dalam hati.


"Semoga saja Om Dirga tidak membeci kita." Kenan pun turut sedih walau sebenarnya ia puas karena Mahendra yang dulu dipuji - puji kena omelan juga. Saat mau Mahendra berjalan lagi, tiba - tiba ada satu mobil yang mengklakson di depan rumah, bersamaan Devan masuk dengan sedikit panik tapi tetap berusaha berdiri cool.


"Gawat!" ujar Devan menunjuk ke luar.


"Gawat kenapa?" tanya Kevin baru selesai telepon disusul saudaranya yang lain.


"Trio… trio … si trio!"

__ADS_1


Mata mereka pun terbuka lebar - lebar melihat di belakang Devan ada tiga laki - laki kembar yang datang sore ini. Berjalan dan melambai ke mereka melalui pintu yang terbuka akibat Devan tadi.


"Hey, brother!" panggil si trio yang bernama, Biyan, Zehan dan Julian. Ketiganya tampan berkharisma dan pesona yang berbeda serta sifat yang juga berbeda. Biyan si bar - bar berjalan cool, Zehan si penakut berjalan celingak - celinguk, cemas ada sang Mami killer dan Julian berjalan biasa, matanya malas menatap sekelilingnya.


"Hey, ternyata kalian sudah berkumpul, kenapa tidak bilang - bilang sih kalau ada di sini?" tanya Biyan anak ke sembilan dan merangkul leher Zehan supaya berhenti ketakutan. Mereka datang karena mendapat kabar Ezra dikeluarkan dari sekolah.


"Mami ada nggak?" lirih Zehan, anak ke sepuluh yang takut masuk rumah.


"Woy, minggir dong, aku mau masuk ketemu si bodoh Ezra!" ujar Julian anak ke sebelas, suka sparing dengan Ezra.


Devan, Kenan, Kevin, Elvan dan Mahendra kikuk bersama - sama. Karena ada Nara di atas dan juga ada baby Alan yang bersama Davin.


"Wih, tumben kalian pulang barengan, kenapa nih? Ada apa?" sahut Davin ke si triple twins. Terkenal playboy di kampus. Bahkan Zehan si penakut sering gonta ganti pacar, putus sana sini karena sifatnya yang takut itu jadi bomerang dalam hubungannya jadi jomblo sekarang bersama si Biyan dan Julian.


Mulut trio menganga sampai mata mereka hampir copot ada bayi gemuk menggemaskan di gendongan Devan.


"Anjiirttt! Siapa anak ini? Apa ini anak Mahendra?" Kaget mereka menunjuk Mahendra karena matanya mirip Mahendra.


"Apa jangan - jangan anaknya Samudra dari luar angkasa?" tebak Julian menunjuk ke atas.


"Eh tapi kok lebih mirip sama Ezra, jangan - jangan si bodoh itu dikutuk jadi bayi?" Panik Zehan tambah takut diamuk emaknya.


"Woy! Enak saja! Aku sehat begini kalian kutuk - kutuk aku jadi bayi! Dasar saudara tidak berprikemanusiaan!" Sentak Ezra dari lantai atas.


"Loh, Ezra!" Tunjuk si trio kaget melihat si bungsu yang tidak pakai baju dan cuma pakai sarung itu sudah besar. Padahal dulu - dulu masih kayak anak esempe cabe rawit.


"Kalau di sana Ezra, terus ini siapa?" tanya mereka bingung. 


"Jangan - jangan anak tuyulnya Mami terbang ke sini?"


Sontak saja mereka mundur ke belakang, melompat kaget karena baby Alan yang terbangun mendongak dan memanggil riang Ezra yang menuruni anak tangga.


"Papapa….." Tangan pendeknya meminta pindah ke sang ayah yang tersentak anaknya bisa bicara.


"Hah? Papa? Yang benar nih?"


"Telingaku yang rusak atau ini lagi di alam mimpi?" Heran Julian.


"Ini bayi palsu? Apa anak Ezra sungguhan?" Kata Biyan garuk kepala.


"Jangan - jangan anak genderuwo?" Takut Zehan memeluk lengan Biyan.


Elvan dan Mahendra sama - sama tampol jidat, sedangkan Kevin merah padam tak terima si trio biawak bicara aneh - aneh. Untung saja Devan dan Davin menghentikan kembarangannya itu meluap. Sedangkan Nara masih tumbang di tempat tidur. Kapok sudah merayu suaminya dan akhirnya lelah tak berdaya sampai tertidur.


….

__ADS_1


Hayoloh apa yang terjadi pada Nara nantinya wkwkwk


Kurang satu lagi nih saudaranya Ezra🤣wkwk


__ADS_2