Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
47. BAB 47 - TAKUT HAMIL LAGI


__ADS_3

Usai rayakan ultah lima uncle twins malam ini, mereka langsung menyebar, alias tak pulang ke rumah. Hanya Elvan dan Mahendra di rumah bersama keluarga kecil si bungsu Ezra. Sampai di rumah, Ezra langsung jalan ke kamarnya disusul Nara membawa baby Alan yang belum tidur. Namun saat Nara mau menginjak anak tangga, Elvan dan Mahendra menahan langkahnya.


"Nara, sebentar."


Ibu belia itupun menoleh. "Ke… kenapa, Kak?" tanya Nara masih belum terbiasa memanggil dua kakak iparnya itu. Terutama pada Mahendra yang kadang - kadang grogi memanggilnya.


"Nih ambillah." Alis Nara terangkat sedikit diberi dua tiket wahana yang baru diresmikan kemarin.


"Pergilah ke tempat ini bersama Ezra, ajak dia kencan besok."


'Kencan? Maksudnya seperti orang berpacaran?' Nara pun malu - malu, seumur hidupnya memang belum pernah merasakan pacaran. Apalagi pacaran setelah menikah yang pastinya menyenangkan.


"Terima kasih, Kakak." Nara tersenyum diperhatikan dan dianggap bagian dari keluarga ayah dari anaknya. 


Elvan balas tersenyum dan Mahendra merasa lega Nara yang diterima lapang dada oleh saudara - saudaranya. Dia pun berharap besok Nara dan Ezra bisa saling mencintai demi keutuhan keluarga baby Alan dan empat saudaranya yang lain bisa menerima Nara dan bayi gemoynya.


"Sama - sama, Nara." Elvan mengusap kepala Nara. Sentuhan yang tiba - tiba mengalirkan rasa aman dan tenang. Nara pun bergegas naik sebelum genangan air matanya menetes di depan dua kakak iparnya. Ia sungguh ingin menangis sekarang, terasa seperti memiliki kakak kandung.


Mata Alan berkedip kaget karena tak sengaja melihat satu tetesan jatuh dari mata Ibunya. 'Mama….' Rasanya mulut mungilnya itu ingin memanggil sang Ibu yang sedang menangis bahagia di depan pintu kamar. Tangan kecil dan jari - jari pendeknya mau menggapai air mata itu, tetapi Nara lebih cepat mengusapnya sampai kering.


"Hmm…. aku harus banyak - banyak bersyukur." Hela Nara tersenyum pada anaknya dan dibalas senyum sumringah dari baby Alan.


Cklik!


Ezra yang lagi duduk di kursi belajarnya menengok ke Nara yang masuk kemudian istrinya itu meletakkan baby Alan di atas kasur. Ia perhatikan seksama Nara yang membuat susu formula lalu memberinya ke baby Alan, tapi bayi gemoy itu menolak.


"Kamu sudah tidak memberinya ASI sekarang?" tanya Ezra.


"Masih beri kok, cuma malam ini asiku tidak lancar keluar," jawab Nara duduk di dekat anaknya kemudian dahinya mengkerut melihat Ezra pindah duduk di sisi lain baby Alan.


"Lihatlah, anakmu pengen nennen tuh, susuin saja nih," titah Ezra menatap baby Alan yang merengek ingin dada empuk Ibunya.


"Tapi aku tidak bisa." Tolak Nara membuat ayah dan anak itu manyun bersamaan. Tampaknya Ezra yang lebih naffsuan ingin melihat dada empuk istrinya daripada baby Alan. Ia pun pindah duduk di dekat Nara.


"Mau ngapain?" tanya Nara perasaannya mulai tidak enak.

__ADS_1


"Sini biar kuRemas kamu dulu," jawab Ezra sehingga Nara sedikit terlonjat dari duduknya.


"Buat apa diRemas?" tanya Nara jadi gugup. Padahal tiga bulan ini, semangka empuknya sudah beberapa kali diEmut Ezra tanpa izinnya. Mungkin kah asinya tidak lancar gara - gara ulah si bayi gede?


"Siapa tahu ada yang bikin tersumbat."


'Tersumbat? Hah? Memangnya dadaku pipa pakai sumbat - sumbatan?' 


Nara menampol jidatnya tak habis pikir Ezra yang konyol malam ini dan mulai mendesaknya.


"Ayo buka bajunya biar kubantu salurkan." Nara bergeser ke belakang, tak mau di depan baby Alan. Tapi Ezra maju, siap membukanya dengan paksa. Namun saat tangannya mendarat di semangka empuk istrinya, tiba - tiba suami istri itu tersentak akibat tangis baby Alan yang rewel.


"Huwaa… hueee…." Ezra pun menarik tangannya.


"Eeeh?" Nara dan Ezra pun terkejut karena anak mungilnya itu berhenti mendadak dan diam menatap tajam ke Ezra. Sekali lagi Ezra memegang dada Nara di depan baby Alan. Sontak bayi tujuh bulan itu merengek lagi dan semakin kencang menangis.


"Huwaa…. hueee…. huwaa…."


Karena serius menangis, Nara tidak tega. Ia pun mendorong dada Ezra, mengambil baby Alan dan bergegas menanggalkan bajunya, menyusui anaknya yang cerdas itu. Tampak Ezra cemberut pada baby Alan yang tahu niatnya mau bermain dengan Mamanya. Selalu saja ada halangan untuk menuntaskan hasrat adik kecilnya!


'Ck, anak ini jenius juga. Anak siapa sih?' 


Kalau itu benar, geniusnya sudah jelas turun dari Nara. Kecil - kecil sudah menolak tua. Anak siapa tuh?


Perlahan - lahan, Nara pun mengelus dada melihat putra gemoynya terlelap. Ia pun memindahkannya ke dalam ayunan, kemudian melihat jam sudah pukul 12 tengah malam. Arah matanya pun pindah ke sang Suami yang tertidur di meja.


Terlihat cowok anak satu itu nampak capek habis belajar untuk ujiannya besok. Ditepuknya pelan pundak Ezra dan berkata lembut.


"Ezra…." Diusap - usapnya ubun - ubun Ezra dan tersenyum kecil melihat paras sang suami yang tampan maskulin.


"Emh… sudah jam berapa sekarang?" tanya Ezra terbangun kemudian mengucek sejenak matanya. Dengan setengah mengantuk dan pandangannya masih rabun, ia bangkit dari kursi dan melihat Nara yang selesai menyusui bayinya.


"Sudah jam 12, kamu tidurlah," jawab Nara grogi karena mata Ezra mendadak terbuka sempurna setelah menatap ke ayunan.


"Ya sudah, aku duluan tidur, kamu bereskan mejaku." Ezra naik ke ranjang, tidur membelakangi istrinya. Nara menghembus nafas kecewa, sikap Ezra masih acuh seperti dulu.

__ADS_1


Selesai beres meja dan memakai body lotion, Nara pun bergegas tidur di sebelah Ezra dan memikirkan keinginan Elvan dan Mahendra. Ia pun bergerak sedikit, menatap sedih suaminya.


"Ezra… kamu sudah tidur?" tanya Nara mencolek lengan Ezra.


"Hm… belum, kenapa?" balasnya bertanya sambil pura - pura merem. 'Jangan - jangan pengen itu?' pikir Ezra mengira colekan Nara adalah kodean mau cinta - cintaan.


"Besok kamu pulangnya lebih awal nggak?" Sebenarnya Nara mau bahas Friska, tapi sepertinya itu hanya akan merusak suasana hati suaminya.


"Tergantung ujiannya, kalau sulit ya lama, kalau gampang ya cepat," jawab Ezra.


"Memangnya kenapa sih tanya itu?" Ezra membalikkan tubuhnya dan menatap Nara yang malu - malu. 'Apa mungkin memang mau begituan?' batin Ezra sudah tak sabar mendengar jawaban istrinya.


"Kalau bisa cepat pulang dari sekolah, aku mau ajak kamu ke wahana besok sore," ucap Nara gelisah.


"Maksudnya, ngajak aku kencan nih?" tebak Ezra dan sontak menaiki tubuh Nara. Membuat jantung Nara berdebar - debar sekencang kereta api melaju.


"Atau mau ngajak aku berbagi cinta malam ini?" Goda Ezra mengelus tengkuk Nara, kemudian mendekat ke leher istrinya. Netra Nara membulat Ezra sungguh mengecup lehernya, meninggalkan satu bekas Cup4ng.


"Tunggu, aku mau ajak ke wahana doang," dorong Nara memekik takut belum siap diterkam Ezra malam ini.


"Boleh sih, tapi asalkan kamu melayaniku malam ini," ucap Ezra tak tahan pedangnya yang sudah tegak dan tegang di dalam boxernya itu. Ingin rasanya ia segera membelah apem istrinya.


Glug. Nara menelan ludah susah payah, ini keputusan yang sulit. Ia pun mendorong pelan Ezra, beranjak duduk disusul Ezra ikut duduk di sebelahnya.


"Kamu tidak mau?" tanya Ezra kecewa.


"Kita ini masih sekolah, Ezra. Dan sebelum naik ke kelas dua, aku takut hamil lagi," jawab Nara berharap Ezra mengerti, tetapi suaminya itu mendadak menarik tengkuknya. Ia mencium bibir Nara kembali.


"Sayang, aku keluarnya bukan di dalam kok."


Meski diyakinkan begitu, tetap saja Nara menggeleng takut ada kecebong putih yang jebol masuk ke dalam rahimnya. Apalagi malam ini malam Kamis. Waktu yang cocok berhubungan intim. Sekali lagi, bibir candu itu dicium buas. DiCumbunya cukup lama dan perlahan mengulumnya dengan lembut dan menikmatinya.


"Nara, layani aku sayang." 


Ezra memohon seraya tangannya masuk ke dalam baju, ia meraba sampai ke atas dan menggapai cepat semangka empuk istrinya. Nara pun menggigit bibir bawah dan membiarkannya. Tetapi sejujurnya, ia masih bimbang karena lebih takut lagi kalau sudah melayani Ezra, suaminya itu masih berhubungan dengan Friska di belakangnya.

__ADS_1


.


Maaf apabila masih banyak kekurangan dalam merangkai kata, karena author masih belajar juga😊🙏terima kasih dukungannya dan tetap support aku dengan like + komen + favoritkan supaya aku semangat update sampai tamat.


__ADS_2