Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
110. EXTRAK PART (10) - TAMBAH 100 ADIK


__ADS_3

Rupanya itu sebuah mobil ambulance. Tiga anak kembar Ezra dan Nara itu seketika menoleh ke sumber rintihan dari menantu Melissa. "Akhhh ohhhuhhh… sayang!" Elvan membulatkan matanya mendengar sang istri yang mau melahirkan malam ini. Satu cucu mungil Melissa terlahir dengan selamat bersama sang Ibu.


Sky house yang dulunya sepi, sekarang begitu riuh dengan suara tangisan dari anak - anak di rumah itu. Tak terkecuali Vano dan Melly juga berkunjung untuk melihat bayi yang lahir seminggu lalu itu bersama Noel juga hadir. Peri kecil Vano itu senang di rumah itu ada banyak anak - anak, terutama ada Kiara yang terlihat keren dan ditambah Alan jadi dua.


"Kimamah!" panggil Noel dengan dua kaki kecilnya berlari pada Kiara yang kumpul dengan Alan dan Kiano berserta sepupu kecil mereka.


"Hey, Kimonoh!" sapa Noel pada Kiano membuat Kumi yang ada di sana menahan tawa.


"Ya hahaha….hihihi… Kimono?" Kiara terpingkal - pingkal pada Noel yang menggemaskan.


"Namaku itu Kiano! Ki-ya-no! Bukan Kimono!" sungut Kiano cemberut.


"Wahhh! Kimono mirip samah ayam!" Kali ini semua anak - anak tertawa heboh pada Alan yang dipanggil oleh Noel dengan muka polosnya itu.


'Ck, menyebalkan.' Alan dengan dinginnya pergi tapi Noel mengikuti.


"Ayam mau kemana?" tanya Noel lagi - lagi bikin anak - anak merasa geli.


"Berhenti ejek Alan dan jangan panggil ayam! Panggil Alan atau Keylan, bukan ayam!" protes Alan melotot.


"Ayang?"


"Yahahaha….hihihi… ayang?" Kiara menertawai Alan dan Noel lagi.


"Ishhh, terserah!" Alan berlari sangat malu. "Ahh ayang jangan pergiih! Ayo kita main samma - samma!"


"Tidak mau! ALAN TIDAK MAU MAIN SAMA BOCIL!" tolak Alan terus menghindar dari kejaran Noel dan semua anak - anak lainnya.


"Pfftt, mereka semua lucu dan berisik." Orang tua yang berkumpul di teras cuma bisa menahan tawa melihat anak - anak mereka berlarian di taman luas itu. Hari ini adalah hari terakhir untuk mereka meninggalkan sky house. Sedangkan Ezra sedang melirik istrinya yang tahun ini sudah melahirkan anak lagi untuknya.

__ADS_1


"Sayangkuuuhhh…." Bulu kuduk Nara meradang dibisik oleh suaminya yang mendadak memeluknya dari belakang. Belum juga merapikan bajunya setelah menyusui bayi mungil mereka, Ezra sudah tidak sabar ingin dimanja juga.


"Hmm… kenapa, sayang? Tidak biasanya kamu seper… seperti ini?" tanya Nara gugup luar biasa.


"Kalau … kalau minta susu, tunggu masa nifasku selesai ya," ucapnya berbalik badan dan menatap Ezra yang sedang malu - malu.


"Aku tidak minta susuh kok," lirih Ezra dengan pipi memerah.


"Terus apa?"


"Mau main sedikit doang," ucap Ezra dengan mata berkaca - kaca menunjuk ranjang. Nara menghela nafas tahu suaminya yang sudah berpuasa tiga bulan itu tidak tahan ingin dilayani sekarang.


"Muachhhh, makasih istriku." Ezra mengangkat tubuh istrinya. Tidak perlu ritual lagi, pasangan muda itu membuka semua pakaian mereka. Padahal cuma sedikit tapi Ezra sepertinya sudah tidak sabaran.


"Tapi jangan sampai berlebihan ya, nifasku masih belum selesai," mohon Nara tidak berdaya pada Ezra yang sudah ada di atasnya.


"Yah sayangku… tenang saja. Aku tidak akan melebihinya." Ezra mencuMbu mesra bibir seksi istrinya dan tangannya menjalar tubuh semampai itu dari bawah ke atas lalu berhenti di bongkahan bukit kembar yang berisi itu. Entah kenapa Ezra lebih bergairah pada istrinya saat ini. Dia sudah sering melakukannya tetapi pagi ini istrinya teramat sangat menggairahkan.


"Ihhh, kamu ini kebiasaan! Mau begituan tapi tidak pernah tutup pintu, untung ada selimut," gemas Nara mencubit pinggang Ezra.


"Awhh, sayang, maaf. Aku tidak ingat." Ezra mengintip dari balik selimut melihat tiga anaknya itu sedang sibuk berdiri di dekat box bayi dan memperhatikan keimutan adik kecil mereka yang terlelap.


"Ishh, sana. Masuk kamar mandi dulu, terus pakai baju. Nanti malam saja kita lanjutkan." Nara menyuruh suaminya yang sedang telanjhang itu keluar dari selimut. Saat mau bergerak, Ezra lagi - lagi bersembunyi di dalam selimut ketika tiga anak kembarnya berjalan ke arah mereka.


"Mamah! Tadi mau apa sama mamah?" tanya Kiara, Kiano dan Alan.


"Itu…. itu tadi lagi pijat perut mamah, sayang!" jawab Nara kikuk sendiri dan mencolek Ezra supaya bicara juga.


"Mamah sakit perut?" tanya Kiano polos.

__ADS_1


"Hmm, mamah kalian sedikit mules!" sahut Ezra duduk sehingga menunjukkan dada kekar dan sixpacknya di depan tiga anak kembarnya itu yang terpana - pana.


"Wow! Otot papah besar!" seru Kiara gemas ingin naik memukul tapi Nara menghalang.


"Maaf ya sayang, mamah dan papah hari ini tidak bisa diganggu, kalian lanjut main di luar ya," mohon Nara sebelum tiga anaknya itu menarik selimut dan melihat si otong bapak mereka.


Alan pun mendadak menarik keluar dua adiknya itu sehingga Nara mengelus dada lega lalu Ezra cepat - cepat mengunci kamarnya kemudian tersenyum nakal pada istrinya dan akhirnya... Hmm...


"Ihhh, kenapa tarik kita?" celoteh Kiano dan Kiara masih dibawa Alan ke luar tempat anak - anak lainnya.


"Mamah dan papah itu lagi ritual!" kata Alan pun berhenti.


"Ritual buat apa?" tanya dua anak itu polos.


"Kata nenek, ritual untuk adik baru!" kata Alan yang pernah dikasih tahu sama Bu Mayang yang kini sedang sibuk bersama Melissa mengurus keperluan anak - anaknya yang mau pindah rumah.


"Tapi kita sudah punya adik baru, buat apa mamah dan papah capek - capek ritual lagi?"


Alan menyentuh dagu dan berpikir.


"Mungkin mamah mau tambah 100 adik."


Kiara dan Kiano saling menatap cukup lama lalu terbahak - bahak. "Hahaha….hihihi.... 100 adik itu kurang!" Alan pun ikut tertawa melihat dua adiknya yang tampak polos sekali. Mereka pun bercanda ria bersama anak - anak lainnya dan tidak ketinggalan Noel si bocah kecil empat tahun membuat ricuh lagi.


"Yeahhh... hihihi..."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2