
"Sebentar dulu," tahan Friska. Tapi mantan pacarnya itu menepisnya. "Berhentilah, aku sudah tidak mau balikan."
"Apa karena babu itu?"
"Babu? Siapa yang kamu maksudkan?" tanya Ezra.
"Siapa lagi kalau bukan waketos yang tinggal di rumahmu!" jawab Friska mendengus.
"Pasti dia, kan? Dia alasan kamu putus sama aku? Dia pasti menggodamu dan merayu semua orang di rumahmu. Harusnya kalau dia mau menggoda laki - laki, suruh saja jadi pelachur," sambung Friska tahu. Sontak rahangnya dicengkram dan sorot mata Ezra membuatnya takut.
"Friska, kalau sampai kamu mengulanginya lagi, aku tidak akan segan - segan melakukan hal buruk padamu dan aku katakan sejujurnya padamu, hubungan kita berakhir tidak ada sangkutpautnya dengan Nara. Aku bosan, itu alasanku."
Meski sudah ditolak mentah - mentah, Friska tetap saja mengikuti Ezra di belakangnya. Membuat mantannya itu mulai risih. Saat mau berbalik ingin menyuruhnya pergi, tiba - tiba dapat panggilan dari Daffa.
Hallo, Ezra.
"Kenapa?" tanya Ezra sambil jalan mencari Nara yang tidak kelihatan dari tadi.
Bantu aku, Vano tiba - tiba hilang.
"Hah, Vano hilang?"
Ya Ezra, sekarang aku ada di wahana baru, awalnya aku pergi dengan Vano, tapi entah kenapa dia hilang dari pandanganku, cepatlah ke sini bantu aku.
"Sial, aku juga ada di wahana nih, sekalian lagi cari Nara," ucap Ezra mulai cemas Vano yang membawa Nara. Setelah dengar itu, tampak Daffa cemburu Nara pergi berdua dengan Ezra, namun ketika ia tidak sengaja bertemu Ezra bersama Friska. Daffa pun mengira mereka datang bertiga.
"Tadi kamu bilang ada Nara, kan? Sekarang di mana dia?" tanya Daffa ikut mencemaskan calon istrinya.
__ADS_1
"Harusnya ada di sana, tapi entah kemana dia," ucap Ezra menunjuk. "Hey Ezra, kamu sengaja ya tidak mempedulikan Nara supaya bisa berduaan dengan Friska, kan?" Tuduh Daffa mulai mencari disusul Friska ikut saja.
"Sialan lo, aku dan Friska sudah putus! Jaga ucapanmu itu!" Timpal Ezra seolah ingin menonjok Daffa.
"Ck, putus ya putus, tapi nggak usah sekalian bawa Friska," decak Daffa.
"Brengseek banget sih lo, gue dan Friska nggak jalan bareng, dia sendiri yang tiba - tiba muncul di wahana ini, jadi lo nggak usah lagi nuduh - nuduh gue!" Emosi Ezra.
"Sudahlah, yang dikatakan Ezra itu benar, kami sudah putus." Sahut Friska menundukkan kepala. Kecewa dan kesal diperdebatkan. Saat Daffa mau menimpalinya, tiba - tiba ada notif dari anonymous. Mata ketiganya membulat di dalam foto sudah ada Nara yang pingsan sendirian. Mereka diminta datang ke lokasi jika ingin membawa Nara pergi.
"Jangan - jangan Vano sudah ingat?" Tak berpikir lama lagi, mereka bertiga ke tempat Nara. Ezra pergi sendiri, sedangkan Daffa terpaksa membonceng Friska yang juga mau ikut. Sesampainya di sana, semuanya sepi, tidak ada seorang pun. Namun setelah ketiganya masuk ke halaman gedung luas itu, sontak saja dari pintu yang terbuka mereka dihampiri oleh gangster. Friska mundur, namun berhenti saat terdengar motor keduanya dirusaki. Lagi - lagi mereka terkejut dikepung kelompok preman sungguhan dengan jumlah sekitar 500 orang.
"VANO!!! KELUAR LO BAJINGAN!" Panggil Ezra lantang sudah mengepal tangannya kuat - kuat, begitupun Daffa memasang kuda - kuda dan dua tinjunya. Sedangkan Friska, tak akan tinggal diam, ia sudah siap melawan karena dari dulu pernah berantem sama cewek behel. Tapi entah gimana akhir dari preman berbadan besar itu.
Sementara di dalam gedung, Nara perlahan sadar. Ia pun terkejut melihat Vano sedang berhadapan dengan Bumi Angkasa. Seketika dua cowok itu menoleh ke pintu yang terdapat Ezra.
"Ezra, jangan. Vano tidak salah di sini," tahan Nara.
"Tidak salah? Apa maksudmu? Dia jelas - jelas membawamu!" marah Ezra membentak istrinya.
"Tidak, Bumi yang menculik kita berdua." Geleng Nara memeluk lengan Ezra. "Apa? Kalian diculik?" Ezra pun menatap ke Vano. "Siapa kamu?" tanya Vano ke Bumi sehingga Ezra pun sadar Vano masih amnesia.
Setengah jam yang lalu, saat Nara berada di kedai pinggiran wahana, ia tidak sengaja bertemu Vano yang membeli permen kapas. Awalnya Nara takut Vano mendekatinya ada niat jahat, namun rupanya masih belum ingat apa - apa.
"Mau permen?" tawar Vano tersenyum kaku.
"Tidak usah, aku sudah beli barusan," tolak Nara juga tersenyum kaku.
__ADS_1
"Apa aku dulu sejahat itu sampai kamu tidak kau menerima pemberianku?" tanya Vano sedih.
"Jahat? Kamu kenapa bicara begitu?" tanya Nara mulai tertarik ingin tahu.
"Pak Dirga berceruta aku lumayan jahat, tapi aku cerdas di sekolah. Kalau aku memang cerdas, aku pasti sudah kuliah sekarang dan tidak jahat," keluh Vano makan permennya tidak karuan. Niatnya mau pergi jalan - jalan ke wahana, tapi Daffa terus bicara soal dirinya yang lebih jahat dan alasannya tinggal kelas karena blackzak.
"Hahaha…." Tawa Nara.
"Loh kenapa?" tanya Vano garuk kepala.
"Habisnya kamu tidak pernah sesedih ini," jawab Nara pun berhenti tertawa tapi lanjut di dalam hati. 'Dia seperti anak - anak esempe yang menyesali perbuatannya.'
"Oh ya, mungkin saat ini aku memang tidak ingat sesuatu tentangmu, tapi aku minta jika aku pernah menjahatimu," ucap Vano tulus meminta maaf.
"Aku maafkan, tapi ada syaratnya," ucap Nara tak mau melewatkan kesempatan.
"Syarat? Apa segitu jahatnya aku sampai harus pakai syarat?"
"Ya aku cuma mau supaya kamu tidak mengulanginya, siapa tahu kamu ingat semua dan berubah. Tapi aku selalu berharap sih kamu kayak gini terus," tawa Nara seperti penjahat yang kesenangan melihat ekspresi Vano yang lucu.
"Tampaknya yang jahat di sini adalah kamu." Tunjuk Vano dan ikut tertawa. Namun seketika tawanya berhenti.
"Kenapa?" tanya Nara.
"Sini ikut aku." Nara terkejut ditarik ke kerumunan orang - orang. "Ada apa?" tanya Nara kembali.
"Dari tadi ada dua orang yang mengincarku, tapi barusan orangnya bertambah jadi lima, sepertinya mereka berkomplotan mengintaiku dan kamu."
__ADS_1