Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
67. MHB BAB 67 - PANDANG BULU


__ADS_3

Setelah Mahendra diresmikan menjadi kepala sekolah dan adanya enam murid pindahan, Bumi yang berada di markas blackwolf pun sedang dikepung oleh beberapa anggota serigala hitam.


"Sialan kamu Bumi, kita pikir gangster - gangster yang kamu sewa dapat menghentikan keluarga Van Klaveran datang kemari. Tapi sekarang mulutmu ini hanyalah busa kotor." Mereka marah karena musuh terbesar blackwolf menjadi kepala sekolah mereka.


"Aku memang tidak katakan ini dapat menghentikannya, kalian saja yang terlalu yakin dengan rencanaku ini," ucap Bumi menjaga jarak dan tetap was - was sebab blackwolf tidaklah mirip blackzak. Anggota mereka tidak pandang bulu.


"Oh jadi maksudmu ini hanyalah sebuah peringatan? Begitu?" Mereka maju.


"Kamu bodoh, Bumi. Melakukan serangan pada salah satu keluarga Van hanya membuat organisasi ini terancam!" sambung mereka murka.


"Tunggu, jangan lakukan sesuatu padanya!" tahan seseorang memakai masker. Seorang gadis yang tidak lain adalah wakil ketua blackwolf dan primadona di sekolah.


"Cih, bagus kamu datang, berikan dia hukuman!" Mereka menunjuk Bumi, menyuruh wakilnya. Berharap dituruti, tapi gadis itu berhasil membuat Bumi membola.


"AHHHH!" Mereka memekik setelah pundak mereka disetrum satu - satu sampai pingsan. Bumi mundur namun gadis itu sudah ada di belakangnya.


DUAK


Bumi yang punya tubuh lentur pun menghindar dengan melayangkan satu pukulan namun gadis itu lebih cepat menjauhinya.


'Dia sangat cepat.' Bumi sulit melihat dan menganalisa kecepatannya.


"Huh seperti yang dikatakan Kendra, kamu memang tidak mudah disentuh, meskipun aku sudah memakai sepatu canggih ini."


Bumi yang mendengarnya pun melirik ke bawah sepatu. Tindakannya itu pun membuat satu celah bagi si gadis.


"Ah!" pekik Bumi terkejut dua tangannya sudah dicekal ke belakang dan gadis itu berdiri di belakangnya.


"Bumi Angkasa, mantan blackzak yang dipungut oleh Kendra, aku tidak akan biarkan kamu merebut posisiku. Memang rencanamu ingin merebut Vano dari keluarga Van, tapi ingatlah, seorang pengkhianat tetap akan jadi pengkhianat."


DUAK


Gadis itu lagi - lagi menghindar ketika Bumi melayangkan tendangannya.


"Cih, kamu terlalu pede, tujuanku bukan merebut posisimu," decak Bumi.


"Oh jadi apa tujuanmu? Anjing Kendra, begitu?" cibir gadis itu memandang remeh.

__ADS_1


"Sialan, jaga ucapanmu itu!" Bumi menerjang ingin memukulnya, tetapi dengan jarak yang jauh hanya membuat gadis itu bisa memukulnya kapan saja.


Namun keduanya pun berhenti setelah satu anggota blackwolf lari masuk sembari panik.


"KETUA! KETUA!"


"Ada denganmu?" tanya Bumi dan wakilnya.


"Organisasi baru sudah terbentuk!"


"APA?" Gadis itu terkejut, sedangkan Bumi diam sudah memikirkannya.


"Ya, kepala sekolah resmi membentuk twilight hari ini."


Twilight, satu nama yang sangat angker di telinga para anggota blackwolf.


"Sialan, pria itu memang datang ke sini hanya ingin membentuk twilight kembali, aku harus laporkan ini ke Kendra." Gadis itu pergi menghadap ke ketua blackwolf.


"Lalu siapa yang termasuk anggotanya?" tanya Bumi berharap Vano tidak direkrut. Ia ingin Vano kembali kepadanya dan menjadi family blackwolf.


Siswa itu pun menjelaskan kalau ketua twilight adalah Ezra, wakilnya Vano dan Daffa.


"Ya, mereka bertiga dan sekarang sedang mencari anggota baru," jawabnya.


"Lalu bagaimana dengan tiga gadis yang ikut bersama mereka tadi pagi?" tanya Bumi.


"Mereka masuk ke dalam osis," ucap siswa itu lalu menjelaskan kembali bahwa osis yang terlantarkan sudah dibenah dan sekarang diketuai oleh Nara, wakilnya Melly dan sekretarisnya Garce. Masing - masing anak pindahan mendapat posisi mereka.


"Sial, kalau begini blackwolf bisa bubar!" Bumi kesal karena hanya tiga osis yang diketahui dan sebagian identitas osis di rahasiakan. Yang artinya, bisa jadi di dalam blackwolf ada mata - mata dari osis dan bahkan mungkin saja siswa di depannya adalah osis juga.


Bumi pun pergi, mencari Kendra. Sedangkan siswa itu pun berdiri, menatap dingin ke Bumi yang sudah pergi dari markas itu. Ia pun beralih ke anggota blackwolf yang masih pingsan. Perlahan pun ia pergi dan membuka topeng kulitnya.


"Target ditemukan, hancurkan markas ini." Ia menghubungi seseorang yang tidak lain para anggota baru twilight.


"Baik, Vano." Mereka pun bergerak bersama Daffa. Vano berjalan pergi sudah menyelesaikan tugasnya. Dengan bantuan anting - antingnya, ia bisa mendengar suara Bumi dan tahu salah satu markas blackwolf. Sedangkan Ezra, cowok satu ini sedang jalan bersama Nara dan Melly, ia adalah ketua twilight tapi tugasnya saat ini menjadi bodyguard Melly dan istrinya. Ezra masih berpikir mungkin Nara hamil, maka ia harus jaga baik - baik istrinya, apalagi sebagian mata para siswa di sekolah tampak tidak suka kedatangan Nara yang menjadi ketua osis di sekolah.


"Ezra, kamu lihat Garce?" tanya Nara ke suaminya itu.

__ADS_1


"Tidak, kenapa kamu cari dia?"


"Dari tadi habis pelajaran dia langsung keluar kelas dan tidak pernah terlihat, kira - kira di mana dia ya? Aku cemas nih," ucap Nara kawatir sahabatnya itu diculik blackwolf.


"Tadi aku melihatnya lari ke ruang kepsek, mungkin sekarang dia menghadap ke Pak Mahendra." Melly menjawab.


"Kamu tidak usah cemas, ada yang menjaga sahabatmu itu, Nara." Melly tersenyum ke Nara.


"Semoga saja Garce bisa dijaga Pak Mahendra," hembus Nara sedikit lega.


"Oh ya, sepertinya tadi aku mendengar bakal ada rapat lagi yang dilakukan Pak Mahendra. Pulang sekolah kalian berdua sepertinya bakal nebeng di mobil kita," ucap Melly mendapat kabar kalau Mahendra mau mengumpul guru - guru yang ditindas oleh blackwolf bersama Garce akan mencatat siapa saja nama - nama blackwolf yang patut diskors dan diberi amplop peringatan ke orang tuanya.


"Heh? Maksudnya kita berdua satu mobil dengan Vano dan Daffa?" Kaget Ezra.


"Mau gimana lagi, kalian berdua ikut bersama kami," sahut Vano datang.


"Cih, aku tidak sudi satu mobil denganmu, lebih baik aku pakai taksi pulang," decak Ezra meraih tangan Nara mau pulang pakai taksi tapi satu lengan Nara ditahan Vano.


"Tidak masalah kalau kamu pakai taksi, tapi Nara tetap ikut bersama kami. Sangat bahaya kalau dia ikut bersamamu yang tidak punya otak ini," kata Vano pedas.


"Wehhh! Kamu jangan belagu ya! Aku ini ketua twilight dan kamu hanyalah babu di twilight," ucap Ezra melotot sehingga Nara sedikit emosi mendengarnya.


"Ezra!"


"Aduh aduh aduh! Sakit Nara! Ampun, sayang." Rengek Ezra dijewer telinganya membuat siswa yang melihatnya pun terkejut dan mengira ketua twilight tidak ada apa - apanya di mata ketua osis. Ya itu karena si nona osis istri rahasianya Ezra.


"Tidak usah cerewet, ayo kita pulang sekarang pakai mobilnya Vano." Nara menarik Ezra menuju ke mobil. Melly pun menahan tawa melihat satu pasangan itu sangat harmonis sekali. Ia pun mendongak ke Vano, senyum - senyum ke calon ayah debaynya.


"Kamu kenapa?" tanya Vano jalan santai.


"Boleh cubit telinga kamu nggak, No?" Pengennya seperti Nara dan Ezra.


"Nggak," tolak Vano.


"Aih," dengus Melly kecewa namun sontak tersipu dibisik Vano. "Kalau cium di sini sih aku mau." Bukannya nurut, Melly berjalan cepat. Tidak mau. Ngambek.


"Haha... ada - ada saja keinginannya." Vano tertawa namun sontak diam melihat dari kejauhan sekilas ada Bumi yang lewat di antara siswa - siswa. "Aku harus jaga mereka baik - baik, meskipun lawanku berat sekarang." Vano tampaknya mulai sadar dan nyaman berada di twilight. 'Tidak salah juga aku jadi baik begini.' Batin Vano tersenyum dengan sringai.

__ADS_1


...


🤭Senyumnya perlu diperbaiki juga tuh pak Vano


__ADS_2