
Potongan - potongan masa kecil Vano sampai sekarang mulai menayangkan semuanya. Hidupnya yang dari dulu tidak merasakan cinta orang tua dan keluarga membuatnya menderita. Orang tua yang harusnya menyayanginya malah menyiksanya. Pasalnya, Vano dipaksa belajar mati - matian supaya sang Kakek dan Nenek memberinya banyak pujian. Orang tua yang haus akan pujian semata yang membuat Vano seringkali jatuh sakit. Mentalnya terkikis dan fisiknya semakin lemah.
Jika tidak mendapat nilai tinggi, maka Vano tidak diberi makan selama empat hari empat malam. Penyiksaan yang keji mengakibatkan rasa benci. Namun berkat sang Nenek yang masih berhati lembut, Vano masih bisa mengendalikan diri untuk tidak memberontak.
Akan tetapi, setelah tumbuh remaja, lingkungan Vano berubah drastis setelah sang Nenek meninggal dunia. Cahaya yang memeluknya pun sirna. Orang tuanya pun tidak peduli lagi pada Vano. Bahkan sekalipun Vano mendapat juara berturut - turut di sekolah, tak ada bahagia yang dirasakan dalam keluarganya. Membuat jalannya mulai menyimpang semenjak orang tua mendadak bercerai.
Vano tidak ikut siapa pun, dia meninggalkan keluarganya dan bergabung ke organisasi gelap yang berbahaya. Hidup di antara kekerasan, Narkoba dan kejahatan. Di situlah, Vano yang dulu patuh pun menjadi ketua preman sekolah dengan menyandang nama Neneknya yang mendirikan sekolah ELIPSEAN II.
"Aku dimana?" Vano membuka mata, memandang keluar jendela yang sedikit mendung. Kemudian menatap langit - langit kamar bercat putih. Persis seperti ruang rawat, namun itu sangat berbeda karena dia berada di kamar luas dan juga tidur berdua dengan seseorang.
Vano beranjak duduk, mundur sedikit dan mulai membuka sedikit selimut yang menutupi wajah orang itu. Matanya pun membola itu adalah ketua kelasnya yang terlelap sangat manis pagi ini.
"Melly…." lirih Vano memegang dadanya yang berdebar. Melly membuka mata lalu terkejut Vano sudah bangun. Cewek itu tidak berteriak kaget, dia malah memeluk Vano dengan erat.
"Syukurlah, kamu sudah sadar, No." Tangis Melly.
"Sudah sadar? Apa yang terjadi?" tanya Vano pun grogi karena Melly cuma pakai daster dan menampakkan dua dadanya yang besar itu. Kalau saja kondisinya tidak lemah, Melly sudah diterkam sekarang.
"Hik… maafkan aku, gara - gara aku, kita dibuang." Jelas Melly karena kemarin Friska amat marah besar padanya dan melarang Melly jangan pulang ke rumah. Melly juga kemarin ingin membawa Vano ke rumah sakit namun takut pada Dokter cantik.
Vano menyeka tetesan air mata pacarnya, tersenyum sedih. "Tidak apa - apa, aku dari dulu sudah dibuang, aku yang harusnya minta maaf padamu, maafkan aku, sayang." Vano mencium punggung tangan Melly dengan lembut.
__ADS_1
"Apa kamu sudah ingat semuanya?" tanya Melly sedikit terkejut karena Vano mulai memanggilnya mesra. Vano diam, sejujurnya ingat kelakuan aslinya yang pada malam itu memaksa Melly gugurkan anaknya karena jika Melly hamil tidak bisa lagi memuaskan hasratnya. Sifatnya memang biadap. Hanya memikirkan kesenangan, tak peduli pada perasaan orang lain.
"Belum, aku belum ingat." Terpaksa Vano bohong supaya Melly tidak meninggalkannya.
"Melly, maafkan kalau aku dulu jahat padamu," ucap Vano dan mengelus pelan perut Melly. Ia tahu calon anaknya itu sudah berusia enam bulan. Tinggal beberapa bulan lagi bayinya lahir ke dunia. Melly mengangguk, memeluk Vano.
"Maafkan aku juga sudah mendorongmu, pasti sakit ya jatuh ke kolam," ucap Melly membelai kepala Vano. Vano menunduk, kepalanya memang sakit, tapi sakit di hati Melly jauh lebih parah.
"Tidak sakit kok, kamu tenang saja. Aku ini kan kuat." Vano tersenyum, senyum yang tulus dan tidak licik lagi membuat Melly pun menyandarkan kepalanya di dada bidangnya dan menggenggam erat tangannya. Vano pun membelai rambut Melly yang sama seperti Nara. Hidup numpang di rumah orang setelah orangtuanya meninggal pada tragedi kecelakaan pesawat dua tahun lalu.
"Oh ya, kira - kira ini di mana?" tanya Vano dan melihat tangannya diinfus. Saat mau dijawab Melly, tiba - tiba ada yang masuk.
"Kamu di rumah kami."
"Enak banget ya, sekarang si bajingan ini berada di sini, pasti tadi malam tidurnya nyenyak sekali," kesal Julian meremat - remat dua tangannya yang ingin menonjok.
"Cih, enaknya diapain dia, apa perlu digantung? Oh buang ke laut? Atau aku kirim ke bang Samudra?" Seringai Biyan ikutan kesal.
"Ja… jangan dikirim ke bulan deh, nanti dia mati membeku di sana, kita bisa masuk penjara dan terus Mami coret nama kita, amit - amit jadi gelandangan," lirih Zehan masih saja takut - takutan.
Ketiganya sudah tahu semua akibat dan dampak perbuatan Vano dari cerita - cerita ketujuh kakaknya. Gara - gara Vano, adiknya jadi menikah duluan dan punya istri beserta anak di luar nikah.
__ADS_1
Vano berdiri, menarik Melly ke belakangnya.
"Siapa kalian?" tanya Vano, pura - pura tidak kenal.
Ha?
"Woy, Reyhan! Reyhan!" panggil Biyan dan Julian teriak - teriak.
"Kamu masih tidak ingat kami?" tanya Zehan menunjuk bergantian kembarannya.
"Kalau aku ingat, aku tidak akan bertanya," jawab Vano, pura - pura pegang kepalanya supaya mereka percaya masih amnesia.
"Ada apa sih?" tanya Reyhan datang baru bangun tidur. Dialah yang mengizinkan Melly dan Vano tinggal di rumahnya ketika dua anak didik Mahendra itu kemarin datang membutuhkan pertolongan.
"Woy, masih pagi - pagi begini, kenapa teriak sih?" Susul Kevin dan tiga kembarannya keluar dari kamar yang sama. Sehingga Mahendra dan Elvan keluar dari kamarnya juga.
"Hoamm jangan berisik dong, istriku masih bobo," celetuk Ezra keluar kamarnya sambil menggendong baby Alan yang lagi susu pakai botol. Bisa dihitung, dalam rumah itu ada enam kamar saja.
Vano meneguk ludah dalam - dalam. Bisa - bisanya keluarga yang dia musuhi, sekarang mengepungnya di setiap sisi yang berbeda. Dari anak tertua sampai anak bungsu dan satu bayi gemoy menatapnya sinis. Membuat Melly pun takut dikelilingi banyak pria tampan yang gagah - gagah dan menggemaskan. Sungguh hari yang langka, pagi - pagi sudah diberi suguhan yang spektakuler. Kalau saja Melly gadis nakal, sudah pilih satu atau dua untuk dijadikan gigolonya.
....
__ADS_1
Waduh gimana nasib si biang kerok🤣terkepung di dalam rumah🤭musuhnya.