Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
25. BAB 25 - MAU BOCOR


__ADS_3

Esok paginya, cuaca di luar tampak mendung sehingga upacara hari ini mungkin tidak dilaksanakan. Mahendra juga tidak bisa ke sekolah karena sedang mengurus sesuatu. Sekalian juga menjaga baby Alan di rumah.


Sementara Nara dan Ezra tetap sekolah meski harus bertemu dengan Vano nanti. Tampak orang tua kecil ini masih tidak mau menegur sapa sebelum berangkat, bahkan Daffa sendiri yang antar Nara ke sekolah pakai motornya, karena Ezra tetap tidak mau mengantar istrinya walau dipaksa oleh Mahendra.


Benar saja upacara tidak dilaksanakan karena mulai turun gerimis dari atas langit. Daffa yang sedang jalan di sebalah Nara pun menengadah ke atas sehingga wajah tampannya terkena rintik - rintik hujan. Saat mau bicara, Nara lebih dulu bertanya.


"Daffa, kira - kira ketua ekskul teater siapa ya?" 


"Ekskul teater? Kamu mau masuk ke situ?" tanya Daffa. Nara mengangguk pelan.


"Hmm… kalau tidak salah kakak kelas kita," ucap Daffa bergumam.


"Kelas berapa dan siapa namanya?" tanya Nara. Daffa sejenak diam dan berhenti. Matanya melihat - lihat siswa yang datang ke sekolah. 'Hm, sepertinya hari ini cucunguk itu tidak datang ke sekolah, kalau begini Nara tidak akan diganggu olehnya.' Batin Daffa tertuju pada Vano.


"Melly Adrina, kelas 12 IPS 1." Daffa menunjukkan instagram Melly yang mempunyai followers seratus ribu. Nara terpukau karena Melly cukup cantik dan banyak menyukainya.


"Emang kamu sudah yakin mau masuk ekskul teater?" tanya Daffa lagi. Nara mendehem singkat. "Hm, aku mau belajar drama, siapa tahu setelah lulus bisa ikut audisi pencarian bakat hehehe…" Kekeh Nara malu - malu.


"Oh ya, kamu masuk ekskul apa?" lanjut Nara bertanya dan melihat jam di hp nya sudah pukul 07.20 menit. Tinggal 10 menit lagi materi pertama dimulai. 


"Lukis sih, tapi aku juga masuk ekskul bela diri," ucap Daffa suka melukis dan mencoba mengasah kemampuanny.


"Eh… emang bisa ambil lebih dari satu ekskul di sekolah ini?" tanya Nara sudah mau sampai ke kelasnya.


"Bisa dong," jawab Daffa tersenyum karena tidak ada larangan dalam memilih ekstrakulikuler.


"Kalau begitu, aku juga mau masuk ekskul bela diri!" Mantap Nara ingin belajar cara menghajar Vano nanti.


"Baiklah, nanti aku daftarkan kamu. Aku pergi ke kelas dulu, dah." Daffa kemudian pergi cepat ke kelasnya karena jam pertama adalah pelajaran kesenian yang sangat disukainya. 


"Cie… ciee… yang diantar sama gebetan ke sekolah, bikin iri saja deh, fufufu…" Garce menyenggol Nara yang masih berdiri di dekat pintu.


"Eh, Garce, sejak kapan kamu datang?" Nara sedikit tersipu disorak - soraki sahabatnya itu.


"Ciee… fokus amat ya lihat kakak kelas tampan sampai tidak sadar kedatangan sahabatnya. Awas loh ntar cinta itu bisa datang dari mata turun ke hati." Garce mencolek lengan Nara.

__ADS_1


"Ihh… berhenti dong, aku sama Daffa cuma temanan kok, Garce." Celetuk Nara agak risih kalau dijodoh - jodohkan.


"Haha… ya udah yuk ke ruang olahraga, teman - teman yang lain sudah ada di sana." Garce masuk sambil menertawai Nara yang sedang cemberut.


"Kamu pergi dulu gih," ucap Nara yang cuma mengambil baju olahraga dan sudah menyimpan tasnya ke dalam loker. Melihat Nara mengunci rapat - rapat pintu lokernya membuat Garce agak heran karena pertama kali melihat Nara memasukkan tasnya ke situ. Tentu karena di dalam tas Nara ada alat pompa dan botol susu untuk berjaga - jaga siapa tahu asinya bocor saat pelajaran basket nanti.


"Kamu mau kemana?" tanya Garce.


"Mau ke kelas 12 IPS 1," ucap Nara menunjuk ke atas.


"Hah? IPS 1 kelas 12? Mau apa kamu ke sana?" tanya Garce kembali.


"Mau daftar ekskul,"


"What, kamu sampai sekarang belum gabung ekskul lain?"


"Hehehe… iya," kekeh Nara cengengesan. Garce menahan tawa dan kemudian menepuk bahu Nara.


"Kalau begitu aku duluan ya, kamu jangan lama - lama,"


"Permisi, Kak," ucap Nara sopan sambil mengetuk pintu kelas. Tidak salah lagi, dari papan yang tertera di atasnya, dia sudah sampai ke kelas 12 IPS 1 yang terlihat tidak banyak muridnya.


"Oh waketos, kamu cari siapa?" tanya cowok tinggi dan memeliki lencana Ozara zodiak. Salah satu anggota Ezra yang tampak baik hati dan murah senyum.


"Itu… aku cari Kak Melly, ada?" 


Karena namanya disebut, cewek yang punya dada agak montok yang sedang piket di belakang dekat loker pun menoleh.


"Eh, kamu cari aku?" tanya Melly yang memegang sapu dan skop sampah. Nara pun diam terpukau dengan Melly yang pakai kacamata tebal juga tapi riasan polos di wajahnya membuat cewek itu terlihat cantik dan manis. Lekuk tubuhnya juga semampai indah.


'Wih, ternyata kalau dilihat langsung, dia lebih cantik dari foto instagramnya,' batin Nara cuma memuji diam - diam dalam hati.


"Sepertinya begitu, di sini cuma ada satu cewek yang pakai nama kamu, Mell," sahut cowok itu. Melly pun meletakkan sapu dan skopnya di dekat loker kemudian berjalan, mendekati Nara dan teman kelasnya itu.


"Kenapa kamu mencari ku?" tanya Melly mengulas senyum manisnya.

__ADS_1


"Itu… itu mau daftar ekskul drama," kata Nara agak gugup berhadapan dua anggota Ozara karena Melly juga satu organisasi dengan Ezra dan tampak punya lencana Ozara berzodiak pisces.


"Drama? Kenapa tidak gabung ke bidang olahraga saja?" Saran cowok itu sambil pura - pura tidak melihat ke dada Nara yang tampak ketat dan besar itu. Ia memberi anjuran itu supaya bisa melihat gunung besar itu terguncang.


PLETAK!


Aduh!!


"Melly, sakit woy!" ringis cowok itu digetok kepalanya.


"Ishh mata kamu ini memang mesum ya seperti Ezra!" Bentak Melly bertolak pinggang.


"Jarang - jarang ada yang gabung ekskul ini, jangan kamu halau niat calon anggotaku dan ketua kita!" Ketus Melly yang satu ekskul dengan Ezra.


"Ya deh, maaf…" lirih cowok itu pun pergi duduk ke bangkunya. Sedangkan Nara masih diam memikirkan perkataan Melly. 'Ezra mesum? Maksudnya Ezra suka menggoda cewek?' pikir Nara.


"Oh ya, kalau begitu mulai hari ini kamu anggota kami." Melly memakaikan bros bentuk apel di lengan Nara. Lencana ekskul Drama. Nara pun mengukir senyum melengkung seperti bulan sabit, menunjukkan giginya yang rata dan putih bersih. Nara tampak seperti perwira yang banyak memakai lencana. Sudah ada tiga bros dengan bentuk dan makna yang berbeda di seragamnya itu.


Tring… tring…


Mendengar bel sudah berbunyi, Melly pun menyuruh Nara kembali ke kelas. "Terima kasih, nanti jam istirahat aku akan coba gabung ke anggota lain." Nara kemudian berbalik badan ingin turun ke tempat ruang olahraga berada. Tetapi seketika langkahnya terhenti melihat Vano sudah berada di depannya dan sedang memberinya senyuman tipis sambil menyapa lembut.


"Pagi, nona waketos."


Sontak saja, Melly berdiri di hadapan Nara, menghalangi Vano untuk tidak berbuat apa - apa ke waketos sekolah. Melly yang anggota Ozara tahu kalau blackzak benci banget sama osis dan sebagai ketua kelas IPS 1 harus menjaga teman kelasnya itu tidak seenaknya ke Nara.


"Hey, tidak usah seperti itu, aku datang bukan untuk memakan dia kok, santai saja ketua kelas." Tatap Vano dingin kemudian masuk ke kelas, membuat sebagian siswa blaczak di kelas itu bersorak riang dengan kedatangan pemimpin mereka. Beda lagi dengan teman Melly yang tadi menatap sinis ke Vano dan anggota blackzak.


"Nara, kamu cepatlah pergi dari sini dan hari ini lebih baik kamu tetaplah bersama partnermu," ucap Melly yang dimaksud adalah Daffa. Nara pun pergi, tidak mau emosinya terpancing hadirnya Vano ke sekolah. 


'Aku harus hati - hati sekarang.' Batin Nara antara marah dan cemas Vano menyebarkan rekaman percintaannya.


Sampai di ruang pengganti, terlihat siswi dan Garce selesai memakai baju olahraga dan berlarian ke tengah - tengan ruang olahraga yang di sana sudah ada guru olahraga menunggu. Tinggal Nara yang baru  datang itu cepat - cepat melepas kancing seragamnya namun saat di kancing kedua, pucuk dada Nara berdenyut.


"Auuhhh…" desah Nara sedikit terkejut asinya mau bocor.

__ADS_1


....


__ADS_2