Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
79. BAB 79 - KOK DI SINI?


__ADS_3

"Hey, serius kalian mau kembali?" tanya Reyhan menghampiri delapan saudaranya yang sedang berkumpul di ruangan khusus. Ia meninggalkan Mahendra di kamar cuma bersama si Dokter yang bertugas merawat kakaknya itu.


"Ya Reyhan, perusahaan kita sudah membutuhkan kami," ucap Elvan, Kenan, Devan dan Davin yang bekerja sebagai CEO Di PERUSAHAAN. Meski mereka ingin kembali, uncle - uncle tampan milik baby Alan sudah menyiapkan satu rekening khusus untuk keponakan kecilnya yang sudah diisi milyaran juta yang tidak mudah dihitung.


"Apa kalian tidak bisa menunggu sampai Mahendra sembuh?" Reyhan sedikit menahan mereka.


"Kalau saja kita bisa membelah diri seperti ninja, kita juga tidak perlu repot - repot ke sana, Reyhan," ucap Elvan khawatir perusahaannya merosot di sana.


"Nah betul, kita tidak punya pilihan lain sebelum ada kekacauan di perusahaan kita," sambung Kenan, Devan dan Davin.


"Terus Kevin, bagaimana?" tanya Reyhan duduk dan menunjuk Kevin.


"Aku sih mau aja di sih, tapi mau bagaimana lagi, dua kelompok mafia aku di sana pada bermusuhan sekarang," jawab Kevin mau cepat - cepat ke afrika mendamaikan mereka sebelum ada pertumpahan darah yang memicu konflik lain.


"Hm, kalau begitu, kalian juga mau minggat dari sini?" Tunjuk Reyhan ke trio twins.


"Kita mau di sini, tapi tugas kuliah kita sudah menumpuk. Kalau tidak dibereskan, nanti kita jadi gelandangan di luar sana," ucap trio biawak tidak mau kena kartu merah dari Melissa kalau nilai mereka berantakan juga.


"Ini sulit, kondisi Mahendra masih belum stabil, demamnya juga tidak mau turun - turun," gumam Reyhan yang kewalahan merawat Mahendra. Untung ada si Dokter yang hadir membantunya tetap menjaga suhu tubuh Mahendra tidak naik lagi.


"Dia terlalu memaksakan diri mengurus dua sekolah itu, terutama pasti banyak pikiran gara - gara Ezra yang diusir dari rumah," ucap mereka sangat kasihan.


"Kalau saja Mami mau sedikit mendengarkan kita, mungkin masih bisa mengembalikan keadaan di keluarga ini," sambung mereka menunduk lesu, sebab kemarin bujukan mereka tidak ada yang mempan. Melissa tetap pada pendiriannya dan dari kemarin tidak mau keluar kamar sehingga wanita berkuasa itu belum tahu Garce semalam tidur di kamar Ezra bersama si Dokter cantik.

__ADS_1


"Ya sudahlah, sepertinya kali ini cuma aku sendirian saja menjaga Mahendra," hembus Reyhan antara takut dan cemas menghadapi Melissa nanti ketika keluar dari kamarnya itu dan mendapati Garce pulang dari sekolah.


"Hey, Reyhan. Tidak usah cemas," ucap Zehan tiba - tiba tersenyum.


"Kenapa denganmu?" tanya Reyhan dan yang lainnya.


"Coba lihat isi hape kalian." Tunjuk Zehan.


Semuanya pun membuka layar hapenya dan seketika saja ada notif bersamaan muncul dari sang pengirim.


"Samudra?" Kaget mereka diberi notif atas kepulangannya hari ini. Yang artinya satu putra keluarga Van itu sudah ada di kota dan sekarang berada di Elipsean I tanpa sepengetahuan anak blackwolf dan twilight. Tujuannya mau bertemu Mahendra di sekolah itu langsung, tapi sekarang pria yang mirip Mahendra itu terheran - heran di ruangan kepsek ada bayi persis mirip Ezra di kuris Mahendra.


Baby Alan sengaja ditinggal di ruangan itu supaya tidak mengganggu pelajaran pertama di Elipsean I yang berjalan lancar akibat kerjakeras Mahendra setelah rapat kemarin berhasil dilakukan. Sehingga guru - guru bisa kembali mengajari siswa mereka.


"Hey bocil, siapa kamu?" tanya Samudra dengan tatapan nyalang. Baby Alan cemberut. Mulut kecilnya itu manyun di depan Samudra.


"Pappa ... ecah," pinta baby Alan tambah merengek. Samudra tertegun dipaksa oleh bayi sekecil itu.


"Ecah? Siapa?" Samudra mendekat dan mentoel pipi gemoynya.


"Ecah... cah... cah," decah baby Alan menggerutukan tiga gigi kecilnya. Berusaha mengajak uncle nomor duanya bicara.


"Mungkin kah ini anak Mahendra?" gumam Samudra gemas melihat bayi Nara itu menunjukkan dua gigi kelincinya dan satu gigi lain di bawah sana. 'Tapi kan, Mahendra belum pernah memberiku undangan, apakah bayi ini milik seorang siswa dan disembunyikan di sini?' pikir Samudra mengamati baby Alan.

__ADS_1


Seketika saja pintu terbuka, Samudra yang tadi berjongkok pun berdiri tegak lalu memandangi satu siswi yang masuk. Ketika mau bertanya ke siswi itu, mendadak jantungnya hampir melompat keluar mendengar baby Alan memanggilnya.


"Mammaaa ...." rengek baby Alan riang. Mau secepatnya pindah dari kursi Mahendra. Ingin rasanya pergi mencari Tante cantiknya.


"What? Mamma?" Tunjuk Samudra bergantian ke Nara dan baby Alan.


"Loh, Pak Mahendra?" Tunjuk Nara ke Samudra. Tiba - tiba Ezra datang menyusul Nara. Matanya pun membulat sempurna berhadapan dengan kakak keduanya itu.


"Eh abang kok ada di sini?" tanya Ezra mengenalinya. Baby Alan yang sudah diambil Nara, ia memanggil Ezra di depan Samudra.


"Pappa.... ec -" Putus baby Alan dibekap mulutnya pakai telunjuk Ezra sehingga Nara heran melihat suaminya begitu.


"Kenapa, Za?" tanya Nara belum sadar kakak iparnya itu bukan Mahendra.


"Hehe... hehe... abang Samudra jangan ngamuk dulu, okeh? Kita bicara baik - baik dulu, okeh?"


Ezra maju cengengesan ke Samudra yang matanya kembali nyalang sudah mencerna sesuatu. Ezra tampak tidak berdaya di depan kakaknya itu. Pasalnya, Samudra mirip Melissa yang langsung murka. Anak dan Ibu masing - masing punya sisi kejam. Berdoa saja Ezra tidak dikirim ke angkasa.


"Jadi apa maksudnya ini? Kenapa ada bayi di sekolah ini?" tanya Samudra dingin.


'Waduh, ayo baby kita keluar dulu. Biarkan Papa Ezra kamu silahturahmi sama unclemu itu.' Nara keluar membawa baby Alan pergi sebelum meteor menghantam ruangan itu.


.

__ADS_1


🤸‍♀🤸‍♀yeahh unclenya datang, rekening baby Alan semakin tebal nih🤭kira - kira, oleh - oleh dari luar angkasa apa ya?


__ADS_2