Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
55. BAB 55 - IBU HAMIL


__ADS_3

"Okeh, aku pulang sekarang." Panggilan suara dari Mahendra diakhiri oleh Reyhan. Laki - laki tampan yang berprofesi Dokter itu disuruh pulang ke rumah malam ini karena si trio tidak percaya baby Alan darah dagingnya Ezra meski sudah diyakinkan pakai rekaman malam itu. Eh tapi tidak ditonton ya, cuma digunakan buat alasan. Hhe.


"Memang sudah aku duga, mereka bertiga pasti datang gara - gara kabar Ezra!" Reyhan pergi ke Dokter cantik, mengambil hasil tes DNA yang sudah disediakan apabila saudara yang lain tidak percaya, sekaligus menyediakan cadangan untuk Mami Melissa. 


Namun sebelum itu, Reyhan ke ruangan Vano lalu terkejut hanya ada Dokter cantik yang terlelap di brankar yang kosong.


"Hey! Bangun, dimana Vano?" Reyhan mengguncang bahunya setelah mengecek ke dalam toilet yang kosong juga. "Vano? Kenapa kamu cari –" Dokter itu terkesiap.


"Ahhh mana Vano?"


"Sial, cepat kita cari dia!" Reyhan menyeret Dokter cantik ke luar ruangan. Keduanya mencari di lorong rumah sakit sebelum Vano pergi atau dibawa kabur. Namun seketika saat berbelok, Reyhan menarik pundak Dokter, memojokkannya ke tembok dan menutup mulutnya pakai tangan. Pasien yang lewat jadi terheran - heran melihat tingkah dua Dokter itu yang aneh.


"Ada apa sih?" Dokter itu melepaskan tangan Reyhan.


"Lihatlah di sana, itu adikmu, kan?" Reyhan menunjuk cowok yang berpakaian pasien dan sedang memaksa cewek berhenti jalan.


"Ya juga ya, siapa tuh cewek?" gumam Dokter tidak jelas melihatnya.


"Apa jangan - jangan anggota blackzak?" tebak Dokter melihat Reyhan yang amat serius memperhatikan Vano dan cewek itu. Matanya pun terpaku dapat melihat dekat salah satu si kembar lima.


'Eh aku baru sadar tahi lalatnya di kuping kiri, hidungnya emang mancung semua tapi yang ini cukup kokoh, bibirnya tipis dan seksi mirip Mahendra. Pasti ini rasanya paling empuk,' batin Dokter menyentuh bibir Reyhan.


"Ahh… ngapain kamu?" Reyhan terkejut.


"Hehehe… rupanya produk yang satu ini menarik juga." Seringai Dokter mendekat. 'Hah? Produk? Emang aku ini barang? Dasar wanita aneh,' batin Reyhan risih sehingga mendorong wajah Dokter menjauh darinya.


"Ck, jangan macam - macam kamu!" decak Reyhan tidak suka tingkah Dokter yang mudah sekali pindah - pindah hati. Sontak keduanya membisu setelah mendengar Vano bicara.


"Kamu pacarku, kan?"


"Kamu ketua kelas yang jarang masuk sekolah akhir - akhir ini dan aku yakin pasti kamu yang sering panggil aku Nono, kan?"


"Ayo jawab! Jangan kabur lagi dariku!"


Vano terus mendesak cewek di depannya yang seringkali ada di dalam mimpinya dan percaya mimpi itu adalah potongan dari ingatan masa lalunya.


"Lepaskan! Aku tidak mengenalmu!" bentak si cewek membuat Reyhan menoleh pada Dokter cantik yang terkejut.

__ADS_1


"Melly, ini kan suara dia…" Dokter ingin ke sana tapi dicegat Reyhan. "Hey jangan ke sana, tetaplah di sini dan tunggu –" putus Reyhan karena raut wajah Dokter tampak marah.


"Kalau aku tidak ke sana, cewek itu bisa melukai adikku!" ujar Dokter belum memaafkan Melly yang mendorong Vano.


"Ya aku tahu, tapi jika kamu ke sana, kita tidak akan tahu alasan apa yang membuatnya mendorong adikmu!" kata Reyhan sudah tahu dari Mahendra.


"Ck, kalau saja Vano dibuat meninggal, sudah aku leporkan cewek itu ke penjara!"


"Kamu juga harus beruntung adikmu tidak dipenjara sudah menjebak adikku," kata Reyhan membuat Dokter pun diam karena sudah tahu perbuatan keji adiknya selama ini. 


Keduanya pun kembali terkejut saat Vano ditampar oleh Melly.


"Pergi dariku! Aku tidak mau melihat wajahmu!" bentak Melly hampir menangis. Vano yang belum ingat semuanya pun kebingungan dapat tamparan dadakan.


"Sial, aku tidak tahan!" Dokter menepis Reyhan, menarik tangan Vano dan berdiri di hadapan Melly sehingga cewek itu mundur karena takut dan Reyhan berdiri di belakangnya sehingga terkepung.


"Dasar tidak punya hati, kamu dorong adikku sampai amnesia dan sekarang kamu menamparnya! Aku harusnya tidak berbelas kasihan padamu!" bentak Dokter ingin melayangan tamparan ke Melly namun Reyhan menangkap tangannya cepat. Reyhan mengerti perasaan Dokter cantik itu yang sedih melihat Vano dibenci semua orang dan belum ingat semua keluarganya.


Melly amat terkejut dilindungi Reyhan, namun ia dan Vano pun diam membisu, disusul Dokter ikut tertegun setelah Reyhan bicara.


"Ibu hamil? Maksudnya?" Dokter bertanya seraya pandangannya turun ke perut Melly. Reyhan menghempaskan tangan Dokter, menarik bahu Melly supaya tidak pergi, kemudian menatap Vano.


"Cewek ini sedang hamil, dari gerakan tubuhnya, aku merasa dia baru saja datang mengecek kehamilannya dan tidak sengaja bertemu denganmu, apa itu benar, Vano?" tanya Reyhan yang memang tadi serius memperhatikan perut Melly yang buncit.


"Tolong lepaskan aku!" ujar Melly memaksa Reyhan membiarkannya pergi. Namun Reyhan menekan bahu Melly, menatapnya tajam membuat cewek itu ketakutan.


"Katakan sejujurnya alasan kamu mendorong Vano, kamu tahu kan gara - gara ulahmu ini Ozara dibubarkan! Jelaskan padaku!" kata Reyhan yang juga mantan ketua Ozara pada masanya.


"Apa karena Vano tahu kamu dihamili dan diancam saat itu, jadinya kamu mendorongnya? Apa itu alasannya?" tanya Reyhan.


"Atau Vano yang menghamilimu?" sahut si Dokter membuat Vano di sebelahnya terbelalak, begitupun Reyhan.


"Dan dia menyuruhmu aborsi?" Lanjutnya maju mendekati Melly yang mulai menangis dan memandang sedih Vano.


"Hiks, semua yang kalian katakan itu salah besar, saya ke sini hanya memeriksa kesehatan, besok saya sudah mulai masuk sekolah, tolong jangan permalukan saya dengan tuduhan kalian!" Melly secepatnya pergi meninggalkan mereka. Reyhan mendecak, ingin rasanya mengejar Melly namun harus pulang membawa tes DNA. Si Dokter pun mengabaikan Melly, pergi membawa Vano ke ruangannya dan memberikan hasil tes DNA. Setelah Reyhan pergi, Dokter pun ingin mencari siapa yang memeriksa Melly. Namun sebelum pergi, Dokter berpesan pada Vano untuk jangan kemana - mana lagi.


Akan tetapi, setelah kakaknya itu pergi, Vano diam - diam mencari Melly, bahkan keluar dari rumah sakit dan menyusuri pinggiran jalan. Perasaannya gundah dan benar saja dia menemukan ketua kelasnya itu masuk ke sebuah geng kecil yang kumuh. Vano pun yang masih berjalan lemah terpaksa menyebrangi jalan. Begitu terkejutnya setelah diam - diam masuk ke sebuah rumah sempit, matanya melihat Melly terbaring di atas meja operasi dan membuka lebar - lebar dua pahanya di depan seorang wanita tua yang ingin mengeluarkan bayi di dalam rahim Melly.

__ADS_1


"HEY! APA KAMU SUDAH GILA?!! HENTIKAN ITU!" Vano mendorong wanita itu hingga jatuh lalu menatap marah ke Melly yang mau mengaborsi bayi yang selama ini disembunyikan dari pihak sekolah dan keluarganya.


"Va…vano?" Melly mundur ketakutan.


"Pantas saja kamu bilang besok masuk sekolah, rupanya kamu ingin menggugurkan kandunganmu malam ini." Vano menarik paksa tangan Melly turun dari meja operasi.


"Lepaskan aku, ini bukan urusanmu!" ronta Melly memukul tangan Vano yang membawanya keluar dari tempat itu. Kemudian Vano pun membentak Melly dengan keras.


"Melly! Kamu tahu, aku hari ini diselimuti gelisah, entah kenapa seperti ada dorongan yang memaksaku datang mencarimu dan sekarang aku tahu dorongan itu berasal dari tangisan anakku," ucap Vano menunjuk Melly yang terguncang hebat.


"Kamu sudah ingat semuanya?" lirih Melly dengan embun yang menggenang.


"Belum, ingatanku masih samar - samar tapi aku yakin kamu pacarku," ucap Vano menggenggam tangan Melly yang mulai bergetar dan tangis yang sesegukan.


"Ya aku memang pacarmu, kita pacaran diam - diam tanpa diketahui Ozara dan Balckzak. Tapi anak yang di dalam perutku bukan anakmu, jadi jangan halangi niatku." Melly ingin masuk ke tempat itu lagi tetapi langkahnya terhenti gara - gara pertanyaan Vano.


"Kenapa kamu tega ingin gugurkan anakku?" Vano percaya bayi itu anak hasil dari percintaannya yang sering mereka berdua lakukan. Itu semua tergambar jelas dalam mimpinya.


Melly berbalik badan, menampar Vano kembali. PLAK


"Apa aku harus mendorongmu ke tengah jalan supaya kamu ingat bagaimana kamu memaksaku berpacaran dan kamu menerkamku, menikmati tubuhku setiap saat? Kamu juga yang sendiri pada malam itu menyuruhku aborsi, tapi aku menolak. Hik, aku memang bodoh, tak harusnya jatuh hati pada cowok biadap sepertimu! Harusnya kamu mati pada malam itu!"


"Tapi sekarang kamu sudah amnesia jadi aku tidak usah memintamu bertanggung jawab, aku cuma perlu gugurkan anakmu dan menikah dengan cowok pilihan orang tua Friska." 


Keseimbangan Vano hampir goyah membuat Melly pun cemas dan langsung menahan pundak Vano yang mendadak kepalanya sakit. 


Sesaat, Vano pun bisa tenang dan melihatnya lalu membuka kacamata tebal Melly itu dan lekat - lekat memandangi paras cantik pacar gelapnya.


"Sekarang pulanglah ke rumah sakit, Vano." Melly melepaskan Vano, namun tangannya kembali diraih.


"Jangan tinggalkan aku, Mell." Vano memeluknya. Melly pun menengadah, ia terkejut melihat mantan ketua Blackzak itu menangis. Melly pun tidak tega melihat pacarnya yang brokenhome itu memohon. Secepatnya dia berbalik badan lalu memeluknya sebelum jatuh pingsan. "Kamu jahat, No. Hiks…" Tanpa sadar, keduanya didatangi Friska yang dari tadi mencari Melly. Mantan Ezra itu sangat terkejut sepupunya itu dihamili oleh musuhnya.


"Melly… kamu benar - benar hamil anak dia?"


Melly pun diam tak dapat berkata - kata di depan Friska. Sedangkan Vano pingsan dibahu Melly karena kondisinya yang turun drastis. "Vano! Vano!"


....

__ADS_1


__ADS_2