Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
28. BAB 28 - TERANG SAN


__ADS_3

"Hah? Kesambet apa kamu hari ini?"


"Tidak usah banyak bicara, pergi sana ke rumah sakit!" Ezra menarik Nara menjauhi Daffa. 'Lah, dia kenapa marah?' Cemburu? Atau gara - gara di ruangan Pak Mahendra tadi?' pikir Nara tidak paham sifat Ezra yang susah ditebak.


'Cih, jual mahal amat.' Daffa pun membiarkan Ezra mengantar Nara pulang lalu ke arah berlawanan untuk segera ke rumah sakit melihat kondisi ayahnya. Tanpa sadar, dari tadi ada siswi yang diam - diam mengambil gambar mereka.


'Xixixi… berita besar nih.' Siswi itu cekikikan mendapat foto Nara yang tadi dikelilingi tiga cowok. Bagai primadona sekolah yang direbutkan oleh tiga sang penguasa sekolah.


💋💋💋💋💋💋💋💋


Rumah Daffa.


"Tumben antar Nara pulang, kemana Daffa?" Mahendra bertanya pada Ezra dan tampak sedang duduk di ruang utama seraya nonton televisi. Sedangkan Nara naik ke kamar ingin melihat anaknya. Kemudian Ezra masuk ke dapur mau membasahi tenggorokannya yang kering dengan air putih.


"Daffa ke rumah sakit, kata Dokter, ayahnya sudah tidak koma lagi," ucap Ezra pun duduk di kursi lain, bersandar sejenak melepas penat di sebelah kakaknya itu yang baru tahu kabar kondisi mantan wakepsek dulu.


"Eh mau kemana?" tanya Ezra melihat Mahendra berdiri dan bersiap ingin pergi.


"Ke rumah sakit, aku harus pastikan dulu Daffa tidak mengajak ayahnya lapor polisi, jika sampai itu terjadi, kalian berdua berakhir hari ini. Terutama kamu bisa dicoret dari kartu keluarga oleh Mami!"


Ezra tersentak melihat kewaspadaan Mahendra yang memikirkan masa depannya. Ezra berdiri, tidak mau Ibunya sampai mencoret namanya seperti yang terjadi pada sebagian saudaranya.


"Kalau begitu, tolong bantuannya, Kak!" Mohon Ezra bersikap manis demi aset dan warisannya yang ratusan milyaran itu tidak disita Ibunya yang killer. Bayangkan saja, Ibunya yang dari Belanda terbang ke Indonesia hanya untuk mencoreng anak bungsu kecilnya itu.


"Kamu tenang saja dan tetap di sini temani Nara. Satu lagi, nanti malam harus fokus berjaga - jaga, aku khawatir di luar sana sudah ada preman - preman yang menargetkan rumah ini." Pesan Mahendra karena cemas kabar ayahnya Daffa sudah bocor ke tangan musuh. Ezra mengangguk mantap dan mengantar kepergian Mahendra. Sekarang cuma Ezra dan Nara yang menjaga baby Alan di rumah besar itu.


Saat Ezra mau masuk kamarnya, Nara dari belakang datang bertanya karena mendengar mobil iparnya itu pergi tadi.

__ADS_1


"Ezra, kemana Pak Mahendra pergi? Kenapa belum pulang juga? Ini sudah hampir malam, harusnya sudah pulang ke sini." Nara sedikit takut cuma berdua di rumah bersama Ezra.


Suaminya itu belum menjawab. Dia sedang mengamati dari atas ke bawah penampilan Nara yang cuma pakai daster bermotif bunga yang memperlihatkan betis putih dan lengannya yang mulus bersih. Tapi dimata Ezra, Nara tetap gadis cupu yang suka berkacamata tebal dan cuma tahu mengikat rambutnya ke belakang. Ditambah poni yang hampir menutupi dua matanya.


"Ezra! Jangan asal lihat aku dong, dasar mesum!" Nara menutupi dua tonjolan dadanya.


"Ke rumah sakit, jagain Daffa," ucap Ezra pun masuk ke kamarnya. Nara pun mangut - mangut, paham kepergian Mahendra. "Oh ya, nih ambil." Ezra keluar lagi dan memberikan sebuah flashdisk.


"Eh, apa ini? Apa ini rekaman kita?" tanya Nara tampak senang mengambilnya.


"Bukan, itu isinya film –"


"Hah? Film apa?" tanya Nara.


"Wah jangan - jangan ini video dewasa –" lanjut Nara.


"Kenapa kasih padaku?" tanya Nara.


"Ya aku mau kita nonton bareng," ucap Ezra mulai dengan rencananya ingin mengetes Nara.


"Ehh, kamu takut nonton sendirian?" tanya Nara ingin sekali meledek nyali Ezra.


"Tidak dong, aku ini berani kok, cuma sebagai babu kan harus nurut sama majikan," ucap Ezra begitu entengnya memanggil istrinya itu pembantu.


"Oh kalau begitu, tuan suami silahkan turun ke bawah, aku mau tidurkan baby Alan dulu," senyum Nara sudah kuat mental dipanggil serendah itu.


Ezra cemberut melihat istrinya itu tidak memperlihatkan kekesalannya. Merasa kalah saing sama egonya Nara.

__ADS_1


Dua jam berlalu dan sekarang sudah pukul delapan malam. Mahendra mengirim pesan ke Ezra bahwa dia bersama Daffa akan tinggal di rumah sakit dan mengatakan ke Ezra jangan macam - macam ke Nara. Ezra tanpa dikasih tahu juga tidak akan mengganggu. Dia ingin nonton film horor malam ini juga supaya bisa tenang dari pengaruh ancaman Vano.


TapTapTap!


Ezra menoleh ke tangga dan melihat istrinya baru turun dan selesai menidurkan baby Alan. Nara tanpa bicara duduk di dekat Ezra tetapi sedikit berjauhan.


"Oh ya, nih sebelum nonton, kamu makan dulu." Ezra menyerahkan satu hamburger yang dipesan lewat online. Makan tanpa memasak adalah cara simpel Ezra. Tinggal pesan saja di luar, perutnya sudah siap terisi.


"Tumben perhatian," ucap Nara mengambil satu.


"Haha… perhatian? Siapa yang perhatian? Aku kasih kamu hamburger itu karena kasihan melihatmu kurus." 


"Aku cuma … KASIHAN bukan PERHATIAN."


Mendengar ucapan Ezra yang meledeknya, Nara agak menyesal. Dia pun mengalihkan matanya ke layar televisi yang sudah disambungkan isi flashdisk. Sedangkan Ezra merasa senang bisa melihat kerutan kekesalan istrinya muncul lagi. Tetapi seketika Nara terkejut lampu di atasnya dimatikan Ezra yang sengaja menekan saklar.


"Kenapa lampunya dipadamkan?" tanya Nara sedikit was - was karena isi ruangan gelap dan cuma dipancari cahaya dari film yang agak redup juga.


"Biar bisa dapat merasakan suasana seramnya," ucap Ezra duduk lagi di dekat Nara. Semakin dekat membuat Nara ingin pindah tetapi terkejut gara - gara opening film yang mengagetkannya.


"Hahaha… itu cuma kuntilanak jadi - jadian tapi kamu sudah keringat basah, dasar penakut," ledek Ezra menertawai Nara yang hampir jantungan disetiap adegan hantunya muncul.


'Ezra sialan, sepertinya dia mengajakku nonton bareng supaya aku tidak bisa tidur nyenyak. Apa dia sengaja ingin balas dendam karena sudah aku rayu tadi di sekolah?' pikir Nara tambah jengkel. Namun keduanya pun meneguk ludah karena tidak sangka ada adegan semi yang panas dingin. Ditambah desahaan begitu indah terdengar membuat adik kecil Ezra agak perlahan mengeras.


'Sial, gue jadi terang san nih,' batin Ezra tidak habis pikir nafsunya mudah sekali terpancing, ia pun diam - diam melirik Nara yang masih menonton dengan mata telan jang dan menikmati dua sejoli yang lagi bercocxok tanam di dalam gudang tua. Beda sekali dengan Ezra yang menutup matanya pakai tangan dan menonton lewat celah - celah jarinya. Nara di sebelah cuma bisa menahan tawa dengan tingkah konyol suaminya itu.


...

__ADS_1


Siapa nih yang penakut wkwk


__ADS_2