Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
106. EXTRAK PART (6) - LITTLE TWILIGHT


__ADS_3

"Kiara! Itu papah dan mamah masuk! Ayo kita bantu cari juga!" Kiano menunjuk sebuah pergerakan.


"Tapi ini terlalu bahaya, ada banyak orang jahat di depan markas itu!" sahut Kumi tidak berani.


"Tidak usah takut! Lihatlah! Alan punya sesuatu!" Alan membuka sebuah kotak tempat perlengkapan canggih. "Sepertinya kita bisa masuk ke sana dengan ide menyelinap tuan Kiano, nona," ucap pengasuh menunjuk Kiano yang tampak punya ide cemerlang.


"Ayo! Kita masuk cari mamah dan papah!" Little twiligh itupun memakai alat cangging masing - masing. Alat milik Daffa, Garce, Nara, Mahendra.ย 


"Coba pakai bando ini!" Alan memberi pada Kumi.


"Kiara pakai yang ini!" Kiara dikasih gelang milik Daffa.


"Alan pakai kacamata ini!" Alan memakai milik Nara.


"Kiano pakai ini!" Lalu memberi cincin Mahendra.


"Tapi Kiano tidak bisa pakai cincin ini!" Cincin Mahendra itu tidak pas di jari kecil Kiano.


"Coba Kiara pasangkan!" Kiara memasangkan cincin itu di ibu jempol kaki Kiano yang dibungkus kaos kaki.


"Hihihihi.... jadi cincin kaki." Kumi tertawa geli melihat Kiano cemberut karena cincinnya di situ.


"Sekarang semua sudah siap! Tapi bagaimana dengan kakak ini?" Alan menunjuk pengasuh yang tidak diberi apa - apa.


"Tidak perlu khawatir tuan muda, saya punya ini." Empat anak itu melongo pada lima pistol di tangan pengasuh itu.


"Itu senjata asli kamu?" Kumi bertanya.


"Bukan, ini senjata kalian!" ucapnya memberi satu - satu pistol itu pada mereka dan satu untuknya sendiri.


"Isinya apa?" tanya Alan sedikit takut.


"Itu pistol air! Tapi airnya bukan sembarangan air!" Kiara dan Kiano menjelaskan.


"Terus apa airnya?" Kumi dan Alan bertanya lagi.


"Peluru air yang dicampur dengan sepuluh kilo cabai hijau. Kalau terkena mata, bisa tidak melihat sementara!" ucap Kiano.


"Atau buta permanen." Sambung Kiara.


Alan dan Kumi terkejut jadi takut sungguhan.

__ADS_1


"Sudah, sudah! Ayo kita cepat ke sana!" Pengasuh itu keluar dari mobil dan menuntun empat anak itu. Sebagai pengasuh, dia juga pengawas untuk mereka dan juga sudah menyiapkan rencana lain serta pistol asli berisi peluru nyata jika marabahaya mengancam empat nyawa anak itu. Dia juga tidak akan segan - segan mengorbankan diri demi menjaga Kiara dan Kiano beserta Alan dan Kumi. Little twilight itupun berhasil masuk lewat jalan pintas sesuai petunjuk dari pendeteksi kacamata Alan yang bisa menembus tembok. Little twilight itupun berhasil menyusul Nara.


"Mamah!" Alan meneriaki Nara sehingga mamahnya itu dan Ezra menoleh pada Alan. Nara membola hebat melihat di sebelah Alan dan Kiano ada satu anak perempuan yang persis dengan Alan. Sedangkan Kumi dan pengasuh tidak bergabung. Mereka menuju ke tempat Melly dan Noel disekap sesuai dena yang ditunjuk.


"Ezra, siapa anak perempuan itu?" Nara menunjuk Kiara yang tampak takut padanya. Vano mengernyit heran karena Nara seperti tidak mengenal anaknya, padahal Ezra tadi bilang tiga anak itu adalah anaknya.


'Lho, apa aku sudah ketinggalan sesuatu?' pikir Vano merasa Nara dan Kiara baru dipertemukan malam ini.


"Nara, dia saudara kembar Alan, satu anak yang kamu katakan kalau Alan punya dua kembaran." Ezra memegang tangan istrinya.


"Jadi selama ini kita punya anak perempuan?"ย 


"Aku juga tidak bisa memastikannya, tapi Kiara seperti Kiano yang mirip dengan Alan, maka bisa saja kamu benar." Ezra menarik Nara mendekati tiga anak itu. Kiara mundur tidak mau dekat - dekat karena merasa Nara itu jahat sudah tega menjualnya. Tapi Kiano meraih tangannya dan berharap Kiara tidak membenci dulu wanita yang melahirkan mereka.


"Kalian bertiga ....." Nara berlutut di depan tiga anaknya. Sedangkan Vano tidak cuma melihat saja, telinga dan matanya itu sibuk mencari - cari lokasi Melly dan pergerakan dari Bumi Angkasa.


"Mamah! Ini Kiara! Alan bertemu dia di rumah Kumi!" Alan menatap Nara serta Kiara bergantian.


"Alan, seingat mamah dulu cuma melahirkan satu anak dan itu cuma Alan," ucap Nara ingin mendengar langsung ucapan Kiara. Berharap ada petunjuk siapa yang membeli mereka.


"Bohong! Pembohong!" Kiara meneriaki Nara.


"Hiks, kita anak mamah juga." Kiara lanjut menangis.


"Bohong! Bilang saja mamah jual kita!" Vano terlonjat mendengar Kiara marah. 'Jual? Nara melakukan itu?'


"Tidak! Mamah tidak pernah begitu!" bantah Alan.


"Apa buktinya?" Isak Kiara.


"Ini buktinya!" Alan menunjuk kacamatanya.


"Apa maksudnya Alan?" tanya Nara. Sedangkan Kiano berdiri di dekat ayahnya dan menunduk sedih tapi Ezra membelai kepala anak kecilnya itu supaya tidak bersedih.


"Kacamata ini tadi berkedip kalau mamah itu jujur!" ujar Alan.


"Jujur kalau mamah punya anak satu?" tanya Kiano.


"Bukan! Mamah jujur kalau tidak ingat apa - apa." Alan meluruskan cepat.


"Bohong! Kacamata itu rusak!" Kiara tetap tidak percaya. Sontak Nara memeluk anak kecilnya sebelum Kiara teramat dalam membencinya.

__ADS_1


"Maaf, sayang. Mamah benar - benar tidak ingat. Tapi syukurlah kamu sudah tumbuh besar dan sangat cantik dari mamah sekarang." Tidak hanya diberi pelukan, Nara mencoba bicara pada putri kecilnya.


"Huwaaaa...." Kiara menangis kencang sampai suaranya mengisi seluruh ruangan itu dan membuat kehadiran mereka diketahui oleh preman yang sudah lama menunggu mereka di ruangan itu.


"Papah! Mereka datang!" Kiano menunjuk segerombolan preman seperti di luar lagi. Tapi kali ini ketua mereka adalah Wakil ZABERX.


'Cih, di mana kamu Bumi Angkasa!' decak Vano dalam hati merasa Bumi selalu saja bersembunyi.


"Ouh, tamu dari mana ini? Apakah satu kelompok dengan orang - orang di luar?" Wakil Zaberx itu bertanya dan berdiri dengan tegak serta kokoh di depan Vano dan family Ezra. Nara secepatnya berdiri lalu menarik tiga anaknya berada di belakangnya.


"Jangan tinggalkan tempat kalian, tetap di belakang, mamah."


Kiara terpukau melihat Ibunya sangat melindunginya. Sedangkan Kiano gemas ingin menembak pistol airnya ke mata wakil ZABERX yang sombong itu. 'Dia hanya semut kecil di depan kakek.' Kiano membatin dengan seringai tipis. 'Dan cuma ulat bulu yang mudah kusentil.' Jiwa bela diri Kiano bergejolak, begitupun Ezra dan Vano yang tidak tahan ingin menghajar preman bertato kilat naga di lengannya itu yang sudah berani menculik Bu Mayang, Melly dan peri kecilnya, Noel.


Pertarungan selanjutnya segera tiba dengan pengakuan Bu Mayang yang sudah ditemukan oleh Pengasuh cantik dan Kumi yang juga membebaskan Melly dan Noel dari tempat sekapan. Tidak cuma itu, Kumi juga melepaskan korban culik yang lainnya. Serta kehadiran Bumi di belakang markas ZABERX dan Kakek Kiara yang tiba di Bandara malam ini.


"Serahkan orang - orang yang kalian culik, bedebbah!" kelakar Vano marah.


"Culik? Apa buktinya, sialan?" Wakil Zaberx tersenyum tipis dengan tingkah sombongnya.


"Bukti - bukti pala kau! Serahkan saja orang - orang itu, berengseek!" ujar Ezra sudah siap dengan dua kepalan tinjunya.


"Bocah - bocah ingusan, sepertinya kalian datang cari mati ternyata!" Wakil Zaberx ingin maju meladeni Ezra dan Vano tetapi tiba - tiba Kiara maju.


"Kiara!" Alan ingin mencegahnya namun Kiano menahan.


"Biarkan saja!" kata Kiano tahu apa yang perlu dilakukan Kiara.


"Wah - wah, apa ini? Kecil - kecil sudah berani maju ke sini?" Wakil Zaberx dan bawahannya tertawa. Namun mereka berhenti ketika Kiara melewati Wakil Zaberx dan malah mengambil kucing yang tidak sengaja lewat.


"Empus, tempat kamu bukan di sini. Kamu harus pergi sebelum para anjing - anjing di sini melukaimu." Kiara memeluk kucing putih itu dan sontak saja di belakangnya wakil Zaberx menatap amarah dengan api - api kekesalan karena merasa tersinggung dengan ucapan Kiara itu.


"Anak sialan, kau terlihat menggemaskan di luar tapi besar sekali nyalimu sampai menghinaku dengan seekor anjing!"


Nara ingin mengambil Kiara tetapi berhenti saat Kiara dan pria bertato itu bertatap mata dengan sinis. Ezra dan Vano melongo dapat melihat keberanian Kiara yang besar dan menodongkan pistol airnya tanpa ekspresi takut sedikit pun.


"Hey, tunduk di hadapan ku, om gendut!" titah Kiara.


"Namaku adalah Kiara Deivaro!" Sudut bibir Kiara terangkat sehingga pria bertato tinggi itu kesal melihat bocah yang cuma setinggi perut itu memerintah layaknya seorang Mafia.


"Za, yakin tuh anak kamu?" Vano bertanya pada Ezra yang tidak habis pikir anak perempuannya itu sangatlah keren.

__ADS_1


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


๐Ÿคญ๐ŸคฃAwokawok Vano kalah saingan nih sama little twilight milik Ezra dan Nara. Like dan Komen supaya dobel update lagi sampai ektraknya habis๐Ÿ’•terima kasih, hihihi....


__ADS_2