
"Eh sebentar, woy!" tahan Kendra agak emosi ke adik dan orang kepercayaannya itu yang susah sekali diatur.
"Ada apa lagi sih?" Terlihat tidak akur satu sama lain juga.
"Hari ini gue ada rapat penting, lo harus hadir dan ikut gue sekarang." Kendra menarik paksa adiknya itu, sehingga Baby Alan dibawa pergi dan masuk ke dalam mobil hitam yang melaju ke markas blackwolf. Hanya beberapa menit saja, mereka sudah tiba di markas. Tidak terduga di dalam sana ada Bumi yang terkejut melihat baby Alan ada pada Pretty.
"Loh, kenapa adik Nara ada di sini?" Tampak Bumi masih belum menyadari hubungan Nara dan baby Alan sesungguhnya. Karena ia memang tidak tahu Vano pernah menjebak Ezra dan Nara. Yang ia tahu dulu hanyalah mencari cara bagaimana bubarkan Ozara. Kendra pun mulai serius ingin menggagalkan Mahendra supaya tidak membubarkan blackwolf. Berbagai macam ide keji dan kejam keluar dari mulut blackwolf yang diundang Kendra, sedangkan Bumi asik memperhatikan Pretty mentoel pipi baby Alan yang menggemaskan itu. Sedikit ada kerutan kekesalan di kening Bumi melihat baby Alan merengek manja ke Pretty dan tidak terlalu mendengarkan suara anak blackwolf. Bumi pun merasa baby Alan adalah ancaman besar yang tidak seharusnya ikut serta dalam rapat kali ini.
Sementara di waktu yang sama, Nara, Ezra dan Daffa berlari ke Uks. Mereka tahu kabar Garce dikepung oleh blackwolf dari Melly yang pergi ke uks guna istirahat di sana dan kebetulan bertemu Samudra dan Garce. Akhir - akhir ini Melly merasa bayi di dalam perutnya sering aktif bergerak.
"ABANG!" panggil Ezra masuk.
"GARCE!" sambung Nara yang cemas dari tadi.
"Kamu tidak apa - apa kan, Cey?" tanya Daffa. Ketiganya berdiri di dekat Garce.
"Tidak apa - apa kok, cuma lecet sedikit," ucap Garce tersenyum dan sesekali meringis ketika Samudra mengolesi obat merah ke lukanya yang lumayan perih.
"Kalian tidak usah risau, dia tidak akan meninggal secepat itu dengan luka begini," ucap Samudra membuat Garce terkejut.
'Kok Pak Mahendra bicara kejam begitu?' pikir Garce merasa ada yang beda. Ia tahu Mahendra itu pria dingin tapi ucapannya tidak pernah seperti itu.
"Syukurlah," hembus Nara lega.
"Eh, tapi di mana baby Alan?" tanya Melly tadi cari - cari bayi kecil itu dan mengira ada bersama Nara, tapi sekarang Nara tidak membawa apa - apa.
"EH!"
Semuanya tersentak.
"BABY!" Samudra bangkit ingin keluar mengambil keponakannya itu namun Vano tiba - tiba datang.
"Woy, Ezra! Mana anakmu?" tanya Vano menatap ke Ezra dan Nara.
"Nara titipkan ke Bang Samudra tadi," ucap Ezra. Vano melihat Samudra yang tidak membawa baby Alan, maka artinya itu ia tidak salah dengar lagi.
"GAWAT! Baby Alan keluar dari sekolah!"
"Apa? Kamu serius?" Samudra memegang dua bahu Vano.
"Ya, tadi aku mendengar suaranya bersama seseorang, kalau aku tidak salah ini suara Pretty dan Kendra."
DUAR
__ADS_1
Suasana membisu hening.
"Tidak!" Nara berlari mencari anaknya disusul Ezra mengejar istrinya yang panik itu. Daffa dan Vano pun menuntut Samudra untuk jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Samudra pun minta maaf, tiba - tiba ceroboh gara - gara terlalu fokus ke Garce.
"Eh, jadi anda bukan Pak Mahendra?" Garce berdiri di dekat Melly dan bertanya ke Samudra. Melly pun menjelaskan kalau Samudra salah satu putra keluarga Van yang sudah lama dibuang sehingga sebagian orang tidak mengingat Mahendra punya kembaran.
"Terus kenapa anda dibuang? Apakah anda sama juga seperti Ezra?" tanya Garce.
"Tidak, aku dibuang karena keinginanku sendiri." Samudra tersenyum ramah. Ia jujur capek dikekang oleh Melissa. Setelah lulus sekolah, ia masuk universitas yang beda dari Mahendra. Samudra punya cita - cita sendiri dan itulah dia jadi anak yang terbuang di keluarga Van.
"NARA! HEY, JANGAN PANIK!" Ezra menarik Nara yang berlari supaya berhenti.
"Lepaskan aku, Za! Baby kita dalam bahaya!"
"Ya aku tahu, tapi lihatlah dan berpikirlah, kita tidak tahu dimana keberadaannya. Jika kamu seperti ini, sama saja percuma, jadi tenanglah, sayang." Ezra memeluk Nara di dekat mobil Vano sebelum istrinya itu nekat mengendarai mobil yang tidak pernah dia coba.
"Tapi baby Alan pasti menangis sekarang," lirih Nara ketakutan.
"Nara, jangan takut, baby kita itu bayi genius, tidak semudah itu dia menangis," ucap Ezra walau sebenarnya ia juga panik.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Nara pun sedikit tenang.
"Kita ke rumah keluarga Son," jawab Ezra pun tiba - tiba ingin menjemput langsung anaknya ke sana.
"Dan kita pergi berempat," sambung Samudra yang punya mobil sendiri.
"Kalian mau pergi sekarang?" tanya Melly di dekat Vano dan Garce yang agak malu bicara karena sudah salah mengira orang.
"Ya, kalian bertiga tetaplah di sekolah. Kami akan kembali segera mungkin."
"Ternyata satu diantara mereka tidak ada yang beda, dari dulu sampai sekarang, semua sama saja." Vano pergi dan sedikit tertawa melihat tingkah para anak - anak keluarga Van yang tidak ada yang beres.
'Lah, namanya juga buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.' Garce menggerutu dalam hati melihat Vano sombong. Seketika gadis bule itu terdiam sesaat. Garce menyadari sesuatu.
'Eh, tadi dia bilang dari dulu, kan?'
'Mungkin kah Vano tidak amnesia lagi?'
Garce memandangi punggung Vano yang pergi bersama Melly. 'Sepertinya Vano sudah ingat semua, apakah Nara dan Melly sudah menyadari ini?' pikir Garce pun bergegas ke kelasnya, takut diseret lagi tanpa sepengetahuan gurunya.
.
Sedangkan di sky house. Tiba - tiba ada banyak barang yang dikirim ke rumah itu.
__ADS_1
"Eh ada apa ini?" tanya semua anak Melissa yang sudah beres menyiapkan barang - barang mereka untuk kembali ke negaranya, kecuali Mahendra masih di dalam kamarnya terbaring sakit dan sedang terlelap.
"Apakah ada yang mau pindah ke sini?" tebak trio biawak yang juga siap kembali ke asrama mereka.
"Mungkin ini milik si kakaknya Vano?" tebak mereka melirik si Dokter Cantik yang keluar bersama Reyhan dari kamar Mahendra.
"Loh siapa pemilik semua barang ini?" tanya Reyhan dan si Dokter cantik melihat ada banyak kardus berisi belanjaan yang terletak di dekat pintu.
"Barang cucuku," ucap Melissa menjawab semua pertanyaan anaknya itu.
DEG
'Cucuku? Mami bilang cucuku?' Mereka seakan - akan tidak menyangka kata itu keluar dari mulut Ibu mereka.
'Jangan - jangan Mami sudah menerima baby Alan?' Mereka membantinkan hal yang sama.
"Ini punya anaknya Ezra, Mi?" tanya mereka serempak. Melissa masih diam, belum menjawab.
"Atau ada cucu lain?" tebak si Dokter cantik.
"Betul, ini cucuku yang ada di perut gadis itu," ucap Melissa yang dimaksud adalah anak kedua Ezra.
"Tapi Mi -" ucap Zehan berhenti sebab dicubit oleh Biyan supaya Zehan jangan jujur dulu kalau Nara tidak hamil.
"Tapi Mih, bukannya Mami membuang Nara dan Ezra?"
"Benar, sia - sia saja Mami menyediakan ini,"
"Kembalikan saja, Mi."
Mereka serempak menolak.
"Tidak, yang kemarin tidak usah dibahas, kalian pergilah jemput dia dan gadis itu," perintah Melissa.
"Siap yang mulia ratu!" Hormat semuanya langsung meluncur mencari Ezra dan Nara. Kecuali Reyhan masih diam di tempat.
"Reyhan," panggil Melissa.
"Ya, Mami?" tanya Reyhan deg - degan.
"Untuk niatmu, Mami bakal pertimbangkan, sekarang temani Mami lihat Mahendra,"
"Baik, Mami! Terima kasih!" Reyhan segera menemani Melissa yang tampak ingin minta maaf. Sedangkan si Dokter cantik masih berdiri di tempatnya sambil garuk - garuk kepala. Ia seolah tidak percaya alasan Melissa berubah hanya karena anak di dalam perut Nara?
__ADS_1