
Hari ini Ezra tidak berangkat ke sekolah. Dia masih di rumah mengurus anaknya sendiri karena Mahendra dan Daffa belum pulang. Sudah pukul sembilan pagi, Nara masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Karena sekarang popok baby Alan penuh, Ezra membawanya ke kamar Nara lalu mencari popok baru baby Alan, tetapi cuma ada bungkusnya yang kosong.
"Hmm… apa jangan - jangan habis?" Ezra menyentuh tengkuknya kemudian berbalik badan pada baby Alan yang perlahan tengkurap. Bayi mungil yang sedikit lagi menginjak empat bulan itu sangat mengejutkan daddy nya.
"Ehh…eh.. siapa suruh kamu tengkurap, cepat baring lagi," perintah Ezra menunjuknya. Bukannya nurut kata ayah, baby Alan menyandarkan kepalanya dan mengulas senyum manisnya ke sang daddy.
"Idiiiihh… malah senyum - senyum, balik badan cepat!" Gemas Ezra menyuruh lagi ke anaknya. Tetapi baby Alan malah tertawa. "Kyahahaha…" Kemudian berbaring mengulurkan jari - jari pendeknya dan kaki - kakinya terangkat menendang - nendang udara.
"Oh mau digendong ya?" tanya Ezra masih berkacak pinggang. Seru juga bisa mengajak bayi sekecil itu bercanda pagi ini.
"Kyahaha…" Baby Alan semakin kencang tertawa seraya menendang - nendang udara. "Wihh… kecil - kecil mau jadi pemain sepak bola nih?" tanya Ezra lagi. Bukannya diangguk, malah suara kecil yang menjawab.
"Puuuss…."
Ezra terlonjat kentut anaknya itu lucu sekali. "Hahaha… itu kentut atau suara air mendidih?" Ezra pun naik ke ranjang dan menjepit hidungnya karena bau kentut baby Alan. Bisa - bisa bau tubuhnya yang memabukkan itu luntur pagi ini.
Karena kentut sang baby nya, Nara perlahan membuka mata dan samar - samar melihat suaminya duduk di sebelahnya.
"Ezra, apa kamu yang kentut?" tanya Nara. Reflek Ezra menjawab cepat karena terkejut. "Ya bukan, masa aku ganteng - ganteng begini tukang kentut," jawab Ezra pedenya.
"Terus siapa?" Nara beranjak duduk dan masih memakai jarum infus, karena tadi pagi Dokter datang menggantikan kantong infus Nara.
"Siapa lagi kalau bukan nih bocah nakal," ucap Ezra menunjuk baby Alan yang tertawa. "Kyaaahaha…" Sambil memegang jari telunjuk sang daddy dan sesekali menghisapnya.
"Ezra, apa kamu bisa bikin susunya baby Alan?" Tunjuk Nara ke susu formula di atas lemari baju karena Nara tidak bisa menyusui.
"Kenapa tidak susu di situ saja?" Tunjuk Ezra ke dua dada Nara yang semok - semok itu.
"Ezra, aku lagi sakit, aku tidak mau nanti sakitku nular," tolak Nara merasa kalau Ezra kepengen lihat dadanya. Atau mau jadi baby besar ingin nyussu pagi ini?
"Ya sudah deh, aku buatkan dulu terus nanti aku mau keluar sebentar." Ezra berdiri, mulai bikin susu yang bahannya sudah tersedia di atas lemari.
"Kamu mau ke sekolah?" tanya Nara dan membelai rambut hitam baby Alan yang lebat seperti suaminya.
__ADS_1
"Nggak, aku mau beli popok."
Nara sedikit tertegun, hari ini suaminya kembali perhatian. Setelah memberi botol itu, baby Alan begitu rakus menghisap susu itu karena senang pertama kali dibuatkan oleh daddy nya. Sebelum pergi beli popok, Ezra berpesan.
"Hey, bocah nakal! Jaga mommy kamu di sini, jangan rewel - rewel, tapi kalau mommy kamu pingsan, baru nangis kencang, mengerti?"
Nara menahan tawa melihat baby Alan mengedipkan mata tanda paham kata - kata Ezra. 'Apa ini ya rasanya punya keluarga sendiri?' batin Nara mendengar Ezra dengan motornya pergi dari rumah lalu dia melamun di dekat baby Alan yang asik menghisap susu dari daddy nya.
'Apa aku jahat kalau suruh Ezra putuskan Friska?' Nara bimbang karena ingin memiliki Ezra demi anaknya.
'Kalau aku suruh Ezra, apa dia mau menuruti permintaanku ini?' batin Nara merasa sedih karena seperti ingin merebut kebahagiaan Ezra dan Friska.
Tidak makan waktu lama, Ezra kembali. Nara sedikit heran melihat suaminya itu masuk bersama Garce yang tidak sengaja berpapasan di jalan.
"Oh my god! Nara, kamu kenapa bisa sakit?" tanya Garce tahu dari Ezra sendiri. Garce gelisah ke Nara yang absen jadi pergi jenguk sahabatnya itu.
"Cuma capek sedikit kok, nanti juga aku sembuh," jawab Nara. Garce pun memberikan bingkisan dan bubur dari luar. Ezra yang melihat Garce perhatian, dia sedikit kagum. 'Enak juga dia bisa temenan sama gadis kaya raya ini, jadi bisa diperhatikan olehnya.' Ada tatapan tidak suka dan mulai muncul rasa posesif Ezra pada Nara yang dikelilingi teman baik.
"Ayo sayangku, sarapan dulu sebelum makan obatnya," ucap Garce menyuapi Nara dengan kata - kata manisnya itu.
"Ihhh… aku bukan begitu, kamu jaga ucapanmu itu, dasar buta hati!" cerca Garce tidak takut kepada ketua Ozara itu.
"Dan Nara adalah sahabatku tersayang, harusnya aku saja yang ganti popok adiknya, bukan kamu! Keluar sana!" lanjut Garce membuat Nara terkejut dengan keberaniannya itu.
"Ilih bule sok bacot nggak usah sok keras lo!" cibir Ezra pun membawa baby Alan keluar, ogah banget lama - lama melihat bule asli itu.
"Apaan sih tuh orang! Ngatain aku bule, dia sendiri yang setengah bule! Pengen aku cabik - cabik mulutnya itu!"
"Hey Nara, aku peringatkan padamu, jangan sampai kamu naksir sama cowok berandalan itu, apalagi sama Vano!" tegur Garce serius tidak suka.
"Eh, kenapa kamu bilang begitu?" tanya Nara heran. Garce pun memberikan hapenya, memperlihatkan story yang lagi trending di sekolah. Sebuah foto Nara yang dikeliling tiga penguasa sekolah. Tertera Nara adalah cewek kecentilan yang menggoda tiga cowok langsung.
"Siapa yang fotoin aku dan bikin story ini?" tanya Nara tidak suka isi story yang memfitnahnya.
__ADS_1
"Ini dari si cewek behel, salah satu gengnya tidak sengaja fotoin kamu," jawab Garce yang sempat saat itu mendapat info dari teman - teman gosipnya.
"Tapi kamu tenang saja, aku sudah bantahkan itu kalau saat itu kalian mengobrol soal pesta ultah Kak Melly,"
"Eh… kamu tahu dari mana?" tanya Nara.
"Hehe… aku ini ratunya para penggosip, semua berita bencana alam, skandal perselingkuhan, atau hal lain pun aku tahu dengan cepat." Garce menyombongkan dirinya. Kalau tahu cepat, kenapa sampai sekarang belum sadar baby Alan anaknya Nara? Dan pernikahan rahasia sahabatnya itu?
"Garce, jawab, siapa yang bantu kamu?"
"Hihihi… aku dibantu sama Kak Melly dan aku diundang ke pestanya. Kita pergi bareng ya kalau kamu sudah sembuh nanti." Garce memeluk Nara supaya semangatnya menangkis demam Nara.
"Baiklah, terima kasih, Garce." Nara balas memeluk. Beruntung punya teman baik dan menyayanginya.
"Ekhem, sudah mau jam pelajaran, lebih baik kamu pulang ke sekolah," dehem Ezra dan baby Alan yang juga kesal karena waktunya diambil sama Garce. Anak dan ayah itu sama - sama cemburu.
"Kalau begitu, aku ke sekolah dulu dan ingat ya Nara soal kata - kataku tadi, paham?" Nara cuma menganggukkan kepala pada Garce yang serius sekali memperingatinya.
"Aku pergi dulu ya bebby ganteng, jaga kakakmu, jangan biarkan cowok jahat ini menggodanya." Bukannya diberi senyuman, baby Alan malah membulatkan matanya membuat Garce terkejut melihat ekspresi amarah bayi itu.
"Hahaha… kasihan ya tante bule," tawa Ezra ke Garce yang mendengus sebal kemudian keluar dari rumah Daffa.
"Ish, Kak Ezra memang jahat seperti rumornya!" celetuk Garce benci dipanggil tante - tante. Namun seketika berhenti saat tidak sengaja berpapasan dengan Daffa dan Mahendra.
"Garce, kenapa kamu bolos ke sini? Bukannya ke sekolah! Mau saya skors kamu seminggu?" kata Mahendra mulai lagi keluar sifat killernya.
"Ampun Om … eh Pak, aku ke sini cuma jenguk Nara yang sakit, tapi sekarang aku mau pulang ke sekolah, permisi Pak!" Garce cepat - cepat masuk ke mobilnya dan melaju pergi, tidak mau kena kartu merah dari wakepsek gantengnya itu.
"Nara sakit?" Daffa bergegas ke kamar Nara. Sedangkan Mahendra semakin tidak karuan ke adik sepupunya itu yang sudah dijodohkan sama istri adiknya.
'Aku harus lakukan sesuatu!' batin Mahendra menyusul Daffa.
….
__ADS_1
Ayo Mahendra jangan lepaskan adik iparmu hihihi…
Bersambung