
"Oh jadi ini biang keroknya." Elvan dan si kembar lima menunjuk Vano yang masih belum sadar di tempat empuknya itu.
"Ck, dia pasti sedang ketakutan," decak Kevin.
"Karena kita mengepungnya di sini," sambung Davin.
"Dia berpura - pura tidur di depan kita," lanjut Devan di sebelah Kevin.
"Apa perlu aku suntik mati sekarang?" usul Reyhan sang Dokter.
"Sekalian saja kamu bedah perutnya, terus jual organ - organnya di new york." Ikut Kenan tak mau tinggal diam.
Masing - masing memberi umpatan berdasarkan tingkat emosi mereka. Hingga Nara sedikit menggigil di sebelah Ezra karena takut saudara - saudara suaminya agak menyeramkan. Seperti di film - film thailler dan horor.
"Hey, jangan begitu dong pada adikku," sahut seseorang hingga membulatkan mata Nara yang berwarna coklat madu.
'Adik? Siapa wanita seksi ini?' gumam Nara pada Dokter wanita dengan jas putih ketat dan masuk ke ruang rawat VIP Vano. Langsung saja arah mata sinis ke enam pria tampan itu beralih pada Dokter tersebut.
"Ck, adikmu baru masuk rs dan kamu baru muncul sekarang? Kemana saja kamu?" seloroh Elvan dengan pertanyaan.
"Sabar dong, jangan marah - marah, aku ini sibuk kerja di luar negeri, kalau saja tidak ada kabar darinya masuk rumah sakit, aku juga tidak mau muncul di hadapanmu." Dokter wanita yang setengah bule itu mengulas senyum manis namun tidak ikhlas pada Elvan.
"Hey, kalau dia sadar, peringatkan adikmu berhenti ganggu adik kami, kalau tidak, kami tidak akan segan - segan menghabisinya." Kevin seperti biasa dengan lagaknya yang kejam.
"Oh ya, Mahendra nggak ikut?" Tapi Dokter itu mengabaikan Kevin dan bertanya pada Ezra. Si kembar lima dan Elvan menampilkan ekpresi jengkel.
"Kak … eh Pak Mahendra ada di sekolah, Dokter." Karena Ezra diam, jadinya Nara yang menjawab. Memang satu pria dewasa itu berada di sekolah untuk bergabung dalam perundingan tentang akhir dari Ozara dan Blackzak. Disertai baby Alan ikut ke dalam ruang rapat. Membuat para guru dan perwakilan dari dinas pendidikan agak bingung adanya bayi yang belum genap empat bulan itu di dalam kereta bayi.
"Yah… kirain ikut ke sini," keluh Dokter cantik itu manyun. "Tch, untuk apa kamu cari Mahendra?" tanya Reyhan yang satu profesi sebagai Dokter.
"Rahasia." Satu kata itu terasa tidak memuaskan Reyhan.
"Sialan, wanita ular." Umpat Kevin.
"Sudah, berhenti membicarakan Mahendra, sekarang katakan bagaimana perkembangannya?" tanya Elvan tak mau lama - lama di ruangan Vano karena hari ini dia ingin bicara pada Pak Dirga.
"Seperti yang kalian lihat, Vano belum membuka matanya," ucap Dokter jujur.
"Dia koma?"
"Pingsan?"
"Pura - pura?"
__ADS_1
"Atau kalian kerjasama?"
Dokter itu bergeser sedikit ke belakang diberi tuntutan pertanyaan. "Lancang sekali, aku yang Dokter terhormat begini mana mungkin kerjasama dalam hal kejahatan!" bantahnya. Kemudian menunjuk Reyhan. "Kalau tidak percaya, silahkan periksa sendiri!"
Mata Elvan dan semuanya pun pindah ke Reyhan. Tatapan yang setuju agar Dokter tampan itu memeriksa Vano sekarang juga.
"Ck, aku menyesal ikut!" Meski tidak sudi, tapi Reyhan terpaksa. Ya dong, Reyhan kan baik, hihi.
Mula - mula, Reyhan mengambil alat detak jantung.
"Woy, Reyhan, yang mau diperiksa itu jantungnya bukan kepalanya," ucap Kevin melihat kembarannya itu meletakkan alatnya di atas dahi.
"Gak papa, sekalian mau periksa otaknya geser atau tidak. Aku heran, dia punya akal tapi kenapa berani - beraninya mengusik kita." Cerca Reyhan ke Vano dan matanya sinis pada Dokter wanita itu.
"Ck, walau Vano jahat, dia masih satu darah denganku, jangan hina adikku di depanku dong!" sentak Dokter itu tak terima.
'Lah, kalau di belakang, dia nggak masalah adiknya di hina?' pikir Nara dari tadi cuma diam saja di sebelah Ezra yang juga diam dan tampak memikirkan sesuatu.
"Bagaimana? Apa dia memang belum sadarkan diri?" tanya kelima saudaranya penasaran.
"Sepertinya begitu," jawab Reyhan dengan senyuman sebal dan dengan angkuh melewati kakaknya Vano.
"Sekarang apa mau kalian?" tanya Dokter belum pergi, cemas adiknya dikeroyok nanti.
"Mau apa lagi kalau bukan menunggunya sadar," jawab Elvan disusul lima saudaranya.
"Mau digorok," jawab mereka serentak. Memangnya sapi kurban?
"Digorok?" Kaget Nara. Kembar lima pun kompak menoleh dan terdiam. Mereka lupa ada adik ipar kecilnya dari tadi di sebelah Ezra.
"Hahaha… sabar Kevin, jangan kejam - kejam begitu dong di depan adik ipar." Tepuk mereka bertubi - tubi ke pundak Kevin.
"Kenapa cuma aku yang disalahkan saja?" gerutu Kevin.
"Nara, kamu jangan terlalu pikirkan ucapan kami, lupakan saja dan anggap tadi itu cuma obrolan anak - anak esde," ucap Elvan tak mau adik iparnya itu menangis. Esde? Besar - besar begitu mereka mengaku masih anak - anak esde?
"Dasar, kenapa harus menunggu dia? Kita kan bisa membangunkannya!"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat ke pipi Vano. Dokter wanita itu membola pada Ezra yang main pukul adiknya. Ingin rasanya protes, tapi takut juga sama enam gelagak saudara Ezra.
"Ezra, jangan begitu pada pasien," lirih Nara mendekat dan menegur suaminya.
__ADS_1
"Habisnya nggak mau bangun sih," cetus Ezra tak sabar ingin baku hantam. Karena kondisi Vano memungkinkan Ezra menang dalam perkelahian.
"Yailah, jatuh dari ketinggian enam meter dan kepala mendarat duluan di lantai nggak bakal sadar secepat itu. Bersyukur Vano masih selamat dan kepalanya tidak pecah." Celetuk Dokter mendengus.
"Bersyukur? Lo aja kali yang bersyukur, kita di sini happy kalau dia mati sekalian." Cibir Kevin memang tak punya hati dan tak punya istri. Ya istilah, Vano mati, mereka party.
"Sialan, pantas saja kalian semua dikutuk jomblo dan perjaka kolot, ganteng - ganteng tapi kejam." Balas Dokter itu.
"Apa lo bilang?" Tatap kembar lima sewot.
"Apaan? Marah? Nggak terima? Ya sudah sini nikahin aku." Tatap Dokter melotot tanpa kelembutan.
"Idih, najis." Kelimanya bergidik tak berselera.
'Astagfirullah, ini di rumah sakit, kenapa harus ribut - ribut?' hembus Nara tak tahan ingin keluar tetapi seketika suasana yang gaduh itu hening setelah ada pergerakan dari mata Vano.
Mereka bersiap - siap dengan emosi ingin meluncurkan kata - kata makian terlebih dulu dan setelah itu baru satu - satu menonjoknya. Pasien harusnya dikasihani, eh tapi mereka ingin memusuhi Vano sekarang. Ckckck.
Melihat Vano perlahan mengerjap - erjapkan matanya, Dokter begegas mendekat, mengajak Vano bicara. "Vano, bagaimana perasaanmu?" tanyanya cemas. Vano mengedarkan pandangannya ke Dokter kemudian silih berganti menatap mereka semua lalu terakhir menuju ke Nara dan Ezra.
"Kalian siapa?"
Semua membisu kaku. Sontak dipeluknya sang adik.
"Vano, maaf, maaf seribu maaf, kakak tidak becus menjagamu." Tangis Dokter membuat mereka mengernyit. Pasalnya, niat menjaga sama sekali tidak ada. Apa yang terjadi? Jangan - jangan amnesia?
"Kakak? Aku punya kakak?" tanya Vano dengan nada suara yang berbeda. Lemah dan tak seperti dulu. "Ya, aku kakakmu dan kamu adikku." Angguk sang Dokter senang dan sedih adiknya lupa ingatan. Vano memegang kepalanya, tak ada rekaman dari memori tentang dirinya dulu. Namun sekilas ada cewek di depannya yang menangis tersedu - sedu kemudian ia pun melihat Nara.
"Apa kamu pacarku?"
'Pacar?' kaget enam saudara Ezra dan juga ketua Ozara itu melihat Vano meraih tangan Nara. Menggenggamnya begitu erat dan sayang.
"Pacar? Aku bukan —" putus Nara berhenti karena Kevin menerjang ingin menghajar Vano yang sudah menjebak Ezra dan sekarang ngaku - ngaku adik iparnya adalah pacarnya. Tetapi beruntung empat kembarannya dan Elvan bisa menahan emosi serta mencegat Kevin bertindak.
"Kamu pacarku, kan?" tanya Vano kembali dan tampak tidak mau lepaskan Nara. Ezra mengepal jemarinya, ingin menghempaskan tangan Vano, namun tiba - tiba membola sempurna kala Daffa lewat di belakangnya dan langsung melepaskan genggaman Vano. Lagi - lagi semua orang dibuat terkejut dari ucapan Daffa yang blak - blakan.
"Dia calon istriku, bukan pacarmu."
Tumpukan emosi Ezra pun membumbung tinggi ada dua cowok yang ingin merebut istrinya. Puncak kesabarannya hampir habis dan ingin membongkar pernikahannya, tetapi saat mulut ingin terbuka, Ezra kembali mengatupnya setelah panggilan dari belakang memecah keheningan panas itu.
"Nara." Semua mata teralihkan ke pria setengah baya yang berdiri di dekat pintu. Pak Dirga datang menjenguk Vano dan sekalian membawa Nara pulang bersamanya.
…
__ADS_1
Wah gimana nih? Nasib Nara yang diperebutkan banyak cowok tampan dan para pria dewasa? Sepertinya mommy baby Alan begitu istimewa ya.
Xixixi…