Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
115. TAMBAHAN (4) - PACAR GELAP


__ADS_3

Karena Mayra memaksa dua kakaknya, akhirnya Kiara dan Kiano ikut pulang bersama. Mayra pun merasa senang sebab bisa tidur bersama Kiara lagi. Begitu juga Arshi dengan heboh tidur di sebelah Kiara. Sedangkan Arsha tetap tidur di kamar Bu Mayang daripada dihimpit oleh Kiano dan Alan.


Paginya, ketika semua anak itu mau berangkat sekolah, tiba - tiba mereka tertegun mendengar salam dari Nara yang kini sudah pulang.


"Mamah!!" Arsha dan Arshi berlarian menuju ke mamanya.


"Hei, bagaimana kemarin? Tidurnya nyenyak?" tanya Nara mengacak - acak rambut dua mungilnya itu dengan gemas.


"Mamah, Aesha lindu mamah!" ucap Arsha manja.


"Aeshi juga lindu mamah! Kemallin tiydak biwsa tidul!" tambah Arshi yang dikecup pipinya.


"Maaf ya, kemarin itu mamah harus pergi sama papah kalian," ucap Nara sedikit bersalah meninggalkan duo mungilnya itu selama lima hari di bawah asuhan Bu Mayang. Nara ingin sekali menyewa babysitter tetapi Ezra tidak mau. Suaminya itu terlalu waspada dan terlalu mencurigai orang.


"Kenapa mamah hallus pellgih?" tanya duo cicaknya itu.


"Karena papah kalian itu perlu dijaga, sayang," jawab Nara sambil mentoel hidung mancung Arsha dan Arshi.


"Kenapa pelluh dijaga?" tanya duo cicaknya itu yang karakternya memang suka banyak tanya sampai menggali ke akar - akarnya.


"Karena papah kalian itu diincar sama dinosaurus," ucap Nara iseng - iseng bercanda membuat Kiara, Kiano dan Mayra tertawa sedikit. Sedangkan Alan tetap seperti biasanya. Berdiri tanpa ekspresi. Semua canda tawa dia balas dengan tampang menyebalkannya itu.


"Hah? Diyona lulus?" ucap duo cicak itu terkejut.


"Hahaha.... Dinosaurus, Arsha!" tawa Mayra terbahak-bahak.


"Ola ulus?" ucap Arshi.


"Hahahaha.... cukup, jangan diucapkan lagi." Kiara pun juga terkekeh-kekeh di sebelahnya.


"Pfft, bukannya kenyang sudah sarapan, ini malah kenyang dengar kalian bicara," ucap Kiano gemas.


"Oh ya, papah kemana, mah?" tanya Alan pun berbicara juga.


"Tuh di luar, papah kalian lagi ngurus mobilnya." Nara menunjuk Ezra yang berdiri sendirian di sana seraya mengamati mobilnya itu. Tanpa bicara lagi, Alan ke sana setelah mencium tangan Ibunya. Sikap acuhnya itu benar-benar turun dari Ezra dulu dan kadang membuat Kiara dan Kiano jengkel.


"Mamah! Sekarang mamah yang antarin kita ke sekolah ya!" mohon Mayra bertingkah imut - imut.


"Kenapa bukan nenek saja?" tanya Kiara dan Kiano.


"Nenek di dapur lagi cuci piring sebentar. Tapi karena mamah sudah datang, mamah saja yang antarkan Mayra, Arsha dan Arshi!" jelas Mayra.

__ADS_1


"Baiklah, kalian tunggu mamah di luar," ucap Nara terima permohonan anak ke empatnya itu yang juga diingankan Arsha dan Arshi.


"Yeahh, mamah terbaik!" Setelah memeluk Ibunya, Mayra dan dua mungil itu berlomba - lomba sampai ke mobil.


"Mamah serius mau antar mereka?" tanya Kiara sedikit tidak tega melihat Ibunya yang baru pulang dipaksa juga oleh Mayra.


"Demi adik kalian senang, mamah tidak masalah," tutur Nara tersenyum pada Kiara, gadis cantiknya yang sudah beranjak remaja dan sekolah di SMA ELIPSEAN I. Mengingatkannya pada masa - masa muda di sekolah.


"Mamah pokoknya the bestlah! Terima kasih, mah." Kiara memeluk Nara, wanita muda yang selalu sabar memenuhi permintaan mereka dan juga sosok wanita yang seringkali dikira kakaknya oleh orang lain.


"Setelah antar mereka, mamah harus banyak - banyak istirahat," pesan Kiano sebelum pergi ke sekolah.


"Hmm, itu pasti. Tenang saja!" ucap Nara.


"Kalian juga hati - hati di jalan," lanjutnya memberi nasehat.


"Asiap, mamah!" Kiara dan Kiano pun pamit dan tidak lupa juga mencium tangan wanita yang mereka sayangi. Setelah dua anaknya itu keluar, Nara pun masuk ke dapur menemui Bu Mayang sebentar untuk memberi oleh - oleh dari pertemuan bisnisnya kepada Ibunya itu dan juga pada anak - anaknya nanti.


Sedangkan di luar, tiga kurcaci Nara itu berdiri kebingungan di sebelah papahnya. Sementara Alan, Kiara dan Kiano sudah pamit ke sekolah duluan memakai motor pribadi mereka.


"Papah, lagi apah?" tanya Arshi.


"Papah lagi callih ballangna yang jatuh?" tebak Arsha.


"Bukan!" timpal Ezra membantah cepat.


"Tellus apah?" tanya tiga kurcaci Ezra.


"Papah lagi liat bagian mana yang sedikit aneh," ucap Ezra membelai satu - satu kepala tiga anaknya itu yang hampir bikin orang jantungan. Ezra sekarang merasa mobilnya sedikit penyok, padahal sebelumnya itu masih terlihat bagus dan mulus.


"Hmm, menurut pengamatan mata cantik dan tajam Mayra, mobil papah sudah keren! Tidak ada yang aneh!" ucap Mayra.


"Terus ini apa? Darimana coba datangnya semua kerusakan ini?" tanya Ezra merasa ada kebohongan dibalik pujiannya itu.


"Kemarin Mayra habis kemana?" Ezra bertanya seraya berkacak pinggang di hadapan Mayra, putrinya yang banyak akal dan banyak alasan.


"Papah! Maella kemalin ntuh habis lampok!" ucap Arsha membuat Mayra dan Ezra tercengang mendengar laporan Arsha.


"Rampok? Siapa yang rampok?" tanya Nara yang juga terkejut.


"Bukan, mamah! Kemalin ntuh Maella habis kejal kelompok!" timpal Arshi berusaha meluruskan.

__ADS_1


"Hah? Kejar kelompok? Siapa lagi yang kau kejar, Mayra?" tanya Nara dan Ezra pada Mayra yang terkenal di sekolahnya suka bikin rusuh di kelompok anak - anak bandel. Gara - gara itu, Mayra seminggu sekali kadang diberi surat istimewa dari pihak sekolah.


"Ihh, bukan begitu mamah, papah! Mayra kemarin habis kerja kelompok, bukan kejar kelompok." Mayra menghentakkan satu kakinya, merasa sangat gemas punya dua adik yang kalau bicara selalu bikin lidah keseleo tiap saat.


"Serius?" tanya Nara dan Ezra dengan mata disipitkan.


"Ya mamah, papah, Mayra ini kan kebanggaan papah dan mamah. Mana mungkin merusak nama baik kalian."


Kemarin setelah pulang dari studio, Mayra memang diantar ke rumah temannya untuk kerja kelompok. Jadi yang diucapkannya itu setengah benar.


"Ck, awas! Kalau papah dapat laporan lagi, siap - siap papah kirim kau ke Belanda." Ezra masuk ke dalam mobil.


"Hihihi... Maella jadi patung," tawa Arsha dan Arshi segera masuk mobil untuk diantar ke sekolah mereka juga.


"Sudah, jangan dipikirkan. Ayo mamah antar ke sekolah." Nara menarik Mayra yang cemberut. 'Ihh, papah nyebelin. Dikit - dikit ancam bawa ke nenek Melissa! Hmp!' batin Mayra menggerutu di sebelah dua adiknya karena dari lubuk hatinya sangat takut sama satu neneknya itu.


Kini di halaman sekolah mendadak ada puluhan gadis - gadis SMA yang berkumpul dan tampak sedang berdebat bahkan bertengkar dengan sengit.


"Hei, Kiano! Itu fans kita atau jangan - jangan fans Idol sebelah?" tanya Kiara turun dari motor Kiano.


"Kayaknya bukan deh, kalau fans sebelah, kebanyakan cowok - cowok," ucap Kiano memarkirkan motornya.


"Ya juga sih, tapi kalau bukan, terus mereka ngapain di sana?" gumam Kiara kemudian menoleh ke sebelah.


"Lho, Alan kemana?


"Kamu lihat nggak, No?" Kiara bertanya pada Kiano yang juga heran kakak tuanya itu belum sampai.


"Sial, ini pasti ulah dia lagi!" gerutu Kiano sadar gadis - gadis itu ada hubungannya dengan Alan. Kalau bukan mantan, dua puluh gadis itu bisa jadi pacar gelap Alan.


"Aihhh, ALAN! Dasar buaya darat! Anak siapa sih Lo!" Kiara kesal punya kakak playboy seperti Alan Sebleng.


Papahnya dulu tidak pernah pacaran, apalagi mamahnya. Tapi sekarang cowok itu memenangkan rekor di keluarga Van, bahkan mengalahkan triple Melissa dulu. Bayangkan saja, setiap gadis yang datang padanya, Alan selalu terima begitu saja, namun dua menit kemudian diputuskan dengan kejam. Bahkan dalam satu hari, Alan bisa memacari 24 gadis. Cuma dijadikan pacar, tapi dari hatinya, Alan tidak merasakan apa itu cinta dari mereka.


Akibat semua gadis itu menghalangi jalan, Kiara dan Kiano melewati jalan lain menuju ke kelas mereka, demi tidak ikut campur dengan urusan percekcokan sengit itu.


Sedangkan si playboy karpet masih di jalan. Alan tampak santai sekali mengendarai motornya dan tidak sengaja melihat seorang gadis berjalan kaki di tepi jalan. Satu alisnya terangkat melihat anak dari rival bisnis hidup semati ayahnya sendirian saja menuju ke sekolah tanpa pengawasan.


"Hei, El!" panggil Alan berhenti di dekatnya.


'Oh, Al, kenapa dia ada disini?' batin Elia sedikit panik tiba - tiba berpapasan dengan cowok yang dia sukai dari kecil.

__ADS_1


.


Alan Sebleng🤣


__ADS_2