Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
48. BAB 48 - SUDAH PINTAR BICARA?


__ADS_3

Selama tiga bulan ini, pihak sekolah masih belum mengumumkan keputusan osis yang perlu dibenah kembali. Tetapi hari ini, kedatangan Pak Dirga ke sekolah pun memberi hasil yang bagus. Pak Dirga pun tidak keberatan sistem osis diperbarui. Identitas osis yang awalnya dirahasiakan pun akan resmi diumumkan tiga hari nanti, tepatnya di hari senin depan.


"Mahendra, bagaimana kabar Ezra? Apa dia sudah tidak keberatan Ozara bubar?" tanya Pak Dirga keluar bersama Mahendra dari ruang rapat.


"Untuk saat ini dia baik - baik saja dan lebih sibuk belajar di rumah, soal Ozara pun dia sudah jarang mengukitkannya, Om." Jawab Mahendra jalan di koridor kemudian berhenti setelah Pak Dirga meminta Nara diserahkan hari ini.


"Mahendra, Om ingin Nara tinggal bersama kami. Tentang kesepakatanmu dengan Daffa, saya harapkan itu tidak perlu dipersoalkan. Jadi Om mulai hari ini ingin membawa Nara ke rumah," tutur Pak Dirga.


"Apa Om tidak percaya saya sampai mendesak seperti ini?" tanya Mahendra sadar Pak Dirga seperti mencemaskan keselamatan Nara di rumahnya.


"Bukan begitu, Mahendra. Ini sudah tiga bulan berlalu dan Nara adalah calon menantu Om, tidak baik bila Nara terus tinggal bersamamu dan dikelilingi saudara - saudaramu yang masih belum beristri," ucap Pak Dirga takut Nara diapa - apain di rumah Mahendra. Apalagi khawatir si kembar lima melakukan hal senonoh pada calon menantunya. Kalau Ezra, Pak Dirga yakin Ezra tidak akan melakukan apa - apa, karena ia tahu Ezra paling benci Nara tinggal di sana.


"Bukannya saya tidak mau, tapi Om tidak usah meragukan kami, saudaraku memang dulu beringas dan nakal - nakal, tapi sekarang mereka tidak akan setega itu melakukan hal kotor di belakang saya," tutur Mahendra tahu kecemasan Pak Dirga.


"Lagipula, Nara belum memberi jawaban apakah dia menerima anda menjadi calon mertuanya atau tidak," sambung Mahendra sedikit menekan ucapannya.


"Kalau begitu, apa kamu bisa mendesaknya untuk memberi Om jawaban nanti?" Pinta Pak Dirga karena Daffa sudah muak melihat Nara dan Ezra pergi bareng ke sekolah. Putranya selalu cemburu pada Ezra yang lebih dekat dengan Nara.


"Saya akan mengusahakannya, Om tenang saja."


Pak Dirga pun pergi meski kata - kata Mahendra itu terasa tidak menyakinkan. Pria tua itu pun pulang mencari Daffa agar menyuruhnya mengalahkan Ezra supaya Nara dapat meninggalkan rumah Mahendra secepat mungkin.


Mahendra yang melihat sepupu ayahnya itu, ia sedikit bersalah. "Huft… ini akan sulit dijelaskan nantinya." Hembus Mahendra jalan ingin pulang. Namun tiba - tiba berhenti karena terkejut.


"Jelaskan apa, Pak?" tanya Garce datang entah dari mana, ia tiba - tiba saja sudah ada di sampingnya.


"Astaga, kenapa kamu belum pulang? Ini sudah jam dua siang, tapi kamu masih berkeliaran –" Mahendra berhenti karena pundaknya ditepuk - tepuk Garce.


"Yaelah, santai saja dong, Pak. Saya itu baru pulang dari pelajaran ekskul memasak, mau satu nggak, Pak?" Tawar Garce memberi satu lolipopnya.


"Ehh… kenapa diam, Pak?" tanya Garce karena Mahendra diam memandanginya.


"Kamu memang kurus?"


"Ha? Kurus? Maksudnya aku tidak gendut lagi ya, Pak?" tanya Garce dengan muka berseri karena wakepeseknya sadar perubahan tubuhnya yang ramping.

__ADS_1


"Sepertinya saya salah orang, kamu pulanglah dan jangan bergentayangan di sekolah." Mahendra pergi tanpa menjawab Garce. Gadis bule itu cemberut, menghentakkan kakinya kecewa dianggap arwah gentayangan.


"Ishh… kakak dan adik sama saja, jahat!" Garce pun pulang ke rumah. Gadis itu sudah tahu dari dulu Mahendra dan Ezra bersaudara. Ia yang dijuluki ratu gosip tahu segala hal di sekolahnya.


"Hoeekk…. huwaa…" 


"Ada apa ini, Elvan?" tanya Mahendra yang baru sampai rumah. Ia menghampiri Elvan yang kesusahan menenangkan baby Alan.


"Aku juga tidak tahu, dia sudah seperti ini dari tadi," jawab Elvan menggendong dan jalan sana sini membujuk baby Alan supaya berhenti rewel.


"Aku sudah membuatkan susu, tapi dia menolak, Mahendra." Elvan sudah tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia yang belum pernah membujuk bayi, semakin takut untuk menikah. Elvan tidak tahan dengar bayi rewel terus.


"Sudah aku bilang sih, telepon saja Nara dan Ezra, suruh mereka pulang ke sini," sahut Davin rebahan di sofa panjang dan menutup telinganya pakai kapas.


"Di mana yang lainnya? Kenapa cuma kalian berdua saja di rumah?" tanya Mahendra mencari - cari saudaranya yang lain.


"Kenan masih di luar, di ada di hutan lagi berburu sama cewek yang entah dari mana asalnya," jawab Davin memejamkan mata ingin tidur tapi susah.


"Di mana Devan dan Reyhan?" tanya Mahendra menghampiri Elvan.


"Kalau Reyhan ke rumah sakit," ucap Elvan mengelus - elus punggung baby Alan yang masih merengek padanya.


"Rumah sakit? Ngapain dia ke sana?" tanya Mahendra terkejut.


"Ada bapak - bapak di jalan yang tiba - tiba kecelakaan, kebetulan Reyhan lewat di jalan itu jadi segera membawanya ke rumah sakit," jelas Davin yang menjawab.


"Terus Kevin di mana?" Mahendra kembali bertanya. Davin dan Elvan pun saling tatap - tatapan. Sama - sama mengangkat dua bahu.


"Tidak tahu."


Tentu saja dari kemarin sampai sekarang Kevin belum pulang, karena pria tampan satu ini lagi memata - matai seseorang yang mencurigakan. Bukannya dapat calon istri, Kevin malah menemukan biang kerok permasalahan dari ulah Vano selama ini di sekolah mengajak siswa menjadi preman - preman.


"Ya sudah, sini biar coba aku tenangkan." Rebut Mahendra mengambil baby Alan.


"Kamu ganti baju saja dulu, biarkan aku yang tenangkan dia," ucap Elvan mau merebutnya tetapi berhenti saat ada suara kecil menyahut.

__ADS_1


Davin pun reflek beranjak duduk dan melihat dua saudaranya itu juga terkejut sepertinya.


"Hey, kalian dengar itu kan? Itu suara bayi atau nada dering hapemu?" tanya Davin. Saat mau dijawab, suara itu menyahut lagi.


Semua mata tiga uncle baby Alan mengarah ke bayi gemuk itu yang menangis sambil meminta - minta ke Mahendra. "Papaa… huwaa…."


"Hah, Papa?"


"Dia sudah pintar bicara?"


Ketiganya kaget, ini pertama kalinya bayi yang mereka kira tak mau bicara, akhirnya memanggil Ezra. 


"Sudah deh, telepon Ezra sekarang," ucap Davin berdiri.


"Sini biar aku yang gendong," pinta Davin ingin mengajaknya bicara.


"Tidak usah, biarkan aku saja," timpal Elvan yang juga mau dipanggil oleh baby Alan. Davin dan Elvan pun mendengus sama - sama tidak mau kalah. Tetapi seketika pintu rumahnya terbuka.


"Assalamu alaikum," salam sang Dokter masuk, kakak Vano. Sontak wanita itu terkejut melihat Mahendra menggendong bayi.


"Kyaaa…. ini anak siapa?" Dokter mengambil baby Alan, menggendongnya lemah lembut. "Cup… cup… cup…. jangan nangis ya ganteng, di sini ada Dokter cantik jadi temannya si ganteng," ucap Dokter membelai kepala baby Alan.


"Oh ya, ini anak siapa?" tanya Dokter tersenyum. Namun seketika matanya membola karena baby Alan sudah bicara hal lain juga. "Mama…huweee…"


"Ya ampun, aku dipanggil Mama? Apakah ini pertanda aku akan segera menikah dan punya anak 12 juga?" Senang Dokter itu mengedipkan matanya ke Mahendra. Membuat Elvan dan Davin bergidik ngeri melihat sang Dokter tampaknya meminta terus ke Mahendra untuk dinikahi.


"Sini, jangan bicara sembarangan kamu dan berhenti menggodaku!" Risih Mahendra mengambil baby Alan. Dokter itu bukan tipenya.


"Cih, dasar cowok sok jual mahal!" Sentak Dokter itu cemberut membuat baby Alan berhenti menangis dan mengulurkan dua tangan kecilnya ke Dokter.


"Mama… huweee…." pinta baby Alan yang terus meneteskan air matanya.


"Ulululu… sini nak, biar tante cantik yang gendong," ucap Dokter mengambil baby Alan lagi. Menggoyangkan tubuhnya di depan Mahendra. Sengaja supaya Mahendra terpikat dan terpana dengan bodynya yang semok itu.


"Mama… huweee… papa…." Tangis baby Alan mulai sesugukan. "Oh ya, Ibunya mana? Dia seperti mencari Ibu dan ayahnya nih," ucap Dokter tahu baby Alan sedang gelisah bukan karena pengen susu.

__ADS_1


__ADS_2