
"Eh, orang gila? Cakep - cakep begini kamu kira aku orang gila?" tatap Ezra mendengkus dan mendekati Vano dan Nara.
"Yaiyalah, coba lihat dirimu." Sinis Vano menunjukkan sebuah cermin ke Ezra.
"Kyaaa! Siapa itu?" pekik Ezra memeluk lengan Nara. Sedikit malu keluar cuma pakai sarung dan jaket. Beruntung senpak hitamnya bersembunyi di dalam sarungnya.
"Cih, bercerminlah sebelum ke sini bego!" kesal Vano tak habis pikir kebiasaan Ezra belum hilang.
"Cih, pergilah Ezra! Kita tidak punya urusan denganmu!" usir blackzak.
"Oh memang aku tidak ada urusan pada kalian, tapi aku punya urusan ke mereka." Ezra menunjuk Ozara yang tampak bingung melihat mantan ketua mereka tampil acak - acakan begitu. ' Ini serius, Ezra?' pikir mereka.
"Sialan kamu Ezra! Jangan sombong dulu!" Blackzak maju ingin menyerang duluan, tapi lagi - lagi berhenti ketika ada satu motor yang datang. Mereka terkejut melihat orang itu adalah mantan ketosnya di Elipsean ll.
"Daffa? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" Nara, Ezra dan Vano kompak bertanya.
"Buat apa lagi kalau bukan membantu kalian mendisiplinkan mereka," jelas Daffa berkumpul ke Nara, Ezra dan Vano. Ia kebetulan melihat anak - anak Ozara mengejar ke jalan ini. Daffa pun melemparkan baju dan celana baru ke Ezra. Pakaian yang dia beli barusan, ia terpaksa memberinya ke sepupunya itu.
"Eh bodoh, pakai baju dan celana mu dulu,"
"Cih, thanks!" Ezra pun memakai seragamnya di belakang Istrinya. Setelah rambutnya sudah rapih dan tampan, ke empatnya pun berbaris di depan dua organisasi itu yang sedang ragu dan takut maju.
"Cih, mereka akhirnya berkumpul. Ini tidak mudah bagi kita." Blackzak dan Ozara sedikit mundur. Pasalnya formasi yang dibuat oleh Nara di depan mereka sangatlah berbahaya. Tiga cowok itu sulit dihadapi, terutama Nara yang cerdas membuat strategi. Baby Alan yang melirik orang tuanya berkumpul di luar sana, matanya berkilau.
Ia terpukau mendapati orang tuanya sangat hebat - hebat. Namun Melly kembali menutup mata bayi itu, melarangnya melihat perkelahian yang akan berlangsung sengit. Serius? Separah itu?
HIYA! SERANG MEREKA!
REBUT VANO!
HENTIKAN EZRA!
SINGKIRKAN NARA!
SERANG DAFFA!
__ADS_1
Melly memeluk baby Alan, menutup mata dan dua telinga anak kecil Nara. Ia terus komat - kamit baca doa sembari mengelus perutnya. Khawatir kondisi bayinya di dalam sana.
"Sial! Jangan berhenti, rebut Vano!" Blackzak terus menggempur ke arah Vano, namun Daffa berusaha menghalau serangan mereka.
Sedangkan Ozara diterjang oleh Ezra dan Nara. Mereka kesal mengira Ezra sudah berkhianat dan bergabung ke Vano. Sayang sekali, Nara yang sudah sangat lelah pun tidak sengaja di dorong oleh salah satu Ozara sehingga gadis itu terjatuh.
BRUK
SAYANG!
NARA!
Ezra dan Daffa sontak teriak melihat Nara terduduk di tanah. Seketika saja mata Vano membola melihat ada noda darah di rok Nara.
"Nara, kamu tidak apa - apa, sayang?" tanya Ezra ke Nara yang kesakitan. Ia cemas pada anak keduanya.
"Ezra... perutku sakit," rintih Nara perlahan memucat.
"Perut?" Ezra pun mengecek rok istrinya. Sontak membelalak, Nara sedang mengalami pendarahan.
"Ezra, apa yang terjadi? Apa yang terjadi pada Nara?" tanya Daffa. Ezra tidak menjawab, ia menatap penuh amarah ke Ozara dan Blackzak.
"Arghh! CUKUP!" geram Ezra membuat semuanya hening dan tidak bergerak. Mereka terkejut baru sadar Nara sudah tidak sadarkan diri.
"Vano, Daffa, aku pergi dulu bawa Nara ke rumah sakit. Kalian berdua urus saja mereka. Dan untuk kalian, kalau sampai terjadi sesuatu pada Nara, kalian semua bakal tahu akibatnya nanti." Ezra merebut kunci mobil di saku Vano kemudian membawa cepat Nara pergi.
"HEY EZRA!" Vano berteriak sebab ditinggal berdua saja bersama Daffa. Sedangkan Ozara sedikit ragu - ragu melanjutkan perkelahian karena peringatan Ezra tidaklah main - main.
"Hey, kenapa diam saja! Cuma mereka berdua sekarang, ayo tangkap Vano!" ujar blackzak, namun sontak mundur ketika mobil lain datang.
"WOY! NARA MANA?" tanya si trio twins yang datang.
"Ke rumah sakit," jawab Daffa.
"What? Rumah sakit? Apa yang terjadi?" tanya mereka.
__ADS_1
"Sepertinya Nara mengalami pendarahan," ucap Vano asal bicara sembarangan.
"Ha? Pendarahan? Jangan - jangan ...." Ketiga anak kembar itu saling menatap cemas.
"Sial, buruan ke rumah sakit!" ujar Julian, ia pun menyuruh Biyan menancap gas, sedangkan Zehan menggigil ketakutan. 'Mungkin kah Nara keguguran?' pikirnya gelisah.
"Woy Vano, sekarang ikutlah dengan kami!" Blackzak meneriaki Vano.
"Sekarang kamu hanyalah sendirian saja," ucap Ozara maju bersama blackzak.
"Hah? Sendirian?" gumam Vano pun celingak - celinguk dan baru sadar si Daffa tidak ada. Tentu satu bocah itu sedang duduk di dekat Zehan.
"Daffa sialan! Ngapain lo ikutan ke rumah sakit!" Vano mengamuk sendirian. Tapi ia tidak takut karena tiba - tiba ada gemuruh yang datang entah dari mana. Mereka semua menangadah ke atas dan langsung membulatkan mata melihat ada helikopter.
"WOY! TETAP DI TEMPAT ATAU KAMI TEMBAK!" Ujar si kembar lima ke mereka dengan senjata mainan. Mereka siap membidik satu - satu siswa nakal ELIPSEAN II yang lepas dari kandang.
Vano menampol jidat melihat kelakuan si kembar tidak ada bedanya sama Ezra. 'Hadeh, lama - lama aku bisa ikutan absurt seperti mereka.' Batin Vano mengerucutkan mulutnya.
"SIAL, AYO BUBAR!!" Ozara dan Blackzak lari meninggalkan Vano yang sekarang dikerumuni oleh Kevin, Devan dan Davin.
"Cih, dasar anak - anak bandel." Ketiganya mencibir kesal. "Oh ya, mana Kenan?" tanya Kevin ke Devan dan Davin.
HUWEK
Ketiganya dan Vano menengok ke belakang melihat Kenan mabuk dan muntah di dekat helikopter.
"Sial, dasar Kevin bego, lain kali kalau kendalikan helikopter tuh yang benar, perutku kayak habis diblender," celetuk Kenan setengah pucat.
"Hahaha... dasar lemah." Ketiganya tertawa kemudian diam sejenak setelah Kenan bertanya ke Vano. "Oh ya, kok kamu sendirian? Kemana yang lainnya?"
Vano pun menunjuk udara. "Ke rumah sakit."
"Apa? Rumah sakit?" Tanpa babibu lagi, mereka menyusul Ezra. Mendaratkan helikopter itu di atas landasan atap rumah sakit.
.
__ADS_1
duuh gimana yah nasib Nara:)