
"KAK VANO!" Vano yang dipanggil Garce, ia pun menoleh ke sekretaris osis itu yang berlari ke arahnya.
"Kenapa kamu, Cey?" tanya Daffa. Dengan suara berbisik, Garce menjawab, "Mel... kak Melly mau lahiran,"
"Sekarang Nara ... lagi ke ... toilet melihat Melly," ucap Garce putus - putus.
'Apa? Melly mau melahirkan? Memangnya sudah waktunya?' pikir Vano bergegas ke toilet yang dimaksud Garce. Sedangkan Ezra, Daffa dan Garce pergi menyediakan tempat di mobil Vano beserta mengurus persalinan di rumah sakit.
Bisa gawat kalau Melly sampai melahirkan di sekolah. Mereka tidak mau kabar ini diketahui oleh siswa lain, termasuk guru - guru mereka.
"Nara? Kenapa kamu di kuar saja?" tanya Vano sudah sampai.
"Maaf, toiletnya terkunci dari dalam," ucap Nara dari tadi mendobrak pintu tapi percuma.
"Hais, minggir! Biarkan aku yang cepat mendobraknya." Nara bergeser dan sontak saja dengan amat keras, Vano berhasil mendobrak pintu di depannya.
"AHH, sakit...."
"Melly!" Nara terkejut dari rok Melly tampak air ketubannya sudah pecah dan sedang duduk tidak berdaya di pinggir tembok dengan keringat dingin yang bercucuran.
"Melly, bertahanlah." Vano mengangkat hati - hati calon Ibu muda itu. Sebelum keluar toilet, Nara melepaskan jaket Ezra dari seragamnya dan menutupi perut Melly sampai ke bawah lututnya.
"EZRA! SETIR MOBILNYA!" Vano datang dan berteriak ke Ezra. Ia masuk lewat bagasi mobilnya lalu merebahkan Melly ke kasur yang sudah disediakan dan senyaman mungkin oleh Daffa. Beruntung siswa tidak memperhatikan para osis mereka yang mau meninggalkan area sekolah.
"EZRA, KENAPA BENGONG? CEPAT SETIR MOBILNYA!" Vano sedikit berteriak ke Ezra yang duduk di kursi kemudi.
"Woy, Za! Orang lagi panik begini jangan bikin emosi, kalau tidak mau setir, ya sini biarkan aku yang menyetir!" Daffa yang duduk di sebelahnya menepuk bahu Ezra.
Nara dan Garce yang duduk di sebelah kiri Melly mengerutkan kening. 'Ada apa dengan Ezra?' pikir keduanya.
"Ahhh hiks... Vano, sakit," tangis Melly meremat tangan Vano dengan sangat kuat sampai kuku - kukunya mencakar tangan ayah anaknya itu. Vano tidak peduli tangannya luka, yang jelas ia ingin cepat ke rumah sakit.
"Bertahanlah, kak Melly." Garce memberikan tangannya. Ia biarkan Melly mencengkramnya juga.
"EZRA!" Nara memekik. Ezra pun melirik ke Nara, ia sebenarnya memikirkan bagaimana baby Alan keluar dari gua istrinya.
__ADS_1
'Sial, kenapa aku mikir ini dulu sih!' Ezra pun menancap gas menuju ke rumah sakit.
.
Tiga jam sudah berlalu tapi proses persalinan masih berlangsung. Di dalam ruangan sana sudah ada Melly yang ditangani oleh beberapa Dokter hebat yang diminta datang oleh Vano sendiri. Sedangkan Daffa, Nara dan Ezra terus mondar mandir, sebab bayi di perut Melly tidak mau keluar sekarang sehingga Dokter berharap Vano mau mengambil tindakan cecar.
Erangan Melly pun sekali - kali terdengar kasihan dan bersusah payah di dalam sana, hingga Ezra dan Daffa sedikit dibuat merinding. Sementara Garce sedang menelpon sepupu Melly yang tidak lain adalah Friska. Ia pikir, Melly perlu didampingi oleh satu anggota dari keluarganya juga.
"Nara,"
"Hm, kenapa?" tanya Nara ke suaminya dan Daffa.
"Loh, kenapa dengan kalian berdua?" Nara terkejut melihat Ezra dan Daffa dibanjiri keringat. Melly yang mau melahirkan hari ini, tapi sekarang dua cowok di depannya yang tampak setengah pucat.
"Em itu, dulu waktu kamu lahirkan baby Alan, kira - kira proses persalinannya begini?" tanya mereka ingin tau.
Nara berhenti mondar mandir, ia pun menyentuh dagunya.
"Hm, aku tidak ingat,"
"Hah? Tidak ingat? Kok bisa?" tanya Ezra mendekati istrinya.
"Aku tidak ingat, tapi yang jelas aku pasti begitu," ucap Nara menggaruk lehernya.
Daffa dan Ezra bertatap mata, menundukkan pandangan lalu menyentuh dagu masing - masing.
'Sepertinya aku tidak usah tambah satu bayi lagi, kasihan Nara kalau merasakan seperti Melly,' batin Ezra takut Nara tidak sekuat Ibunya.
'Satu bayi saja sudah susah payah begini, bagaimana yang dirasakan tante Melissa dulu?' pikir Daffa malah memikirkan Melissa yang melahirkan 12 anaknya.
TAP TAP TAP
Nara, Ezra dan Daffa menoleh ke suara langkah kaki yang mengarah ke arah mereka. Sontak saja, mata mereka membola langkah itu berasal dari Friska yang membawa Ibu dan ayahnya. Tidak ketinggalan Garce berlari di antara mereka.
Nara menempelkan dirinya di dekat Ezra, ia tidak mau suaminya itu nanti didekat - dekati oleh mantannya itu. Namun Friska tidak sedikitpun melirik Ezra dan Nara, ia bicara langsung ke Daffa.
__ADS_1
"Di mana Melly, Daffa?" tanya Friska.
"Hey, kalian bertiga, katakan dengan jujur, siapa yang menghamili keponakan kami selama ini?" tanya ayahnya Friska tampak marah tahu Melly tidak pulang - pulang ke rumah karena tidak mau mereka tahu ada bayi orang yang dia sembunyikan. Mereka pikir Melly tinggal di asrama, namun rupanya tinggal berdua dengan putra keluarga Bastian.
"Apakah itu benar putra keluarga Bastian yang melakukannya?" tanya Ibunya Friska masih syok, ia tahu dari putrinya sendiri.
Nara, Ezra dan Daffa meneguk ludah. Mereka merasa Garce terlalu ceroboh memanggil keluarga Melly. Harusnya yang dipanggil cuma Friska, tapi orang tuanya langsung yang datang ke rumah sakit.
"Ma, sudah aku bilang tadi, Vano Bastian yang melakukannya. Dia dulu memaksanya, jadi ini semua salah Vano, bukan salah Melly." Friska terus menjelaskan. Seketika saja lengannya dicengkram ayahnya sendiri.
"Friska, ayah sangat kecewa padamu, kenapa kamu baru mengatakan ini pada kami? Kamu tahu sendiri, Friska sudah dijodohkan oleh seseorang dan bulan agustus depan dia harus menikah. Seharusnya dia tidak mengandung bayi itu!"
JEDAR
Nara, Ezra dan Daffa terlonjak. Begitupun Garce mengatup mulutnya. Ia sadar tidak seharusnya teriak waktu hubungi Friska. Kalau saja tadi Garce bisa tenang sedikit, suaranya itu pasti tidak didengar oleh orang tua waketos Elipsean ll itu.
"Maaf, Om. Harusnya anda senang dengan kehadirannya. Bayi itu cucu keluarga Bastian dan saya rasa tidak ada salahnya om menikahkan saja Vano dan Melly. Siapa tahu om bisa menjalin hubungan dengan Tuan Bastian." Nara sedikit membujuk supaya suasana kembali tenang. Kasihan Melly yang sedang mati - matian melahirkan bayi itu di dalam sana, tapi di luar terjadi keributan.
"Jalin hubunga? Kami justru sebaliknya tidak mau menjalin hubungan dengan mereka. Keluarga Bastian tidak akan pernah menguntungkam kami. Mereka malah memberi malapetaka untuk saya," jelas ayah Friska tidak mau cari masalah di keluarga Bastian.
Kata - katanya itu sedikit menyakitkan di telinga kakaknya Vano yang datang bersama Reyhan. Ia hadir karena ditelepon oleh Ezra untuk menangani jika ada masalah.
"Maaf, tolong tenanglah, Pak. Ini rumah sakit, mohon jangan membuat kericuhan. Lebih baik kita berdoa sama - sama semoga prosesnya berjalan lancar, Ibu dan bayinya selamat semua." Tegur Reyhan maju. Ayah Friska berdecak, ia duduk dan menarik istrinya menunggu di depan ruang persalinan. Ia tampak takut juga ke keluarga Van.
Ezra, Nara, Daffa, Garce dan Friska sedikit lega adanya Reyhan yang bisa mencairkan suasana itu. Namun, tiba - tiba saja Ibu Friska berdiri.
"Maaf, apa saya boleh masuk melihat Melly? Saya adik kandung Ibunya, saya harap bisa memberi dukungan untuknya," ucapnya memohon ke Reyhan dan tidak melirik kakaknya Vano. Ia khawatir putri saudaranya itu terjadi sesuatu.
"Baiklah, anda boleh masuk bersama Dokter Sena," ucap Reyhan menunjuk calon istrinya itu.
"Terima kasih."
Setelah memakai jubah medis, Sena yang tidak lain adalah kakak Vano pun masuk bersama Ibunya Friska. Vano yang sedang berdiri dan terus mengusap peluh di dahi Melly itu pun terkejut adanya Sena dan Ibunya Friska masuk.
"Tante..." lirih Melly. Ibunya Friska memandangnya kecewa dan sedih melihat perut keponakannya itu memang besar. Ia memegang sebelah tangannya dan sedikit tersenyum. Melly menangis dan minta maaf. Sedangkan Vano menunduk, tidak berani bicara pada kakaknya dan Ibunya Friska.
__ADS_1
"Tante... hiks maaf," isak Melly. Tantenya pun mengangguk kemudian memberi arahan supaya Melly mengikuti kata - kata Dokter dan Sena. Melly pun kembali menarik nafasnya. Bertaruh nyawa demi melahirkan anaknya itu.
Oeekkk... oeekkk