Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
42. BAB 42 - TUING TUING


__ADS_3

Di kursi depan televisi, five twins dan Elvan pun mangut - mangut setelah mendapat penjelasan akurat dari Mahendra kalau pernikahan Ezra dan Nara itu terpaksa gara - gara dijebak oleh Vano dan sekarang aib keluarganya dalam bahaya.


Nara yang menggendong baby Alan dan duduk di antara tujuh pria dewasa serta suaminya itu cuma bisa diam saja. Mulutnya tertutup rapat melihat mereka bertukar pendapat mencari jalan keluar mengambil rekaman cinta satu malam si bungsu.


"Jadi penasaran adegannya bagaimana sampai bisa langsung berhasil menanamkan satu benih unggul seperti ini." Five twins melirik Ezra yang duduk di samping Nara.


PLATAK!


TAK!TAK!TAK!TAK!


"Kyaaaahaha…" Tawa baby Alan pecah mendengar jitakan - perjitakan nikmat itu datang dari Elvan ke lima unclenya. Si sulung yang lagi mondar mandir tak habis pikir lima adiknya itu lebih sibuk memikirkan cara bercocok tanamnya Ezra. Siapa tahu mempan untuk dicoba oleh mereka, bukan?


'Mampuus,' maki Ezra dan Mahendra. Sedangkan Nara menahan tawa dan terhibur melihat kekesalan kakak - kakak iparnya. 


"Ehem, sekarang sudah malam, besok pagi kita langsung ke rumah sakit melihat Om Dirga sekalian bocah bajingan itu." Elvan menunjuk ke atas, namun sebelum adik - adiknya beranjak, Mahendra menahan.


"Sebentar Elvan!"


"Apa lagi yang mau kamu katakan?"


"Ini soal Daffa." Mahendra menopang dagu.


"Daffa? Ada apa dengan putra Om Dirga itu?" Mereka bertanya karena jarang mendapat masalah dari Daffa.


"Apa? Dijodohkan? Jadi Daffa dan dia sudah dijodohkan dari dulu?" Elvan yang kaget, bangkit dari kursinya. Si kembar lima juga terkejut setelah tahu ini.


"Kalau begini, apa Om Dirga sudah tahu pernikahan rahasia Ezra?" Satu gelengan dari Mahendra menjawab semuanya.


"Terus kenapa kamu tidak beritahukan padanya, Mahendra?" tanya Elvan.


"Aku sedang mencari waktu yang tepat." Mahendra cemas Pak Dirga yang baru siuman itu bisa koma lagi kalau calon menantunya sudah punya bayi.


"Ya sudah biarkan aku yang jelaskan ini besok," ucap Elvan sebagai kakak tertua.


"Dan biarkan aku saja yang mengurus bocah tengik itu," sambung Kevin sang Mafia.


"Hah? Ngurus? Apa yang kamu lakukan?" tanya empat kembarannya heran melihat Kevin menskroll hpnya.


"Mau pesan basoka." Kevin menunjukkan situs bashop yang menyediakan senjata ilegalnya.


"Ba… basoka? Buat apa?" tanya Ezra dan Nara.

__ADS_1


"Gila lo ya? Pesan basoka cuma mau nembakin ke bocah tengik itu? Sekalian saja pesan 100 rudal terus kirim ke rumahnya, bom sampai rekamannya itu ikutan hancur," usul mereka setuju sehingga mulut pasutri SMA itu terbuka lebar - lebar. "Atau biarkan aku yang membidiknya," sahut Devan sang CEO yang juga penembak jitu.


BRAK!


Mahendra dan Elvan menggebrak meja kemudian sama - sama menunjuk ke atas. "Jangan sembarangan bertindak gegabah! Ini masalah keluarga, bukan masalah wilayah. Tidak usah pakai rudal atau basoka. Kita cuma hadapi satu bocah, bukan untuk berperang. Naik tidur sana."


"Aihh… menyebalkan," ketus Kevin manyun.


"Sialan," umpat Davin susul.


"Kampreet!" celetuk Devan acuh.


"Kurang asik," cela Reyhan sebal.


"Hmp, tidak seru!" gerutu Kenan kecewa.


Si kembar lima naik ke atas, pergi ke kamar masing - masing untuk istirahat setelah menempuh perjalanan panjang dan merileks pikiran mereka.


"Huuhh… mereka langsung mengutamakan ego," keluh Elvan ke lima adiknya yang suka main tancap gas sebelum memikirkan dampaknya. 11 12 mirip Ezra sih.


"Oh ya, selama ini apa kalian berdua tinggal bersama?" Matanya terarah ke Nara dan Ezra.


"Bagus, untuk saat ini kalian berdua jangan bersilaturahmi, terutama kamu." Tunjuk Elvan ke Ezra. "Tahan juniormu sampai kamu lulus, kalau aku dengar baby Alan punya adik baru, siap - siap Reyhan memotongnya," ancam Elvan tak main - main.


"Astagfirullah, hidupku ini memang penuh ancaman, jadi pengen masuk lagi ke dalam rahim Mami." Ezra menekuk lutut di sudut ruangan. Merenungi nasib lobaknya.


"Kyahaha…" Riang baby Alan di gendongan Nara. Walau tidak paham, tapi ekpresi semua orang sangatlah lucu.


"Ezra, Nara, naiklah ke atas, besok kalian berdua juga akan ikut ke rumah sakit," suruh Mahendra.


"Baik." Suami istri anak SMA itupun naik meninggalkan Elvan dan Mahendra yang mau mengobrol soal Melissa. Sang Mami yang juga perlu dicemaskan nantinya.


"Woy, Ezra!" panggil si kembar lima sudah menunggu. Mereka berdiri di depan kamar masing - masing.


"Apaan?" tanya Ezra, dan Nara berhenti di depan kamarnya.


"Tidur di kamarku," pinta Kevin.


"Hah… aku punya kamar, kenapa harus tidur bersamamu?" tanya Ezra geli.


"Hey bocah, di kamar itu biarkan Nara dan keponakan kami tidur." Jelas mereka tidak mau Ezra satu kamar bersama istrinya. Ezra terkekeh, tahu mereka cemburu. Nara sontak terkejut pinggangnya dirangkul dengan mesra.

__ADS_1


"Kakak - kakakku yang ganteng dan masih PERJAKA, aku dan Nara sudah sah nikah, jadi sebagai suami TIDAK BOLEH pisah ranjang sama istrinya, ya kan anakku?" Ezra tersenyum ke baby Alan dan sekalian menyindir mereka.


"Lagian juga aku takut banget kalau salah satu dari kalian merangkak ke kamar istriku." Tatap Ezra sinis kemudian mengecup pipi Nara penuh cinta di depan lima perjaka itu membuat para ular piton di dalam celana mengamuk iri.


"Ayo sayang, kita bobo malam ini." Nara merona sedikit dan bergidik geli dimesra - mesrain suaminya itu.


BRAK!


Kelima pria tampan penuh sejuta pesona itu tersentak. Mereka masing - masing mengepal tinju dan mengeraskan rahangnya. "EZRA!!!" Mereka berteriak sebal pada adiknya yang mulai pamer - pamer kemesraan. Kekecewaan mereka pun sampai ke telinga Mahendra dan Elvan yang juga spontan menengok ke atas. Rumah yang awalnya sepi, mulai gaduh. Sedangkan baby Alan pun senang bisa menyusuh lagi di semangka import Ibunya yang begitu nikmat sampai mengeluarkan suara. Chap! Chap!


"Hey, aku mau tidur jangan berisik," tegur Ezra yang tidur membelakangi Nara dan baby Alan.


"Maaf Ezra, gara - gara aku sakit kemarin, sepertinya baby Alan sangat kelaparan sampai rakusnya bertambah," ucap Nara mamandangi punggung Ezra.


"Ck." Nara sedih mendengar suaminya cuma mendecak.


"Oh ya, Ezra," lirih Nara ingin bicara.


"Hmm… kenapa?" tanya Ezra.


"Kamu mau ini nggak?"


"Mau apa?" Toleh Ezra dan membisu ke Nara yang menampakkan satu pucuk semangka importnya.


"Kamu mau ikut nyusuh nggak?" goda Nara kembali.


"Apaan sih, nggak minat!" tolak Ezra jual mahal dan kembali membelakangi Nara. "Mulai tuh gengsinya," ejek Nara lalu melihat baby Alan yang mengantuk dan perlahan memejamkan mata. Nara pun membawanya ke ayunan. Setelah baby Alan tidur nyenyak, Nara pun naik ke ranjang, tidur menghadap ke bahu lebar Ezra.


"Selamat tidur, Ezra." Usai mengucapkannya, Nara pun terpejam dan memikirkan bagaimana Ezra bisa tulus mencintainya? Namun sesaat kemudian, netranya terbuka gara - gara dua semangka importnya terdesak. Nara tertegun ke Ezra yang memeluknya erat seraya menenggelamkan wajahnya di tengah - tengah dadanya yang empuk. Pipinya pun perlahan merah dan mencoba tidak bersuara supaya Ezra tak menyadarinya yang belum tidur.


"Emm… pengen banget," lirih Ezra ingin tuntaskan hasratnya. Ia pun menengadah dan melihat Nara yang terpejam. Karena mengira istrinya tidur sungguhan, Ezra pun diam - diam melepas satu - satu kancing baju tidur istrinya sampai bertelan jang dada.


Tuing… tuing…


Ingin rasanya Nara menggeliat geli kala pucuknya ditoel - toel nakal dan dikemut - kemut nikmat dengan bergantian.


'Oughtt… Ezra….' desis Nara dalam hati ketika dua semangkanya direm4s - rem4s liar. 'Kalau begini, aku nggak bisa tidur.' Batin Nara karena Ezra tampak menikmati kelakuan mesumnya itu. Apalagi epemnya sedikit berdenyutan di bawah sana. Tanpa sadar, ia ikut terangs4ng. Rupanya baby gedenya lebih rakus daripada baby kecilnya malam ini.


….


Ciee… sabar ya lobak, author lagi cari waktu pas untukmu berenang - renang ke kolamnya Nara. 

__ADS_1


__ADS_2