
5 tahun berlalu.
"Selamat pagi anak - anak," sapa seorang wanita muda bernama Metha. Dia masuk ke kelas B yang diisi oleh anak yang berumur 4 dan 5 thn. Dia bekerja guru honor baru di sebuah taman kanak - kanak ternama di daerah tersebut.
"Pagi BUNDA!" seru anak didiknya berdiri dan menjawab sapaannya dengan riang. Kecuali satu anak laki - laki di belakang sana yang duduk diam saja.
"Sebelum ke sekolah hari ini, kalian sudah pada sarapan, belum?" tanya Metha.
"SUDAH BUNDA!!" jawab mereka serempak dan lagi cuma anak itu yang diam. Sudah beberapa hari Bu Metha mengajar di kelas B1 itu, anak di pojok sana masih tidak berbicara satu katapun.
"Bundaaaa!" panggil satu murid.
"Hmmm... kenapa?" tanya Bu Metha ramah dan selalu tersenyum tulus.
"Hari ini belajal apa?"
"Coba Bunda lihat kita belajar apa hari ini." Metha membuka jadwal absennya.
"Ayo anak - anak pakai baju olahraganya, kita senam pagi bersama di luar kelas."
"Yeahh! Asiik!"
"Bunda toyoong!"
Metha segera membantu semua anak didik kecilnya memakai baju mereka. Anak - anak yang terlahir dari keluarga kaya. Terkadang manja, ceria, usil, cengeng, cadel, disiplin dan ada juga yang sudah mandiri. Hanya ada satu muridnya yang pendiam di kursinya.
"Ayo senam pagi - pagi di yuar!" seru mereka meninggalkan Metha dan anak laki - laki tampan itu. Mereka tanpa aba - aba sudah berbaris dengan rapih. Benar - benar semuanya terlahir genius dan menggemaskan.
"Al, ayo sini Bunda bantu pakai bajunya." Metha mengeluarkan baju olahraga dari dalam tas kodoknya.
"Sini berdiri, biar Bunda pakaikan," ucap Metha namun murid kecilnya itu menggelengkan kepala.
"Loh Al lagi sakit jadi tidak mau keluar?" Metha menyentuh dahinya tapi suhunya normal.
"Coba cerita sama Bunda, Al mau apa?"
"Nenek," katanya lirih dan dua mata cantik itu mulai berkaca - kaca.
__ADS_1
"Mau pulang?" tanya Metha lalu diberi anggukan. Metha menarik satu kursi, duduk di dekatnya.
"Al, nanti habis pulang sekolah, Bunda pasti telepon Nenek. Sekarang jangan cengeng ya, nih pakai bajunya terus gabung sama teman - teman." Anak itupun mengangguk dibujuk wanita cantik itu. Metha pun mengganti bajunya. Dia sangat senang bisa mendengar suara yang lembut dan lucunya dari satu kata itu. Dia dengan khusus menggandeng tangan kecilnya keluar dari kelas.
"Ayang!" panggil satu anak perempuan.
"Eh, namanya Alan bukan Ayang, El." Metha menegur anak perempuan berumur tiga tahun lebih itu yang memang belum lancar menyebut huruf (L).
"Ey benar Bunda! Namanyah ituh Ayang!" katanya sangat cerewet.
"Hahaha...." tawa murid lain geli mendengar kata itu. Ada yang mengira dia sedang mengejek dan suka sama Alan. Putra kecil Nara dan Ezra yang tidak lama lagi berumur 5 thn. Satu - satunya murid yang berparas tampan di kelas B1 dan banyak dikagumi oleh anak perempuan karena selalu memberi lirikin yang manis. Salah satu trick memikat yang simpel sekali. Bayangkan saja ketika dewasa nanti bisa menarik ribuan wanita dari lirikan mautnya.
"Alan!" protes Alan menghentakkan sebalah kakinya.
"Yaaaa ituh kata Ey, nama mu Ayang!" balas El berkacak pinggang. Nama lengkapnya Noel Bastian. Cerewet dan banyak tingkah.
Sebelum kepala sekolah mendengar ada keributan, Metha merelai dua anak itu. "Sudah ya, kalian berdamai dengan baik - baik, jangan musuh - musuhan. Okeh?"
"Baik Bundaa!" kata Noel tersenyum ceria. Sedangkan Alan cemberut saja.
Beberapa jam pun berlalu, waktunya pulang sekolah tiba. Anak - anak sebagian sudah dijemput pulang dan hanya meninggalkan dua murid di depan kelas yang tidak lain adalah Alan dan Noel. Melihat dua anak itu belum pulang, dia pun membawanya masuk ke dalam kantor.
"Tidak masayahh!" kata Noel. Metha pun duduk kembali ke kursinya dan memulai membaca isi laporan dari anak - anak yang tidak hadir ke sekolah.
"Heyy!" panggil Noel geser sedikit di sebelah Alan.
"Mau bisukyit??" tawar Noel
Metha tertawa geli melihat anak itu dekat - dekat Alan yang menggelek tidak mau. Noel pun mencari cemilannya di dalam tas lagi.
"Mau cokeyiat?"
'Puftt, lucu sekali mereka.' Tawa Metha dalam hati.
"Cokelat!" kata Alan meluruskan.
"Ituhh! Inih cokeyiat! Rasanyah nyus sekayiihhh!"
__ADS_1
"Ayo buka muyuttnya, aaaaa...."
Karena gemas, Alan menepis cokelat di tangan kecilnya itu.
"Huwaaaaa....." Isi kantor pecah mendengar tangis Noel yang menjadi - jadi itu karena cokelatnya jatuh ke lantai.
"Metha! Apa yang terjadi?" Kepala sekolah keluar dari ruangannya.
"Maaf, Bu! Saya segera membawa mereka keluar." Metha menggendong Noel dan menggandeng Alan yang mukanya datar sekali seperti tembok.
"Huwaa... heee....," tangis Noel.
"Aduh, bagaimana ini?" gumam Metha sedang berusaha menenangkan anak perempuan itu. Sedangkan Alan duduk manis saja melihat Metha memberi mainan namun Noel tetap merengek. Tiba - tiba tangisnya pudar setelah ada yang memanggil namanya.
"Noel sayang."
"Huwee.... Mamih!" Kaki - kaki pendeknya itu berlari sempoyongan ke arah Ibunya yang datang sendiri menjemputnya. Dia masih cantik dan muda walaupun sedang mengandung anak keduanya sekarang.
"Nona Melly, saya tidak tahu bagaimana menenangkan nona kecil, mohon maafkan kesalahan saya," ucap Metha.
"Tidak apa - apa, Noel memang begini, seperti ayahnya yang suka merengek," canda Melly dengan senyum kecilnya, kemudian matanya mengarah ke anak kecil yang berdiri di sebelah Metha.
"Hey, ganteng, namanya siapa?" tanya Melly merasa anak laki - laki itu sangat mirip dengan seseorang.
"Ayang, Mamih!"
'Ha?' Melly terkejut mendengar jawaban Noel yang sudah tidak merengek lagi di gendongannya.
"Maaf, namanya -" Metha ingin meluruskan tetapi seseorang datang memanggil anak laki - lakinya.
"Alan! Sini sayang!"
'Nara?' Melly secepatnya berbalik badan. Dia berhadapan langsung dengan wanita muda yang sekarang terkejut juga, namun secepat Nara membuang pandangan.
"Mamaaa!" Alan melompat ke pelukan Nara yang datang karena Bu Mayang masih bekerja. Dia juga baru pulang dari kampusnya dan tidak sengaja bertemu Melly di sekolah.
"Hey, Nara. Apa kabar?" tanya Melly mendekat tapi Nara cuma berkata, "Baik." Kemudian membawa Alan pergi. Melly menunduk pelan melihat Nara menjauh. Metha di sana pun berpamitan masuk ke kantor lagi.
__ADS_1
"Nara, setidaknya jangan menjauhiku juga." Batin Melly dengan tatapan sedih.
.