Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
37. BAB 37 - SEKSI


__ADS_3

"Nara…. hello im come back!" Daffa yang sedang memakai setelan jas pestanya itu menoleh ke jendela mendengar teriakan Garce di luar rumahnya yang memantul sampai ke kamar.


"Ada apa kamu ke sini?" Daffa membuka pintu rumahnya dan melihat Garce juga memakai gaun pestanya yang anggun dan riasan di kepalanya menampakkan gadis gemuk itu cukup imut malam ini.


"Selamat malam kak Ketos, Naranya sudah siap ke pesta kak Melly, belum?" tanya Garce lumayan terpana ke Daffa yang tampan membahana dengan jas hitam elegannya.


"Nara tidak ada di sini." Daffa mengunci rumahnya.


"Apa dia sudah ke pesta?" tanya Garce berdiri di dekat Daffa yang siap pergi ke rumah Mahendra.


"Belum tahu," jawab Daffa berjalan kaki seraya merapikan kerah lengannya.


"Kalau belum tahu, kamu mau kemana?" Garce ikut jalan di sebelah Daffa.


"Mau ke situ, jemput Nara." Tunjuk Daffa. Garce berhenti dan memegang tengkuknya. 'Eh, jemput Nara di sana? Kenapa sahabatku ada di sana? Apa jangan - jangan Nara sudah punya rumah sendiri?' Garce terus bertanya - tanya dalam hatinya.


"Yakin Nara bisa ikut malam ini ke pesta?" tanya Mahendra seraya menyusui baby Alan pakai botol susu yang dibikin Ezra dan duduk di kursi depan televisi lalu melihat Ezra duduk di sebelahnya yang memakai jas pesta berwarna merah gelap yang mengkilap karena kainnya bukan kain biasa. Harganya mahal tapi nyaman sekali dipakai.


"Aku juga tidak tahu, tapi Nara tetap ingin ikut demi Vano tidak berbuat ulah, kami juga khawatir cowok brengseek itu bisa saja menayangkan rekaman percintaan kami di sana," jelas Ezra deg - degan dan tidak tenang malam ini. Karena Nara masih belum membaik dan Vano yang berbahaya.


"Kalau begitu, kamu tetap harus waspada, perhatikan selalu gerak - gerik Vano dan anggota blackzak yang ikut, terutama Bumi. Cowok itu lebih gila dari Vano." Nasehat Mahendra ke adiknya itu untuk berhati - hati. Ezra mengangguk paham. Sontak, dua laki - laki itupun menoleh ke arah tangga dan terkesima, sehingga baby Alan heran melihat daddy dan unclenya itu diam mendadak.


Rupa - rupanya, kharisma Nara yang cantik berhasil menarik perhatian Mahendra. 'Dia adik iparku, kan?' pikir Mahendra terpukau sampai lidahnya kaku. Sedangkan Ezra, jantungnya memompa naik turun dan hatinya tertusuk anak panah yang tajam dari pancaran istrinya yang menawan. Dress merah darah dan jepitan emas bagaikan melihat putri dongeng yang keluar dari dunia lain.


"Ekhem, maaf lama, apa aku sudah cocok pakai ini?" tanya Nara malu - malu. Satu kata dari Mahendra pun mengagetkan Ezra.


"Seksi."


Haaah? Seksi?  Ezra tidak sangka kakaknya itu tanpa sadar memuji istrinya. Apa jangan - jangan Mahendra terpincut?


"Eh, maksudnya cocok!" ucap Mahendra membenarkan.

__ADS_1


"Kyaahhaha." Riang baby Alan ke unclenya yang salah bicara. Sedangkan Ezra cemberut melihat Nara tersipu dipuji barusan oleh kakaknya. Bukan cuma itu saja, Nara merona di depan Ezra yang memakai jas yang sama warnanya. Seperti pasangan couple malam ini.


"Ezra… bagaimana menurutmu?" tanya Nara ingin tahu tanggapan suaminya. Ezra berdiri, berbalik badan dengan angkuh.


"Biasa - biasa saja." Setelah itu jalan ke pintu. Baby Alan yang memang tidak paham kata ayahnya, tapi bayi itu masih bisa mengerti dari ekspresi sedih Ibunya yang tidak dapat pujian. Akhirnya bayi setengah jenius itu bertindak.


Huwaa… huwaa…. huweee…


Karena nangis dadakan, Mahendra yang panik pun berdiri. Ezra kembali berbalik badan, mengambil anaknya karena Nara yang masih lemah belum sanggup menggendong.


"Cup… cuppp…. cupp…. daddy di sini, papa di sini, jangan rewel dulu bayi tampan." Usap Ezra pelan ke punggung kecil anaknya. Karena memaksa dirinya merengek, baby Alan tidak sengaja kentut.


Pyuuusss…


Membuat Mahendra tertawa. "Hahaha… enak banget ya dapat semprotan parfum gratis malam ini." Kekeh Mahendra.


"Pfft…" 


Tampaknya baby Alan jenius karena turunan dari Nara dan keponakannya itu kuat turunan dari Ezra. Buktinya, sebelum Mahendra mengambilnya, baby Alan sempat memukul hidung Ezra.


"Awas, nanti pulang dari sana aku sleding kamu! Dasar bayi nakal!" Tatap Ezra sebal. Baby Alan cuma mengulurkan lidah kecilnya, mengejek ayahnya itu yang jalan keluar bersama Nara. "Hadeh, kecil - kecil sudah pintar bikin emosi orang ya," gemes Mahendra mentoel hidung mancung baby Alan. Sekali lagi bayi tampan itu cuma tertawa senang malam ini. "Khihihi."


Beda dengan Daffa yang sudah sampai di depan rumah dan berpapasan dengan Nara dan Ezra. Ia terpukau calon istrinya seperti orang yang berbeda malam ini. Tapi ada yang mengganjal di hatinya karena dress dan jepitan emas itu harusnya tidak dipakai Nara. 'Apa Pak Mahendra yang belikan?' pikir Daffa karena kalau Ezra itu tidak mungkin.


"Kyaaa… ini kamu, Nara?" Garce denganhisteris memeluk Nara yang tanpa kacamata dan poninya yang dijepit manis sekali.


"Ya, maaf kalau jelek dan agak aneh," ucap Nara malu - malu.


"Ihh jelek dari mananya? Kamu malam ini cantik banget - banget - banget pokoknya! Iya kan, kak ketos?" Garce melihat Daffa yang mau jawab tapi duluan Ezra.


"Ya kan Nara emang cantik, gendut!" ucap Ezra gengsi memuji. Tetapi bagi Nara itu pujian yang sangat ditunggunya. Reaksi Nara yang tersipu itupun membuat Daffa mengerutkan kening. 'Apa ada sesuatu yang aku lewatkan?' pikir Daffa karena baru kali ini Ezra tidak menghina Nara.

__ADS_1


"Ihhh… nyebelin! Ayo Nara, kita ke pesta, pakai mobilku saja."


Saat mau dibawa ke mobil, Ezra menahan tangan Nara yang sebelah membuat Daffa maju selangkah. "Ezra, mau apa kamu?" Daffa melepaskan genggamannya itu.


"Pakai mobilku." Ezra menunjuk mobil Mahendra. Ketika Garce mau setuju, tiba - tiba ada yang teriak dari belakang.


"Sayang! Kamu kenapa tidak bilang - bilang kalau sudah pindah ke sini? Aku capek tahu panggil - panggil di rumah Daffa!" celetuk Friska jalan melewati Nara, Daffa dan Garce. Kemudian memeluk manja Ezra dari depan.


Nara menunduk sedih, tidak tahan suaminya dipeluk cewek lain. Ia ingin melarang Friska, tapi saat ini bukan waktu yang tepat. Bukan cuma Nara saja yang sakit hati, tetapi baby Alan yang lagi digendong sama Mahendra dekat jendela kamarnya tampak kecewa ada cewek lain yang peluk - peluk sembarangan ayahnya. Kalau saja bisa jalan, bayi mungil itu pasti lari ke bawah dan memberi smakdown Friska. Mahendra pun juga kecewa adiknya itu masih pacaran.


Tiba - tiba Garce mendapat notif kalau supirnya pulang karena dipanggil ayahnya. Maka dari itu, mobil Mahendra pun menjadi kendaraan mereka ke pesta Melly. 


Nara ingin pakai taksi, tapi ia tidak mau berpisah dari suaminya dan kini ia menyesal karena tingkah Friska yang terang - terangan mesra ke Ezra membuatnya sakit hati.


Daffa tidak tahu kenapa calon istrinya itu sedih, tapi ia pun dengan lembut menggenggam tangan Nara dan tersenyum berharap bisa menghiburnya. Nara pun tertegun karena Daffa selalu ada untuknya dikala gundah. Perasaannya seperti kayu kecil di tengah lautan yang terombang ambing tanpa arah yang pasti. Sedangkan Garce, gadis itu serasa jadi nyamuk yang tidak punya pasangan.


….


….


Sesampainya mereka di rumah Melly yang besar dan memiliki kolam renam yang luas. Keempatnya yang baru turun dari mobil itupun disambut dengan kehadiran Vano yang baru sampai juga. Cowok beranting, memakai jas putih menawan bak pangeran kerajaan itu terkesima ada cewek asing yang cantik mempesona di antara dua musuhnya.


"Cih, rupanya kalian datang berdua, kemana nona waketos?" tanya Vano dengan senyum tipis meremehkan itu. Sontak saja lidahnya terasa kaku setelah Friska sendiri yang jawab.


"Ternyata kamu ini buta ya sehingga tidak mengenalinya." Friska menunjuk tidak suka ke Nara yang dimaksud Vano.


'Apa, gadis asing ini Nara?' batin Vano baru tahu kalau waketosnya bisa tampil seanggun dan secantik cinderella yang bergaun merah.


….


Ciyeee yang kepincut langsung mangap wkwkwk…. 

__ADS_1


__ADS_2