Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
27. BAB 27 - TERANCAM


__ADS_3

Nara yang bergabung di ekskul drama sudah sampai ke telinga Ezra dan juga Friska yang langsung tidak suka Nara satu ekskul dengan pacarnya itu.


"Sayang, kenapa sih anak itu gabung?" tanya Friska selalu memeluk lengan Ezra dan jalan di sebelah cowok itu yang tampak sibuk melihat sekeliling sekolah karena mendapat info dari Melly kalau Vano datang ke sekolah hari ini.


"Ezra!!"  celetuk Friska tidak didengar juga. 


"SAYANG!" 


Karena dibentak kencang, Ezra baru menoleh.


"Friska, kenapa sih sampai teriak? Sakit daun telingaku nih!" Ketus Ezra mencolek lubang telinganya.


"Kamu sih ditanya - tanya tapi malah cuek,"


"Ya maaf, tadi kamu tanya apa?" tanya Ezra tanpa senyuman alias datar seperti tembok di sebelahnya.


"Itu loh, si cewek cupu gabung ke ekskul drama, kenapa kamu tidak menolaknya saja?" 


"Oh kalau itu aku tidak punya wewenang menolak, jadi kalau mau komplain silahkan ke kakak sepupumu itu." Ezra menunjuk Melly yang sedang berdiri di dekat Daffa dan mengajak Nara bicara.


"Lah, kenapa Melly di sana?" Friska terkejut Melly menghampiri Nara yang sedang siap pulang bersama Daffa.


"Kita ke sana yuk, sayang!" Friska menarik Ezra masuk area parkiran. Sekalian juga cewek manja banyak tingkah itu ingin diantar pulang.


"Melly, kamu kasih apa ke Nara?" tanya Friska dan masih merangkul Ezra di depan Nara. Tampak Nara cuma diam melihat Friska memeluk terus suaminya.


"Kebetulan nih, dua hari ke depan aku mau ulang tahun, teman - temanku ingin merayakannya jadi sekalian saja aku undang Nara dan tolong ya Friska bantu sebarkan ke teman kelasmu juga," tutur Melly memberi sebagian undangan ultah ke adik sepupunya.


"Apaan sih? Kenapa undang si cupu ini?" Friska tidak terima mengundang Nara.


"Friska! Aku yang ulang tahun, bukan kamu! Jadi suka - suka aku mau undang siapa, sekarang ikut aku sebarkan ini dulu," kesal Melly tidak suka sikap adik sepupunya itu yang selalu memandang rendah siswa miskin di sekolah, terutama ke Nara.


"Tidak mau! Aku mau pulang bareng pacarku!" Tolak Friska makin erat memeluk Ezra. Melly membuang nafas kecewa. Ketika Daffa mau menyela ingin menolak, tiba - tiba dikejutkan dengan pertanyaan dari Vano yang datang mau pulang juga.

__ADS_1


"Wih enak ya ada acara minggu ini, aku diundang nggak nih ketua kelas?" tanya Vano begitu santainya bergabung ke tengah - tengah dua organisasi yang bermusuhan dengan anggotanya.


"Hem, jangan - jangan aku ditolak nih?" ucap Vano dengan muka tidak berdosa sama sekali. Daffa, Nara dan Ezra yang punya dendam, ingin rasanya menghajar Vano bersama - sama. Tapi sebagai dua organisasi yang menjunjung perdamaian dan membenci keributan di area sekolah, ketiganya cuma bisa menahan kesal.


Dengan terpaksa, Melly memberi satu undangan ke musuhnya itu. "Maaf, tapi tolong jangan buat rusuh di pestaku nanti," ucap Melly menatap benci ke Vano.


"Ketua kelas tidak usah cemas, selagi nona waketos dan dua tuan muda ini datang, aku tidak akan merusak pestamu," senyum Vano melihat bergantian Nara, Ezra dan Daffa.


"Kalau salah satunya tidak datang? Kamu tetap rusuh di pesta nanti?" tanya Friska pada Vano yang suka cari masalah.


"Ya mungkin cuma sedikit kerusakan." Vano melirik Nara karena yang dimaksud Friska adalah Nara. Tampak pengantin baru di depannya itu hanya diketahui kepsek dan Mahendra di sekolah ini. Sementara wakil blackzak tidak tahu apa - apa soal cinta satu malamnya Nara dan Ezra, beserta status keduanya sekarang.


Melly pun memberikan satu undangan ke Ezra. "Tolong ya Ezra, kamu juga wajib datang," ucap Melly cuma bisa bergantung ke Ezra yang jago berantem. Ezra pun menerima, tidak mau Vano mencari korban lagi untuk dipermainkan.


"Kamu juga ya Nara dan Daffa, tolong datang ke pestaku," ucap Melly tersenyum. Nara dan Daffa pun terpaksa mengangguk.


"Ya sudah, aku pergi dulu, sini Fris, ikut aku sebarka sisa undangan ini." Friska cemberut tidak jadi lagi diantar oleh pacarnya. Sedangkan Vano masih berdiri di antara Daffa, Nara dan Ezra. Keempatnya bertatapan dengan mata sinis dan tajam.


"Kemari, Nara. Kita pulang sekarang," ajak Daffa naik motor. Saat Nara mau naik, Vano bicara hingga Nara tidak jadi naik dan Ezra yang ingin mendorong motor keluar dari barisan juga ikut berhenti.


'Apa lagi yang dia inginkan?' pikir Nara dan Ezra mulai was - was.


"Sepertinya kamu belum tahu kalau Nara sekarang tinggal di rumahku, maka dari itu aku yang antar dia pulang," ucap Daffa. Vano diam, melihat Ezra kemudian Nara.


'Oh aku pikir mereka berdua tinggal bersama, ternyata dua - duanya ada di rumah Daffa. Pantas saja hari ini laki - laki sialan itu tidak datang ke sekolah, dia pasti izin untuk mengurus keponakannya.' Vano memikirkan Mahendra dan baby Alan serta juga penasaran apakah Ezra dan Nara tinggal sekamar atau pisah?


"Wih, enak dong bisa numpang gratis di rumah ketua osis," sindir Vano ke Ezra dan Nara.


"Jadi pengen tahu nona waketos tidur sama siapa, apa mungkin Daffa? Hm.. atau sua –" Vano menghentikan ucapannya setelah Ezra membentak.


"Vano! Jangan kurang ajar kamu! Nara tidurnya bareng ana –" Ezra hampir lagi keceplosan bilang – anaknya. Nara reflek saja meluruskan sebelum Daffa tahu rahasianya.


"Aku.. aku tidur sama adikku, kok!"

__ADS_1


Melihat tingkah mereka yang agak aneh, Daffa sedikit heran. Merasa seperti ada yang ingin disampaikan tetapi langsung dialihkan ke hal lain. 'Apa Nara menyembunyikan sesuatu?' batin Daffa mulai curiga.


Saat Daffa mau bicara supaya Vano jangan ganggu Nara, tiba - tiba ada pesan masuk di hpnya. Vano, Ezra dan Nara mengernyit heran melihat ketosnya itu tersenyum bahagia.


"Apa yang kamu dapatkan? Apa itu notif dari mantanmu?" tanya Vano tersenyum remeh dan membuat Nara terdiam.


'Mantan? Daffa punya mantan?' pikir Nara baru tahu Daffa pernah pacaran. Tetapi bukan itu yang diterima, Daffa mendapat pesan dari rumah sakit.


"Daffa, itu pesan dari siapa?" tanya Nara. Sedangkan Ezra cuma diam menunggu isi pesan itu.


"Cih, tidak lama lagi kamu tidak akan berulah di sekolah ini," ucap Daffa ke Vano yang tambah heran.


"Maksudnya?" tanya Ezra cepat.


"Dokter memberitahuku, kalau ayahku sudah tidak koma." Bagi Daffa itu kabar yang sangat bagus karena dengan bantuan ayannya bisa menjebloskan Vano ke penjara, tapi tidak untuk Ezra dan Nara yang sebaliknya tidak mau Vano dipenjara dulu sebelum mengambil rekaman percintaannya itu.


Karena merasa posisinya terancam, Vano memberi kode mata ke Ezra dan Nara tentang ancamannya kalau dia dilaporkan maka siap - siap saja rekaman itu bocor ke dunia maya.


"Ck, kalau begitu selamat ketos," ucap Vano kemudian melaju pergi meninggalkan sekolah. Tinggal Nara dan Ezra sedang gelisah memikirkan cara supaya Daffa nanti tidak lapor ke polisi.


"Nara, sepertinya aku mau singgah dulu ke rumah sakit, apa kamu mau ikut melihat ayahku?" Sambil bertanya, Daffa mulai memakai helm.


"Mungkin nanti aku juga bermalam di rumah sakit hari ini, tapi tenang saja, aku akan bawa kamu pulang nanti," lanjut Daffa memberi satu helmnya. Daffa bermalam ingin menjaga ayahnya sampai benar - benar siuman.


"Aku sih mau banget, tapi… tapi aku cemas baby Alan di rumah rewel dan menyusahkan Pak Mahendra," ucap Nara menolak halus.


"Ya juga sih, kalau begitu kamu pulang pakai taksi, nih pakai uangku buat ongkosnya." Beri Daffa uang cuma - cuma. 


"Tidak usah, biar aku yang antar pulang!" Ezra turun dari motornya lalu mendorong uang itu sebelum Nara mengambilnya. Ezra tampak tidak suka istrinya dinafkahi orang lain dan perhatian ke Ibu anaknya itu. Apa ini yang namanya rasa cemburu?


"Hah? Kesambet apa kamu hari ini?" tanya Daffa cukup terkejut.


...

__ADS_1


Kesambet apa ya wkwk


__ADS_2