
Kabar masuknya Vano ke rumah sakit begitu cepat tersebar ke seluruh sekolah. Dengan insiden malam itu, Melly ditetapkan sebagai pelaku. Ketua Ozara Pisces dan ketua kelas IPS 1 itu pun diberi sangsi berat dari pihak sekolah. Diskors dua minggu dan jabatan anggota Ozara dicabut. Melly mulai sekarang menjadi siswa biasa karena keinginan wakil blackzak agar pelaku diberi hukuman yang berat. Beruntung sepupu Friska itu tidak dipenjara karena Vano masih selamat namun belum sadarkan diri di rumah sakit.
"Hikss… sayang, aku yakin Melly pasti tidak sengaja lakukan itu, hiks… pasti ada yang tidak beres malam itu," tangis Friska di dalam panggilan suara yang masuk ke hapenya Ezra. Dia masih sedih karena Melly mengurung dirinya di kamar terus seminggu ini.
Ezra yang lagi di rumahnya sedang duduk di teras juga sedang memikirkan pasti semua ini sudah di rencanakan Vano. Tapi bukan kah harusnya cowok itu menepati ucapannya 'kan?
"Friska, kamu tenang saja, Ozara lain hari ini mulai menyelidikinya. Kita tunggu saja hasilnya nanti." Ezra dalam hatinya ingin sekali membanting apa saja di hadapannya. Pasalnya, Ozara terancam dibubarkan.
"Sial, semua kekacauan berasal dari blackzak dan sekarang Ozara yang dituding pembuat masalah di sekolah." Ezra menggebrak meja di dekatnya. Kesal sekali jabatannya juga terancam dicabut.
"Hiks… kalau begini harusnya Vano mati saja malam itu supaya blackzak ikut dibubarkan. Hiks… aku takut Ezra, kondisi Melly sekarang bertambah buruk." Friska terus menangis dalam panggilan itu. Ia lebih sibuk memikirkan keadaan Melly. Cewek itu mengaku kesal ke Vano hingga tidak sengaja mendorongnya.
Nara yang sudah sembuh dan sedang berdiri di belakang tembok merasa bersalah pada Ezra dan Daffa yang sudah menyelamatkan Vano. Tapi jujur dalam benaknya, Nara tidak tahu kenapa hatinya tergerak ingin menolong. Padahal kebenciannya ke Vano sudah menggunung tetapi malam itu semua runtuh dalam sekejap saja.
"Maaf… gara - gara aku kalian dalam masalah," lirih Nara pada Ezra yang selesai menelpon. Tapi suaminya itu cuma melewatinya saja.
"Ezra, aku benar - benar minta maaf." Nara menarik ujung kaos abu - abu suaminya itu yang seminggu ini tidak mau bicara padanya.
PLAK!
Nara terdorong kebelakang setelah tangannya ditampar dan dihempaskan dengan kejam. Raut wajah Ezra merah padam dan kemudian menangkap rahang Nara. Menekan keras sampai istrinya merintih kesakitan.
"Maaf? Kamu pikir maaf bisa mengembalikan kesempatan langka kita?" bentak Ezra lantang.
"Malam itu harusnya kamu tidak menolongnya, bodoh!"
"Kalau saja dia mati, kita tidak lagi diancam dan aku pasti sudah menceraikanmu hari ini!"
"Sial, aku harusnya biarkan kamu mati juga malam itu! Harusnya aku tidak menolongmu! Istri bego!"
__ADS_1
Air mata Nara berlinang deras diberi ucapan - ucapan kejam itu. Padahal dia baru tiga hari sembuh. Rasa terima kasih yang ingin diucapkannya ke Ezra hari ini juga berganti dengan rasa penyesalan.
"Kalau begitu, hari ini kita bercerai saja," mohon Nara sesugukan sudah merasa tidak ada peluang mendapat cinta dari suaminya itu.
"Cerai? Kamu mau cerai hari ini?" ulang Ezra masih mencengkram rahang Nara dan tidak peduli air mata Nara yang menetes jatuh mengenai tangannya.
"Ya, aku capek, aku tidak mau pernikahan ini berlanjut lagi," lirih Nara bergetar ketakutan.
"Tapi aku tidak mau, Nara," tolak Ezra tiba - tiba dan melepaskan cengkramannya.
"Tidak mau? Ke… kenapa?" tanya Nara. Ezra tersenyum jahat, menyeringai tanpa perasaan. "Aku tidak mau kamu menikah dengan Daffa, hanya aku yang boleh menikahimu. Dan kamu harus tahu, setelah kita lulus sekolah, aku tetap tidak akan menceraikanmu karena kamu tampaknya lebih cocok dimadu," ucap Ezra menepuk - nepuk kepala Nara yang diam terguncang.
"Dimadu? Maksudnya?" tanya Nara dan kemudian diberi bisikan. "Aku akan menikahi Friska dan kamu akan jadi simpanan rahasiaku."
"Tidak! Aku lebih baik mati daripada harus jadi budak naffsumu!" pekik Nara dengan nafas yang sesak.
"Okay, silahkan lompat dari lantai ini." Tunjuk Ezra ke bawah tanpa berkedip dan tanpa perasaan kasihan sedikipun. Ia tega menyuruh Nara melompat dari lantai dua yang tinggi itu. Sekali lompat saja, kepala Nara langsung pecah.
"Ezra… apa kamu tidak mencintaiku?" tangis Nara dengan kedua kakinya yang sedang mati rasa.
"Ha? Mencintaimu? Setelah kamu tampil cantik malam itu, kamu mulai berpikir aku sudah mencintaimu? Jangan mimpi, gadis miskin sepertimu tidak layak dicintai. Gadis bodoh," cecar Ezra sombong.
Nara memejamkan matanya, tangisnya terhenti bersamaan air matanya sudah mengering. Nara maju dengan tatapan kosong ke arah pinggir teras. Berkata lirih tanpa melirik Ezra.
"Aku memang cerdas dalam bidang pengetahuan tapi aku akui perkataanmu benar kalau aku ini gadis bodoh yang sudah mencintai cowok sepertimu." Kemudian Nara melihat Ezra, tersenyum bebas dengan mulut yang bergetar.
"Sekarang aku akan menyusul orang tuaku, mereka pasti sangat bahagia putrinya bergabung ke sana."
"Terima kasih, sudah memberikan aku kesempatan jadi seorang Ibu, Ezra."
__ADS_1
Nara memejamkan mata dan merentangkan tangannya, menghirup dalam - dalam angin sore ini. Tetapi sebelum tubuhnya lebih condong ke depan, seseorang menarik cepat perutnya dari belakang dan membentaknya lebih lantang.
"Istigfar Nara! Sadarlah! Jangan lakukan hal gila ini! Pikirkan masa depan anakmu!" Suara itu tidak asing sehingga Nara membuka mata dan melihat itu adalah kakak iparnya.
"Hiks…. maafkan aku, kakak." Nara menenggelamkan kepalanya ke dada Mahendra yang datang tepat waktu. Sedangkan Ezra dari tadi cuma diam saja dan sekarang mundur karena tatapan Mahendra yang menakutkan. Kalau saja ada pistol, sudah di-dor adiknya itu.
"Lepaskan dia!" ujar Ezra tidak gentar.
PLAK!
Tangis Nara terhenti setelah tamparan mendarat ke pipi Ezra. Mahendra pun juga membulatkan matanya karena tangan yang tidak pernah melukai adiknya itu sekarang menamparnya.
"Masuk Nara." Tunjuk Mahendra ke dalam. Nara pun berlari, membiarkan Mahendra bersama suaminya yang diam menerima tamparan pertama kali dalam hidupnya itu.
"Ezra…"
"Apa? Mau tampar lagi? Ayo sini tampar lagi! Nih pukul sekalian saja! Pukul sekarang!" Pinta Ezra menepuk pipinya yang memerah itu.
'Anak ini, aku pikir dia mau minta maaf malah minta ditampar lagi, apa memang otaknya perlu aku modifikasi?' pikir Mahendra gemas ingin melayangkan tamparannya lagi tapi sebagai pria dewasa, dia tidak mau terpancing juga.
"Aku akan pukul setelah kamu lulus sekolah, kita berkelahi layaknya pria sejati," ucap Mahendra.
"Oh jadi sekarang aku ini pecundang?" Ezra mengepal tangannya.
"Kamu lebih buruk dari pecundang!" kata Mahendra mendecak.
"Arghh, kamu brengseek! Hanya karena gadis miskin itu kamu rela menamparku? Aku akan laporkan ini pada Mami biar kamu dicoret!" bentak Ezra mulai mengambil hapenya.
"Silahkan adukan saja, aku juga akan bilang kamu perkosa anak orang supaya kamu ikut dicoret dan aset - asetmu disita semua, jatuh miskin dan lebih parah dari Nara!" balas Mahendra ambil hapenya juga. Keduanya saling ancam - mengancam, tapi Mahendra lebih menguntungkan di sini.
__ADS_1
...
Sekalian buang aja ke antartika biar membeku kedinginan.🤧