
"Sayang, ayo buruan mandinya!" panggil Nara yang sudah siap dengan seragam SMA. Tahun ini dia sudah kelas 11 dan Ezra kelas 12. Tapi sekarang suaminya itu tidak lama lagi akan meninggalkan bangku sekolah SMA Negeri itu dan Nara akan naik ke kelas 12 juga. Sekolah yang lumayan bagus meskipun tidak seelit Elipsean dulu.
"Yah bentar! Ini lagi nyampo!" ujar Ezra masih saja berlama - lama di dalam kamar mandi bersama jagoan kecilnya si Alan yang sudah berumur dua tahun. Bocah cilik dengan sejuta kenakalannya bersama sang ayah yang juga menyebalkan.
"Sabar, Nak. Biarkan Ezra dan Alan selesai mandi." Bu Mayang menghampiri Nara dan tidak lupa membawa barang jualannya. Karena di tempat ini tidak ada yang memerlukan tenaga pembantu, jadi terpaksa Bu Mayang menjual cemilan ringan di kantin sekolah.
"Ya, Bu. Tapi kalau lama - lama di dalam sana, Alan bisa masuk angin." Nara cemas karena Alan kadang sakit - sakitan.
Cklek!
Akhirnya anak dan bapak itu keluar dari kamar mandi. Ezra yang cuma pakai sarung itu cengengesan saja bersama Alan yang berada di pundak Ezra.
"Ahhh, kabbullll, papah..."
"Ihhh, Ezra! Jangan main - main dong, sudah jam tujuh nih! Tuh lantai yang habis kupel jadi basah lagi!" cetus Nara pada Ezra yang membawa Alan masuk ke dalam kamar untuk segera pakai baju.
Bu Mayang menggelengkan kepala melihat tingkah ketiganya yang bikin pusing tujuh keliling.
"Awas ya, kalau berulah lagi di sekolah, kupotong sosis kalian berdua," ancam Nara dengan dua jarinya membentuk sebuah gunting membuat Alan tertawa geli melihat ekspresi lucu Ibunya meskipun tidak paham apa itu sosis.
"Ashiap, mamah!" ucap Ezra disusul Alan cuma hormat di digendong ayahnya.
*
"Selamat pagi, Ra! Bu Mayang!" sapa wali kelasnya tidak sengaja berpapasan dengan mereka di gerbang sekolah.
"Pagi, Bu!" balas Nara tersenyum kaku.
"Pagih!" sapa Alan menyahut imut.
"Hahaha, adik kalian berdua menggemaskan sekali," ucap wali kelas itu pada Alan yang dikira adik Ezra dan Nara. Begitulah dua remaja yang identitasnya dipalsukan. Status mereka pun juga terpaksa diubah demi bisa lulus dari sekolah yang sangat jauh dari kota asal mereka.
__ADS_1
"Oh ya, Ryazza, hari ini Ibu harap kamu bisa lulus dengan nilai bagus." Wali kelas Nara itu menatap Ezra. Satu murid yang kadang membantu guru BK mengurus anak berandalan sekolah tetapi nilai dalam pelajarannya di bawah rata - rata dan sangat memprihatinkan semua guru - guru di sekolah. Apalagi waktu ujian naik kelas tahun lalu hampir membuat semua guru jantungan. Untung ada Nara yang membantu Ezra melakukan remedial.
"Hehhe... soal itu, saya yakin pasti lulus!" ucap Ezra mantap tapi dalam hati sedang gelisah. Wali kelasnya itupun masuk duluan ke sekolah.
"Tidak usah cemas, pasti suamiku lulus dengan nilai yang bagus!" hibur Nara menepuk bahu Ezra yang tampak lesu berjalan di koridor sekolah. Sedangkan si bocil Alan sedang tebar pesona di depan gadis - gadis supaya membeli cemilan dari neneknya itu. Setiap hari memang begitu. Alan ke sekolah cuma menunjukkan keimutannya sehingga jualan Bu Mayang selalu ludes tidak tersisa berkat bantuan bocil dua tahun Nara dan Ezra itu.
"Kyaaaa, wajahnya mirip sama Ryazza!" pekik mereka heboh dan kadang bikin jengkel di mata cowok sekolah. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa - apa untuk mengusir Bu Mayang karena ada Ezra yang bakal memporak - porandakan mereka duluan.
"Duuhh namaku belum ada nih, Ra," keluh Ezra kini mencari namanya dipapan pengumuman.
"Hm, masa sih, coba aku bantu carikan." Nara berdiri di dekat Ezra dan melihat semua nama yang tertera di sana. Sibuk mencari namanya, tiba - tiba ada segerombolan murid kelas 12 IPA yang juga ingin melihat nama mereka sebelum pulang. Ezra secepatnya menarik Nara berdiri di depannya dan memeluk perut istrinya sebelum dihimpit oleh cowok - cowok lain.
"Ehh, kenapa, Za?" tanya Nara sedikit terkejut dengan tindakan suaminya yang tiba - tiba itu.
"Hmm, cuma mau melindungimu." Ezra menjawab tanpa melihat Nara karena matanya kembali fokus ke papan pengumuman. Nara menunduk tersipu dan berdebar - debar. Dia meraih tangan suaminya yang dua tahun ini selalu setia padanya walau banyak gadis yang kadang datang menggoda Ezra. Tapi sekarang Nara sedikit cemas karena sekarang suaminya tidak lagi bisa berada di sisinya. Dalam hati Nara, ingin sekali suaminya itu turun kelas satu kali saja tapi Ezra tampak berharap mau cepat lulus.
"Akh! Ketemu nih!" Ezra menunjuk namanya.
"Ehem, sayang. Sampai kapan kamu mau berdiri di sini?" Ezra mendehem dan sedikit grogi berada di sana cuma berdua saja.
"Kenapa dengamu, hm?" tanya Ezra pada istrinya yang kini melepaskannya.
"Tidak apa - apa, selamat ya," ucap Nara tersenyum dan senyumnya itu membuat Ezra cemas.
"Ada masalah? Atau ada seseorang yang tadi membuatmu takut?" Nara menggelengkan kepala.
"Terus, kenapa tiba - tiba memelukku tadi?" tanya Ezra menggandeng tangan Nara menuju ke tempat Bu Mayang dan Alan.
"Aku cuma tidak mau kamu pergi," lirih Nara menunduk murung.
"Hah? Pergi? Memang aku mau pergi kemana?" tanya Ezra menggaruk kepalanya. Harusnya senang tapi istrinya seperti tidak merelakan kelulusannya.
__ADS_1
"Kamu pasti mau lanjut kuliah, terus ...."
"Hm, terus apa?" tanya Ezra kini sampai di tempat Bu Mayang dan Alan yang tampak terkantuk - kantuk di atas kursi. Bocah yang dari tadi mondar mandir di sekitaran kanting itu tumbang juga di sana.
"Terus di sana ada banyak cewek cantik yang godain kamu, terus kamu selingkuh, terus ninggalin aku dan Alan." Nara menangis kecil di depan Ezra. Sebelum Alan mendengar itu, Ezra membungkamnya dengan ciuman. Bu Mayang yang selesai membereskan barangnya pun terkejut melihat mereka.
'Astaga, mereka masih saja tidak tahu tempat.' Bu Mayang menghembus nafas tidak habis pikir. Untung kantin sekolah sudah sepi.
"Jangan cemburuan ya, aku tidak akan selingkuh kok, apalagi kuliah." Lagi - lagi ucapan Ezra itu membuat Bu Mayang sangat terkejut dan juga Nara.
"Tidak kuliah? Maksudnya?" tanya Nara dan Bu Mayang pada Ezra yang menggendong Alan sebelum jatuh dari kursi. Jagoan kecilnya itu sudah masuk ke dalam mimpinya alias tidur siang.
"Aku mau tunda satu tahun," ucap Ezra mulai jalan meninggalkan sekolah. Ezra pulang jalan kaki bersama Nara dan Bu Mayang karena saat ini tidak punya kendaraan. Beruntung sekali cuaca tidak terlalu cerah hari ini sehingga Alan tidak kepanasan.
"Kenapa? Apa tadi gara - gara ucapanku?" tanya Nara sedikit bersalah.
"Coba kamu lihat di sana!" Ezra menunjuk sebuah kontruksi yang tiga hari lalu seseorang dari sana menawarinya pekerjaan.
"Aku mulai minggu depan kerja di sana. Lumayan gajinya empat juta sebulan. Jadi Ibu tidak perlu lagi jualan di sekolah dan lebih baik jaga Alan di rumah. Kamu juga tidak usah takut sayang, karena setiap hari aku akan mengawasimu di sekolah. Lagipula kita juga kuliah memerlukan uang." Ezra mengelus rambut Nara yang semakin menunduk sedih.
"Hei, jangan nangis dong," ucap Ezra terkejut mendengar istrinya itu terisak.
"Maaf, Ezra." Nara menyeka cepat air matanya dan memeluk dari samping suaminya.
"Sudah, jangan minta maaf terus, okeh?" Ezra mencubit gemas hidung Nara. Sedangkan Bu Mayang tersenyum lega pada hubungan keduanya.
"Okeh, pak suami!" ujar Nara lalu pulang menggandeng tangan suaminya dengan erat dan bahagia. Ezra pun milirik bangunan itu lalu sekolah. Dalam hatinya, dia juga sangat mencemaskan Nara digoda oleh teman cowok di sana. 'Tidak - tidak, Nara itu sudah cinta mati sama aku!' Ezra yakin dan masih ingat sama ucapan Nara waktu mereka belum akur. Masa - masa sulitnya mulai terasa berat semenjak kabur dari sky house. Hidup tanpa arahan dari orang tua dan uang memang berat bagi Ezra yang akan mencoba dari nol menghidupi tiga orangnya mulai sekarang.
.
Hay pantengin terus ya karena author mau update novel sakuel dari Ezra dan Nara😍ceritanya si triplenya Ezra🤭Kaylan(Alan),Kiara dan Kiano. Terima kasih💋💕
__ADS_1