Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
113. TAMBAHAN (2) - ITU BAHAYA!


__ADS_3

Saat Ezra mau bicara pada Nara, tiba - tiba Kiano masuk ke dalam kamar baby Mayra.


"Papah," panggil Kiano.


"Ouh, ada apa?" tanya Ezra tidak jadi.


"Kenapa ke sini, Kiano?" tanya Kiara yang duduk di sebelah Mayra yang sedang diganti pampers oleh Ibunya.


"Hehe... itu Kiano mau ambil papah dulu, dah!" Kiano menarik papahnya itu keluar membuat Nara dan Kiara mengernyitkan dahi.


"Kenapa tarik papah, Kiano?" Ezra dituntun menuruni anak tangga.


"Itu, ada yang bertemu sama papah." Kiano menunjuk pria itu. "Eh, kau? Untuk apa datang kemari?" tanya Ezra duduk dan berhadapan dengan pria itu. Alan pun berdiri di dekat Kiano dan memperhatikan dua orang itu bicara.


"Maaf jika kedatangan saya sedikit mengganggu, Tuan Ezra," ucapnya mulai basa - basi.


"Tidak apa - apa, saya juga tidak sibuk hari ini, jadi silahkan kataka apa tujuanmu datang kemari?" tanya Ezra. 'Jangan - jangan ucapan Daffa tadi itu benar? Dia langsung datang ke sini pasti punya niat jahat pada istri dan anak - anakku!' batin Ezra terus mengamati gerak - gerik pria itu.


Pria itupun memberi selembar poster yang isinya sebuah pendaftaran academy idol khusus anak - anak. Oleh karena itu, dia menjelaskan niatnya yang tertarik ingin merekrut tiga anak kembar Ezra untuk menjadi anak didiknya.


"Tidak, aku tidak mau kalian mengambil anakku!" Ezra berdiri dan menyuruh pria itu pulang. "Sekarang kau pergi dari sini dan jangan membujuk istri atau mendekati istriku juga!" usir Ezra tegas.


"Sayang, kenapa kau marah - marah pada tamu kita?" Nara turun bersama Kiara. Sedangkan baby Mayra kini dijaga oleh Bu Mayang di kamar.


"Tamu? Jadi kau yang undang dia datang ke sini?" tanya Ezra pada istrinya.


"Hehe, ya habisnya kau sulit diajak bicara di kampus jadi aku suruh saja ke sini, maaf ya telat kasih tahu kau tadi,"


"Hais, jangan - jangan kau juga yang mengajukan anak - anak masuk ke academy itu?" Ezra mendekati Nara yang menunduk gelisah. 'Waduh, kayaknya Ezra marah nih,' batin Nara sedikit mundur tapi Kiara menahan tangannya dan mendongak ke papah dan mamahnya itu.


"Papah, mamah, academy idol itu apa?" tanya Kiara polos. Langsung saja pria itu menjelaskan cepat.


"Hey, cantik. Pertanyaanmu bagus sekali, biarkan om yang jelaskan maksud dari kedatangan om." Pria itu berdiri di sebalah Ezra kemudian menjelaskan dengan rinci academy adalah sebuah sekolah yang mencari anak - anak bertalenta. Bahkan sekolah itu setiap tahun selalu melahirkan calon artis atau idol cilik dari perusahaan manapun.


"Woah, berarti bisa masuk televisi ya, om?" tanya Kiano perlahan tertarik.


"Benar sekali. Jika kalian terpilih, kalian bisa jadi superstar yang terkenal, mendapat penggemar dan mendapat bros cantik ini." Pria itu menunjukkan lencana milik idol dari perusahaannya.


"Tidak boleh!" Alan melarang cepat sebelum dua adiknya itu terlena dengan bujukan pria itu.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Kiara dan Kiano. Nara pun juga penasaran kenapa Alan langsung menolak. Sedangkan Ezra diam - diam tersenyum puas ada satu anaknya yang sama dengan pendiriannya.


"Masuk televisi itu bahaya tahu!" ujar Alan.


"Bahaya kenapa, sayang?" tanya Nara.


"Mamah, Kiara dan Kiano itu tidak boleh tampil di televisi! Kalau semua orang melihat kita, musuh - musuh kakek Deivaro bisa datang ke sini dan merebut Kiara dan Kiano. Ayolah, coba pikirkan dulu, mah!" Alan memohon pada Nara supaya niatnya yang mau menjadikan Kiara dan Kiano seorang idol dibuang jauh - jauh saja.

__ADS_1


"Aku setuju sama Alan!" kata Ezra baru kepikiran.


"Sebentar, musuh? Kalian punya musuh?" tanya pria itu sedikit terkejut karena keluarga Van dikabarkan tidak pernah berurusan lagi dengan keluarga manapun.


"Yah, dari dulu keluarga kita banyak yang musuhi, jadi lebih baik kau pergi dari sini," ucap Ezra mengusir.


"Jangan dulu diusir, papah!" Kiara dan Kiano menahan pria itu pergi.


"Kenapa lagi dengan kalian?" tanya Ezra merasa gemas sekali pada dua anaknya itu.


"Kita mau masuk academy ini, pah! Biarkan kita masuk ya, pleass," mohon dua - duanya bertingkah imut.


"Jangan bodoh! Kita ini bisa diincar tahu!" ujar Alan tidak mau.


"Ihhh, tapi kalau kita masuk televisi, kakek juga bisa lihat kita tahu," ucap Kiara dan Kiano masih saja memikirkan Tuan Deivaro.


"Tapi musuh kakek juga bisa datang ke sini, tahu!" Alan menghentakkan kakinya merasa kesal sendiri melihat dua adiknya itu ngotot sekali.


"STOP!" Ezra menyela cekcokan tiga anaknya itu sebelum baby Mayra dibuat nangis di atas sana.


'Pffft, mereka punya sifat yang bertolak belakang sekali. Sifat dua anaknya ini lebih mirip Nara dan yang satunya ini lebih mirip Ezra yang keras dan sulit dibujuk.' Pria itu menahan tawa melihat tiga anak Ezra saling memalingkan muka.


"Papah, biarkan kita masuk ke sana!" pinta Kiara dan Kiano.


"Jangan papah, Alan tidak mau!" ketus Alan bertolak pinggang dan mendengus.


"Tidak! Kalian tidak boleh ke sana!" ujar Alan marah karena sudah janji sama Deivaro akan jaga dua adiknya yang keras kepala itu. Ezra dan Nara memegang kepala mulai pusing melihat tiga anaknya itu mengoceh terus di depannya.


"Maaf, saya juga tidak akan memaksa kalian bertiga, tapi untuk identitas kalian tidak bocor ke publik, kami bisa menyembunyikannya," ucap pria itu pun sontak berhasil meredakan perdebatan tiga cicak Ezra itu.


"Caranya bagaimana?" tanya Ezra dan Nara sedikit penasaran.


"Kalian boleh memakai topeng khusus demi menjaga identitas kalian dari ancaman luar atau musuh kalian."


"Serius bisa menyembunyikan identitas tiga anakku hanya bermodal topeng?" tanya Ezra kurang yakin keamanan triple cicaknya tidak bocor ke publik.


"Bukan cuma topeng, kami akan memberi bodyguard khusus untuk menjaga mereka, Tuan Ezra," ucap pria itu sangat yakin.


"Sayang, kamu setuju saja, ini bagus juga untuk masa depan anak - anak kita." Nara membujuk. Ezra berpikir sejenak membuat Alan mulai gelisah.


"Mamah, tapi Alan tetap tidak mau!" ucap Alan.


"Tenang saja, Tuan muda kecil. Jika anda tidak mau, kami juga tidak akan memaksamu," ucap pria itu tersenyum simpul.


"Dan anda tidak usah khawatir, kami bisa menjaga adik - adikmu dengan sangat aman dan ketat," lanjutnya lagi.


"Sayang, bagaimana? Kamu mau, 'kan?"

__ADS_1


"Hmm, baiklah. Boleh - boleh saja, tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku, perusahaan kalian akan kuhacurkan sampai berkeping - keping." Ezra terpaksa setuju karena dulu dia juga pernah berkeinginan menjadi seorang idol. Melihat Kiano, sama saja melihat dirinya yang dulu.


"Kami mengerti, tuan Ezra." Pria itu tersenyum paksa. Dalam hatinya sedikit takut diberi ancaman secepat itu.


"Horee! Masuk tipi!" Kiara dan Kiano berseru girang. Pria itupun pamit dengan sopan pada Ezra dan Nara. Dia mulai sekarang akan mengurus pendaftaran Kiara dan Kiano ke academy itu.


"Hmm, kalau begini, Alan cuma sendirian dong pergi ke sekolah," keluh Alan.


"Ya sudah, ikut masuk ke academy saja!" bujuk Kiara dan Kiano.


"Tidak mau! Idol tidak cocok denganku!" tolak Alan lalu segera menaiki anak tangga.


"Akhh, Alan! Jangan jual mahal dong! Masuk saja sama kita!" Kiara dan Kiano mengejarnya. Nara yang melihat anaknya kejar - kejaran pun cuma menahan tawa namun sontak terkejut ketika Ezra menjentik telinganya.


"Auh, kenapa?" tanya Nara meringis.


"Ish, aku tadi bicara tapi kau malah diam, lagi mikir apa sih, sayangku?" tanya Ezra mendengkus.


"Hehe... maaf, tadi itu aku lihat tingkah anak - anak saja kok," ucap Nara tertawa kecil.


"Hmp!" decak Ezra lalu berjalan menaiki anak tangga.


"Sayang, kau lagi marah ya sama aku?" Nara menunjuk diri sendiri.


"Yah, marah banget! Banget pokoknya!" kata Ezra lalu cuek.


"Lho, kok marah? Emang salahku apa?" tanya Nara menahan tangan suaminya itu sebelum masuk ke dalam kamar.


"Salah kau itu karena tadi jalan sama pria itu," ucap Ezra masih saja kepikiran yang tadi.


"Berarti tadi kau mengawasiku terus ya?"


"Ngga kok! Aku tadi cuma lihat matahari doang," elak Ezra tidak mau dikira stalker. Tapi melihat gerakan gelisah Ezra dan mimik cemburu suaminya, Nara segera memeluknya dari depan.


"Sayang, aku dan pria itu tidak ada hubungan apa - apa kok, dia itu tadi hampiri aku cuma buat tanya waktu kosongmu. Jadi aku kasih tahu saja datang ke sini bicara padamu. Jangan cemburuan gitu ya, aku tidak akan pernah sedikitpun berpaling darimu," ucap Nara mencubit gemas dua pipi suaminya itu.


"Kalau kurang percaya, tanyakan saja pada Garce. Dia juga tahu pria itu ingin mengajakmu kerjasama di masa depan nanti." Nara mencium punggung tangan Ezra agar tidak menjadi suami yang posesif di kemudian hari.


Ezra menatap lekat - lekat mata istrinya yang berbinar - binar itu. Detik kemudian, ia menarik istrinya masuk dan mengunci kamar membuat Nara sedikit merinding melihat suaminya itu tersenyum aneh.


'Waduh, perasaanku kok tidak enak begini ya?' batin Nara deg - degan antara takut dan gelisah pada Ezra yang bisa saja mengamuk atau ingin itu sekarang.


.


Ingin apa tuh si baby Ez🤭wkwk


Maaf baru update, hari ini author kurang sehat🙏terima kasih dukungannya💕sehat selalu...

__ADS_1


__ADS_2