Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan

Bayi Kecilku Milik Tuan Muda Arogan
119. TAMBAHAN (8) - AKHIR


__ADS_3

"Sudah jam delapan malam, Kiara belum pulang. Apa kau tidak ingin pergi mencarinya, sayang?" Nara berdiri dari tepi ranjang lalu bertanya pada Ezra yang habis menelpon dengan seseorang.


"Kau tidak perlu cemas," ucap Ezra tersenyum dan memegang dua tangan istrinya.


"Tapi, kabar perjodohan yang kau katakan padanya ini terlalu cepat. Aku takut Kiara di luar sana melakukan hal bodoh," desis Nara menatap dengan khawatir.


"Sayang, barusan aku menelpon Kumi,"


"Lalu?"


"Dia bilang Kiara ada di rumahnya malam ini." Ezra menunjukkan foto Kiara yang dikirim Kumi.


"Apa Kiara malam ini bermalam di sana?" tanya Nara. Ezra mengangguk kemudian mengecup kening istrinya.


"Putri kita itu cerdas, dia tidak akan melakukan hal bodoh yang seperti kau bayangkan. Kau tidak usah terlalu memikirkannya lagi, dia sudah besar." Setelah itu, mengusap kepala Nara dengan lembut.


"Tapi," ucap Nara menunduk.


"Hmm, tapi apa?" tanya Ezra meraih rambut panjang Nara dan mencium aroma wangi kesukaannya itu.


"Apa kau tidak bisa batalkan perjodohannya?"


"Aku tidak tega melihat Kiara -"


"Shht, jangan bicara lagi. Semua yang aku putuskan untuknya itu sudah yang terbaik. Lagian juga cowok yang dijodohkan Kiara itu lumayan juga dijadikan menantu kita," jelas Ezra dengan pedenya.


Nara cemberut kemudian mencubit gemas pinggang Ezra. "Awhh, ada apa lagi?"


"Ihhh, kau ini! Apa kau benar - benar sudah yakin melepaskan putrimu pada laki - laki lain?" Meskipun Kiano pernah cerita soal ciri - ciri calon suami Kiara yang tampan dan kaya raya, Nara merasa tidak yakin calon menantunya bisa membahagiakan Kiara.


"Belum sepenuhnya sih," ucap Ezra.


"Nah terus, kenapa kau setuju secepat itu?" tanya Nara mendekat ke wajah suaminya.

__ADS_1


"Yaya.... aku hanya ingin dia cepat - cepat berhenti dari karirnya itu." Nara terdiam mendengar keinginan Ezra.


"Hmm! Kau ini jahat banget!" kata Nara membelakangi Ezra yang sedikit terkejut istrinya langsung ngambek.


"Sayang, justru aku ini baik lho." Ezra memegang dua bahu Nara dan sedikit memberi rayuan.


"Kau tahu nggak, putri kita itu sudah besar. Sudah jadi gadis cantik sepertimu dulu, dan sekarang adalah waktunya dia berhenti tampil di depan semua orang.


Nara kembali melihat Ezra kemudian melirik sinis. "Kau tidak suka putri kita bahagia sehingga bicara seperti itu?" tanya Nara.


"Aduh, bukan begitu! Kau coba ngerti dong, sayang." Ezra gemas sekali pada dirinya sendiri yang sulit menerangkan isi hatinya itu. Nara berpikir sejenak sembari menatap Ezra lekat - lekat.


"Jadi maksudnya, kau tidak mau Kiara jadi Idol lagi? Terus lebih memilih -"


"Sekolah!" ujar Ezra.


"Sekolah?" ulang Nara.


"Lho, kok tiba - tiba? Bukannya dulu yang jadi Dokter itu Mayra? Terus Alan jadi pengusaha, Kiano selebriti, Kiara jadi ketua Mafia milik Deivaro, Arsha jadi tentara, Arshi masuk kepolisian."


"Tidak sayang! Mayra tidak cocok jadi Dokter!" sentak Ezra.


"Terus Mayra cocok jadi apa?" tanya Nara garuk - garuk kepala.


"Cocoknya jadi pengacara!" jawab Ezra dengan sangat bangganya mengatur cita - cita anaknya yang jumlahnya setengah lusin itu.


"Tidak, Mayra tidak cocok jadi pengacara, dia lebih pantas jadi Dokter!" ujar Nara mendengkus.


"Kalau dia jadi Dokter, yang jadi pengacara siapa?"


Nara duduk di tepi ranjang lalu berpikir lagi. Melihat istrinya yang menggemaskan itu, Ezra duduk manis di di dekat Nara lalu memijat - mijat bahu istrinya.


"Daripada dipikirkan terus, bagaimana kalau aku tanam satu malam ini?"

__ADS_1


Nara terkesiap dibisik mendadak.


"Tanam? Tidak! Aku tidak mau." Nara berdiri dan memeluk tubuhnya.


"Kenapa tidak mau?" tanya Ezra mengerucutkan bibirnya.


"Habisnya, kau itu sering berlebihan tau! Tanam satu, tapi jadinya lebih dari satu. Aku cemas, nanti yang tumbuh ada lima lagi," jelas Nara bergidik ngeri karena jika diingat - ingat lagi proses lahiran Arsha dan Arshi itu sangat sulit dilaluinya.


"Ya sudah deh, aku tanam di luar saja!" kata Ezra berdiri dengan kesal namun sontak memekik terkejut dengan ulah Nara yang merah padam.


"Ouh, mau tanam di luar? Tanam apa itu?" tanya Nara dengan mata berkobar - kobar dengan tendangan yang hampir mengenai wajah Ezra.


"Hehehe... tadi itu bercanda kok, sayang," ucap Ezra mundur ke belakang sampai mentok dipojokkan oleh Nara.


"Ouh, serius?" Nara memukul tembok dan menarik dasi suaminya yang sedikit takut.


"Serius, aku cuma canda." Ezra mengangkat dua jarinya dan tersenyum sembari menelan saliva.


"Huft, kau tahu nggak, aku itu benci dibercandain," decak Nara semakin menempelkan dua tekad besarnya itu pada dada bidang Ezra.


"Terus, aku harus bagaimana?" tanya Ezra dengan muka polosnya.


"Kau perlu dihukum malam ini!" Nara menarik Ezra dan menghempaskan suaminya itu ke ranjang kemudian menindih pria yang sudah membuatnya candu malam ini.


Ezra tercengang merasa seperti bertukar posisi. Harusnya dia di posisi Nara, bukan jadi korban pelampiasan istrinya. Tapi sekarang Ezra tidak peduli, karena baginya, ia yang akan membuat Nara berteriak syahdu dan tidak bisa bangun dari tempat tidur selama tiga hari dan tiga malam.


Beda lagi di rumah Kumi yang sepi karena orang tua Kumi berada di luar negeri. Gadis itu hanya tinggal berdua dengan Kiara malam ini dan tidur bersama. Namun Kiara masih belum tidur. Putri kedua Ezra itu sedang berdiri di jendela kamar yang mengarah ke rumah tetangga dan mengamati diam - diam seorang laki - laki yang keluar dari rumah itu dengan pergerakan yang mencurigakan.


"Dia mau kemana malam - malam begini?" gumam Kiara pun terpaksa mengikuti laki - laki itu sendirian.


.


Ini episode terakhir ya, lanjutnya bakal aku update di novel baru😍terima kasih untuk dukungannya. Maaf author tidak sempat balas komen kalian, tapi insya Allah author balas kalau ada waktu🙏sekali lagi terima kasih sudah menemani author sampai saat ini.💋💋

__ADS_1


__ADS_2